
Akhirnya mereka menemukan penginapan di kota itu. Dan saat mereka masuk ke penginapan itu, para Demon yang sedang santai di ruang tamu langsung sigap menoleh ke arah mereka.
Semua menatap serius, seolah melihat musuh, ada juga yang sampai berposisi siap senjata dengan menodongkan senjata.
Kanna semakin erat menggenggam lengan Maha. Mereka pun segera menuju resepsionis.
"Ada yang bisa kubantu?" Ucap seorang resepsionis perempuan yang ada di mejanya.
"Kami ingin pesan kamar untuk tiga orang." Jawab Merlin.
"Disini hanya ada kamar untuk kapasitas dua orang, kalau kalian mau menginap bertiga sebaiknya memesan dua kamar." Balas resepsionis itu.
"Baiklah, kami pesan dua kamar." Ucap Merlin lalu membayar biayanya.
"Ngomong-ngomong, apakah kalian saudara kembar?" Tanya resepsionis itu pada Maha dan Kanna.
"Ya. Kami kembar." Jawab Maha.
"Baiklah bisa ikut denganku, untuk menemui manager penginapan?" Ajak resepsionis itu.
__ADS_1
"Untuk apa?" Tanya Merlin, sambil mengulurkan tangan seolah menghadang Maha.
"Tidak. Kami tidak akan berbuat macam-macam. Tidak ada aturan di penginapan ini untuk memusuhi tamu meskipun manusia." Jawab resepsionis itu.
"Kami akan ikut dengannya, Alka. Kamu periksa kamar kita dulu." Ucap Maha.
Resepsionis itu menunjukkan jalan menuju tempat manager kantor itu, Maha dan Kanna pun mengikutinya, walaupun Kanna tetap erat menggenggam lengan Maha.
"Tenang saja, kami tidak akan menyakiti kalian. Dan manager penginapan ini tahu akan ada pemuda yang mengaku kembar, dan aku disuruh untuk membawa pemuda itu ke tempatnya." Ucap resepsionis itu di tengah perjalanan mereka.
Resepsionis itu membukakan satu ruangan dan menyuruh Maha dan Kanna untuk masuk, sedangkan resepsionis itu akan kembali ke mejanya.
"Aku Maha, dan ini saudariku Kanna." Balas Maha.
"Benarkah begitu? Aku tidak melihat kemiripan dari kalian, selain hari lahir kalian." Ucap Karin.
Lalu Karin berdiri, dan mendekati Maha dan Kanna. Maha bisa melihat dengan jelas tanduk Karin yang lumayan besar, dan mengingatkan Maha dengan ucapan Merlin yang bilang kalau semakin besar tanduk ras demon, maka semakin besar daya sihir mereka. Di saat itulah Maha lalu reflek siaga, karena dia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
"Tidak. Kalian tidaklah kembar, dari tampang saja sudah jelas berbeda. Perlu kalian ketahui, aku bisa membaca masa lalu." Ucap Karin.
__ADS_1
"Kalian lahir di hari, tanggal, dan tahun yang sama. Tapi kalian dari keluarga yang berbeda. Kanna, perempuan yang selalu dibimbing oleh seorang penyihir. Dan Maha, dibimbing oleh seorang pejuang. Setidaknya itu informasi yang aku dapatkan." Lanjut Karin dengan memejamkan matanya.
"Lalu apa tujuanmu menyuruh kami datang kesini?" Tanya Maha, dan tentu karena Maha merasa yang diucapkan Karin tadi tidak begitu penting, Maha pun mengabaikan ucapannya.
"Hoo~ Sepertinya ucapanku tidaklah penting ya? Baiklah kalau begitu." Ucap Karin lalu kembali ke tempat duduknya.
"Sejujurnya, aku mendapatkan sebuah ramalan dari temanku tentang penginapanku. Memang tidak akan begitu berpengaruh terhadap penginapanku, tapi setidaknya ini hal yang menarik. Temanku berkata akan ada dua bocah, berusia muda, dan mengaku kembar datang dan menyewa kamar di penginapanku. Dan dua bocah ini akan berpengaruh pada daratan ini, nantinya." Jelas Karin.
"Kamu memiliki daya sihir yang kuat, kan? Lihat, diriku saja tidak memiliki daya sihir, bagaimana aku bisa mempengaruhi daratan ini?" Tanya Maha.
"Ya. Tapi aku bisa melihat daya sihir yang kuat dari saudarimu itu. Lagian, aku melihat sesuatu hal unik selain daya sihir dari dalam dirimu." Ucap Karin.
Maha heran, dan hal yang diucapkan Karin semakin membuat Kanna semakin ketakutan.
"Sebuah neraca, tidak juga. Lebih ke arah aku melihat sebuah Chaos and Order. Ya, kehancuran dan keindahan." Jelas Karin.
Hal ini membuat Maha heran. Tapi, Maha pun tidak ambil pusing, karena semua yang di ucapkan Karin seolah hanya omong kosong.
Setelah itu, Karin memperbolehkan mereka untuk meninggalkan ruangannya, dan mereka pun segera menuju kamar yang telah dipesan sebelumnya.
__ADS_1