MAHA : Sang Alkemis Kejam

MAHA : Sang Alkemis Kejam
Masa Kecil Maha


__ADS_3

Sebagian besar, anak-anak di Kerajaan Rayya ini akan selalu ditampung di sebuah Gereja suci kerajaan. Yang mana di Gereja itu anak kecil dikumpulkan agar tidak mengalami trauma akan peperangan.


Di Gereja tersebut banyak kegiatan yang memberikan edukasi anak-anak dari Kerajaan Rayya ini.


Namun, Nathan ingin merawat Maha sendiri. Hal ini memang tidaklah jadi masalah untuk Gereja suci sendiri, karena Gereja percaya setiap orang punya haknya masing-masing.


Singkat cerita, kini Maha sudah berumur lima tahun. Dari lima tahun kehidupan Maha ini, Ia selalu dipaksa Nathan untuk berpikir secara kritis, bahkan ilmu yang bukan konsumsi anak seusia Maha, Nathan berikan semua pada Maha.


Untuk saat ini perkembangan ilmu Maha, Ia telah mempelajari ilmu berbisnis, bertani, menggembala, dan beberapa ilmu dasar dalam hidup.


Menginjak umur ke lima tahun ini, Maha mulai dikenalkan dengan ilmu-ilmu fisik, sampai dengan sihir dan lain sebagainya.


Suatu ketika muncul keraguan pada Maha, lalu Ia tanyakan pada Ayahnya, Nathan.


"Wahai Ayahku. Bila manusia memiliki pengetahuan tentang sihir seperti ini, lantas mengapa peperangan yang selama ini aku lihat, para pasukannya hanya mengandalkan panah dan pedang?" Tanya Maha, yang saat itu penasaran.


"Anakku, Maha. Memang manusia memiliki pengetahuan seperti hal yang kau sebutkan itu, namun tidak semua manusia punya kuasa pada sihir. Seperti halnya diriku, aku paham tentang konsep sihir, tapi aku tidak bisa menggunakan sihir itu sendiri." Jawab Nathan.

__ADS_1


Lalu Maha berpikir, 'Kalau aku tidak bisa menguasai sihir itu aku akan membuat diriku menguasai fisikku.'


Namun sekali lagi dia penasaran tentang sesuatu, tapi kali ini dia bertanya pada ibunya, Valencia.


"Wahai Ibuku. Aku melihat masih banyak anak-anak seusiaku masih bisa tertawa dan bermain tanpa kendala di kerajaan ini, lantas dari mana peperangan ini terjadi, bukankah kita akan darurat giat warga bila kerajaan terlibat peperangan ini?"


"Maha. Ibu setiap hari ditemani olehmu dan Ayah. Kamu menemani Ibu dan Ayah yang sedang bertani di persawahan kita. Ayah dan Ibu menemanimu saat kamu belajar banyak hal. Bukankah sudah jelas mengapa ada perang di kerajaan ini?" Tanya Valencia pada Maha.


Disini Maha dipaksa untuk menyimpulkan jawaban dari pernyataan Ibunya tadi.


Poin pertama yang Ia dapat ialah, kemanapun mereka pergi mereka akan selalu bersama-sama, yang berarti bila mereka berpisah maka akan berbahaya pada masing-masing. Poin kedua bertani setiap hari, yang artinya mereka harus memenuhi kebutuhan pokoknya, tidak dapat uang maka tidak makan, yang berarti keadaan kerajaan sedang genting, sehingga rakyat seperti mereka harus menanggung kemiskinan.


Hanya dua hal tersebutlah yang bisa ditangkap oleh Maha.


"Setelah berpikir sedikit, aku pikir bisa ambil kesimpulan bahwa kerajaan ini bukanlah salah satu pihak pelaku perang. Dilihat dari keseharian rakyat yang masih bisa bertani dan berdagang, yang mana hal itu tidak mungkin terjadi bila keadaan kerajaan sedang berperang." Opini yang Maha lontarkan membuat Nathan dan Valencia tersenyum.


"Haha bagus nak, sedikit lagi." Ucap Nathan membalas opini Maha.

__ADS_1


Di usia yang ke lima ini, Maha mampu menguasai pengetahuan dasar ilmu fisik dan ilmu sihir. Ia mampu mempelajari hal dasar ini hanya dalam waktu setahun.


Saat di umur ke enam sampai hampir umur ke tujuh, Nathan mengajarinya beberapa ilmu dari temannya yang dari ras Dwarf. Yang mana ras Dwarf sendiri ialah ras pengrajin yang cerdas.


Kini Maha dirasa sudah cukup berilmu untuk masuk ke dalam akademi kerajaan.


Dan berdiskusilah mereka bertiga tentang masuknya Maha ke akademi kerajaan. Awalnya Maha sungguh kecewa pada Nathan dan Valencia, karena dia merasa kalau hal itu adalah cara Nathan dan Valencia agar jauh dari Maha, tapi Nathan meyakinkannya.


"Anakku, Maha. Ayah tahu ini adalah hal yang berat untukmu berpisah dengan kami, kami juga merasakan hal berat itu. Tapi ini demi kebaikan kita, saat kamu sudah selesai sekolah di akademi kerajaan maka kami akan menyambutmu dengan meriah. Kami akan mendukungmu dari sini." Ucap Nathan.


"Ayah dan Ibu, aku akan benar-benar pergi ke Akademi Kerajaan. Tapi saat lulus nanti, aku menginginkan satu hal pada kalian." Ujar Maha yang memasang wajah serius.


"Maka, katakanlah wahai anakku." Ucap lantang Nathan.


"Aku ingin kalian menerima pernyataan dariku yang kejam ini." Ucap Maha yang membuat Nathan dan Valencia kaget.


"Sungguh hal ini adalah hal yang lumayan berat bagiku Ayah, Ibu. Tapi, aku tidak ingin bila kalian kecewa padaku setelah kelulusanku nanti, maka dari itu izinkan aku untuk merasakan kebebasan saat berada di akademi nanti. Apapun yang aku kerjakan nantinya, aku mohon pada kalian untuk bersikap seperti biasa." Sambung Maha.

__ADS_1


__ADS_2