
"Aamiin ..." ucap Bilmar setelah berdoa dengan menengadahkan kedua tangannya ke atas. Setelah itu ia beranjak berdiri sambil melipat sajadahnya. Dan keningnya tiba-tiba mengkerut, ia baru sadar kalau istrinya belum datang sampai sekarang.
Perasaannya tiba-tiba panik dan khawatir. Buru-buru ia melangkah ke mejanya untuk meraih ponsel. Menekan nomor telepon Alika untuk menghubunginya.
Tut. Hanya suara itu yang ia dengar, sudah lima kali ia mengulangi panggilan, tetap saja Alika tidak menjawab. Hati Bilmar semakin ruwas. Ia memilih untuk menelepon Kiki, asisten sang istri.
"Ya, Hallo, Pak." suara Kiki terdengar setelah nada tut menghilang.
"Maaf, Ki. Saya mengganggu, apakah Ibu masih ada di kampus?"
"Ibu sudah pergi dari tiga jam yang lalu, Pak. Kan biasa ke kantornya Bapak."
DEG.
Bahu Bilmar merosot jatuh. Lemas sekali tubuhnya. Mendengar kalau istrinya sudah pergi dari kampus tapi tidak kunjung sampai. Karena perjalanan menuju EG hanya memakan dua puluh menit saja dari kampus.
"Ya sudah makasih, Ki." jawab Bilmar sambil menurunkan gawai dari daun telinganya. Jantungnya kembali bergemuruh. Tatapannya lurus kedepan dengan kecemasan yang tengah membuncang.
"Ya Allah, ada apa dengan Alika?" desahnya. Tanpa menunggu lama ia kembali menatap gawainya, untuk menekan nomor kantor polisi. Fikirannya sudah panik, ia takut Alika mengalami kejadian buruk, kecelakaan misalnya?
"Ah, tidak-tidak!" Bilmar menggelengkan kepalanya seraya mengusir bisikan setan yang selalu mengompori manusia di saat sedang dalam posisi kebimbangan.
Dan ketika ia sedang menunggu polisi mengangkat teleponnya, ia kembali dikagetkan dengan pintu yang begitu saja terbuka tanpa permisi.
Krek.
"Mama!" seru Bilmar dengan wajah senang. "Alhamdulillah." ucapnya lagi sambil mengelus dada.
"Hallo selamat siang?" suara polisi di sebrang sana terdengar menyapa. Dengan cepat Bilmar mematikan sambungan telepon tersebut tanpa meninggalkan kata-kata.
Bilmar keluar dari mejanya dan menghampiri Alika yang masih melangkah ke arahnya. Alika mencium tangan suaminya dengan napas yang terengah-engah.
"Maaf, Pah. Mama telat banget."
Bilmar yang dada nya baru saja lega hanya bisa mengangguk dan membawa istrinya untuk duduk di sofa panjang.
Alika meletakan bungkusan makanan yang ia beli secara kilat. Drive thru di mekdi. Memesan makanan seperti ini rasanya dapat memangkas waktu, ia kasian dengan Bilmar yang sejak tadi, pasti sudah khawatir menunggunya.
"Mama kemana aja? Kok baru sampai?" Bilmar meraih tissu untuk mengusap peluh yang sedang menetes di wajah dan leher istrinya. Karena tadi Alika berlari dari parkiran menuju ruang kerja Bilmar.
"Mama haus, Pah." Alika masih bingung ingin membuat alasan apa, ia pun beranjak dari sofa, namun Bilmar mencegahnya.
"Tunggu sebentar, biar Papa yang ambilkan." Bilmar berlalu menuju lemari pendingin untuk meraih air mineral dalam botol kemasan.
"Ayo minum, Mah." Bilmar menyodorkan botol minuman itu untuk segera ditenggak oleh istrinya.
"Hhh ..." desah napas Alika mencuat ketika ia berhasil membasahi kerongkongannya yang teras sangat kering.
