MAHA : Sang Alkemis Kejam

MAHA : Sang Alkemis Kejam
Salah Memilih Lawan


__ADS_3


"Kau pikir hanya menusukku dengan sekali tusukan bisa membunuhku, putra raja yang merasa paling tua?" Ucap Maha pada Xavier yang sedang menyombongkan diri.


Saat Maha terbangun semua orang lalu menyoraki kebangkitan Maha, seolah-olah Maha adalah momen yang ditunggu-tunggu oleh semua orang.


"Bo-Bocah... Tidak mungkin, jelas-jelas aku telah menusukmu memakai pedangku. Bagaimana caramu untuk bangkit dari kematian?!" Tanya Xavier, yang semakin panik dibandingkan sebelumnya.


"Entah itu benda yang fisik, maupun metafisika seperti sihir, kurasa tidak akan sanggup sekali membunuhku hanya dengan satu serangan." Jawab Maha.


"Ap-Apakah ini adil, ayah? Kau adalah Rajaku, apakah kau tega melihatku dikalahkan oleh anak kecil seperti bocah ini." Ucap Xavier teriak pada Raja Rayya, yang membuat Kanna geram.


"Tunggu, Putri. Mau kemana kau? Apakah kau ingin menyelamatkan salah seorang dari mereka? Itu akan merusak peraturan yang ada di koloseum ini." Ucap Jeevan menghadang Kanna yang mau loncat ke tengah koloseum.

__ADS_1


"Lalu apa, Jeevan. Kalau aku tau punya kakak seperti dia, apalagi brengsek sepertinya. Aku akan membunuhnya sejak awal bertemu. Aku tidak sudi memiliki kakak yang paling mencintai Rayya sekalipun, benar kata Maha tidak ada hal yang pasti kecuali kepercayaan." Jawab Kanna yang ditahan Zia dan Rya di kedua tangannya.


"Kanna, aku kalau jadi kau juga akan melakukan hal yang sama. Tapi, peraturan tetaplah peraturan, Kanna." Ucap Reha.


"Lihat lelaki biadab itu, dia bahkan tidak lagi membawa nama baik Rayya saat pertarungan mempertaruhkan nama Rayya. Apakah masih pantas untuk hidup?!" Ucap Kanna berteriak sekencang mungkin, membuat Maha mendengar ucapan Kanna itu.


"Sabar dulu, Kanna. Kita serahkan pada Maha, kau tahu, Maha juga pasti memikirkan satu hal yang sangat berguna meski hanya untuk dirinya sendiri." Ucap Richard.


Lalu, Kanna dengan tidak sadar menyambungkan sihir telepati antara dirinya dan Maha. Yang mana dalam perkataan Kanna sendiri adalah dorongan untuk Maha agar segera membunuh Xavier.


"Apakah untuk hari ini saja kau bisa menjadi Chaos untukku, Hain?"


"Oh ya, tentu saja, aku akan jadi Chaos juga untukmu. Tapi, aku tidak memiliki jurus untuk mengeksekusinya."

__ADS_1


"Tidak perlu, aku hanya memerlukan buku dari ayahku untuk memecahkan otak si Xavier ini."


"Lakukanlah sekarang juga, kurasa akan baik untukmu, terlebih lagi kau melakukannya didepan Raja."


"Kau benar. Tidak ada lagi yang perlu aku sesali dari Rayya. Waktunya, aku benar-benar menghilang dari Rayya."


Maha dan Hain pun tertawa lepas.


Maha mencopot buku ayahnya yang sedari awal pertandingan menggantung di sabuknya. Bukunya memang tidak sebegitu berat, tapi kembali lagi, Maha adalah seorang alkemis, selain suka bereksperimen dia juga suka untuk memperhitungkan, dia mencoba menghitung tinggi buku yang akan dia lempar, yang nantinya akan berat ketika jatuh kebawah.


"Aku mungkin tidak akan menerima kematian ini, tapi karena kematian ini adalah pinta dari Kanna, aku harus menurutinya. Terlepas pikiran positifku tidak menginginkan hal ini, tapi setidaknya aku akan puas."


"Apalagi aku Maha, aku adalah roh yang akan semakin kuat ketika emosimu melebam, dan membara."

__ADS_1


Saat buku itu dilemparkan oleh Maha ke atas udara, yang mereka lihat hanyalah buku biasa yang jatuh diatas kepala manusia. Namun berbeda dengan Xavier dia merasakan luar biasa rasa sakit yang membuatnya tidak sadarkan diri.


__ADS_2