MAHA : Sang Alkemis Kejam

MAHA : Sang Alkemis Kejam
Rahib dan Desa Dwarf


__ADS_3

Maha dan Kanna melanjutkan perjalanannya.


Keluar dari desa Machos itu, mereka sering kali berjumpa dengan aliran sungai, dan Maha berasumsi kalau mereka mendekati sebuah gunung.


Benar saja, setelah beberapa hari berjalan, mereka menemukan sebuah gunung didepan mereka, gunung tersebut nampak masih aktif.


Mereka berdua berjalan menyusuri kaki gunung tersebut, mereka lalu menemukan sebuah gua untuk bermalam. Namun, sangat di sayangkan, gua tersebut di huni oleh seekor harimau yang sedang tertidur, mereka pun mengurungkan niat untuk bermalam di gua itu, dan segera menjauh dari daerah itu, karena ditakutkan akan banyak hewan liar lainnya.


Sekitar seminggu perjalanan dari desa Machos, mereka menemukan sebuah desa lagi di kaki gunung itu.


Oh ya, perjalanan mereka selama seminggu ini lumayan santai, karena medan yang mereka lewati adalah sebuah jalur penghubung antar desa. Yang mana desa selanjutnya adalah desa yang berada di kaki gunung, yang mereka temui.


"Setelah seminggu ini, apakah terasa efek dari sihir pelindung di desa Lloyd?" Tanya Maha pada Kanna, sebelum memasuki desa itu.


"Tidak Maha, aku tidak merasakan apapun. Aku rasa, sekali mengeluarkan sihir tersebut, maka selanjutnya akan di isi oleh angin-angin yang berada di sekitanya. Masih kemungkinan sih." Jelas Kanna.


"Tapi, kamu gak merasa kehabisan sihir kan?"


"Tidak, Maha."


Maha memastikan desa itu aman atau tidak, dengan mengintainya dari kejauhan, siapa tahu ras Demon pemilik desa tersebut.


Saat Maha sedang melihat desa tersebut dari kejauhan, Kanna tiba-tiba memegang lengan Maha dengan kedua tangannya, memegang dengan erat.


"Maha." Celetuk Kanna.


Maha lalu sontak menoleh ke arah Kanna.


"Kenapa?"


"Aku merasakan sebuah aura jahat dari di desa itu."


Maha pun semakin teliti melihat desa itu, dan yang Maha lihat adalah darah yang berceceran. Maha pun bergegas menuju desa itu, tentu dengan menarik tangan Kanna.


Sesampainya di depan desa itu, Maha langsung menutup mata Kanna dengan telapak tangannya. Karena yang pertama kali Maha lihat banyak manusia kerdil tapi kekar yang terbaring di tanah, dan dipenuhi dengan darah.


Maha meneliti dengan matanya, berharap masih ada yang bernafas untuk mendapatkan informasi, apa yang sebenarnya terjadi.


Tak lama setelah Maha dan Kanna menyusuri setiap mayat itu, Maha bertemu dengan wanita yang berpakaian seperti Kanna, sedang menggunakan sihir Holy Healing. Yang mana, sihir tersebut adalah sihir yang digunakan untuk menyembuhkan.

__ADS_1


"Permisi." Sapa Maha pada wanita yang membelakanginya itu.


Wanita itu kalau dilihat dari penampilan, sudah cukup berumur dibandingkan dengan Ayyra yang berusia dua puluh tahunan.


Wanita itu masih belum menjawab.


"Dia... Dia sedang fokus memakai High Holy Healing, Maha. Sihir yang lebih kuat dari Holy Healing." Ucap Kanna yang masih ditutup matanya oleh Maha.


Maha pun menurunkan tangannya yang menutupi mata Kanna.


"Revitalize." Ucap Kanna, lalu melentangkan tangannya.


Tidak lama setelah itu, muncul sebuah lingkaran mengelilingi desa kecil itu. Perlahan mulai menyembuhkan semua orang yang berada disana, memang sudah mati tapi setidaknya luka orang-orang tersebut tertutup. Ada beberapa yang masih bisa hidup kembali, dan terbangun dari telentangnya di tanah.


Setelah itu, Kanna selesai dengan sihirnya, dan wanita tadi menghampiri Maha dan Kanna. Unik atau aneh, wanita ini menghampiri Maha dan Kanna dengan mta tertutup.


"Saya merasakan ada aliran sihir Demon, apakah seorang dari kalian ada yang berasal dari ras Demon?" Tanya wanita itu.


