MantanKu PresdirKu SuamiKu 3

MantanKu PresdirKu SuamiKu 3
Musim 1 : Aku Tidak Mau!


__ADS_3

"Mulai hari ini, aku melepaskan mu, Bil! Kita putus."


Dua bola mata Bilmar menyalak tajam. Tetap terbuka. Namun tanpa kedipan mata sama sekali. Mulutnya menganga sedikit, aliran darah nya seketika memanas sampai terasa ke ubun-ubun. Seperti lahar panas yang sedang mengalir keluar dari gunung yang baru saja meletus.


"Jangan, Al! Aku nggak mau!" Bilmar langsung menarik tangan Alika untuk ia genggam. Alika pun meronta untuk meminta di lepaskan.


"Lepas, Bil!"


"Enggak!" Bilmar tetap memegang tangan Alika. Ia tidak ingin gadis itu lepas dari nya.


"Tenang aja, Bil. Aku masih bisa kok bantuin kamu untuk ngejar nilai, itu kan yang kamu mau selama ini?"


Bilmar menggelengkan kepalanya. "Yang kamu dengar itu gak bener, Al! Itu hanya alasan aku aja ke Dion." jawab Bilmar dengan wajah mengiba.


Alika tetap memaksa agar Bilmar mau melepaskan tangannya.


"Lepas, Bil! Sakit!" tanpa sadar genggaman tangan itu sudah berubah jadi remasan, karena hawa takut Bilmar yang terus memburu hatinya. Entah mengapa ia sangat tidak rela jika berpisah dari Alika.


"Aku enggak akan lepasin kamu, sebelum kamu tarik kata-kata kamu barusan!"


"Aku tetap ingin kita putus, Bil. Karena setelah itu, kita bisa menjalani kehidupan kita masing-masing tanpa saling menyakiti dan membohongi!"


Bilmar merespon ucapan Alika dengan gelengan kepala, Bilmar terlihat berantakan.


"Al, please. Gimana sih caranya untuk ngejelasin semua ini sama kamu?"


"Enggak usah dijelasin, Bil. Aku udah tau alasannya. Ya udah nggak apa-apa, aku terima kok. Udah ya aku mau ke rumah." Alika tetap memberikan senyum dan Bilmar merasa perih dengan senyuman itu, ia merasa amat bersalah.


Ia baru tahu wanita seperti apa Alika. Wanita itu tetap berusaha menarik tangannya yang masih digenggam erat oleh Bilmar, yang tepat ia sandarkan didepan dadanya. Lelaki itu terus mengiba, memohon belas kasih.


"Tenang, Bil. Kamu akan tetap ke London, kok! Jangan takut ya. Aku mah apa sih, cuman hanya anak kampung yang miskin. Cuman mimpi bisa sekolah di sana, kamu nggak usah khawatir ya."


"Ee---nggak, Al!! Aku udah gak perduli soal itu! Sekarang aku mau nya kamu!" lirih Bilmar. Lelaki itu tetap merengek seperti bayi yang tengah mengompol di celana.


"Naik lagi ya, kita pergi ke tempat makan. Aku tau kamu belum makan." titah Bilmar. Ia pun bangkit dari atas motor dan ingin menduduki Alika kembali di kursi penumpang.


"Enggak, Bil! Aku enggak mau!" Alika tetap bertahan dalam posisinya.


"Al, ayolah! Ini hanya salah faham, kita bisa bicarakan ini baik-baik kan?" Bilmar sudah frustasi untuk membujuk wanita yang baru saja memutuskan hubungan asmara mereka.


"Ini bukan salah faham, Bil! Ini realita! Kenyataan, kamu benar. Aku hanya wanita yang tidak tahu diri! Bermimpi mengharapkan kamu. Lelaki yang indah seperti permata di langit dan aku hanyalah bongkahan kerak bumi. Perbedaan kita memang sangat jauh, Bil!"


"Al, tolong! Tolong jangan lagi punya fikiran kayak gitu, aku tadi enggak sengaja. Aku khilaf, Al. Aku hanya salah ucap, aku kaget karena Dion dan Nino udah tau tentang kita."


"Terus apa lagi yang kamu permasalahkan? Dengan kamu putus sama aku, persahabatan kalian akan tetap terjalin, aku juga akan tetap mengajari kamu. Terus hal yang buat kamu enggak mau dengan keputusan hubungan kita ini tuh, DIMANA?"


Bilmar terdiam, memang benar ucapan Alika. Lalu apa yang membuat ia masih tidak terima dengan keputusan Alika?


"Aku mulai suka sama kamu, Al!" jawab Bilmar jujur. "Itu yang buat hati aku berat!"


"Baru mulai suka?" Alika mengulangi, dengan bodoh dan polosnya Bilmar mengangguk.


