MAHA : Sang Alkemis Kejam

MAHA : Sang Alkemis Kejam
Lembar Sihir Kanna


__ADS_3

Beberapa saat kemudian Kanna telah menyelesaikan proses pembuatannya. Dan segera untuk memberikannya pada Karin.


Sementara itu, Maha lalu mencatat beberapa informasi yang diberikan oleh Karin sebelumnya.


"Apa yang membuatmu menerima ucapan Karin, Maha?" Tanya Merlin, pada Maha yang sedang menulis.


"Kupikir aku akan membutuhkan sihir di kedepannya, makanya aku akan mengusahakan bagaimanapun caranya agar Kanna mempunyai hal itu." Jawab Maha.


"Saat di kerajaan, saat dirimu di tunjuk untuk memimpin para pekerja baru mengapa tidak mau? Menteri pembangunan berkata kalau kau benar-benar tidak mau pemimpin orang lain karena merepotkan."


"Ya tentu, memimpin orang lain adalah hal yang merepotkan, tapi Karin tidak memintaku untuk memimpin, dia memintaku untuk menguasai."


Karin yang selesai mentransfer sihir ke Kanna saat mendengar ucapan Maha itu, dia langsung menoleh ke arah Maha dan bilang kalau tidak akan mudah.


"Meski begitu, tidak akan mudah bagimu, Maha."


"Tentu, karena daratan ini luas. Dan juga ada hal lain selain yang kamu minta, untuk aku selesaikan." Balas Maha, hal lain yang dimaksudkan adalah permintaan Kanna.


"Kanna telah menerima beberapa sihir dariku, biarkan dia mempelajarinya melalui lembaran-lembaran yang tadi dia buat." Ucap Karin.


"Terimakasih." Ucap Kanna, menundukkan badan.


"Oh ya, Merlin. Informasi terakkhir yang kudapat tentang Gandalf, dia masih hidup. Kuyakin dia sedang berada di bagian timur daratan." Ucap Karin memberikan informasi pada Merlin.


"Wah. Tujuan kami saat ini, akan menuju ujung barat untuk menemui trio legenda sihir."


"Aku tidak akan menanyakan tentang tujuan kalian mendatangi mereka. Tapi perlu diingat, mereka nukanlah Lich sepertimu Merlin, aku yakin mereka tidak lagi muda seperti dulu."


"Kami menemui mereka karena kami butuh informasi tentang Saint."


"Saint? Kau bercanda? Mereka telah lama tiada. Tidak ada lagi yang tersisa dari mereka, kecuali nama. Aku akan menyarankan padamu untuk pergi menemui para Elf daripada mencari para Saint."


"Elf mengapa?"


"Oke, kalian mencari Saint untuk ilmu pengetahuan kan? Maka aku sarankan menemui para Elf. Selain usia mereka yang panjang seperti para Demon, mereka juga ramah dengan manusia. Usia mereka yang panjang bisa jadi informasi mereka tentang dunia cukup luas."


"Kupikir ada benarnya juga, Merlin." Sahut Maha.


"Selain mempermudah tujuan kita, hal itu juga akan mempersingkat waktu kita." Sambung Maha.

__ADS_1


"Itu benar, tetapi aku telah lama tak mengunjungi mereka." Balas Merlin.


"Baiklah kita akan mengunjungi mereka, hanya mengunjungi saja kurasa tidak salah meski jauh." Ucap Maha.


"Baiklah. Lalu, aku akan menjelaskan apa fungsi dari kalung yang aku berikan pada Maha ini." Sahut Karin.


"Kalung ini memiliki efek resistensi terhadap sihir, ya walaupun hanya menahan efek ringan, setidaknya bisa membantu. Terlebih lagi, kalung ini memiliki kecocokan dengan jubah yang dikenakan oleh Maha." Sambung Karin menjelaskan.


"Terimakasih Karin. Walaupun sebenarnya aku tentu bisa dipercaya tapi kaku sudah memberikan sesuatu seperti ini padaku." Ucap Maha pada Karin.


"Tak masalah. Jadi, kalian berencana pergi sekarang atau esok hari?"


"Sepertinya besok pagi." Jawab Merlin.


"Baiklah, Kanna pelajari semua yang ada di buku itu, ku yakin kau akan segera menguasainya." Ucap Karin.


Setelah obrolan panjang itu, Merlin, Maha, dan Kanna kembali ke kamar yang dipakai untuk tidur Maha dan Kanna sebelumnya.


Merlin menanyakan sesuatu pada Maha tentang informasi tentang Ayyra, yang sebelumnya Maha laporkan padanya.


"Yang jelas mereka pasti benar-benar sedang mencari Kak Ayyra. Tapi, aku yakin mereka tidak akan mencari ke daerah manusia, kalaupun mereka sampai mencari ke daerah manusia, berarti akan ada pertempuran yang terjadi karena kesalahpahaman." Jawab Maha.


