MAHA : Sang Alkemis Kejam

MAHA : Sang Alkemis Kejam
Rayya


__ADS_3

"Je, kita akan mengobrol sedikit serius." Ucap Maha.


"Tentu, kenapa tidak." Jawab Jeevan.


"Kurasa karena kau sudah bersama rekan-rekanku, mereka tidak perlu lagi kukenalkan padamu. Jadi Je, apa yang kau dapat selama lima tahun ini?"


Semua anggota tim Maha diam, dan mendengarkan obrolan Maha dan Jeevan.


"Tidak ada yang spesial sebenarnya, Maha. Aku hanya bisa bilang padamu satu hal, aku telah menguasai beberapa pasar yang ada di daratan ini. Dan untuk itu, karena aku rasa Rayya sudah cukup jaya aku kesini untuk menawarkan perdamaian dengan para Demon. Dan ya, lagi-lagi ini karena jembatan yang kau bangun, Maha." Jelas Jeevan.


"Oh jadi apakah Rayya saat ini tidak sedang membutuhkanku?"


"Entahlah, yang jelas beberapa orang tengah menunggu untukmu kembali ke Rayya."


"Siapa?"


"Terutama kedua orang tuamu. Lalu Raja, ia kuga menunggu kabar kalian."


"Kau benar juga, Je. Aku dan Kanna sepertinya terlalu banyak malas-malasan, sehingga terlalu mengulur waktu terlalu lama. Maaf telah membebankan tanggung jawab Rayya padamu, Je."


"Maaf? Apakah kau benar-benar Maha? Maha yang kukenal tidak selembut itu, sampai mengucap kata maaf."


"Benarkah begitu? Apakah kau mau aku yang suka menindas seperti dulu, Je?"


"Emmm... Kurasa kau yang sekarang lebih baik dari sebelumnya. Nih ya, semuanya... Para pengikut Maha, dia ini dulu orangnya kaku dan tidak bisa diganggu dan hanya dengan Putri Kanna saja dia bisa bersikap berbeda." Ucap Je pada tim Maha, dan sambil menunjuk ke arah Maha.


"Tuan Jeevan, bisa kau jelaskan pada kami, kenapa memanggil Kanna dengan panggilan putri?" Tanya Ryu.


"Maaf sebelumnya, sepertinya kau adalah makhluk dengan daya sihir terbesar selain Putri Kanna, siapa kau?" Tanya balik Jeevan.


"Jeevan. Jangan perlakukan rekan dengan perasaan curiga seperti itu, tidak baik. Maha saja sudah tidak pernah curiga pada orang lain." Sahut Kanna.


"Benar begitu, Maha?" Tanya Jeevan pada Maha.


"Sekarang turuti saja apa yang Kanna omongkan. Dan juga, mereka bertiga adalah ras Dragon. Yang mana mereka memiliki keunikan tersendiri." Ucap Maha menunjuk ke arah Ryu, Rya dan Rey.


"Keunikan? Apa itu Tuan Muda?" Richard kembali memanggil Tuan Muda, mungkin karena kebiasaan.


"Ryu, sebagai samsak, Rey sebagai tunggangan dan Rya, dari hawanya sudah kelihatan kalau dia tidak mau di ganggu." Jelas Maha.


"Samsak?" Tanya Jeevan heran. Lalu semua serentak menoleh dan menunjuk ke arah Reha.


"Tunggu, Hybrid?" Tanya Jeevan, ketika melihat Reha dengan telaten.

__ADS_1


"Ya, lagi-lagi manusia dan Demon. Dan juga kebetulan, Reha sama seperti orang itu, yang mana gennya lebih dominan ke sisi manusianya." Jawab Maha.


"Baguslah, dia tidak akan kesepian kalau memiliki teman yang senasib dengan Reha."


"Kanna... Kanna..." Panggil Reha sambil berbisik.


"Siapa yang mereka maksud?" Sambung Reha bertanya pada Kanna.


"Yang mereka maksud adalah Ayyra, seorang Hybird sama sepertimu." Jawab Kanna ikut bisik-bisik juga.


Mereka semua banyak mengobrol dan saling bertukar informasi, hingga malam tiba. Maha dan Kanna seperti bisa masih satu kamar bersama.


"Maha..."


"Ada apa Kanna?"


"Apakah kita akan selalu bersama selamanya?"


"Kenapa bertanya seperti itu?"