Alika menggeleng-gelengkan kepalanya, rasa sesak didada kembali menerpa.


"Aku enggak nyangka, Bil. Sudah satu bulan, kita berpacaran. Tapi kamu baru mulai suka sama aku? Terus niat kamu nembak aku waktu itu, hanya supaya misi kamu berhasil kan? Iya, kan?" wajah Alika yang sedari sendu, kini berubah menjadi geram.


Ia terlihat sangat emosi. Lalu tanpa menunggu lama ketika Bilmar ingin mengucap kata-kata untuk membela diri, seketika bibir itu mengkatup.

__ADS_1


Pakk.


Tamparan panas mendarat di pipi Bilmar. Sontak Bilmar memegang pipinya yang terasa panas, lelaki itu tertohok. Seketika ia hening.


"Kita putus, Bil. Menjauh lah mulai detik ini dari hidup aku!" ucap Alika, kemudian ia berlari untuk meninggalkan Bilmar yang masih membeku diatas motor.


Tak berapa lama Bilmar tersadar, ia pun mulai melangkah, malah setengah berlari menuju rumah Alika. Namun langkah panjangnya terhenti karena ada sebuah motor butut muncul dari arah lain dan ikut masuk kedalam gerbang bersamaan dengan langkah Alika kerumah.


"Papa nya udah pulang? Kok tumben sih, siang-siang? Kamu beneran, Al, mutusin aku? Tega kamu tuh!" wajah sedih itu pun ia bawa kembali menuju sekolah.


Namun sepertinya ia malas, hatinya tidak enak. Bilmar terlihat berantakan dan kacau. Sesekali ia menendang kerikil-kerikil yang ada disekitar jalan. Menumpahkan rasa kesal dan penyesalan yang begitu membara. Napas nya terasa terengah-engah dan hembusan napasnya kasar.


[Tolong anterin tas gue nanti kerumah ya]


Pesan singkat telah ia kirim kepada Dion, Bilmar memilih untuk mengendarai lagi kereta kencana nya menuju rumah. Ia ingin berbaring melepas penat dan kesedihan di atas ranjang.


****


Terlihat Bilmar membaringkan tubuhnya secara tengkurap dengan kedua tangan yang ia rentangkan di pusaran kasur. Jangankan seragam sekolah, kaos kaki dan sepatunya pun tidak urung ia lepas. Ia memaksa memejamkan kedua matanya yang terasa panas dan pedih sedari tadi.


"Kok udah pulang, Nak? Kamu sakit?" tanya Mama Mira yang baru saja muncul, ia meletakkan telapak tangannya di kening Bilmar.


"Enggak panas, kok." Mama Mira pun akhirnya duduk ditepi ranjang. Melepas sepatu dan kaos kaki yang masih bersarang di kaki putranya. Ia pun berbalik menatap sang anak, mengelus lembut punggung Bilmar.


"Ada apa, Nak? Ada masalah di sekolah? Masalah dengan Dion dan Nino?"


Bilmar beringsut untuk bangkit lalu memeluk sang Mama. Meletakan kepalanya di ceruk leher Mama Mira. Seperti ada isak kesedihan, namun masih bisa Bilmar tahan untuk tidak mengeluarkan air mata.


"Kamu kenapa?" tanya Mamanya lagi. Wanita itu terlihat cemas.


Bilmar memilih untuk diam dan membisu. Ia hanya ingin memeluk sang Mama sekarang. Ia lampiaskan rasa penyesalannya dengan memeluk Ibunda. Ia ingin hatinya sedikit saja merasakan ketenangan, karena jujur sedari di perjalanan menuju rumah, Bilmar sangat frustasi, ia tidak konsen hampir saja ia menabrak pohon dan mengalami kecelakaan. Betul memang, kalau dirinya mulai suka dengan Alika, mungkin bisa dibilang sudah berubah ke fase lebih dari itu, fase dimana ia sudah menyayangi wanita itu.


****


"Lo suka kan sama Alika?" tanya Nino. Bilmar menurunkan tatapannya untuk menatap para sahabatnya.


"Lebih dari itu, gue sayang sama dia, Nin." jawab Bilmar dengan wajah datar.


"Terus kenapa tadi lo bilang kayak gitu sama gue, Bil?" sambung Dion.


"Keadaannya mendesak, Tem. Gue bingung, gue takut lo berdua marah." Bilmar meremas kain sarung bantal karena meras menyesal dengan perkataan yang ia lontarkan. Bisa tidak jika ia memberikan alasan yang lain tanpa merendahkan Alika?


"Jika aja waktu bisa gue putar, mungkin hari ini gue nggak akan putus!" kelakar Bilmar, ia berkali-kali mengjenggut rambutnya.