"Iya, Merlin. Para Demon akan menganggap manusia telah menyembunyikannya, dan menunggu untuk kedatangan para Demon. Singkatnya, mereka akn menganggap manusia telah menantang mereka." Jelas Maha.


"Baiklah, apapun itu sekarang kita akan bersiap untuk keberangkatan kita besok pagi. Baru satu tempat yang kita tuju, kita sudah mendapatkan beberapa informasi tentang daratan ini, yaitu tentang suku para Demon." Ucap Merlin.


"Merlin, Maha. Aku mendapatkan kemampuan teleportasi dari Karin, walaupun memakan banyak daya sihir." Ucap Kanna yang sedang membaca lembaran.


"Untuk sekarang kira-kira berapa orang untukmu bisa melakukannya?" Tanya Maha.


"Satu orang, dan sihir ini hanya bisa dilakukan ketika kita sudah pernah mendatangi tempat yang dituju." Jelas Kanna.


"Itu akan cukup berguna, tidak bisakah orang lain seperti Merlin menggunakan kemampuan itu?"


"Tidak Maha, itu adalah sihir original milik ras Demon, kalaupun aku bisa, aku akan menghapus ingatan sihirku yang sebelumnya." Sahut Merlin.


"Lalu mengapa Kanna bisa melakukan sihir milik ras Demon ini?"


"Aku tidak tahu pasti, tapi menurutku ini bisa terjadi karena perizinan dari Demon dan orang yang memakai sihirnya sendiri." Jawab Merlin.

__ADS_1


"Lah, tinggal izin saja ke Karin kan?"


"Aku kalah dalam duel bersama Karin sebelumnya, jadi kalau aku memintanya untuk memberikanku izin, pasti pandangannya terhadapku akan buruk."


"Ho~ Gengsi kah? Tidak apa, kurasa Kanna saja sudah cukup, dan aku berharap sihir itu bisa berkembang nantinya." Ucap Maha.


Akhirnya yang mereka lakukan hingga malam tiba hanyalah bersantai dan menunggu sampai hari esok tiba.


Kanna terus membaca dan mempelajari apa yang ia dapatkan hari ini. Maha, merebahkan diri di atas kasur karena tidak ada yang bisa ia lakukan, dan sorot matanya tertuju pada langit-langit kamarnya.


"Kanna." Panggil Maha pada Kanna yang sedang membaca


"Hmmm?"


"Apakah kamu tidak khawatir dengan semua orang yang berada di kerajaan?"


"Aku harus khawatir pada apa? Rayya meskipun kerajaan kecil, tapi kita punya petinggi yang hebat."


"Ya aku tidak menanyakan tentang itu, tapi rakyatnya. Apa kamu sudah merasa kalau mereka berdamai dengan peraturan atasannya? Atau mereka hanya mengikuti saja dan pasrah?"


"Maha, lebih baik kau langsung ke inti yang ingin kau bicarakan." Bentak Kanna.


"Kamu menginginkan kedamaian, tapi percuma kalau rakyat hanya pasrah dan mengikuti, harusnya mereka andil dalam perdamaian itu sendiri."


Kanna merenung, dan menaruh lembaran yang ia baca.


"Dulu waktu kau pertama kali membuat usulan pada Ayahku tentang pekerjaan para rakyat yang tidak memiliki, kau bilang 'Apa yang diharapkan dari bocah berusia tujuh tahun'. Sekarang aku akan bilang hal yang sama, aku hanya anak kecil berusia sepuluh tahun, dan apa yang akan kita harapkan tentang hal itu. Aku akan berjanji pada diriku, saat aku kembali ke Rayya nanti, aku mampu untuk memimpin para rakyat." Jelas Kanna.


"Baguslah. Ngomong-ngomong, Kanna..."


"Ada apa?"


"Aku rasa aku benar-benar butuh bantuanmu, sekalipun ada bencana di Rayya, kita tidak bisa datang kesana."


"Kita harus segera pulang kalau ada bencana."


"Tidak, aku tidak akan melakukan hal konyol seperti itu."


"Kau bilang itu hal konyol? Jangan bercanda, kalau ada apa-apa dengan orang tua kita bagaimana?"

__ADS_1


"Itu yang membuatku ringan berpikir, orang tua kita akan lebih tenang bila kita tidak kembali saat bencana itu datang, setidaknya mereka akan tenang bila kita bisa aman di luar Rayya. Makanya tadi aku menanyakan rasa khawatirmu pada kerajaan, kalaupun ada bencana, kita serahkan semua pada orang yang masih bertahan di sana dan bila perlu, kita hanya akan mengirim Merlin ke Rayya, dan kita percayakan padanya." Jelas panjang Maha.


__ADS_2