
Maha sadar yang sedang ada di hadapannya itu adalah Jeevan, temannya yang berpisah dengannya lima tahun lalu.
Jeevan yang juga menyadari keberadaan temannya itu langsung mendekat pada Maha dengan mata berbinar-binar.
"Maha? Kau Maha kan?" Tanya Jeevan terus memastikan Maha.
"Siapa lagi yang memanggilmu dengan sebutan Je selain aku." Ucap Maha lalu mengulurkan tangan.
"Aku tahu kau akan kembali, Maha. Sesuai rasa percayamu yang kau berikan padaku, aku telah mempelajari pasar bisnis yang ada di daratan ini, Maha." Balas Je, lalu menjabat tangan Maha.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini, Je?"
"Kau secara tidak langsung memberikan jembatan pada Rayya, Maha. Aku sedang menjalin kerjasama dengan kota ini. Aku mendengar cerita dari Rahib Cayna, dan para Dwarf yang sekarang resmi jadi penduduk Rayya, bahwa kau sedang asyik berkelana dan mengirim mereka ke Rayya." Jelas Jeevan.
"Aku mengirim mereka? Oh kau sepertiya salah perkiraan, Je. Yang mengirim mereka itu Kanna." Ucap Maha.
"Putri Kanna?"
"Ya, Kanna."
Pernyataan itu membuat tim Maha sedikit kaget, karena sebelumnya tidak pernah Maha ceritakan kalau Kanna adalah seorang putri, hanya saja cerita yang tim Maha tahu adalah, bahwa mereka berasal dari Rayya.
"Kalian tidak perlu bertanya, nanti aku akan menjelaskan." Ucap Maha pada timnya.
"Siapa mereka, Maha?" Tanya Jeevan.
"Mereka? Orang-orang yang kupilih. Kau paham maksudku kan?"
"Oh... Lalu apakah aku masih bisa berperan di sampingmu?"
"Tidak perlu berpikiran untuk selalu menganggapku spesial seperti dulu, Je. Aku tahu kau sekarang memiliki banyak teman selain aku kan?"
"Tidak, temanku sekaligus sahabatku cuma kau Maha. Aku memiliki banyak rekan kerja, tapi tidak berteman akrab dengan mereka."
"Je, kita sambung nanti lagi. Aku akan menunggumu di penginapan Karin, kau datanglah ke sana." Ucap Maha sambil melihat orang dibelakang Jeevan sedang menunggu Jeevan.
"Baiklah, aku akan menyusulmu nanti."
Tim Maha lalu bergegas ke penginapan Karin. Semua orang di timnya semakin penasaran dengan identitas Maha dan Kanna.
"Kalian daripada penasaran terus, kenapa tidak menyimpulkan identitas kami, dengan segala pecahan yang selama ini kalian dapatkan?" Tanya Kanna memecah keheningan.
"Bagaimana kami bisa melakukan hal itu, Kanna? Sedangkan informasi yang kami dapatkan sangat terbatas." Jawab Zia.
"Rya? Ryu? Reha? Rey? Richard kau yang paling lama bersama kami, apakah kau tidak menyadari sesuatu?"
__ADS_1
"Sayang sekali, aku tidak bisa menyimpulkan apapun." Jawab Richard.
"Ya sudah biarkan nanti Maha yang menjelaskannya sendiri, kalian tahan saja rasa penasaran kalian." Ucap Kanna, dia dan Maha lalu tersenyum lebar.
"Apalagi Maha? Bukankah itu semua yang diucapkan Jeevan sudah menjawab siapa kalian seutuhnya?"
"Sepertinya orang-orang di tim kita sedang banyak pikiran, Hain. Dan juga ada satu informasi yang belum mereka dapatkan tentangku."
"Apa itu?"
"Lah bukannya kau selalu ikut denganku, Hain? Kenapa tidak mengetahuinya?"
"Oh ya Maha sepertinya aku kurang tidur, aku akan tidur sebentar ya, selamat malam." Ucap Hain mengalihkan pertanyaan Maha.
"Suka banget sama tidur kau, Hain."
Singkat cerita mereka pun sampai di penginapan Karin. Seperti yang dulu Maha dan Kanna rasakan, tatapan para Demon yang tengah santai, langsung tertuju pada tim Maha. Bedanya, Kanna sekrang tidak takut dengan para Demon lagi.
