
"Pikiranmu penuh dengan sesuatu yang idelis Maha, tapi sayangnya tidak ada perasaan di setiap ucapanmu." Balas Kanna.
"Begitukah? Kuharap itu benar, karena perasaan hanya akan menghambat setiap perbuatanku."
"Apakah ini sifat aslimu Maha? Aku tidak pernah tahu hal ini."
"Banyak yang bilang kalau aku adalah orang yang bengis seperti ibuku, aku sendiri tidak mengerti apa yang mereka anggap bengis dariku. Aku merasa aku hanya anak kecil yang suka membaca sesuatu hal baru."
"Bengis?"
"Ya, sifat kejam atau semacamnya."
"Oh. Ngomong-ngomong tentang sifat bengismu, bukankah menarik membahas tentang kelahiran kita yang sama?" Tanya Kanna.
Maha yang sebelumnya merebahkan diri, segera dia terbangun dari rebahannya, dan menghadap ke arah Kanna.
"Ya, ya. Bagaimana menurutmu?"
"Menurutku? Apanya, harusnya aku yang bertanya padamu."
"Oh... Aku menganggapnya hal biasa, tapi aku penasaran kalau dari pandangan kepercayaanmu."
"Haaa itu... Sebentar aku akan membuka Kitab Suciku."
Kanna mulai berdoa sebelum membuka Kitab Suci dan segera membaca beberapa lembar yang mungkin ada sangkut-pautnya dengan kelahiran yang sama itu.
"Ada. Tapi kurasa tidak ada sangkutannya."
"Apa? Coba baca."
"Di sini tertulis, Hanya pada kelahiran yang sama, mampu memumunculkan sesuatu yang baru. Begitu."
Maha seolah sedang berpikir sesuatu. Akan muncul banyak hal yang tidak bertujuan dipikiran Maha, yang membuatnya berpikir keras.
"Kurasa hal ini memang tidak ada sangkut-pautnya dengan apa yang dijelaskan Merlin." Ucap Maha setelah beberapa saat berpikir.
"Kau sendiri memiliki pemikiran seperti apa?"
"Tidak ada, kupikir aku akan tenang bila tidak lagi untuk memikirkan hal itu. Setelah Merlin menjelaskan, aku sedikit penasaran dengan hal itu, walaupun hasilnya tidak memuaskan untukku."
"Baiklah, kita akan membicarakannya nanti diperjalanan. Lebih baik saat ini kita bersiap untuk berangkat besok pagi." Sambung Maha.
__ADS_1
Mereka berdua sedikit berkemas, dan segera tidur.
Besok paginya, ketika Maha, Merlin dan Kanna hendak berangkat, mereka bertiga diajak untuk sarapan bersama, oleh Karin.
Di meja makan, mereka sedikit berbincang lagi. Perbincangan mereka cukup ringan.
"Kalian benar-benar akan menemui penyihir-penyihir itu?" Tanya Karin.
"Ya, setidaknya kami menemui mereka, untuk bertegur sapa saja. Seperti saranmu, kami akan lebih memprioritaskan untuk menemui para Elf." Jawab Merlin.
Setelah mereka selesai sarapan, mereka pun pergi meninggalkan penginapan Karin. Mereka pergi dengan keadaan tenang, terutama Kanna yang sebelumnya tegang saat bertemu para Demon.
Beberapa jam setelah keluar dari gerbang barat kota Demon, mereka disambut oleh para Orc, yang mana mereka sedang bertarung satu sama lain.
Maha semakin mendekati mereka, sedangkan Merlin dan Kanna berada di belakangnya. Sebelumnya Merlin sudah memberi peringatan pada Maha untuk tidak ikut campur urusan mereka, tapi diabaikan oleh Maha.
Maha mendekati salah satu Orc yang terluka, dan bertanya.
"Ada apa ini?"
"Bo-Bocah sepertimu, tidak akan mengerti." Balas Orc itu.
Maha memanggil Kanna, dan menyuruhnya untuk memberikan sihir penyembuhan milik ras Demon. Kanna pun segera menuruti perintah Maha.
"Mengapa kau menolongku?" Tanya Orc itu.
"Tidak, aku tidak berniat menolongmu. Aku hanya membutuhkan informasi darimu." Jawab Maha.
"Jelaskan padaku apa yang terjadi, atau saudariku akan melukaimu." Sambung Maha, sambil menunjuk ke arah Kanna.
