MantanKu PresdirKu SuamiKu 3

MantanKu PresdirKu SuamiKu 3
Musim 1 : Janji Alika dan Bilmar.


__ADS_3

Bilmar tidak berhenti menggenggam tangan Alika selama di motor. Ia meyakini kalau Alika sedari tadi melamun karena ada kaitannya dengan acara makan bersama Mamanya tadi siang.


Makan siang yang ia harapkan bisa menyatukan Mama dan Alika malah berubah menjadi biang masalah. Bilmar takut, Alika merajuk. Maka ia memutuskan untuk membawa Alika makan karena ingin membahasa masalah tadi siang.


Sepertinya nasib antara Ibu dan Anak, kembali terulang. Dulu Mama Lisa selalu mendapatkan siksaan dan hinaan dari Ibu Mertuanya, dan sekarang dirasakan pula oleh Alika dari Mama Mira.


Cit.


Deru mesin motor Bilmar terhenti didepan kedai bakso favorit mereka. Bilmar tahu makanan ini adalah makanan kesukaan kekasihnya. Ini sudah ke lima kalinya mereka makan di sini.


"Turun sayang ..." ucap Bilmar. Namun Alika tidak memberikan respon. Ia takut Alika tidur. Namun ia merasa punggungnya tidak berat dan tidak ada pelukan yang bertengger diperutnya. Buru-buru melepas helm lalu menoleh ke belakang.


Lalu.


Benar saja ia menemukan Alika tengah duduk tegap dan melamun.


"Kok bengong?" tanya Bilmar dengan menyentak lutut Alika. Gadis itu pun terkesiap. Alika terbangun dari lamunan yang membuat kepalanya pening selama dijalan. Ucapan Mama Mira terus saja terngiang-ngiang di benaknya.


"Eh iya---Udah sampai ya, Bil." jawab Alika tersenyum. Ia pun turun dari motor, disusul Bilmar setelahnya.


"Bang dua ya. Bakso tahu urat, yang satu jangan pakai sayur." Bilmar melongo ke dalam gerobak bakso.


"Sip Mas." jawab si penjual.


"Ayo sayang." Bilmar kembali menggandeng Alika untuk masuk kedalam kedai, mencari meja yang kosong untuk mereka tempati. Namun setelah mengedarkan pandangan semua meja penuh. Tidak ada satu pun yang kosong.


Alika masih setia menempel di lengan Bilmar, ia kembali melamun, membiarkan Bilmar yang berfikir untuk mencari tempat untuk mereka. Lalu Bilmar menoleh ke sekumpulan anak SMP yang sedang makan persis disebelah posisinya.


"Pada pindah gih makannya, tuh diluar." Bilmar menunjuk ke bangku panjang yang disediakan diluar kedai. Anak-anak SMP itu mendongak dan menatap Bilmar, menghentikan kunyahan baksonya sesaat.


Mereka semua mengerutkan kening, orang gila dari mana, fikir mereka.


"Nih Kakak kasih duit buat bayar bakso." Bilmar mengeluarkan uang lima puluh ribuan dua lembar. Bola mata para bocah SMP itu pun membeliak senang. Mereka saling melemparkan padangan setuju. Tidak masalah makan diluar yang penting bisa gratis.


Sekumpulan bocah itu masih saja termangu, terlihat masih ada untaian bihun yang menggantung di bibir mereka. Melotot ke arah sekumpulan uang yang Bilmar letakan dipertengahan mata mereka.


"Nih, Kakak tambahin lagi. Buat beli ikan cupangg." Bilmar mengeluarkan lagi uang lima puluh ribuan dua lembar.


Total yang mereka dapatkan jadi dua ratus ribu. Hanya untuk menyewa tempat saja harganya lebih mahal dari dua mangkuk bakso yang ia pesan. Bilmar akan melakukan apa saja untuk orang yang ia sayang, apalagi untuk seorang Alika Sarasafi.

__ADS_1


Lamunan Alika tebuyarkan ketika empat bocah SMP itu langsung beranjak dari kursi sambil membawa mangkuk bakso ditangannya secara beruntun, mereka menyerukan terimakasih tiada henti kepada kekasihnya.


"Bil, itu ..." Alika menunjuk ke para bocah SMP yang berpindah duduk diluar.


"Udah gak apa-apa, ayo sayang duduk." Bilmar mendudukkan Alika di kursi, kemudian ia pun duduk disebelahnya. Sambil sesekali menoleh ke si Abang bakso yang masih meracik bakso di mangkuk. Perutnya memang sudah lapar, karena ketika berada di restauran tadi siang, selera makannya begitu saja menghilang.


Bilmar merapihkan poni Alika yang terlihat berantakan karena sapuan angin diperjalanan, lalu ditutup dengan kecupan hangat di kening.


"Ih, kamu!" Alika mendelik. Bilmar tertawa. "Abis aku gemas." Bilmar mencubit dagu Alika yang lancip.


"Malu ah, Bil. Lagi banyak orang kan." decak Alika.


Bilmar kembali tertawa dan meletakan satu tangannya diatas puncak kursi Alika.


"Kamu nya melamun terus. Kenapa sih?Mikirin yang tadi siang ya? Maafin Mama aku ya sayang." ucap Bilmar meraih punggung tangan Alika untuk dikecupnya.


Melakukan hal itu berulang kali sampai tidak perduli dengan lingkungan. Berulang kali juga Alika menurunkan tangannya ketika hendak diangkat oleh Bilmar untuk dikecup.


