
Malamnya, mereka mendirikan tenda kecil, setidaknya bisa melindungi mereka dari dinginnya malam. Malam itu suasana agak runyam, lebih runyam dibanding malam-malam sebelumnya. Kanna yang masih terus memeluk Maha, dan Richard yang masih belum sadarkan diri dari pingsannya.
"Lihat Maha, hal seperti inilah yang akan kau hadapi selanjutnya. Siap atau tidak, kau harus yakin dengan dirimu sendiri." Ucap Hain pada Maha yang saat itu menatap bintang dan gelapnya malam.
"Kamu pikir hal seperti ini akan membuatku gentar, Hain? Jika iya, maka asumsimu salah. Hal seperti inilah yang akan menjadi tantangan untukku nantinya, agar perjalananku tidak membosankan." Jawab Maha pada Hain.
Kanna saat itu masih belum percaya dengan apa yang Maha alami, dia masih erat memeluk Maha.
"Maha. Aku tau pikiranmu terbuka bebas, tapi setidaknya pikirkan orang-orang yang berada di sekitarmu. Di Rayya, banyak orang berharap padamu, dan bukannya kau sendiri yang ingin menjadikan daratan ini penuh dengan kedamaian, seperti yang Putri Kanna inginkan?"
"Tanpa kamu sadarkan hal itu padaku, aku juga mengerti, Hain. Aku hanya berpikir, ternyata hanya karena sebuah keinginan aku harus rela mengorbankan sesuatu."
"Ya, dan lihat, dadamu masih berlubang. Tidakkah kau ingin Kanna menyembuhkannya?"
"Kalau dia bisa menyembukannya, aku akan memintanya dari tadi, Hain."
"Lalu kau pikir, para Dwarf ditutup lukanya oleh Kanna menggunakan apa? Tanah? Dia menggunakan sihirnya."
Mendengar ucapan Hain, Maha menyadarinya dan sembari menenangkan Kanna, dia meminta Kanna untuk menggunakan Revitalize-nya.
"Kanna, lakukan apa yang aku pinta."
"Tapi..."
"Tidak, aku tidak apa-apa. Aku akan berdiam diri di sini. Anggap saja ini sebagai latihanmu juga."
Kanna pun mengiyakan, dan mulai ritual sihir Revitalize-nya. Di saat seperti itu, Kanna meyakinkan diri untuk menggunakan sihir tersebut. Karena sihir itu bisa diwujudkan karena keinginan yang kuat, sama seperti saat di desa para Dwarf, di sana Kanna benar-benar berniat untuk membantu mereka. Sedangkan, saat ini meski Kanna memiliki keyakinan untuk membantu Maha, tapi hatinya masih goyah dengan luka yang ada pada Maha.
"Sepertinya, Putri Kanna terus melihat ke arah dadamu yang tertusuk itu, Maha." Ucap Hain.
Maha lalu menutup luka di dadanya dengan jubahnya, dan tersenyum pada Kanna. Kanna yang melihat senyuman Maha, dia lalu bersemangat menyembuhkan Maha.
Oh ya, dan tentu, sekalian menyembuhkan Maha, Maha juga membawa Richard ke sampingnya, agar terkena efek Revitalize-nya juga.
Singkat cerita, besok paginya Maha dan Richard nampak seperti biasanya, sehat tanpa ada kendala. Hanya saja pakaian Maha dan Richard telah rusak karena ulah Lizardman sebelumnya.
__ADS_1
"Tuan Muda, aku rasa jalan kedamaian akan sulit kita raih bila seperti ini kedepannya. Jujur saja, kau akan jadi penghambat bila tidak bisa melakukan apapun." Ucap Richard.
"Aku tahu itu, Richard. Aku di kota sebelumnya juga mempelajari beberapa teknik prajurit kerajaan yang diajarkan Kanna, tapi ya begitu, aku tidak cocok dengan pedang." Jawab Maha.
"Tuan Muda, apa kau mau terlihat lemah di hadapan Kanna?" Bisik Richard pada Maha.
"Hain? Selemah itu kah aku?"
"Kurasa juga begitu, selain otakmu yang cekatan, tidak ada lagi kelebihan lain darimu."
"Ya mau bagaimana lagi, Richard. Aku tidak pernah belajar apapun dari kecil, kecuali Alkimia." Jawab Maha.
"Alkimia? Apa itu?" Tanya Richard.