"Jangan kayak gitu, Bil. Nanti lo begoo kaya gue." sergah Dion, ia menepis tangan Bilmar dari rambutnya sendiri.


"Emang sih lo udah melanggar kesepakatan kita bertiga, tapi kalau emang lo cinta sama dia, kita berdua bisa apa, Bil, ya nggak, Tem?" ucap Nino menatap Dion, dan lelaki itu meresponnya dengan anggukan kepala.


"Sabar aja dulu, Bil. Namanya cewek ya pasti nangis, tapi palingan sehari dua hari. Besoknya juga baik lagi."


"Seriusan lo?" tanya Bilmar penuh harap.


"Sok tau lo, emang udah pernah pacaran lo?" sungut Nino.


"Pan Emak-Bapak gue kayak gitu, coy. Kalau Emak gue marah, dua hari kemudian baikan lagi sama Bapak gue, soalnya Bapak gue tuh pintar ngerayu. Mending lo terus rayu Alika, Bil." jawab Dion bangga.


"Suami istri sama orang pacaran kan beda,Tem. Gue gigit juga telur lo!" kelakar Nino.

__ADS_1


"Jorok lo!" Dion menoyor kepala Nino lalu beranjak turun dari kasur. Nino tak kalah diam, ia pun mulai menarik Dion dan menjambak rambutnya.


"Eh, eh, ada apa ini? Kok ribut-ribut?" tanya Bik Minah, art dirumah ini. Wanita paru baya itu membawa sebuah nampan berisi minuman jus dan beberapa toples cemilan.


"Bawa aja nih, Bik. Masukin ke kantung kuning terus buang ke irigasi." ucap Dion, ketika ia terus meronta-ronta minta dilepaskan dari ketiak Nino.


Bik Minah hanya tertawa melihat mereka berdua, tidak pernah berubah dari tiga tahun yang lalu.


"Aden mau apa? Mau Bibik urutin badannya?" tanya Bik Minah kepada Bilmar. Ia merasa kasian melihat Bilmar yang tidak berselera melakukan hal apapun.


Bilmar hanya memberikan senyuman tipis dan gelengan kepala kepada wanita yang sudah mengasuh dirinya semenjak bayi.


"Ya udah kalau gitu, Bibik turun dulu ya. Kalau ada apa-apa, Aden panggil aja."


"Iya, Bik."


"Aduh nih masih pada berantem aja, ayo sana diminum dulu jus nya." titah Bik Minah kepada Nino dan Dion.


"Udah den jangan di jenggut terus, nanti rambut den Dion lepas." sambung Bik Minah


"Biarin aja, Bik. Minimal sampai bulu sarang waletnya rontok." Nino membawa arah mata Bik Minah ke celana Dion.


"Ih si Aden!" Bik Minah menutup matanya lalu berlalu cepat dari sana.


"Jorok lo! Nenek-nenek masih aja lo kerjain!" selak Dion, ia pun berhasil melepaskan tangan Nino dari rambutnya.


"Si Nina kan emang otaknya gak jauh-jauh dari selangkangann, ck!" timpal Bilmar.


Seketika alis kedua sahabatnya saling bertubrukan. Ia pun tertawa bersamaan.


"Kenapa lo?" sungut Bilmar dengan wajah aneh.


"Udah bernyawa lagi dia, Yon." ledek Nino lalu menyesap jus alpukat di atas nampan.


"Iya-iya bener, udah bisa ngebacot lagi lu, Bil! Ayo ah kita gitaran." Dion meraih gitar yang sedang tegak berdiri diatas sofa. Ia pun mulai memainkan gitar dan bernyanyi lagu yang lagi hits di tahun ini.


Aku bukan lah Supermen


Aku juga bisa nangis


Jika kekasih hatiku


Pergi meninggalkan aku


Dion dan Nino saling menyanyikan lagu itu diringi gelak tawa menatap ke arah Bilmar.


"Anjingg ngeledek gue! Sialan!" Bilmar melepas bantal dari pelukannya lalu ia loncat dari kasur untuk menyergap dua sahabatnya. Tanpa mereka sadar ada sepasang mata yang sedari tadi berdiri dibalik pintu kamar luar.


"Anakku punya pacar?"


****


Yeay tembus lebih dari 100, nah gitu song biar aku semangat bikin ceritanya, biar tau kalian tuh respon gak sama cerita yang aku buat.


Nah guyss, lunas udah janji aku. Empat episode loh hari ini, aku aja enggak nyangka hihihi. Makacih yaa udah nurutin kemauan aku❤️❤️


Semoga kalian selalu terhibur dengan cerita mereka🤗

__ADS_1


Pilih sendiri deh mau yang mana Dion-Bilmar-Nino



__ADS_2