
Mereka berdua pun segera masuk ke dalam akademi, dan menuju aulanya. Karena saat mendaftar sebelumnya, Maha diberitahukan kalau saat hari pertama pembelajaran dia diwajibkan untuk ke aula, untuk mengikuti upacara penerimaan, walaupun Maha dan Jeevan tidak ikut acara penyambutan sebelumnya.
Sesaat setelah mereka memasuki aula akademi, pelajar lain mulai memperhatikan mereka.
Terlintas di telinga Maha, tentang pelajar lain yang saling bertanya, siapakah Maha, darimanakah dia, apakah dia dari luar kerajaan. Tapi, hal ini dianggap wajar oleh Maha, karena memang Maha sebelumnya tidak dibesarkan di Gereja Suci, melainkan dibesarkan oleh ayahnya sendiri.
Maha dan Jeevan pun mencari posisi untuknya berbaris seperti yang lainnya.
"Oi Maha, bukankah sudah kubilang untuk memakai pakaian biasa? Lihat kamu jadi tontonan semua orang." Ujar Jeevan.
"Ha? Oh ya tentu, aku jadi sorotan mereka bukan karena aku memakai jubah Je, tapi karena aku bukan anak asuhan dari Gereja Suci."
"Tapi Maha..." Jawab Jeevan cemas.
Maha pun tidak mendengarkan ucapan Jeevan lagi, kini Ia mulai memperhatikan panggung dimana seorang guru akan berpidato tentang penerimaannya. Ya mau bagaimana pun cara Jeevan membujuk Maha, tetap saja Maha adalah orang yang berpegang teguh pada keyakinannya sendiri.
__ADS_1
Maha akan jadi bahan perbincangan terus kedepannya, sedangkan tidak ada yang memperdulikan Jeevan, karena Jeevan sendiri tidak memiliki teman dari Gereja Suci.
Singkat cerita, pidato penerimaannya telah selesai, dan kini Maha dan Jeevan menuju ruang kelas yang tadi telah di jelaskan.
Disini kelas Maha dan kelas Jeevan berbeda, yang mana Maha di kelas 1-B, sedangkan Jeevan ada di kelas 1-A.
Kita lari ke Maha. Di kelasnya Maha sedang bengong menunggu jam pelajaran, tidak ada yang bertanya padanya, yang mana dia merasa sekarang dia merasa terasingkan oleh teman dikelasnya.
Di sisi lain, Jeevan kini di datangi oleh salah seorang murid perempuan di kelasnya. Yang tiba-tiba menggeprak meja Jeevan.
"Iyasih kenapa?" Jawab Jeevan yang berusaha bereaksi senormal mungkin, karena saat perempuan itu menggeprak mejanya, dia kaget.
"Siapa yang tadi bersamamu?" Tanya perempuan itu, bertanya seolah mau mengancam Jeevan.
Disini Jeevan, sedikit berpikir dan mencoba mengingat sesuatu tentang perempuan ini, mungkin perempuan ini adalah perempuan yang ia kenal dari Gereja Suci.
__ADS_1
Dan benar saja, Jeevan mengingatnya. Perempuan ini adalah Putri Kanna, Putri bungsu dari kerajaan ini. Jeevan tahu karena ayahnya yang memberitahukannya. Tapi Jeevan tidak akan membocorkannya pada orang lain.
"Dia Maha, teman se-asramaku."
"Oh~ Tapi aku sebelumnya tidak pernah melihatnya waktu kita berada di Gereja. Apakah dia rakyat asing?" Tanya Kanna.
"Tidak, dia bukan seorang rakyat, juga bukan seorang imigran. Dia dibesarkan dengan jalur khusus, berbeda dengan kita." Jawab Jeevan. Jeevan menjawab seperti ini karena, Ia memang yakin kalau Maha bukan anak sembarangan, setidaknya untuk Jeevan sendiri.
"Bukan rakyat? Apa maksudmu?" Saat Kanna bertanya, ternyata sudah masuk jam pelajaran.
Kita lari lagi ke Maha, yang makin bosen dengan kesendiriannya. Tapi untungnya saat itu juga guru masuk ke kelasnya.
"Baik semuanya, perkenalkan namaku Merlin, aku akan menjadi walikelas kalian, sampai kalian lulus dari akademi ini." Ucap Merlin. Ya, Merlin, gurunya Nathan.
Setelah Merlin memperkenalkan diri, di kelas Maha ini para perempuan mulai gaduh. Yang Maha dengar ialah, mereka membicarakan kegantengan Merlin. Maha bertanya-tanya dong, padahal di mata Maha, Merlin adalah seorang kakek-kakek.
__ADS_1