MAHA : Sang Alkemis Kejam

MAHA : Sang Alkemis Kejam
Setahun di Akademi


__ADS_3

Kembali ke Jeevan yang sedang mencari Maha, dia pergi ke perpustakaan untuk mencari Maha, karena memang tempat yang sering dikunjungi oleh Maha ya perpustakaan itu.


Dia bertemu dengan Ayyra, Pustakawan yang sebelumnya ia cari.


"Permisi. Apakah anda tahu dimana Maha?" Tanya Jeevan pada Ayyra, yang saat itu Jeevan belum sadar kalau Ayyra adalah salah satu petinggi kerajaan.


"Maha? Oh kamu Jeevan ya? Sebentar lagi Maha pasti kemari. Saat ini dia sedang melihat kondisi gudang diujung kota." Jawab Ayyra.


"Gudang?" Heran Jeevan.


Akhirnya Jeevan menunggu Maha di perpustakaan, dan benar saja tak lama Jeevan menunggu, Maha pun datang dengan wajah datarnya.


"Oh hai, Je." Sapa Maha.


"Oi Maha, aku mencarimu dari tadi."


"Maaf-maaf, aku ada urusan di kerajaan. Aku sengaja meninggalkanmu di asrama agar kamu bisa istirahat."


"Urusan?"


"Iya urusan. Ada sedikit urusanlah." Lalu Maha duduk disamping Jeevan.


"Lalu barusan pustakawan bilang kalo kamu sedang melihat kondisi gudang di ujung kota. Untuk apa?"

__ADS_1


"Pustakawan?" Maha heran, siapa sih Pustakawan yang dari kemarin Jeevan omongkan.


Lalu Jeevan menunjuk Ayyra, dan berkata kalau Ayyra itu Pustakawan yang ia maksud.


"Oh Kak Ayyra? Dia juga petinggi kerajaan lho." Ujar Maha.


"Petinggi kerajaan? Lalu mengapa kamu memanggilnya dengan panggilan kakak?" Tanya Jeevan.


"Karena masih muda." Jawab Maha singkat.


Setelah itu, Maha dan Jeevan masing-masing dari mereka membaca satu buku yang lumayan tebal. Maha yang fokus membaca, seolah memancarkan aura tidak mau diganggu, dan Jeevan membaca dengan santai.


Ayyra mendekati tempat duduk mereka.


"Masih layak ditinggali kak." Jawab Maha yang membuat Jeevan keheranan.


Padahal biasanya kalau Maha membaca buku, dia tidak bisa untuk diganggu apalagi ini Maha menjawab juga.


"Ya tapi sangat disayangkan, karena mungkin pembengkakan ekonomi akan sedikit banyak terjadi nantinya, dan itu bisa aku obrolkan dengan Menteri Keuangan." Sambung Maha.


"Bukankah kamu terlalu memaksakan dirimu untuk berpikir, Maha?" Tanya Ayyra.


"Tidak kak, justru hal ini akan menjadi pengalaman baik untukku."

__ADS_1


"Baguslah. Jeevan, bantulah Maha ketika dia benar-benar membutuhkannya, dia tidak akan membutuhkan orang lain bila dia tidak sedang benar-benar membutuhkan." Ujar Ayyra pada Jeevan.


Jeevan hanya mengangguk, mengiyakan ucapan Ayyra.


Singkat cerita, hari terus berganti. Rencana awal Maha telah mulai dilakukan, dan cukup bisa dibilang memuaskan hasilnya.


Sekitar lima bulan berlalu, keadaan keuangan Kerajaan Rayya terus membaik setiap bulannya. Tidak ada lagi rakyat yang kelaparan seperti bulan-bulan sebelumnya.


Maha yang makin memiliki tingkat ketenaran sosial semakin membaik, mulai dikenal banyak orang, hingga terdengar oleh Nathan dan Valencia.


Nathan dan Valencia berniat menemui Maha pada ulang tahun kedelapan Maha, untuk menyapanya setelah sekian lama tidak bertemu.


Singkat cerita, genaplah usia Maha yang kedelapan, dan saat itu Nathan dan Valencia bertemu Maha di sebuah tempat makan di pusat kota, lalu saling berbincang.


"Wahai Ayahku dan Ibuku, bagaimana keadaan kalian di rumah?" Tanya Maha pada Nathan dan Valencia, membuka obrolan.


"Wahai anakku Maha, Ayah dan Ibu senantiasa sehat. Kami juga akan selalu mendoakanmu yang terbaik." Jawab Nathan.


"Ayah, setelah kurang lebih setahun aku bersekolah di akademi, aku bertemu dengan banyak orang, tidak terkecuali Raja juga."


"Iya Maha, dilihat dari perkembangan yang akhir-akhir ini terjadi, guru kita Merlin memberitahukan padaku kalau resolusi ini terjadi karena idemu." Ujar Nathan.


"Aku meminta maaf padamu Ayah, aku tidak bisa langsung menghasilkan apa yang ayah pasrahkan padaku." Balas Maha, meminta maaf karena dia tidka sanggup untuk langsung membenahi kerajaan.

__ADS_1


__ADS_2