
Akhirnya setelah melakukan perpisahan, mereka benar-benar berpisah dari desa Dwarf itu. Maha dan Kanna pun melanjutkan perjalanan mereka.
Karena mereka berada di kaki gunung, mereka pun mengikuti arus air sungai. Karena Maha memiliki beberapa referensi dari buku yang pernah ia baca, bahwa kalau mengikuti arus sungai, pasti di tengah atau di hilir sungai, dipastikan ada kehidupan.
Dengan optimis Maha dan Kanna melakukan perjalanan. Perjalanan kali saat ini dibandingkan dengan awal perjalanan mereka, sungguh jauh berbeda. Bagaimana tidak, mereka sekarang jauh lebih akrab dibandingkan yang sebelumnya.
Suatu ketika, ditengah perjalanan, Maha mengajak Kanna untuk beristirahat. Akhirnya istirahatlah mereka di tepi sungai, sekalian untuk makan.
"Kamu mau makan ikan, Kanna?"
"Apakah kau melihat ikan, Maha?
"Ya, samar-samar aku bisa melihat bayangan ikan di sungai ini. Dan pasti ikan di sini jumlahnya lumayan."
Maha pikir karena posisi mereka cukup dekat dengan hulu, jadi di pikiran Maha pasti ikan di sungai di hadapan mereka masih banyak karena belum ada campur tangan manusia yang merusak ekosistem mereka.
"Apakah kau akan menangkap ikan-ikan itu?"
"Aku? Tidak-tidak, mending kamu gunakan sihirmu atau semacamnyalah."
"Hmm, jangan deh. Kita buat joran buat memancing saja, selagi kita istirahat juga. Dan lihat, tanah di bawah kaki kita, kebetulan keadaannya lebab dan lumayan basah, aku yakin banyak cacing di sini, bisa kita pakai untuk umpan." Sambung Maha.
Kanna mengikuti saja apa yang Maha pikirkan. Lagian Kanna juga mulai menikmati dna terbiasa dengan setiap kelakuan Maha.
Maha pun membuat dua joran yang terbuat dari beberapa kayu yang ia temukan disana, dengan memakai serat-serat kayu yang ada, Maha membuat tali untuk pancingannya, dan pemberatnya memakai kerikil yang ada di sekitarnya, pengambangnya memakai kayu-kayu kering yang sekiranya bisa mengambang saat berada di air, umpannya ya memakai cacing.
Cukup lama mereka memancing, hasil yang mereka dapatkan lumayan sedikit, karena memang alat pancing seadanya. Meski sedikit dan ikannya tidak terlalu besar, mereka cukup puas.
"Pengalaman baru bagiku, Maha."
"Kamu pikir aku sudah terbiasa memancing? Tidak, ini juga kali pertama aku mencoba memancing. Dan ya, hasilnya bisa kita nikmati, meski hanya beberapa gigit."
"Maha, apakah kau sudah bisa sedikit terbuka padaku?"
"Maksudnya?"
"Sebelum-sebelumnya, kau suka mengabaikan beberapa pertanyaanku, apakah sekarang masih tetap seperti itu?"
"Aku selalu terbuka padamu."
__ADS_1
"Hmmm..."
"Iya, iya... Jadi apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Waktu kita bertemu dengan para Orc, aku kan kesal saat mereka bilang mereka memakan manusia, waktu itu aku mengeluarkan sihir apiku, dan mereka kabur, lalu kau sepertinya marah padaku saat itu."
"Kanna, waktu itu kita sangat butuh informasi, tapi ternyata, kita tidak juga harus buru-buru untuk mendapat informasi, kita bisa mencari informasi secara perlahan."
"Baiklah, aku paham. Selanjutnya, aku ingin menagih ini, tapi aku takut kau malah kesal padaku. Janjimu padaku setelah aku membuat perlindungan di desa Machos." Ucap Kanna merujuk pada janji Maha yang berkata kalau akan menuruti kemauan Kanna seharian.
"Belum kubayar kah?"
Kanna menggelengkan kepalanya.
"Yasudah, hari ini saja. Silahkan."
"Beneran? Kalau begitu, biarkan aku tidur di pangkuanmu."
"Kok gitu?"
"Katanya apapun kan?"
