
Yang Maha lakukan saat berjaga hanyalah memandangi kobaran api yang ada di hadapannya.
Maha sedang menyesali sesuatu, dulu dia saat pertama kali diberitahu oleh Nathan bahwa dia tidak bisa menggunakan sihir, Maha berniat untuk meningkatkan kemampuan fisiknya. Tapi nyatanya, Maha masih lemah dalam kekuatan fisik. Dan itu yang membuatnya menyesal, karena tidak meningkatkan kekuatan fisiknya di akademi.
Maha melihat ke langit-langit gua. Dia membayangkan bagaimana caranya, agar dia memiliki sebuah power dari dirinya sendiri. Sejauh yang Maha rasakan selama ini, dia hanya diperlakukan berbeda dengan orang lain, karena dia dianggap spesial. Dan saat ini juga, Maha terus terbayang, betapa tidak bergunanya dia tanpa perlakuan spesial dari orang yang berada di sekelilingnya.
Krrcing... Krrcing...
Maha mendengar sesuatu dari luar gua, dia mendengar seperti ada sebuah barang berbahan metal yang terseret dan bergesek di tanah. Maha segera mematikan api unggun di hadapannya itu, dan segera ke pintu gua untuk mengeceknya.
Betapa kagetnya Maha, karena tak jauh dari guanya, ada seseorang yang berbadan tinggi besar, memakai zirah dari besi, menyeret pedangnya dan sedang berjalan sempoyongan.
Maha pun mendekati orang itu, dan berniat untuk berinteraksi dengannya.
"Permisi." Ucap Maha.
"Manusia? Kenapa ada manusia di lembah Orc?"
"Aku sedang menuju ujung barat, dan aku sedang beristirahat di sekitar sini."
Orang itu menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah mengecek sekitar mereka.
"Aku tidak menemukan adanya tempat bermalam, selain gua itu. Aku juga akan beristirahat di sana."
Maha pun kembali ke gua itu dengan membawa orang itu. Maha berniat menghidupkan api unggun yang ia padamkan tadi, tapi orang itu menjentikkan jari dan dengan mudah menghidupkannya.
Maha sempat kaget lagi, karena saat orang itu membuka zirah di kepalanya, yang Maha lihat bukanlah bentuk dari kepala manusia.
"Siapa ini?" Tanya orang itu pada Maha, sambil menunjuk Kanna.
"Dia? Saudariku." Jawab Maha.
"Aku seorang Ogre, aku diperintahkan untuk memantau daerah para Orc ini."
"Aku juga bertemu dengan para Orc sebelumnya, namun mereka kabur setelah melihat sihir dari saudariku."
"Kalian manusia kan?"
"Ya, kami manusia normal."
"Tadi kau bilang ingin pergi ke ujung barat, dan kalian adalah manusia. Jadi kemungkinan besar kalian akan menemui tiga penyihir kuat itu ya?"
"Seperti itulah."
"Kalian pengelana?"
"Ya."
__ADS_1
"Padahal kalian masih anak-anak, tapi berani untuk berkelana. Apalagi berhenti di daerah para Orc ini. Para Orc tidak pandang bulu, mereka suka untuk membabi buta."
Ogre itu terus menjelaskan secara rinci tentang para Orc, Maha terus mendengarkan, karena ia pikir ini juga termasuk informasi yang lumayan penting.
"Dan oh ya, aku tidak datang sendiri kemari. Aku bersama dua orang temanku, yang juga datang sebagai utusan yang sama. Mereka berdua tewas, dan kau tahu apa yang terjadi saat mereka tewas? Para Orc langsung berebut, mencabik dan memakan daging mereka."
"Aku tidak tahu kalau para Orc sebrutal ini. Ngomong-ngomong, apakah para atasanmu juga dari ras yang sama denganmu?"
"Tentu."
Maha terpikirkan ucapan Karin yang sebelumnya menjelaskan, kalau seorang Maha yang dari ras manusia pun bisa menjadi kandidat raja iblis di ras Demon. Siapa tahu selain ras Demon juga ada ras yang bisa dipimpin oleh seseorang dari ras yang berbeda. Dan Maha hanya, memastikannya saja.
Maha dan Ogre itu menghabiskan malam itu dengan banyak mengobrol, meski obrolannya hanya seputar Ogre dan manusia, saling bertukar informasilah.
Paginya...
