
"Maha... Maha... Oi." Kanna terus memanggil Maha yang dari tadi diam. Mau bagaimana lagi, Maha sedang fokus berinteraksi dengan Hain.
"Kanna, ada apa?"
"Maha dari tadi diam saja, Kanna pikir Maha kenapa-kenapa."
"Tidak, aku hanya sedang memikirkan sesuatu. Oiya Kanna, apakah kamu mau berkeliling di kota ini?"
"Sama Maha gak?"
"Iyalah, kan aku ngajak."
"Ayo."
Mereka pun keluar dari penginapan dan mulai berkeliling kota tersebut. Terlihat di sekeliling mereka, para warga dengan penuh senyuman dan kegembiraan, membuat Maha rindu dengan Rayya.
"Aku menjadi rindu akan Rayya, Kanna. Suasana ini mengingatkan segalanya tentang Rayya." Ucap Maha sambil terus berjalan dan melihat kesana-kemari.
"Kanna juga berpikiran hal yang sama, sudah lumayan lama kita mengelana dan pergi jauh dari Rayya."
Maha dan Kanna terus berjalan, dan selalu melihat hal-hal yang membuat mereka teringat pada Rayya. Tidak terlalu jauh dan tidak terlalu lama, mereka melihat kerumunan orang, seolah melingkari sesuatu.
Maha dan Kanna yang penasaran pun segera mendekati kerumunan itu. Maha dan Kanna karena badan mereka yang masih anak-anak bisa masuk ke dalam kerumunan itu dengan mudah. Meski begitu, ada seseorang yang menghalangi Maha melarangnya masuk ke dalam kerumunan itu.
"Hei! Anak kec... " Orang itu tidak jadi menghalangi Maha, hanya karena sorot mata Maha pada orang itu.
"Orang itu takut dengan sorot matamu, Maha." Ucap Hain.
"Baguslah." Jawab Maha, segera mendapatkan posisi terdepan di kerumunan itu.
Dan yang mereka lihat adalah, Richard yang sedang mencekik leher seorang pria yang babak belur.
"Richard!" Teriak Maha. Sontak Richard melihat ke arah Maha. Tidak hanya Richard, semua orang dikerumunan itu menoleh ke arah Maha.
Richard lalu melepas cekikannya.
"Tuan muda." Ucapnya lalu tunduk di hadapan Maha.
"Apa yang kamu lakukan? Sampai membuat orang babak belur?"
"Dia adalah seorang pencuri, Tuan muda. Aku hanya memberinya pelajaran." Jelas Richard.
"Tidak, kamu tidak memberinya pelajaran. Kamu benar-benar menghajarnya, yang kamu lakukan adalah kesalahan. Seharusnya kamu hanya menangkapnya, biarkan pengadilan yang menanganinya." Ucap Maha.
__ADS_1
"Maafkan aku, Tuan muda." Richard lebih menundukkan badannya.
"Angkat dia, bawa dia ke pengadilan di kota ini." Suruh Maha pada Richard.
Richard pun membawanya di atas bahu kirinya, dan diikuti Maha dan Kanna, mereka pun menuju pengadilan. Tapi, Maha tidak langsung berangkat, dia juga menyuruh Richard membawa satu saksi mata aksi pencurian itu.
Sesampainya di pengadilan kota, Richard menjelaskan apa yang dia lakukan, dan saksi mata pencurian itu juga menjelaskan semuanya pada hakim pengadilan.
Selesai dari pengadilan, mereka pergi ke satu tempat yang lumayan luas di kota itu, bisa dibilang tempat itu adalah sebuah lapangan.
"Baiklah Richard, atas perbuatanmu barusan, pelajaran apa yang pantas kuberikan padamu?" Tanya Maha pada Richard.
"Oh.. Ataukah mau aku hapus nama kehormatanmu?" Sambung Maha, terus bertanya pada Richard.
"Akan aku terima apapun hukuman darimu." Jawab Richard singkat.
"Sepertinya aku perlu menjelaskan lagi padamu, bahwa kita harus menebarkan benih-benih kedamaian dimana pun itu, aku tidak ingin seseorang kecewa padaku." Jelas Maha.
Yang baru disadari oleh Maha adalah, dari sebelum pengadilan sampai sekarang di lapangan, dia baru sadar kalau Kanna memegangi lengannya.