"Ee... Itu hanya pelajaran umum, dan hanya pengetahuan ringan." Jawab Maha.
"Kanna, kenapa merenung?" Sambung Maha, bertanya pada Kanna.
"Ngomongin tentang kota sebelumnya, bukankah Richard pernah mengatakan sesuatu tentang ras Demon yang akan datang ke kota itu?" Tanya Kanna setelah renungannya.
"Nah itu Maha. Aku ikutan menjadi pelupa sama sepertimu. Kurasa pasukan Demon itu telah samapai di kota itu, bila mereka benar-benar akan mneyerang."
"Untuk apa?"
"Aku tau kau abadi Maha, tapi sekali lagi pikirkan orang-orang di sekitarmu ini." Sambung Hain.
"Karena kita sudah sejauh ini, kurasa mereka bisa melawannya, karena kita tidak mungkin putar balik kembali ke kota itu." Balas Richard.
"Aku setuju dengan Richard, kita berharap mereka mampu melawan para Demon itu. Dan Kanna, apa kamu tidak apa-apa?" Tanya Maha pada Kanna.
"Kenapa memangnya Maha?"
"Kamu hari sebelumnya memusnahkan banyak Lizardman lho."
Kanna menunduk melihat ke kedua telapak tangannya, dan mulai meneteskan air mata lagi.
__ADS_1
"Aku rasa aku tidak baik-baik saja, Maha." Kanna kembali memakai logat normalnya dan melihat ke arah Maha dengan air mata yang terus mengalir.
"Tuan Muda, aku akan menunggu kalian di luar." Ucap Richard yang memberikan waktu untuk Kanna dan Maha untuk berbicara empat mata.
"Kanna..." Maha lalu memeluk Kanna.
"Aku... Aku bukan lagi manusia Maha."
Maha yang tidak bisa menjawab ucapan Kanna, makin erat memeluk Kanna.
"Maha, sepertinya kondisi Kanna saat ini sedang drop. Dia dipenuhi oleh rasa bersalah. Aku rasa yang dibutuhkan Kanna saat ini hanyalah ketenangan lagi. Karena kembali lagi, menenangkan Kanna adalah hal yang sulit. Pikirkan cara mudahnya Maha." Jelas Hain.
"Kanna, yang kamu lakukan adalah atas dasar melindungi diri, tidak ada niat membunuh mereka kan? Kita lupakan, agar kita bisa melangkah kedepannya." Ucap Maha.
Kanna tiba-tiba berhenti menangis, dan melepas pelukan dari Maha. Lalu, mengusap air matanya.
"Maha. Aku, Kanna. Berjanji padamu, aku akan siap melakukan pembunuhan apapun itu, bila kau perlukan." Ucap Kanna tiba-tiba berdiri.
"Apa maksudmu, Kanna?" Maha menyusul berdiri.
"Aku tidak akan menjadi Putri cengeng lagi. Aku akan menjadi apa yang diperlukan tim kita. Jujur saja aku tidak terima saat Richard bilang kau adalah penghambat, makanya aku akan membungkam ucapannya itu. Aku akan menjadi pedangmu Maha."
"Iya iya, lalu apa maksudmu dengan membunuh?"
"Karena aku bukan lagi gadis suci yang tidak pernah membunuh orang, aku tidak akan ragu untuk melakukan pembunuhan, karena aku telah memulai pembunuhan dari sini." Jelas Kanna.
Maha mulai resah, karena pandangan mata Kanna terlihat mengancam, dan seperti bukan Kanna biasanya.
"Haaah~ Sepertinya, mental Kanna mulai tersakiti, kini yang kau lihat adalah Kanna yang baru." Ucap Hain.
"Tapi apakah Kanna akan baik-baik saja, Hain?" Tanya Maha.
"Kita akan lihat kedepannya nanti, kita hanya bisa berharap hal baik akan terus ada padanya." Jawab Hain.
"Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan kita, Tuan Muda." Ucap Richard dari luar tenda.
__ADS_1
Mereka pun bergegas membereskan perkemahan mereka itu. Kanna tidak seperti sebelumnya, yang sebelumnya hanya mengikuti Maha dari belakang, sekarang Kanna terus menggandeng tangan Maha sepanjang perjalanan.
Aneh untuk Maha? Tidak, Maha akan selalu menerima setiap perubahan pada Kanna.