"Aaaaaaa..." Teriak Kanna.
"Mahaaaa... Mah-" Lalu mulut Kanna dibungkam oleh Maha.
"Sttt... Dia bukan orang jahat, dia menemaniku semalaman." Jelas Maha pada Kanna, yang berteriak karena melihat seorang Ogre tengah tidur dihadapannya.
"Hmmm." Muka Kanna seolah kesal.
"Apa? Beneran kok."
"Apakah dia tidak menyentuhku?"
Kanna mengangguk. Lalu Maha menjelaskan pada Kanna bahwa mereka harus segera meninggalkan kawasan itu, karena kawasan itu adalah daerah para Orc.
Mereka pun segera berkemas dan bersiap, sebelum berangkat, Maha membangunkan Ogre itu untuk berpamitan padanya.
"Tuan Ogre..." Panggil Maha membangunkan Ogre itu. Setelah beberapa panggilan akhirnya Ogre itu terbangun.
"Oh... Kalian akan melanjutkan perjalanan?"
"Ya, terimakasih atas informasinya. Kami akan pergi sesuai instruksi darimu." Jawab Maha.
Maha dan Kanna pun segera meninggalkan Ogre yang beristirahat di gua itu, dan melanjutkan perjalanan mengelananya lagi.
Kanna merasa sangat segar kembali, setelah merasakan demam sebelumnya.
Beberapa jam kemudian Maha merasakan rasa kantuk yang luar biasa, karena ia begadang semalaman.
Kanna yang melihat Maha seperti orang tidur yang sedang berjalan, menawarkan pada Maha untuk beristirahat sejenak.
"Baiklah, kita juga belum makan, Kanna."
__ADS_1
"Lihat Maha, padang rumput yang luas ada di hadapan kita." Riang Kanna, menunjuk ke hamparan rumput indah yang berada di hadapan mereka.
Ada sebuah pohon di tepian hamparan itu, mereka berteduh di bawah pohon itu dan menyantap beberapa makanan.
Sepoi angin menghembus ke arah mereka, dan mereka menikmati hembus sejuk angin itu.
"Pertama kalinya aku merasakan angin yang seperti ini, Maha."
Maha langsung menyimpulkan, kalau tempat seperti inilah yang disukai oleh Kanna.
Kanna melihat kearah Maha, Maha tengah terangguk-angguk karena kantuknya.
"Maha, mau tidur di pangkuanku?"
"Hmm." Maha seolah tak kuat menahan rasa kantuknya itu.
Maha pun tidak menjawab tewaran dari Kanna, dan langsung merebahkan diri di tanah, dan meletakkan kepalanya di atas pangkuan Kanna yang sedang duduk.
Maha langsung tertidur, Kanna hanya mengelus-elus rambut Maha.
Sambil menikmati angin yang sejuk, Kanna terus memandangi langit yang biru.
Menggerakkan tangan, untuk membiasakan tangannya yang terbakar sebelumnya.
Di mimpi Maha, sekali lagi Maha bertemu dengan orang yang berbicara dengannya lewat mimpi sebelumnya.
"Kanna adalah gadis suci."
"Bila terjadi sesuatu padanya, berapapun harga yang harus kau bayar, maka bayarlah untuk melindunginya."
"Kau adalah seorang pelindung."
Mimpi itu pun selesai, dan Maha sayup-sayup terbangun, dan baru sadar bahwa dia sedang memakai pangkuan Kanna sebagai bantalnalya untuk tidur.
"Mengapa bangun, Maha? Harusnya masih kurang jam tidurmu."
"Lihat kedua tanganmu, Kanna." Ucap Maha, yang sekali lagi tidak menghiraukan pertanyaan Kanna.
Lalu Kanna menunjukkan kedua tangannya pada Maha, dan Maha memegang kedua tangan Kanna.
"Apakah ini masih sakit?"
"Tidak."
"Semoga kita baik-baik saja kedepannya." Ucap Maha yang membuat Kanna kaget, karena hal ini seperti sebuah keraguan dari Maha.
Yang mana, walaupun setiap Maha ragu, pasti tidak pernah terucap oleh maha, ucapan 'Semoga'.
__ADS_1
Kanna yang menyadari itu langsung memegang kedua pipi Maha yang terbaring dipangkuannya, dan bertanyalah dia pada Maha.
"Apa yang membuatmu cemas kali ini, Maha?"