
"Emang cuman gue yang menderita diantara kalian." sambung Dion sedih. "Gue cuman kedapetan satu bulan dua kali dari Dara. Dia kadang suka ogahan kalau gue ajakin."
"Makanya milih tempat yang bener. Masa deket timbaan sumur jadi." decak Nino.
Memang ketika awal-awal mereka menikah, Dion terlalu bernafsu karena Dara adalah gadis muda yang polos dan masih perawan. Tidak sengaja ia ingin mengajak Dara bercinta disamping timbaan sumur rumah mertuanya. Dan akhirnya ketahuan dan mendapatkan teriakan dari mertuanya yang gokilnya tidak ketulungan.
"Cari suasana baru lah, kalau begituan di kamar mandi, di dalam bath up kaya di novel-novel, udah basi coy." jawab Dion dengan senyuman penuh kemenangan.
Nino dan Bilmar hanya mencebik. "Bisa aja lo gigi pesing." seru mereka bersaman ke arah Dion.
"Siram dong kali pesing." jawab Sang sutradara film naga tenggelam itu. Ia kembali tertawa.
"Eh iya, Bil. Minggu lalu Alika chat gue."
Bilmar menegapkan duduknya dan menatap lurus ke arah wajah Nino.
"Serius? Minggu lalu?" tanya Bilmar. Terlihat keningnya mengerut marut.
Nino mengangguk. "Waktu itu gue fikir yang chat gue itu elo. Soalnya foto profil WA nya itu pakai foto lo, Bil. Tapi gue aneh, kok nomor lo beda lagi, ternyata itu nomornya Alika.
"Lo yang ganti poto profil WA Alika?" selak Dion.
Dengan wajah malu Bilmar mengangguk. "Iya, gue yang ganti."
Bilmar tidak mau wajah cantik istrinya terpampang bebas. Ia takut ada rekan bisnis istrinya yang berjenis kelamin lelaki tiba-tiba chat dan memandangi wajah istrinya. Tidak hanya itu, di wallpaper ponsel Alika juga bertengger wajah tampannya.
__ADS_1
Beberapa kali Alika pernah bertanya mengapa Bilmar tidak mau memasang foto dengan dirinya di poto profil Whatsapp. Padahal foto mereka sudah ribuan di galeri handphone.
"Papa enggak mau, relasi bisnis Papa. Mandangin foto Mama, kalau mereka lagi chat Papa." Begitulah alasan Bilmar kepada Alika.
"Bener-bener si Bila. Ampe segitunya, Nin." ucap Dion kepada Nino sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Gue memang posesif sama Evi dulu. Tapi gue gak sampai berbuat kayak gitu. Gue bebasin dia mau pasang foto sendiri boleh, main pesbuk sama indogramed boleh-boleh aja kok."
"Iya tapi akhirnya ko diselingkuhin kan?" decak Bilmar dengan tawa yang meledek.
"Jangan bilang kalau Alika juga gak punya medsos, Bil." kini Nino yang bertanya dengan wajah penuh kecurigaan.
"Iya. Alika memang enggak punya sosmed. Gak ada aplikasi apapun di henpon nya kecuali whatsapp. Di henpon nya juga hanya ada beberapa nomor kontak yang penting doang. Nomor gue, keluarga gue, asisten dia, dan beberapa nomor teman-teman sekolahnya yang menurut gue penting"
"Di WA nya juga hanya ada tiga grup, grup keluarga, grup sekolahan dia, sama grup angkatan kampusnya. Kadang juga kontak Alika suka gue left dari grup angkatan kampusnya. Gue enek kalo ada temen lelaki yang caper sama binik gue."
"Instagarem." selak Nino.
"Nah, iya, itulah. Dara aja kadang main sosmed sampe malem. Abis selfian sama gue dikasur langsung di upload di sana." ucap Dion.
"Serius lo? Abis gituan langsung di upload?" tanya Nino mengintrogasi.
Dion menoyor kepala Nino. "Ya enggak lah dongoo! Gue juga punya adab kali. Gue fikir udah jadi Dokter, makin pinter otak lo. Lagian kok bisa sih lo kan dari IPS, ngapa bisa sekolah kedokteran?" tanya Dion.
"Selama ada duit yang berbicara, semua mudah, Broh." jawab Nino dengan mengulum senyum.
"Udah berapa kali lo lahirin anak monyet?" Dion kembali bertanya.
__ADS_1
"Lahirin bayi, Njingg! Kalau Monyet mah, itu ranahnya Bapak gue!" decak Nino sambil menyeruput minumannya.
Bilmar sudah tidak memperhatikan lagi becandaan sahabatnya. Ia kembali fokus mengawasi Alika yang masih bersenandung ceria. Gelak tawa istrinya begitu lepas. Benar kata Dion seperti orang yang baru terbebas dari penjara.
"Maafin Papa, Mah. Papa kaya gini, karena untuk menjaga Mama." gumam Bilmar dengan menghela napas panjang. Walau ia mengekang dari segi alat komunikasi, tapi ia masih mengizinkan Alika untuk menjalankan usahanya di bidang perkuliahan.
Saat ini Alika menjadi kepala sekolah di perguruan tinggi ilmu keperawatan. Dan ia sering pergi ke luar kota, karena diundang untuk menjadi pembicara atau narasumber disebuah acara seminar-seminar kesehatan.
"Oh iya, lo belum jelasin kenapa Alika whatsapp lo, Nin." Bilmar kembali teringat pokok pembicaraan yang terjeda beberapa detik lalu.
"Tenang dulu, Bil. Jangan cemburu dulu." jawab Nino yang disertai tawa.
"Hemm." si posesif hanya berdehem pelan.
"Bener-bener si Bila, sama temen aja cemburu, ck." imbuh Dion. Lelaki itu lupa jika dulu ia juga cemburuan seperti Bilmar, namun sekarang ia merubah semua itu karena tidak ingin ditinggal lagi oleh Dara.
"Alika chat gue, Bil. Dia nanyain tentang program anak sama rencana mau lepas iud."
"Hah? Masa, Nin?"
Bilmar tersentak kaget. Pasalnya sang istri tidak pernah membicarakan masalah itu dengannya. Mengapa juga harus dirahasiakan, dan mengambil nomor Nino secara diam-diam dari ponselnya.
****
Like dan Komen ya guyss❣️
__ADS_1