"Permisi." suara Abang bakso terdengar diantara mereka, meletakan dua mangkuk bakso tahu urat dimeja.


"Bang, jus alpukat ya dua." pinta Bilmar lagi. Abang bakso pun berlalu setelah mengangguk.


"Kamu bukannya norak, tapi belum terbiasa. Nanti aku ajak lagi kesana tapi dengan makanan yang aku rekomendasiin. Kalau yang tadi aku juga belum pernah makan kok." Bilmar berdalih, tidak mau membuat Alika semakin merasa direndahkan.


Alika mengangguk dan tersenyum. Tentu yang membuat hatinya menciut bukan hal itu lagi, melainkan kerelaan hatinya untuk melepas Bilmar sebentar lagi. Ia harus siap ditinggalkan dalam waktu yang lumayan lama.


"Mau pakai saus? Kecap? Sambal?" Alika menawarkan.


"Campur aja semuanya." jawab Bilmar.


"Bil, aku ingin kamu belajar lebih giat lagi."


Bilmar mengangguk biasa sambil membuka plastik kerupuk, dan menggigitnya, menunggu kuah bakso tercampur rata, yang sedang diaduk oleh Alika.


"Aku ingin kamu pergi ke London."


Seketika bekas gigitan kerupuk yang masih berada dalam genggaman tangan Bilmar pun terjatuh ke atas lantai. Lelaki itu terlonjak. Kedua matanya membeliak sempurna.


"Aku gak mau, Al! Aku maunya tetap di sini, sama kamu!" Bilmar mengepalkan tangan dan menghentakkan nya di meja.

__ADS_1


Air kuah bakso sedikit melipir keluar, kumpulan sendok dan garpu yang ada dalam wadah pun bergerak dan berbunyi. Membuat orang-orang yang ada disekitaran mereka menoleh.


"Tenang dulu, sabar sayang." jawab Alika dengan nada lemah lembut. Ia memberikan senyuman kaku kepada orang-orang yang sedang melihat mereka dengan rasa keingintahuan yang pekat.


Gerakan pada dada Bilmar terlihat naik turun, rahangnya terlihat mengencang. Rasanya ia ingin menumpahkan mangkuk bakso itu ke atas lantai. Ia kesal.


"Dua minggu aja gak deket sama kamu, aku kayak orang gila, Al! Gimana pergi ke London selama itu." desah Bilmar.


"Kamu kan bisa pulang ke Indo, kalau lagi libur kuliah."


"Tapi kan, dapat liburnya per delapan bulan, Al. Lama banget! Enggak ah, aku tetap mau di sini!"


"Ya udah kalau kamu tetap gak mau, kita gak bakalan nikah, Bil!"


"Loh kok gitu?" otot-otot hijau disekitar kulit tenggorokan Bilmar tercetak jelas dengan suara nyaring yang terus ia suarakan.


Alika mengelus bahu Bilmar berulang kali. "Lakukan ini demi aku dan orang tua mu, Bil. Kamu harus sukses, biar mereka bangga. Tentu Mama dan Papa ku pun pasti mau merestui kita. Dia tidak akan menolak jika aku menikah dengan lelaki sukses." jawab Alika dengan hati yang terluka. Ia harus merelakan kepergian Bilmar, hanya untuk kebahagiaan dan masa depan mereka.


"Untuk masa depan kita. Aku, kamu dan anak-anak kita nanti." Alika memaksakan wajahnya untuk tersenyum. Senyum dalam luka, tentu tidak ada perpisahan yang menyenangkan. Belum lagi godaan yang akan menerpa.


"Apakah aku mampu menjalaninya nanti?" desah Alika dalam benaknya.


Bilmar masih terdiam, napsu makannya pun sirna. Ia hanya termangu menatap botol-botol minuman yang berjajar di lemari pendingin. Ia ingin menolak, tapi ucapan Alika ada benarnya. Ia mengingat apa yang akan diberikan oleh orang tuanya ketika ia selesai menggelar sarjana.


Bilmar akan menjadi seorang Presdir, pewaris Eco Group. Tentu ia akan menjadi lelaki terkuat di kaca dunia. Terkenal karena prestasi dan kekuatannya. Mertua mana yang tidak akan menerimanya dengan tangan terbuka.


"Orang tua Alika pasti mau menerimaku setelah aku berhasil menjadi Presdir." gumam Bilmar. Ego nya sedikit menurun, walau rasa cemas masih saja melanda.


"Tapi kamu gak akan berpaling kan, Al?" cicitnya sendu.


"Aku janji, Bil."


"Kamu juga janji kan, gak akan pernah berpaling? Tetap sayang sama aku. Kamu balik lagi kesini setelah sukses, dan kita akan nikah. Nikah muda juga aku rela, yang penting sama kamu." ucap Alika.


"Pasti dong, Al. Di hati aku cuman ada kamu. Udah mentok." Bilmar tersenyum.


Dan mereka berdua pun saling mengucap janji. Walau jauh dihati keduanya sedang merasakan sakit karena harus berpisah dalam waktu dan jarak. Mungkin bukan hanya empat tahun, tapi bisa saja sepuluh atau berbelas tahun. Alika harus bisa menunggu Bilmar dengan segala kelapangan dadanya nanti.


******

__ADS_1


Udah dua episode ya guys hari ini, sun sayang❣️😘


__ADS_2