MAHA : Sang Alkemis Kejam

MAHA : Sang Alkemis Kejam
Pengetahuan Baru


__ADS_3

Mereka menyantap sarapan berdua, selagi di luar asrama sedang diadakan penyambutan para pelajar baru.


Di tengah sarapan, Jeevan bertanya sesuatu hal pada Maha tentang beberapa pembukuan rahasia dunia dan Kitab Suci.


"Je, kamu orangnya religius tapi tidak semua orang se-religius kamu. Aku penasaran sih dengan pembukuannya, tapi masalah Kitab Suci, aku tidak mau berbicara banyak tentang itu." Jawab Maha.


"Bukankah lebih baik percaya pada apa yang tertulis di Kitab Suci?" Tanya balik pada Maha.


"Yang kutahu, dari sejarah yang sampai di telingaku, Kitab Suci itu ditulis dan dibuat oleh manusia. Aku tidak mengerti mengapa disebutnya Kitab Suci."


"Tapi isi dari Kitab itu adalah firman Tuhan."


"Ya itu pemahamanmu kan? Sudahlah Je, kita bahas pembukuannya saja."


"Maha di Kerajaan ini hanya ada satu aliran kepercayaan dan tidakkah kamu tergerak untuk mengikuti aliran itu."


Maha yang sedari tadi makan sambil menjawab Jeevan, kini setelah Jeevan berkata seperti itu, Ia berhenti makan dan menoleh ke arah Jeevan.


"Aku bukan seperti kalian yang dibesarkan di Gereja Suci. Aku tidak mengerti apa arti dari kata suci itu sendiri. Perdebatan seperti ini tidak perlu kita langsungkan Je, kita ini hanya bocah berumur 7 tahun, apa yang kamu harapkan dari perdebatan kita ini?"

__ADS_1


"Baiklah Maha, setidaknya kita berteman tidak harus dengan kepercayaan yang sama. Aku akan menghormati kepercayaanmu yang berbeda dariku."


"Maka aku juga akan seperti itu Je." Balas Maha menutup perbincangan di sarapan mereka.


Setelah sarapan, mereka berdua keluar dari asrama dan berjalan menuju Perpustakaan Kerajaan, yang mana ini adalah permintaan Maha, yang memang kegemarannya membaca buku.


Di tengah perjalanan Jeevan membuka pembicaraan.


"Maha, apa kamu tahu apa itu sihir?"


"Ya, tentu aku tahu. Tapi aku tidak pernah bertemu dengan orang yang bisa melakukan sihir."


"Hooo... Sihir apakah itu?"


"Holy Healing. Penyembuhan dalam bentuk sihir."


"Apa cuma satu sihir saja?"


"Iya minimal kami punya satu sihir ini. Apakah kamu punya energi sihir Maha?"

__ADS_1


"Kamu tahu? Seorang bocah sepertiku hanyalah bisa membaca buku sampai tua nanti."


"Nanti kita tanyakan pada Pustakawan yang bisa membaca aliran daya sihir yang ada dalam diri."


Maha menjawab Jeevan dengan mengangguk dan mereka melanjutkan perjalanan menuju Perpustakaan Kerajaan.


Sesampai di perpustakaan mereka berdua berpisah mencari buku yang masing-masing dari mereka ingin baca.


Maha yang saat itu sangat takjub dengan banyaknya buku di depan matanya, Ia mulai kesana-kemari mencari buku dengan judul yang Ia harapkan.


Tak menemukan judul buku yang membuatnya tertarik, Ia mulai kehilangan semangat untuk mencari buku. Setelah kesana-kemari sampai capek, Ia pun secara acak menemukan sebuah buku di salah satu rak. Buku itu berjudul 'Alkimia.' Segeralah Ia membaca buku itu.


Di sisi lain, Jeevan sedang mencari Pustakawan yang tadi Ia bilang, karena Pustakawan ini susah untuk dicari, Jeevan pun menemui Maha.


Memang tak lama Jeevan dan Maha berpisah, namun saat Jeevan melihat Maha yang membaca buku, Ia bertanya-tanya di pikirannya 'Loh? Bukannya hanya beberapa menit kami berpisah ya? Kok banyak banget buku yang ada di samping Maha?'


Segeralah Jeevan mendekati Maha hendak bertanya. Tapi, di hadapan Maha ada secarik kertas bertuliskan, 'Jangan diganggu sampai ada sepuluh tumpuk buku di hadapanku.'


Jeevan yang telah membaca itu, Ia pun tidak mengganggu Maha, dan langsung duduk di samping Maha.

__ADS_1


__ADS_2