Orc yang masih sedikit sempoyongan itu, melihat ke arah Kanna, dan langsung tunduk di hadapan Maha dan Kanna.
Perlu diketahui, bahwa ras lain selain ras manusia, akan lebih mudah melihat daya sihir pada apapun yang berada di hadapannya.
"Baiklah-baiklah. Hal ini adalah hal biasa di antara ras kami. Kami selalu memperebutkan pasokan makanan, dan dari kami tidak ada yang pernah memimpin suatu kelompok, yang menjadikan kami selalu terpecah dan selalu ada pertumpahan darah." Jelas Orc itu.
"Siapa namamu?" Tanya Maha.
"Kami tidak memiliki nama."
"Maha, setiap makhluk di beberapa ras memang tidak memiliki nama, karena ketika mereka mempunyai nama maka mereka akan menjadi spesies spesial diantara yang lain." Sahut Merlin.
__ADS_1
"Dan juga, kalau kami memiliki nama, siapapun yang memberikan kami nama, sihirnya akan terbagi pada setiap individu dari kami." Sahut Orc itu lagi.
"Baiklah, kurasa itu informasi yang bagus. Kanna tidurkan dia." Ucap Maha.
Kanna pun menidurkan Orc itu dengan sihir yang ia pelajari dari Karin. Setelah itu, mereka bertiga menuju tengah-tengah perseteruan antar Orc, dan hal itu membuat para Orc berhenti sejenak dan mata mereka tertuju pada Merlin, Maha dan Kanna.
"Apa mau mu, Manusia?!" Ucap salah satu Orc.
"Betapa bodohnya kalian, kalian hanya merebutkan makanan hingga harus saling membunuh." Jawab Manusia.
"Apa maksudmu?!" Tanya Orc yang sama, lalu semua Orc menghadapkan diri mereka pada Maha.
Seolah sedang marah, mereka mengangkat senjata mereka ke arah Maha.
Sejauh mata Maha memandang, senjata para Orc adalah senjata ringan yang terbuat dari kayu dan batu. Yang mana kalau di Rayya senjata seperti itu adalah senjata paling rendah, karena di Rayya sudah memakai metal dan baja.
Namun, Maha tidak akan meremehkan mereka. Maha tahu dari bentuk tubuh mereka, mereka sangatlah kuat, dan Maha berniat memanfaatkan tubuh mereka utu untuk memberi pelajaran.
Tapi tunggu, Maha mencium beberapa bau, bau besi? Bukan ini adalah bau darah manusia. Cukup membuat Maha syok, karena Maha pernah meneliti dan tahu tentang jenis-jenis darah.
"Hoo~ Jadi kalian pernah memakan daging manusia?" Tanya Maha, lalu memasang kuda-kudanya.
Merlin dan Kanna saat mendengar pertanyaan Maha, mereka langsung menoleh ke arah Maha. Dan saat Maha memasang kuda-kudanya, mereka ikut memasang kuda-kuda.
"Apa maksudmu, Maha?" Tanya Merlin.
"Aku tidak tahu pasti, tapi sebelumnya aku pernah meneliti beberapa darah manusia, dan yang tercium olehku ini bukanlah bau besi, melainkan darah manusia, aku yakin ini." Jelas Maha, dengan senyum tipis tegangnya.
"Manusia?" Tanya Kanna, langsung menundukkan kepala.
Seolah membaca sesuatu, Kanna lalu memunculkan api di tangannya. Api itu semakin besar, yang membuat Maha dan Merlin kaget. Para Orc yang menyaksikan itu, mereka mulai mundur selangkah.
"Apakah yang dikatakannya benar?" Tanya Kanna pada para Orc.
Para Orc tidak menjawab pertanyaan Kanna, dan langsung pergi meninggalkan tim Merlin.
Maha lalu menepuk bahu Kanna, seakan menyadarkan Kanna yang kesurupan.
"Kanna. Tenanglah, kita tidak tahu kebenarannya. Kita tidak boleh menghakimi mereka." Ucap Maha, dengan tangan yang memeras bahu Kanna.
"Aw..." Api di tangan Kanna menghilang.
__ADS_1
"Sakit tau." Ucap Kanna melepas tangan Maha.
"Aku butuh informasi dari mereka, tapi kamu membubarkan mereka. Aku yakin informasi dari mereka sangat berguna untuk kita nantinya." Ucap Maha, nampak seperti kesal terhadap Kanna.