"Oh anda... Kalau tidak salah, anda Tuan Maha ya? Yang pernah datang ke sini dengan Tuan Merlin." Ucap resepsionis wanita, yang masih sama.
"Ya, ya... Aku datang untuk menyewa beberapa kamar, dan juga menemui Karin." Jawab Maha.
"Manager Karin ya? Seperti dia sedang tidak bisa diganggu kali ini."
"Kenapa tidak ada perbedaan di penginapan ini?" Tanya Maha.
"Mahaaaa!!!" Teriak seseorang dari lantai dua, yang ternyata Karin, dan membuat semua orang yang ada di ruang santai itu kaget.
"Oh hai Karin." Jawab Maha.
"Maha, kau apa kabar?! Oh Kanna..." Masih dengan nada teriak-teriak, lalu memeluk Kanna.
"Karin... Tidak, Guru Karin bisa kau lepaskan pelukanmu, aku bukan anak kecil lagi." Ucap Kanna dengan usaha berontaknya dari pelukan Karin.
"Kemana sifat mengintimidasimu yang dulu?" Tanya Maha.
Karin lalu melepas Kanna dari pelukannya, dan menjelaskan tentang apa yang ia lakukan.
"Ekhem... Jadi, bagaimana perjalananmu, Maha?" Tany Karin, dengan ekspresi yang berubah menjadi serius.
"Pertama, aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan. Kedua, aku punya orang-orang yang mau berjuang bersamaku." Maha menunjuk ke timnya.
"Perkenalkan mereka padaku." Ucap Karin.
Lalu Maha memperkenalkan satu persatu anggota timnya. Dan lalu meminta pada Karin untuk mempersiapkan kamar untuk mereka.
__ADS_1
"Apakah kau masih tidur sekamar dengan Kanna?" Tanya Karin sedikit menggoda Kanna.
Kanna langsung memeluk lengan Maha, dan menatap seolah marah pada Karin.
"Kau mau mengajak Maha tidur bersama, ya? Tidak, tidak akan aku biarkan itu terjadi." Ucap Kanna.
"Aku tidak akan merebut suamimu itu, tidak perlu khawatir. Aku hanya bertanya untuk menyiapkan kamar kalian." Jawab Karin.
"Kalian, mau makan apa? Aku akan traktir." Tanya Maha pada timnya.
"Bukankah kita sebaiknya menunggu temanmu tadi, Maha?" Tanya Reha.
"Kalian tunggu saja di salah satu meja di sini, aku dan Kanna akan berbicara dengan Karin sebentar. Nanti kalian ajak saja Je ngobrol dulu." Jawab Maha.
"Baiklah, Maha. Eee..." Ucapan Rey terhenti.
"Iya Rey, kau beli apapun terserah. Nanti, Tuan Maha yang bayar." Sahut Ryu, yang membuat semua orang di timnya tertawa.
Richard, Rey, Reha, Ryu, Rya dan Zia segera duduk di salah satu meja di ruang santai penginapan itu. Sedangkan, Maha dan Kanna ikut Karin ke kantornya.
"Kenapa, Maha?" Tanya Karin.
"Aku tidak bisa mati." Jawab singkat Maha.
"Manusia memiliki umur yang pendek, jadi itu tidak mungkin. Kecuali ada yang mengutukmu, siapa dia?"
"Si Lembut, Susan Edward."
"Kenapa?"
Maha lalu menjelaskan pada Karin, apa yang telah ia alami selama ini. Dan juga masalah kalungnya, Maha juga tidak lupa untuk menceritakan tentang kalung yang diberikan oleh Karin padanya.
"Aku bahkan tidak menyadari hal itu, Maha. Baguslah." Ucap Karin.
"Apakah kalian akan langsung berangkat ke Rayya?" Sambung Karin bertanya.
"Mungkinkah kita butuh istirahat, Maha. Terutama Tyu dan Rey, mereka butuh istirahat." Sahut Kanna.
"Aku tidak pernah bertemu dengan Merlin. Kemana dia?" Tanya Karin.
"Kembali ke Rayya, setelah usai dari kota ini." Jawab Maha.
Setelah sedikit berbincang dengan Kanna dan Karin, Maha kembali turun ke ruang santai dan menemui timnya, dan ternyata Jeevan sudah menunggu Maha di meja timnya itu.
Segera Maha dan Kanna bergabung dengan mereka.
__ADS_1