Kanna merebahkan diri beralaskan matras yang selalu mereka bawa, dan dengan kepalanya yang berbantalkan pangkuan Maha.
"Bukankah aneh seperti ini, Kanna?"
"Aku malu." Ucap Kanna lalu menutupi mukanya dengan kedua tangannya.
Maha pun berusaha membuka kedua tangan Kanna, dan berhasil. Tapi, yang Maha lakukan selanjutnya adalah memastikan tidak ada luka lahi di tangan Kanna.
"Kenapa?"
"Tanganmu selalu baik-baik saja kan, Kanna?"
"Tentu, kenapa?"
"Saat ini, kekuatan kita berada di tanganmu. Aku takut kalau tanganmu terluka, dan saat ada apa-apa nanti kamu malah tidak bisa melakukan sihir."
"Bukannya kau khawatir padaku?"
__ADS_1
"Haaaah~ Ya, ya... Aku khawatir padamu."
Cukup lama mereka beristirahat, bersantai dan berbincang. Setelah itu, karena hari belum malam ,dan masih beberapa jam untuk lanjut, maka lanjutlah mereka.
Di perjalanan selanjutnya itu, mereka bertemu dengan rombongan Orc yang sedang memakan sesuatu. Dan di situ, Maha mencium bau sesuatu.
Bau tersebut seperti bau darah hewan reptil, yang mana darah mereka berbeda dengan darah makhluk lainnya.
"Kamu mencium sesuatu, Maha?" Tanya Kanna pada Maha, yang memejamkan matanya dan terlihat sedang mengendus-endus bau sekitar.
"Aku yakin ini adalah bau darah, bukan darah manusia memang. Tapi, sebentar. Lebih baik kita tidak mendahului mereka, kurasa kalau kita mendahului mereka, kita akan terus menemui mereka." Jelas Maha.
Maha dan Kanna yang lumayan jauh dari posisi para Orc itu, mereka terus menunggu sampai para Orc itu berjalan.
Berhari-hari mereka menunggu para Orc itu berjalan, namun tidak ada pergerakan sama sekali dari para Orc itu. Maha mulai khawatir, bagaimana kalau mereka ketahuan sedang mengawasi para Orc itu.
Di malam ke empat, Kanna mulai bosan untuk menunggu, akhirnya dia mengajak Maha untuk melihat lebih dekat, apa yang sebenarnya terjadi pada para Orc itu, karena Maha bilang bahwa dia beberapa kali selain mencium bau darah reptil, dia juga samar-samar mencium bau busuk.
Saat Maha dan Kanna mendekat, ternyata para Orc yang terlihat banyak dari kejauhan tersebut adalah mayat, yang mana di sisa mayat mereka terdapat bercak-bercak darah. Maha bilang itu adalah darah asli mereka, namun, Maha tidak mencium bau darah reptil di beberapa bercak di sana.
Setelah teliti Maha, kini dia mendapat beberapa petunjuk tentng bau darah reptil itu. Dia menemukan beberapa sisik, yang mana sisik itu terlihat lumayan kena sayat.
Dan benar saja, kehadiran Maha dan Kanna saat mendatangi para jasad Orc itu, menimbulkan masalah baru. Yaitu, munculnya seorang ular raksasa yang tiba-tiba berada di atas mereka.
Kagetlah mereka, Maha pun segera menarik tangan Kanna dan segera lari sekencang-kencangnya.
"Apa itu Maha?"
"Aku tidak tahu, yang jelas kita akan lari dulu, sebelum terjadi apa-apa."
Ular itu mendesis lalu mengejar Maha dan Kanna.
Beberapa saat setelah mereka berlari dari ular raksasa itu, tiba-tiba ada seorang penyihir di hadapan mereka dan mengucapkan mantra untuk ditembakkan pada ular itu.
"Flameshoot." Ucapnya.
Maha dan Kanna lalu menghindari sihir itu, dan benar saja, ular itu terkena lemparan api dari penyihir itu. Meskipun, tidak berefek apapun pada ular itu, setidaknya membuat pergerakan ular itu tersendat.
"Ayo lari!" Teriaknya oada Maha dan Kanna.
__ADS_1
"Ikuti aku." Sambungnya lalu berlari, dan menunjukkan sebuah jalan.