
Ditengah perjalanan, mereka bertemu dengan sebuah pohon yang cukup besar. Mungkin usia pohon itu sendiri bisa lebih dari ratusan tahun.
"Kanna, mau istirahat di sini?"
"Boleh."
Mereka pun istirahat, dan juga untuk bermalam. Karena mereka tidak tahu sejauh apa kota yang dimaksud Reha sebelumnya.
"Maha gak kecapekan?"
"Tidak. Kurasa aku sudah terbiasa berjalan jauh."
"Kanna akan menyiapkan makanan, tunggu ya."
Sambil menunggu Kanna menyiapkan makanan, Maha menulis beberapa pengetahuan baru di dalam bukunya. Dia menuliskan ciri-ciri Garaga dan kemampuan Garaga, agar suatu saat bisa terpakai sebagai petunjuk.
Tidak lupa juga, dia menambah detail tentang kalung yang ia kenakan. Karena sepertinya Karin sendiri tidak mengetahui, bila kalung yang diberikan pada Maha akan menjadi overpower, bila dipakai manusia.
"Maha. Sudah siap makanannya."
Maha lalu menghampiri Kanna, berniat untuk istirahat dari menulisnya dan memakan makanan yang disiapkan Kanna.
"Kanna..."
"Kenapa?"
"Akan anehkah bila suatu saat nanti kamu kembali ke Rayya tanpa aku?"
"Maksudnya?"
"Aku rasa yang akan kembali ke Rayya hanya salah satu dari kita."
"Mengapa begitu?"
"Lupakan deh."
"Maha." Kanna meraih kedua tangan Maha, dan menggenggamnya.
"Bukankah Maha janji untuk melindungi Kanna?" Sambung Kanna bertanya.
"Aku tahu Kanna, tapi..."
"Baiklah, sesampai di kota selanjutnya nanti, Kanna akan ajarkan pada Maha, semua ilmu fisik yang Kanna tahu. Kanna paham kok, tapi Maha akan terus berguna kok setidaknya untuk Kanna." Jelas Kanna.
"Apakah aku harus lebih percaya diri, Kanna?"
"Aku tidak pernah melihat manusia seperti kalian, siapa kalian?" Terdengar suara wanita, namun Maha dan Kanna tidak mengetahui asalnya.
"Tidak perlu bingung, aku adalah jiwa dari pohon ini. Aku tidak akan menyakiti kalian, aku hanya menanyakan siapa kalian?" Sambungnya.
"Aku Maha, dan saudariku Kanna."
__ADS_1
"Tidak, kalian bukanlah saudara. Lalu siapa Kanna ini, enam elemen ia kuasai. Bukankah ia dari kepercayaan putih? Mengapa punya sihir kegelapan?"
"Kanna adalah murid dari seorang Demon. Dan aku Maha adalah pelindung Kanna."
"Apapun itu, kepercayaannya akan sangat melarang untuk mempelajari sihir kegelapan."
"Kanna tahu itu. Tapi Kanna harus mempelajarinya, untuk membantu Maha." Jawab Kanna.
"Wahai seseorang yang mengaku sebagai jiwa dari pohon ini, bukankah tidak sopan saat berbicara dengan orang lain tapi tidak menunjukkan wujud? Setidaknya tunjukkan wujudmu." Ucap Maha.
Setelah itu, angin kencang melewati Maha dan Kanna. Tak lama setelah itu, muncul tanaman rambat di hadapan mereka, tanaman itu semakin tinggi. Namun, anehnya, tanaman itu seolah membentuk badan manusia.
Semakin jelas menjadi bentuk manusia, hingga benar-benar muncul seorang wanita dihadapan Maha dan Kanna, dengan senyum ramah.
"Apakah aku sudah sopan?" Tanyanya langsung ke Maha, suaranya sangat mirip dengan suara yang sebelumnya Maha dengar, dan dengan ini Maha yakin kalau wanita inilah yang mengaku sebagai jiwa dari pohon ini.
"Siapa kamu?"
"Aku seorang Dryad, Tyra."
"Dryad?"
"Ya, apakah kau tidak tahu?"
"Tidak, tidak pernah dengar."
"Ooo... Dryad adalah makhluk yang terlahir dari pohon yang berusia ratusan tahun. Dryad masih termasuk dalam ras Elf." Jelas Tyra.
"Elf? Kebetulan kami sedang mencari ras Elf."
"Oh baiklah."
"Kalian masih berusia masih belia, apakah kalian sedang tersesat?"
