
"Sayang ..."
Bilmar menoleh ke arah pintu, lalu memberikan senyum hangat kepada wanita paru bayah yang sedang melangkah untuk menghampirinya di meja belajar. Mama Mira mengelus bahu sang anak lalu beralih menatap buku-buku yang terlihat berserakan dimeja belajar Bilmar.
"Kok belum tidur? Udah malam, Nak."
"Iya, Mah bentar lagi." Bilmar kembali lanjut menulis.
Mama Mira menoleh pada kertas ujian yang terselip diantara tumpukan buku, ia pun meraihnya untuk ditatap lebih jelas.
"Hebat banget kamu, Fisika dapat 100." ucap Mama Mira bangga. Bilmar kembali mendongak dan ikut menatap kertas ulangannya.
"Kan belajar, Mah." jawabnya santai.
"Tapi kok tumben, kemarin-kemarin nilai Fisika masih 70, nilai kamu kan suka anjlok di pelajaran itu, Bil."
Bilmar hening sebentar, lalu memberikan senyuman tipis untuk meresponnya. Tidak mungkinkan ia bilang kalau semua itu Alika yang mengerjakan?
"Pertahankan nilai kamu, Nak. Biar nanti kalau Papa pulang, dia senang."
"Bilmar ingin secepatnya gantiin Papa di perusahaan, biar Papa kembali menetap di Indonesia dan selalu sama Mama terus setiap hari." jawab Bilmar lalu mencium pipi sang Mama.
Mama Mira mengalungkan tangannya untuk memeluk pundak Bilmar.
"Makasih banyak ya anak soleh nya Mama." Mama Mira mencium pucuk rambut Bilmar. "Pokoknya bagaimanapun caranya, Mama enggak mau kamu ngecewain Papa, ngerti kan maksud Mama, Nak?"
"Iya, Mah. Bilmar ngerti." jawab Bilmar dengan senyuman menghias raut wajahnya.
"Iya udah cepat tidur ya." titah Mama Mira, lalu berlalu meninggalkan kamar sang putra.
Bilmar mulai membereskan buku-buku yang berserakan dimeja. Menyusunnya dengan rapih lalu dimasukan lagi kedalam tas. Ia pun bangkit dari kursi lalu merangkak naik ke atas kasur, menarik selimut untuk menutupi seluruh lekuk tubuhnya. Menatap lama ke cahaya lampu yang tengah menyorot ke dalam indera penglihatannya, melipat kedua tangan dibelakang kepala.
"Gue akan nembak Alika, besok. Seenggaknya kalau udah jadi pacar, dia kan bisa bantuin gue lebih banyak lagi, ya walaupun gue akan sedikit nyakitin dia. Karena gue nggak akan pernah sayang sama lo, Al." setelah mengucapkan niatnya, ia pun memejam kedua mata untuk tidur dan terbang ke alam mimpi.
Jika Bilmar sudah tidur, beda hal dengan Alika di sini. Gadis itu sejak tadi guling-guling tidak jelas di pusaran ranjang. Senyum-senyum sendiri, tertawa dan wajahnya penuh binar kebahagiaan. Tadi sore lelaki itu kembali berhasil membuat Alika terbang ke awang-awang, ia mengantarkan Alika pulang dengan motor sportnya, membelikan banyak makanan sampai Mama Lisa dan Papa Syamsul curiga dengan sang anak, ya begitulah mempunyai orang tua posesif. Alika harus pintar bersandiwara untuk selalu berdalih kepada orang tuanya.
"Aku sayang sama kamu, Bilmar." ucap Alika dengan garis senyum mengembang diwajahnya. Memeluk guling, seperti memeluk Bilmar. Ia peluk erat dan tidak mau dilepaskan.
"Aku sayang kamu ... Sayang banget!" Alika terus berseru didalam kamarnya. Hati dan kepala semua penuh dengan wajah Bilmar. Alika selalu mengingat Bilmar, entah ketika sedang Ingin makan, ingin tidur dan mandi, hanya bayangan lelaki itu yang selalu menelisik kalbunya.
