
Setelah berhasil memberantas satu tikus. Kini Bilmar kembali menunggu dua tikus selanjutnya untuk masuk kedalam perangkap. Lelaki itu tidak sabar untuk menjerat dua tikus sekaligus dalam waktu bersamaan.
Lelaki itu masih terduduk ditempatnya. Sesekali menyesap cappucino latte di cangkir mahal yang tingginya tidak lebih dari 15 centimeter.
"Permisi ..." suara dari seseorang yang membuat Bilmar mendongakkan wajahnya.
"Maaf, Pak. Sepertinya saya salah meja." ucap Daniel yang sudah sampai di pinggir meja, ia menatap nomor yang tergelak diatasnya.
"Nomornya sama, tapi kenapa yang duduk ..." gumamnya pelan namun masih bisa didengar oleh Bilmar.
"Silahkan duduk, Bapak Daniel." Bilmar mempersilahkan duduk kepada lelaki itu.
"Anda mengenal saya?"
"Duduklah." titah Bilmar. Daniel pun menurut dengan raut wajah bingung.
"Anda ini siapa? Ada keperluan apa dengan saya?"
Bilmar memiringkan satu sudut bibirnya, ia tersenyum nyeleneh. "Bukannya anda yang mempunyai keperluan dengan saya? Anda kan yang Ingin bertemu dengan saya?" Bilmar meyakini lelaki itu.
Bola mata Daniel terbelalak. Raut bingung terus saja melekat di wajahnya. Aneh sekali fikirnya, ia kan datang kesini untuk janjian dengan Alika, mengapa bisa menemui lelaki dengan penampilan seperti seorang Presdir.
Lelaki itu memang Presdir, Bambang.
"Dengan anda? Maaf Pak, sepertinya saya salah-----"
"Permisi ..."
Ada suara lagi yang muncul di sela-sela pembicaraan mereka. Bilmar dan Daniel menoleh. Daniel kembali tertohok ketika mendapati Wira yang sedang berdiri mematung dengan tatapan bingung dihadapan mereka. Lelaki itu terlihat mencocokan nomor meja dengan nomor yang ia lihat dari layar ponselnya.
"Pak Daniel, sedang apa anda di sini?" tanya Wira.
"Anda yang sedang apa di sini, Pak? Daniel berbalik tanya.
Bilmar berdiri sambil menepuk tangan, mengulas senyum mempesona. Mereka berdua semakin terkejut, tidak mengerti siapa Bilmar dan mengapa sikapnya seperti orang yang sudah mengenal mereka.
"Silahkan duduk Bapak-Bapak terhormat."
Dua lelaki laknat itu pun menurut, mereka duduk bersamaan dalam satu sofa.
"Siapa anda sebenarnya?" tanya Wira dan Daniel bersamaan kepada Bilmar dengan tatapan menyelidik.
"Lho, kok, aneh? Bukannya anda berdua yang mengirimkan pesan tadi malam, untuk bisa dengan bertemu saya di sini?" Bilmar memutar balikan fakta.
Mereka saling melemparkan pandangan. Mengerutkan kening dengan bola mata yang berpendar kesana kemari, seperti kembali menerawang, mengingat pesan tadi malam.
"Ibu Alika adalah istri saya!"
DEG.
"GILA ini sih!" gumam Wira.
"Mati gue!!" Daniel membatin.
"Kenapa diam? Benarkan ucapan saya?" tanya Bilmar dengan nada sedingin es.
Wajahnya saat ini sudah mulai kembali angkuh dan sangar. Rahangnya terlihat mengencang dan mengeras. Mereka berdua tambah meringis ketika mendengar keretukan tulang dari kepalan tangan Bilmar yang sekarang ia letakan menyilang didepan dada.
"Apa yang anda inginkan dari istri saya? Tubuhnya?" tanya Bilmar dengan tatapan mata yang berapi-api. Ia ingin melempar asbak saat ini juga kepada wajah mereka secara bergantian.
Muka mesum!
Daniel dan Wira tertegun. Mengapa begini jadinya? Niat ingin melepas rasa suka kepada Alika, mengapa harus masuk kedalam sangkar buaya?
__ADS_1
Cari mati, haha.
"Wira Sudarma. 42 tahun, seorang dekan dibeberapa kampus. Memiliki berbagai penghargaan sebagai pendidik terbaik dibidang ilmu kesehatan. Sudah mempunyai cucu perempuan dari anak anda satu-satunya yang bernama Melia. Istri anda adalah seorang Asn. Anda mempunyai beberapa usaha sarang burung walet. Apakah semua penjabaran saya benar mengenai biodata diri anda, Pak Wira?" tanya Bilmar skeptis.
Lelaki itu tergugu. Ia menganggukkan kepala karena tidak percaya, mengapa bisa lelaki yang ada dihadapannya saat ini, begitu fasih dan hapal sampai ke nama anaknya sekalipun. Sungguh, Wira hanya bisa diam, ia takut karena keinginannya untuk mendekati Alika, sudah kepalang basah diketahui.