__ADS_1
"Maafin Mama ya, Pah. Mama telat. Tadi tuh jalanan macet, terus ngantri makanannya juga lama." jawab Alika dengan senyuman menggemaskan.
"Masa sampai jam segini? Ngaret berapa jam kamu, Mah." Bilmar menyerngit. Ia menangkap sesuatu yang tidak beres.
"Pasti ada yang Alika tutupi dariku." gumam Bilmar.
"Papa makan ya." ucap Alika. Ia tidak ingin belama-lama membahasa masalah itu.
Alika kemudian membukakan bungkus makanan itu untuk bisa dinikmati oleh suaminya. Bilmar hanya mengangguk dan menurut. Walau hatinya sedang bergejolak, ia bisa meredam dulu sesaat, karena senang kalau istrinya tidak kenapa-napa.
"Setelah makan, Mama enggak usah balik lagi ke kampus. Di sini aja sampai Papa pulang." titah Bilmar sambil memasukan potongan ayam kedalam mulutnya.
"Iya, Pah." hanya itu yang bisa Alika jawab. Ia tidak perlu bernego, walau pekerjaannya masih banyak dan Kiki pasti sedang menunggunya di kampus. Karena ia tahu, dirinya sudah salah.
[Maaf, Ki. Saya enggak ke kampus lagi, kamu pulang cepat aja ya]
Alika meletakkan gawainya kembali ke dalam tas setelah mengirim pesan singkat kepada Kiki. Ia juga tertegun karena melihat banyak panggilan telepon dari suaminya yang tidak ia jawab. Berkali-kali Alika mendorong salivanya, karena merasa tidak enak hati. Ia begitu merasa bersalah.
"Papa pasti cemas cariin Mama ya. Maafin ya Pah, Mama terpaksa bohong." rintihnya. Lalu kembali menatap Bilmar yang sedang melahap makanan siang nya yang sudah berpindah menjadi makan sore.
"Ayo kamu makan, Mah." titah Bilmar.
Boleh jadi ia curiga. Tapi sepertinya ia harus mencari tahu dulu apa yang sedang ia terka. Bilmar takut kecurigaan tanpa alasan, akan membuat ia bertengkar dengan Alika.
"Oh iya, waktu itu kamu chat Nino, Mah?"
Bilmar mengangguk. "Kamu mau rencana program?"
"Papa mau enggak?" tanya Alika.
"Papa mau." jawab Bilmar singkat sambil memasukan nasi kedalam mulutnya.
"Papa akan antar Mama ke Dokter tapi yang Dokter cewek aja, jangan ke si Nino."
Alika tertawa. Ia sudah tahu, kalau Bilmar tidak ingin Alika ditengok oleh lelaki, sekalipun itu Dokter. Karena dari masa-masa mengandung Ammar sampai Bilka dan Abrar, semua Dokter yang memeriksa istrinya adalah perempuan.
"Besok ya." seketika Alika terhenti dari tawanya. Kedua bola matanya terbelalak. "Ja--jangan besok, Pah. Lusa aja ya." pinta Alika, ia terlihat sedikit gelagapan.
Bilmar hening sesaat. Ia kembali menerka dan menerawang jauh. Tentu yang sedang ia fikirkan adalah kecurigaan.
"Ya." jawab lelaki itu singkat.
****
Seperti biasa, jika malam hari. Maura dan Ammar akan berkumpul di kamar mereka dulu sebelum akhirnya kembali ke kamar masing-masing untuk tidur.
Terlihat Amar tengah berbaring sambil memeluk perut Alika dari sebelah kanan. Dan di sebelah kiri, ada Maura yang juga memeluk sang Mama dengan erat. Merek bertiga tengah unyel-unyelan di pusaran ranjang.
__ADS_1
Lalu dimana Bilmar?