"Aku tau, Bilmar juga sayang sama aku. Kalau enggak sayang, nggak mungkin kan dia selalu anterin aku pulang dan belikan aku ini dan itu?" Alika bergumam sendiri dengan sangat percaya diri. Ia yakin, instingnya tidak akan salah.
"Apa Bilmar akan nembak aku ya?" tanyanya lagi dengan wajah ragu-ragu.
"Tapi kalau iya, semisalnya memang dia nembak aku. Aku terima gak yah? Secara aku kan nggak boleh pacaran sama Nyokap dan Bokap." Alika mencebik, menghela napas panjang.
__ADS_1
"Ya enggak apa-apalah, pacaran aja. Sembunyi-sembunyi kan bisa."
Alika mengangguk ketika mendengar seruan Dewi Fortuna dari dalam dirinya. Ia kembali senyum-senyum sendiri, sesekali mendendangkan lagu dengan tema jatuh cinta.
Alika benar-benar sudah terseret kedalam pusaran permainan jahat Bilmar. Ia memberikan setulus hatinya, semua perasaannya dan memberikan keringatnya untuk membantu Bilmar dalam mendapatkan nilai yang bagus, namun itu belum bisa meluluhkan hati Bilmar Artanegara.
****
Plug.
Sebuah remasan kertas yang membulat begitu saja terjun di meja Alika. Tepat di atas buku yang kini sedang ia tulis. Alika mengerutkan keningnya, menatap lamat remasan kertas itu.
"Apaan nih?" tanpa menoleh mencari sumber pelempar, Alika langsung membuka remasan kertas itu.
Nanti siang, makan bareng ya, mau kan?
Bilmar.
"IYA AKU MAU!" serunya, Alika refleks menjawab dengan suara keras.
Ia masih bergeming ditempatnya sambil menatap kertas yang ada dalam genggaman tangan. Seketika semua menoleh ke mejanya, menatap aneh, apa mungkin si ketua kelas sedang kesurupan? Karena tiba-tiba berisik dalam keheningan. Alika merunduk sambil meringis, betapa malunya gadis itu.
"Aduuh, malu deh! Bilmar pasti lagi lihatin aku nih." cicitnya.
"Alika, kamu mau apa?" tanya Ibu Ratih dari mejanya. Membuat Alika panik sambil menggigit bibir bawahnya.
Bilmar terus saja tertawa dari balik mejanya. Ia tidak habis fikir, kalau Alika akan sepolos dan sebahagia itu.
"Gue pastiin, siang ini lo akan jadi pacar gue, Al." gumam Bilmar, menatap lurus Alika dengan wajah nyeleneh.
"Aku jadi nggak sabar." gumam Alika lagi.
Alika pun menoleh dan mendapati Bilmar tengah menatapnya. Senyum kebahagiaan begitu memancar, membuat wajah Alika merona. Jungkir balik sudah dunia Alika selama memendam rasa kepada Bilmar. Ia tidak akan segan-segan memarahi semua teman cewek yang begitu saja duduk disebelahnya, atau hanya sekedar bercanda di kelas dengan lelaki itu. Bilmar pun tau, dan ia menyukainya.
Ia tahu rasa cemburu itu adalah bukti rasa sayang. Otomatis Alika memang tengah menyayanginya, terbukti Alika kembali mengerjakan tugas bahasa Indonesia kepunyaan Bilmar, dan yang sudah dapat ditebak, lelaki itu kembali mendapatkan nilai tertinggi seperti Alika.
Namun rasanya, ia masih sungkan jika belum memiliki status dengan gadis itu. Ia ingin mendekati Alika, untuk melobi nya agar tidak usah mengambil kesempatan tes beasiswa ke London nanti.
"Karena kalau sayang, lo pasti akan menuruti apapun kemauan gue, Al." batin Bilmar.
"Lo ngapa senyum-senyum sendiri? Awas kesambet, Lo!" decak Dion membangunkan lamunan Bilmar.