"Kau dan aku selalu bersama, dari dulu. Bahkan kemana pun kita, kita akan selalu sekamar. Bukankah aneh bila kita tiba-tiba berpisah nantinya?"


"Kita tidak akan tiba-tiba berpisah, kalaupun terpisah kita pasti memiliki alasan tersendiri. Tidak sepertimu, aku hanyalah seorang manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan dalam bentuk apapun, kau masih punya sihir, setidaknya akan sulit kita untuk berpisah kecuali aku tidak lagi butuh sihirmu."


"Jeevan. Kau sidah bertemu dengan Jeevan, penyihirmu. Apakah kau akan meninggalkanku?"


Kanna dan Maha mengobrol sampai pagi.


Besok paginya, Maha menemui Jeevan di ruang santai penginapan Karin. Dan bilang pada Jeevan kalau Maha akan berangkat ke Rayya hari itu juga, dan bertanya apakah Jeevan akan ikut pulang bersamanya. Jeevan bilang akan ada urusan di kota itu, makanya dia akan tinggal beberapa hari lagi di kota itu.


"Apakah kau datang kesini sendirian, Je?"


"Iya Maha, aku sengaja datang kesini sendirian. Dengan bantuan Ayyra yang beberapa waktu lalu juga datang kesini, dan mendapatkan beberapa ilmu sihir dari manager Karin."


"Oh lalu kau akan kembali bagaimana?"


"Aku akan meminta tolong pada manager Karin untuk mengirimku dengan sihir teleportasinya."


"Apakah Karin sudah pernah ke Rayya?"


"Ya, bersamaan dengan para Dwarf dia datang ke Rayya."


"Oh baiklah. Kalau begitu, beberapa hari kedepan kita tidak bertemu lagi, Je. Aku akan pergi duluan ke Rayya."

__ADS_1


"Baik Maha. Pastikan kau menemui orang tuamu terlebih dahulu, mereka sepertinya lumayan khawatir denganmu yang tidak pernah memberi kabar."


"Ya, Je. Kalau begitu, sampai jumpa di Rayya Je." Ucap Maha lalu meninggalkan Jeevan.


Maha lalu menemui timnya yang sudah ada di gerbang timur kota Demon.


"Apakah kita akan berjalan?" Tanya Maha.


"Bukankah akan lebih cepat bila terbang?" Ryu balik bertanya.


"Apakah kalian tidak bosan terbang?"


"Kalau aku sih tidak. Setidaknya aku selalu menikmati saat-saat berada dilangit." Jelas Ryu.


"Baiklah... Rey dan Rya?"


"Aku saja, Maha. Seperti sebelumnya, biarkan Rya naik di Ryu." Jawab Rey.


Mereka pun segera berangkat. Memang saat naik para Dragon mereka tidak memerlukan banyak waktu untuk kembali ke Rayya, terlebih lagi mereka dapat mengintai daratan lebih luas saat berada dilangit.


Masih dilangit


"Maha.."


"Kenapa Kanna?"


"Cuma perasaanku saja, atau memang Jeevan tidak menanyakan tentang rambut kita?"


"Dia tidak menanyakannya karena aku dan Je yang membuat obatnya, Kanna."


"Kalian berdua, belum menjelaskan padaku obat yang kalian pakai." Sahut Zia.


"Kalau kau mau jelaskan apa tujuanmu untuk mengetahui obat itu, maka aku akan menjelaskannya padamu." Balas Maha.


"Aku ingin mengubah warna rambutku juga, Maha."


"Kenapa Zia? Rambut putih ras Elf sangat lembut, kenapa kau ingin menggantinya?" Tanya Kanna kaget.


"Aku tidak sanggup untuk menanggung beban ras Elf. Ras Elf adalah ras yang suci, sedangkan aku sudah pernah membunuh ras lain." Jawab Zia.


"Aku akan memberikannya saat di Rayya, tenang saja, Zia. Kalau aku lupa, pasti akan diingatkan oleh Kanna." Jawab Maha.


Tiga sampai empat hari, mereka akhirnya sampai di gerbang masuk ke Rayya. Penjagaannya memang sangat ketat.

__ADS_1


"Rey, Ryu... Jadilah wujud manusia, akan sulit kalau kalian masih memakai wujud naga, bisa saja membuat para penjaga panik." Ucap Maha.


Rey dan Ryu pun segera mengubah wujudnya menjadi wujud manusia. Setelah itu mereka pun langsung saja berusaha masuk ke gerbang Rayya.


__ADS_2