"Tidak, kami berdua dari ras manusia. Aku Maha dan yang memakai sihir barusan adalah saudariku, Kanna." Jawab Maha.


"Saya tidak merasakan adanya ikatan di antara kalian, apakah kalian bukan saudara se-ibu?"


"Nona Kanna dan Tuan Maha dari Rayya? Sudah lama saya tidak bertemu dengan orang Rayya, dan juga saya kehilangan penglihatan saya di Rayya." Ucap wanita itu.


"Kalau boleh tahu siapa nama Rahib?" Tanya Kanna.


"Nama saya Cayna. Saya juga seorang pengelana untuk mengabdikan diri saya pada Tuhan." Jawab Cayna.


"Bolehkan aku mencoba untuk menyembuhkan mata Rahib?"


"Nona Kanna mau mencoba menyembuhkannya? Silahkan nona." Jawab Cayna.


"Ee... Kanna, aku akan berkeliling untuk bertanya pada beberapa warga yang masih selamat." Ucap Maha sebelum Kanna memulai ritual sihirnya pada Cayna.


Kanna pun mengangguk, mengiyakan ucapan Maha.


Kanna memegang kedua mata Rahib yang tertutup, dan mulai dengan sihir pemulihan kelenjar pada mata Cayna.


"Secretion." Ucap Kanna.

__ADS_1


Tak perlu banyak waktu yang Kanna habiskan, saat mulai mengucapkan mantra sihir tersebut, tangan Kanna langsung merasakan kehangatan yang mengalir menuju aliran mata Cayna.


Sekitar tiga puluh menit berlalu, Maha kembali ke hadapan Kanna dan Cayna. Kanna mengeluarkan cahaya terang dari tubuhnya, yang menunjukkan sucinya sihir yang ia rapalkan.


Setelah satu jam ritual yang Kanna lakukan, akhirnya Kanna mendapatkan hasil yang memuaskan, yang mana meski Cayna bilang pandangannya buram, setidaknya sekarang dia sudah bisa melihat kembali.


"Kalian masih muda ternyata." Ucap Cayna saat pertama kali membuka matanya.


Lalu menjelaskan tentang masih buramnya penglihatannya. Dan Maha menawarkan sesuatu pada Cayna.


"Apakah kamu mau aku buatkan sebuah kacamata? Mumpung kita berada di desa Dwarf, kuyakin mereka punya peralatan membuat kacamata." Tawaran Maha pada Cayna.


"Dwarf?" Kanna heran, karena Maha bilang sebelumnya, sebelum dia masuk ke desa ini, bahwa desa ini berisi manusia kerdil.


"Iya Kanna, setelah berbicara dengan beberapa orang, aku baru tahu kalau desa ini desa para Dwarf." Jelas Maha.


"Jadi bagaimana? Apakah mau melihat dengan buram, atau mau aku buatkan?" Sambung Maha bertanya pda Cayna.


"Boleh saja. Tapi itu akan merepotkan anda, Tuan Maha."


"Santai saja, kalau saudariku bisa menyembuhkanmu, aku juga tidak boleh kalah darinya untuk membantu seseorang." Jawab Maha.


"Semoga Tuhan memberkati kalian." Ucap Cayna mendoakan Maha dan Kanna.


Setelah berbincang dengan seorang Dwarf, Maha pun di berikan beberapa bahan untuk membuat sebuah kacamata.


Saat sedang membuat kacamata, Maha berada di salah satu tempat menempa milik salah seorang Dwarf. Sedangkan, Kanna dan Cayna sedang berbincang di salah satu rumah para Dwarf di desa itu.


"Jago juga kau nak!" Ucap seorang Dwarf yang sedang mengawasi Maha membuat kacamata.


"Ya, ayahku yang memberitahukan tentang ilmu pengrajin dari ras Dwarf. Dan ya, lumayan membantu di saat seperti ini."


"Begitu? Aku juga punya seorang kenalan dari ras manusia dulu, namanya Nathan. Dia anak yang baik, dan selalu membantu kami untuk membuat sesuatu. Terakhir yang kutahu tentangnya adalah, bahwa dia berada di Kerajaan Rayya."


Maha mendengar nama ayahnya tidak langsung heboh, tapi tetap bersikap tenang dan menjawabnya dengan kejujuran.


"Oh Nathan, dia adalah ayahku. Dia juga berkata kalau sedikit punya pengalaman dengan para Dwarf." Ucap Maha santai sambil terus mengolah kacamata.


"Ayahmu?!" Kaget Dwarf itu.

__ADS_1


__ADS_2