
"Baiklah, Nak. Sekarang aku ingin kau pergi dari hadapanku. Kurasa kau sudah terlalu jauh mengikuti rahasia kerajaan." Ucap Raja dengan ekspresi tegang.
"Tenang saja, aku tidak akan menyebarkan apa saja yang ada di kerajaanku sendiri. Aku tidak akan mengancam atau semacamnya, sebaliknya aku akan mewujudkan mimpi anda." Jawab Maha yang membuat seisi aula kaget, dan juga membuat Raja bangun dari singgasananya.
"Berhenti, Nak. Aku tidak tahu level pengetahuanmu, tapi setidaknya simpanlah untuk dirimu sendiri. Aku, tidak kurasa kau akan dibutuhkan saat kerajaan sedang membutuhkan. Aku tidak akan membutuhkanmu ketika tidak ada kepentingan kerajaan."
"Cukup, Maha!" Ucap Merlin dari kejauhan.
Maha dan seisi aula juga segera menoleh kearah Merlin yang tiba-tiba membuka pintu aula.
"Apakah kau tidak puas dengan pemberian dari Raja?" Sambung Merlin bertanya.
"Aku bahkan tidak pernah berpikiran seperti itu, Merlin." Jawab Maha dengan senyum sumringah di wajahnya.
"Lalu apa?"
"Kalian pikir kerajaan mana yang bisa berjaya tanpa dukungan rakyatnya? Kalian pikir hanya dengan mengirimkan salah satu pion, bisa mengubah suatu kerajaan? Tidak, sebuah kerajaan hanya butuh kepercayaan dari rakyatnya. Kalau kalian hanya bisa bermain dengan hal-hal rahasia dengan rakyat kalian, lalu apa? Kalian mau mencari kepercayaan dari siapa?"
"Jadi kau anak yang bernama Maha? Kau anak yang membawa adikku pergi dari Rayya." Ucap seseorang dari belakang Merlin.
"Raja? Pada siapa saja kau memberikan informasi kalau kau menyuruhku pergi dari Rayya dan menyuruh Kanna mengikutiku? Apakah kau lupa memberitahu bahwa ini adalah misi, pada putra sulungmu?" Tanya Maha dengan tatapan tajam pada Raja, merasa bahwa Raja telah mengkhianatinya.
"Kurasa ada kesalahpahaman di sini. Merlin, bukankah saat itu kau sudah aku beri tugas untuk memberitahu Xavier?" Tanya Raja pada Merlin.
"Sudah ayah, Merlin sudah memberitahu kepadaku. Tapi aku tidak mempercayainya, dan setelah aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, apakah ayah tidak salah mempercayakan Kanna pada bocah tengik ini?" Tanya Xavier dengan wajah jijik pada Maha.
"Kau tahu, Maha? Saat ini kau sama sekali tidak diselimuti oleh amarah, apa yang terjadi padamu?"
"Hain, kurasa akan seru kalau saja Pangeran Mahkota ini benar-benar marah padaku."
"Apa maksudmu?"
"Aku tahu ujung dari obrolan ini, dia akan mengajakku duel dalam pertarungan, setidaknya pertarungan pedang. Dan saat itu terjadi, kau tahu..."
"Ya, kau abadi Maha..."
"Tepat, Hain."
__ADS_1
"Lihat? Semua petinggi kerajaan yang saat ini berada disini, apakah kalian semua menginginkan seorang Raja sepertinya?" Ucap Maha sambil memperhatikan para petinggi kerajaan.
"Kalau kau mau memprovokasi si Xavier ini, kurasa kata-katamu lumayan bagus Maha."
"Cih... Kenapa seorang Raja sepertimu hanya bisa diam?" Tanya Rey si Dragon tukang onar.
"Hei kau, kau mau bilang ayahku bodoh?" Ucap Xavier dengan menodongkan pedang ke arah Rey.
"Heh?!" Balas Rey dengan menatap Xavier. Hanya dengan tatapan Rey, pedang yang dipegang Xavier langsung terjatuh.
"Apa kau bilang?" Sambung Rey ingin mendatangi Xavier, tapi ditahan oleh Maha.
"Lalu apa yang kau inginkan, Pangeran Mahkota Xavier?" Tanya Maha dengan senyum sumringah lagi.
"Apalagi... Mari kita berduel, dengan taruhan nama Rayya. Apa kau berani?" Ucap Xavier dengan ucapan angkuh.