"Begini, Richard. Aku tidak akan memarahimu karena aku lebih muda darimu, yang mana pengalaman dan pengetahuanmu jauh melebihiku. Tapi Richard, perlu diketahui bahwa, yang namanya rasa adil tidak harus kita sendiri yang mengadilinya." Ucap Maha.
"Dan juga, kedepannya kalau ada kejadian seperti ini, cukup tangkap, jangan melukainya." Sambung Maha.
"Itu tadi hukumanmu."
"Yang mana?"
"Ceramahku, kurang panjang? Kurang jelas?"
"Maaf. Baik-baik."
Richard lalu berdiri dan mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah belati. Yang mana belati itu sendiri terpasang sebuah mineral di gagangnya.
"Aku menemukan belati ini di bawah pohon, dan tertimbun dibawah semak belukar. Sepertinya telah ditinggalkan lama, karena keadaannya sudah dipenuhi tanah." Jelas Richard sambil memberikan belati itu pada Maha.
"Sebentar aku lihat dulu." Maha seolah mengamati belati itu, tapi dia bertanya pada Hain.
"Hain. Belati apa ini?"
"Belati biasa Maha, pembedanya hanya di gagangnya yang terdapat mineral."
"Apakah ini mineral spesial, Hain?"
__ADS_1
"Tidak, normal. Dan tidak memiliki efek apapun. Dan dari pengamatanku, belati ini telah terkubur beberapa tahun."
"Apakah tidak masalah bila salah satu dari kami menggunakannya?"
"Biarkan Richard yang memakainya, mineral di belati itu punya kecocokan dengan ras Ogre. Dan sepertinya, pemilik belati itu adalah ras Ogre."
"Baiklah, Hain. Akan aku biarkan Richard memakainya."
Maha mengembalikannya pada Richard.
"Kamu pakai saja, sepertinya belati ini telah terkubur beberapa tahun."
"Oh begitu? Apakah ada sesuatu yang menarik dari belati ini, selain bentuknya?"
"Tidak ada yang spesial. Tapi, sepertinya belati ini lumayan cocok untukmu, Richard." Ucap Maha pada Richard.
"Baiklah. Kalian berdua silahkan melanjutkan jalan-jalan kalian, dan nikmatilah. Aku akan kembali untuk mengawasi." Setelah itu, Richard pergi meninggalkan Maha dan Kanna.
"Pencuri itu tidak mati Kanna, tidak perlu khawatir." Celetuk Maha pada Kanna yang sepertinya mulai khawatir.
"Maha, Kanna tidak khawatir dengan itu. Kanna hanya berpikiran kalau ternyata selama ini Maha tidak bisa seberani dulu saat mengambil keputusan, karena batasan dari Kanna."
"Jangan berpikiran macam-macam, Kanna. Aku hanya melakukan apa yang menjadi tugasku. Kamu tidak perlu khawatir, karena aku selalu punya pertimbangan."
"Tapi..."
"Tidak apa-apa. Ayo, kita lanjutkan jalan-jalan kita." Maha lalu menggandeng tangan Kanna dan memandunya berjalan-jalan.
Banyak hal yang bisa dilihat oleh Maha di kota ini, misalnya pertemanan antar warga yang indah dan juga sangat terlihat akrab.
Tak lama setelah itu, Maha dan Kanna dihadang oleh beberapa orang berseragam, yang sepertinya adalah penjaga di kota itu.
Ada satu hal yang terlewat, ya dibalik para penjaga itu ada kereta kuda, yang lumayan mewah. Lalu, ada yang turun dari kereta kuda tersebut, seorang pria dengan raut wajah yang tidak mengenakkan.
"Anak-anak kecil ini?" Tanya orang itu pada seseorang, yang ternyata adalah saksi mata pencurian tadi. Saksi mata itu nampak seperti menghormati orang baru turun itu.
Orang itu pun lalu mendekat ke arah Maha.
"Kau majikan dari Ogre yang membuat onar tadi?" Pertanyaan pertama yang dilontarkan pada Maha itu membuat Maha merasa tidak nyaman. Maha membuat raut wajahnya menjadi datar.
"Siapa kamu? Apa ada yang bisa kubantu?"
"Kau orang asing di sini nak, harusnya kau tunduk padaku." Ucap orang itu pada Maha, yang semakin membuat Maha makin geram.
__ADS_1