"Tidak, kami memang dikirim untuk melakukan perjalanan."
"Oleh kerajaan kalian? Kejam sekali."
"Tidak juga. Kami melakukan perjalanan karena kami membutuhkannya. Oiya ngomong-ngomong tentang pohon yang berusia ratusan tahun, Tyra terimakasih." Ucap Maha.
"Terimakasih untuk apa?"
"Istirahat dibawah pohonmu sungguh sejuk rasanya."
"Oh itu, bersantailah. Jubah apa yang kau kenakan?"
"Jubah ini? Aku tidak tahu sih, karena ibuku yang memberikannya padaku."
"Banyak juga alat sihirmu ya."
"Ini semua barang pemberian dari orang-orang yang aku temui."
__ADS_1
"Tapi, dalam dirimu sendiri aku tidak bisa menemukan aliran sihir sedikit pun."
"Aku dilahirkan tanpa memilikinya, berbeda dengan Kanna, yang memiliki aliran sihir itu, setiap hari akan semakin berkembang daya sihirnya."
"Baiklah. Aku rasa kalian adalah anak-anak yang baik, nikmatilah waktu kalian di sini." Ucap Tyra, lalu seketika Tyra perlahan menghilang, seperti kebalikan dari saat pertama dia muncul.
Maha kembali menulis apa yang dijelaskan oleh Tyra barusan. Kanna yang tidak melakukan apapun, akhirnya mengajak Maha untuk berbincang.
"Maha, apakah Maha rindu dengn suasana Rayya?"
"Tidak juga, aku hanya rindu dengan sobatku, Jeevan."
"Iya juga, apa kabar ya Jeevan."
"Aku yakin dia pasti sekarang sedang belajar berbisnis. Dan juga, dia pasti akan baik-baik saja."
"Oiya, Maha. Penyihirmu kan Jeevan, kenapa saat disuruh untuk mengelana dengan Kanna, Maha mau?"
"Kembali lagi Kanna, aku tidak boleh memikirkan sesuatu tanpa memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya. Aku dan Jeevan ikut apa yang diinginkan oleh Raja. Saat aku siap nanti, aku akan membantu kerajaan bersama Jeevan, dan yang pasti karena itu aku dan Jeevan tidak boleh sampai tidak memiliki ilmu." Jelas Maha panjang.
"Maha, tidakkah Maha khawatir dengan Jeevan yang kesana-kemari belajar bisnis dan politik?"
"Awalnya memang aku akui, aku khawatir. Terlebih lagi, dunia politik di daratan kita sungguh seperti hukum rimba, terutama ras manusia. Namun, aju harus percaya pada Jeevan, karena mau bagaimanapun juga, dia adalah temanku."
"Semoga kita bisa dipertemukan dengan Jeevan saat di perjalanan nanti."
"Ya aku harap juga begitu."
Singkat cerita, malam pun tiba. Seperti biasanya, Maha dan Kanna akan mengobrolkan sesuatu sampai salah satu dari mereka tidur.
"Maha beneran gak mau tidur?"
"Iya."
"Atau Kanna aja yang berjaga, Maha yang tidur. Gimana?"
"Janganlah, cepetan tidur deh. Aku yang berjaga seperti biasa."
Kanna pun menidurkan badannya, dan tidak lama setelah itu Kanna benar-benar tertidur pulas seperti biasanya.
Maha yang tengah berjaga pandangan matanya tidak pernah lepas dari keadaan sekitarnya, terus melihat ke arah sana-sini. Lalu, di kejauhan dia melihat sebuah api ungu yang sedang menyala, dan ada bayangan seseorang yang sedang menatap ke arahnya.
Tidak lama setelah itu, Tyra sang pohon pun muncul.
"Dia dari ras Ogre." Ucap Tyra.
"Apakah dia berniat jahat?"
"Aku tidak merasakan hawa memburu darinya, kurasa dia tidak berniat untuk jahat."
"Baiklah. Tyra, tolong jaga Kanna sebentar ya." Pinta Maha pada Tyra.
__ADS_1
Lalu dia mendekati orang itu, dengan keberanian Maha seperti biasanya. Ogre adalah ras pemikir, jadi Maha cukup berani untuk berinteraksi bila sama-sama bisa mengerti.
Saat Maha mendekatinya, Ogre itu mulai keluar dari sisi gelap, yang sebelumnya hanya menampakkan bayangan, kini mulai terlihat wujudnya.