"Anakku, Xavier. Sepertinya kau telah berlagak angkuh di hadapan orang yang salah. Tapi, walau bagaimanapun aku akan mendukung keputusanmu ini, meski kau akan menyesal nantinya." Ucap Raja terduduk lagi di singgasananya.
"A-Ayah... Apa maksudmu, Ayah?" Tanya Xavier agak ragu.
"Kanna, Putriku. Apakah kau juga akan meninggalkan ayah?" Tanya Raja memelas pada Kanna.
"Setelah pertandingan antara Pangeran Xavier dan Maha berakhir, baru aku menentukan. Lebih pantaskah aku menjadi seorang Putri, ataukah menjadi seorang pengelana." Jawab Kanna lalu mengejar tim Maha.
Singkat cerita mereka semua beristirahat di ruma Nathan dan Valencia, dan sedikit berunding.
"Tuan Maha, bukankah kau terlalu meremehkan kekuatan si Xavier itu? Sebelumnya kau bilang dia belajar di kerajaan militer kan?" Tanya Richard.
"Ya, dan juga sepertinya kau juga tidak memiliki seni bela diri apapun, Tuan." Sambung Ryu.
"Ya tapi setidaknya Maha punya hal yang kalian tidak punya, yaitu keabadian." Sahut Reha.
"Hain, bagaimana menurutmu?"
"Apa? Tidak ada jaminan menang untukmu. Tapi, andai saja kau kalah dalam pertandingan itu, lalu kau diusir dari Rayya, maka bayangkan sericuh apa warga yang pernah kau selamatkan dulu."
"Warga?"
__ADS_1
"Ya, kau dulu pernah membantu banyak warga yang tidak memiliki pekerjaan di Rayya kan? Sekarang mereka kuyakin sangat mendukungmu."
"Hain, apakah para warga mengetahui kalau Xavier ini adalah Putra Mahkota?"
"Dari pengamatan yang kita dapatkan, para warga tidak ada yang mengetahuinya. Apa yang kau pikirkan?"
"Kalau para warga tidak ada yang tahu, maka mereka yang menyempatkan waktu menonton di gladiator itu adalah orang-orang yang tahu aku dong?"
"Kalau kita lihat dari analisis sih iya. Oh tunggu, kau bisa menjatuhkan mental Xavier dengan ini kan?"
"Hehe... Aku rasa seperti itu, Hain. Saat Raja tadi bilang Xavier telah salah bersikap arogan padaku, Xavier seolah kaget dan panik. Itu berarti dia memiliki serangan panik dalam dirinya, aku bisa memanfaatkannya."
"Pemikiran yang licik, inilah Maha yang dinantikan seluruh daratan."
"Tidak juga, sebenarnya hanya kau kan yang menantikan sifatku ini?"
"Hehe... Sepertinya aku harus beristirahat lagi Maha."
"Maha... Maha..." Panggil Reha dari tadi pada Maha yang terlihat diam, padahal dari tadi terus mengobrol dengan Hain.
"Maha, jangan bilang kau takut pada pemuda kurus itu." Sahut Rey.
"Rey, matamu sehat, kan? Dia nampak berotot begitu kau bilang kurus?" Tanya Maha.
"Hah... Saat aku melihat ke arahnya saja, pedang di tangannya langsung jatuh." Jawab Rey.
"Itu karena kau Dragon, mau di beri nafasmu pun sepertinya langsung pingsan Xavier itu." Jawab Maha.
"Yah apapun itu, apakah kau perlu bantuan kami?" Tanya Rey lagi.
"Sepertinya tidak perlu Rey, kalian hanya perlu menontonku di kursi penonton. Kurasa aku tidak memerlukan kekuatan untuk melawan hehe..." Jawab Maha dengan tawa kejamnya.
"Dari raut wajah Tuan sepertinya akan melakukan kecurangan, apa persiapan kecurangan itu? Apakah tiga hari cukup untuk menyiapkannya?" Tanya Ryu.
"Aku tidak bilang akan melakukan kecurangan kan, Ryu? Mau bagaimanapun aku adalah orang paling adil. Jadi tiga hari ini kita gunakan untuk bersantai di rumah ayahku ini." Jawab Maha.
"Ya... Ya... Setidaknya sekarang kau harus tanggung jawab pada Kanna, dia sedari tadi termenung. Sepertinya sedang terpikirkan tentang kakaknya yang tiba-tiba muncul." Ucap Reha.
__ADS_1