Lelaki itu sedang terduduk di sofa sambil melipat kedua tangan di dada. Menatap layar laptop, ia sedang memutar video di Youtube tentang company profil Eco Group yang baru. Sesekali Bilmar menurunkan kaca mata bacanya untuk mengawasi istri dan buah hatinya di ranjang.
Alika akan menyempatkan diri untuk mendengarkan keluh kesah kedua anaknya, baik cerita senang atau sedih yang mereka rasakan selama di sekolah.
Kadang Bilmar akan menarik napas, karena kedua anaknya itu akan merengek untuk meminta tidur bersama mereka, dan sudah dipastikan Bilmar akan mengalah untuk tidur di sofa.
"Mah, Kakak dari tadi ngehafal pidato tapi gak hafal-hafal." ucap Ammar dengan tawa meledek.
"Ih, diem kamu!" Maura beringsut ingin mencubit tangan Ammar, dan bocah lelaki itu sedikit menjauh dari pelukan Mamanya.
Alika menggenggam tangan Maura agar tidak sampai mencubit Ammar. "Peluk Mama lagi, Kak." titah Alika. Dan Maura kembali menurut, sesekali ia mendongak untuk mencium pipi Alika, dan begitupun sebaliknya Alika akan mengecup pusaran rambut sang anak.
Amar pun sama. Berkali-kali ia menciumi pipi Mamanya, rasanya gemas seperti ingin mengigit. Maura dan Ammar selalu merasa rindu, karena hanya bisa bertemu dengan Mama dan Papanya ketika sudah sore dan menjelang malam.
Alika tahu dirinya letih, tapi rasa lelah itu terbayar ketika melihat senyuman ceria dari wajah kedua anaknya.
"Adek aja udah pusing ngedengerin Kakak ngulang-ngulang terus baca pidatonya. Padahal pas Adek dengerin sekali, Adek langsung hapal, Mah. Kakak memang payah." Amar kembali menggoda. Dan Maura akan kembali geram, ia sedikit meronta karena kesal.
"Mah ... Adek ledek Kakak terus!" gerutu Maura. Ammar memang rajanya untuk menggoda dan meledek anak perempuan.
Maura memang pintar, tapi kecerdasannya masih jauh dibandingkan Ammar. Mungkin kecerdasan yang ia miliki menurun dari sang Mama.
"Adek jangan gitu, Nak. Harusnya Kakaknya dibantu. Ayo sekarang minta maaf sama Kakak." ucap Alika menasihati Ammar. Lalu anak lelaki itu mengangguk dan kembali bertutur.
"Maafin aku ya, Kak ... Tapi boong!" jawab anak itu dengan perangai tengil. Ammar menggelak tawa sejadi-jadinya.
"Tuh kan, Mah. Adek masih ngeledekin aku!" sungut Maura.
Ia kembali ingin mencubit Ammar namun bocah lelaki itu lebih dulu loncat dari ranjang lalu berlari keluar kamar, Maura pun mengejarnya karena sudah gemas untuk mencubit.
"Awas jatuh, jangan lari-lari." seru Bilmar kepada Ammar dan Maura.
Entah bagaimana perasaan Amar jika ia tahu Maura bukanlah kakak kandungnya. Sampai saat ini Alika dan Bilmar masih belum menceritakannya, biarlah sampai dimana bocah lelaki itu akan mengerti sendiri.
Alika kembali menatap layar ponsel di pusaran ranjang, sedikit tertawa karena membaca beberapa pesan masuk di grup whatsapp.
Bilmar menghela napas panjang, melepaskan kaca mata baca sambil memijit tulang hidungnya. Ia Kembali menoleh ke arah Alika.
"Besok Papa akan selidiki Mama."
Dan rasa curiga itu masih saja bertengger dibenaknya.
*****
Dua episode di hari ini ya gengss, see you🤗❤️
__ADS_1
Like dan Komennya jangan lupa, maapin kalo aku rada bawel😂.