"Gue nggak bakal kesambet sama setan di kelas ini, Yon. Malah gue udah bersahabat lama sama tuh setan!"
"Lo ngomong yang bener, Bil. Jangan ngadi-ngadi asal ngebacott, nanti kalau tuh setan denger, dia bakal marah sama lo."
__ADS_1
Bilmar menyerengit, menaikan pangkal bahunya seperti orang sedang terkejut.
"Emang lo marah sama gue?" tanya Bilmar.
"Marah? Gimana maksudnya?" satu alis Dion meninggi, ia sedikit mendelikan matanya ke arah Bilmar.
"Pan lo setannya, sedari tadi gue sebut-sebut, lo marah nggak nih?" Bilmar tertawa sarkas.
"Dih sempakk!" Dion mengalungkan lengannya untuk mengunci leher Bilmar. Sontak membuat lelaki itu meronta dalam tawa. "Wajah ganteng begini lo bilang setan!" kelakar Dion.
"Masih bau aja sih ketek lo, mandi yang bener, pake sabun jangan pake pasir!" decak Bilmar seraya melepas tangan Dion yang sedang bertengger dipundaknya. Ia tidak sengaja mengendus aroma Dion lebih dekat. Serasa hidungnya mau lepas karena tidak tahan dengan aroma bau badan yang dimiliki Dion.
"Lo pikir gue kucing yang lagi bokerr, pakai pasir!" sungut Dion.
"Lepasin monyet!" Bilmar susah menepis tangan Dion. "Gue susah napas nih!"
"Tunggu bentar, Bil. Ada yang mau kenalan sama lo." ucap Dion.
"Siapa?" tanya Bilmar dengan wajah polos, tak lama kemudian ia mendelik tajam, ketika melihat jari Dion dimasukan kedalam baju, untuk menyolok-nyolok pusaran pusar miliknya.
"Nah kan, ini dia yang mau kenalan sama lo." ucap Dion membawa arah mata Bilmar untuk menatap ujung jari Dion yang sudah mengeluarkan aroma tidak sedap.
Lalu sebelum pangkal jari itu di usapkan tepat di lubang telinga Bilmar. Dion lebih dulu berteriak, ia meringis sakit ketika kepalanya di hentak buku tebal pelajaran matematika oleh Evi yang sedang duduk dibelakang meja mereka.
"Berisik banget sih lo, Tem!" decak Evi.
Karena merasa kesal, Dion beringsut untuk mengusapkan pangkal jari itu ke lubang hidung Evi. Sontak membuat gadis itu melototkan kedua matanya, ia sangat tercengang dengan bau yang baru saja ia rasakan.
"Ih begoo, bau banget! Abis pegang apa lo, setan!" kelakar Evi, gadis cerewet itu mulai menjambak rambut Dion, dan Bilmar hanya tertawa puas tanpa mau melerai mereka.
"Evi ... Dion, ada apa?" tanya Ibu Ratih dari mejanya. Semua anak-anak yang sedari tadi hening kemudian menoleh ke arah mereka.
"Bu, Dion abis pegang tayyi." seru Evi dengan suara kencang.
"Kamu memang abis ngapain, Dion?" tanya Ibu Guru kembali.
"Habis makan tayii kali tuh!" selak Gilang, lalu anak-anak didalam kelas bersorak-sorak mengejek Dion.
Alika pun terkekeh geli, ia terus saja menoleh ke arah Dion yang rambutnya masih saja si jambak oleh Evi, kemudian memutar netra pekat untuk beralih menatap Bilmar yang masih ikut mentertawakan Dion.
"Sayangku ..." desahnya bahagia. Tidak ada yang lebih indah, ketika ia menatap Bilmar dalam keadaan senang seperti itu.
Tulus sekali hati gadis ini. "Aku sayang kamu, Bil."
*****
__ADS_1
Siapa yang mau nakol Bilmar?🤭🤭
Like dan Komennya ditungguin yaaa❤️