"Lalu anda. Daniel Mananta, oh salah. Maksud saya ... Daniel Budiman. 38 tahun, tinggal di rumah mertua selama berpuluh-puluh tahun. Mempunyai dua istri. Dari satu istri sah belum memiliki anak, tapi dari satu istri sirih sudah mempunyai tiga orang anak. Bahkan istri pertama anda saja tidak tau kalau anda sudah menikah!" ucap Bilmar dengan tawa mengejek. "Padahal nama anda sungguh bagus, Pak. Tapi sayang, sikap dan sifat anda tidak sebudiman yang saya kira!"
"Anda mengetahui semua tentang saya?" tanya Daniel mulai terbawa emosi. Ia tahu dirinya salah, tapi ia harus berani menggebrak Bilmar agar bisa bertekuk lutut kepadanya.
"Untuk menyelidiki dua bandit cecurut seperti kalian, bukan perkara sulit bagi saya!" jawab Bilmar santai.
"Kalian berdua memang lelaki yang tidak tau malu!" kelakar Bilmar sambil menghentak meja, air kopi dari cangkir pun sampai terlompat keluar. Wira dan Daniel sontak memundurkan tubuh nya sampai menyandar ke punggung sofa.
Bilmar menoleh ke arah Wira. "Anda adalah seorang dekan. Orang nomor satu yang dihormati dari beberapa ratus mahasiswa anda, menjadi orang yang di panuti dan disegani di dalam keluarga besar anda, tapi demi napsu, anda turunkan rasa simpatik itu dengan perbuatan tercela! Anda ingin menggoda istri orang lain! ISTRI SAYA!" sentak Bilmar tegas.
DEG.
Lagi-lagi Wira terdiam, ia menunduk malu. Daniel menoleh, menatap benci kepada Wira.
"Benarkan dugaan saya, dia juga menyukai Ibu Alika." gumam Daniel.
"Dan anda!" Bilmar mengalihkan tatapannya kepada Daniel. Daniel terkesiap, ia seperti lalat yang akan dilahap habis oleh cicak
"Saya juga bisa menjebloskan anda ke penjara saat ini juga! Jangan fikir saya tidak tau, jika selama ini anda sudah banyak bermain curang. Menggelapkan dana pembangunan kampus!"
"Hah?" desah Daniel.
"Kenapa? Kaget lagi? Hebatkan saya? Perkara seperti ini hanyalah perkara mudah bagi saya, Pak!"
DEG.
Jantung Daniel terus saja menderu-deru. Ia terbelalak seperti maling kutangg ibu-ibu jajaran kos-kosan yang sedang ketahuan. Begitupun Wira, ia tersentak. Kaget bukan main. Tidak percaya sama sekali, jika cecunguk itu telah berani membodohi mereka selama ini.
Daniel tergagap, ia ingin mengelak. Namun keadaannya tidak mungkin terelakkan lagi. Ia sudah dalam keadaan terjepit, begitu menjerat lehernya.
"Saya bisa jelaskan semua ini, Pak." jawab Daniel panik.
"Anda benar-benar---" Wira terus melupakan emosinya.
"CUKUP!" Bilmar menghentikan perdebatan mereka.
"Saya bisa hancurkan kalian semua tanpa ampun! Saya bisa melakukan apa saja!"
"Sombong sekali anda!" decak Wira. Bilmar tertawa sarkas. "Anda ingin mencoba saya?" tantang Bilmar.
Wira terdiam sesaat. Ingin mengeluarkan emosinya namun ia tak yakin menang. "Tarik saham anda dari pembangunan kampus! Saya tidak sudi, jika anda menjadi mitra bisnis Istri saya!"
Dua bola mata Wira terbelalak. "Yang bisa memutuskan hanya Ibu Alika, walau anda suaminya. Anda tidak berhak, karena dalam surat pejanjian----"
Drrt drrt drrt.
Suara Wira terhenti, ketika ponselnya berdering.
"Iya, hallo, Mah?"
"Apa?"
"Burung Waletku terbang semua? Kok bisa?"
Terlihat raut wajah Wira panik setengah mati. Ia sampai lemas ketika menurunkan gawai tersebut dari daun telinganya.
"Bagaimana? Masih ingin mencoba saya?" tanya Bilmar dengan gelak tawa mengejek.
__ADS_1
"Jadi anda pelakunya?" decak Wira dengan emosi, ia tidak terima dengan perlakuan Bilmar.
Dengan cepat ia berdiri, maju mendekati Bilmar untuk memberikan pukulan. Namun siapa sangka otot tangan Bilmar lebih kuat dari siapapun, bahkan Ade Ray saja kalah dengannya.
BUG.
Wira tersungkur. Ia terjatuh kembali ke sofa dan menimpa Daniel.
"Cuu--kuup, Pak! Ampuni saya." pinta Wira. dengan telapak tangan yang ia julurkan didepan wajah Bilmar.
Daniel mengedikkan pangkal bahunya, ia begitu syok dan kaget. Ia semakin yakin, jika saat ini dirinya sedang berurusan dengan monster.
Wira segera angkat kaki dari meja dan berlalu secepat setan.
"Dan anda!" Bilmar menyeret kembali bola matanya kepada Daniel Mananta alias Budiman.
"Tolong, Pak. Saya minta maaf, atas segala kejahatan saya. Saya mohon agar semua ini bisa dibicarakan baik-baik." pinta Daniel dengan wajah mengiba.
Bilmar terus saja memandangnya dengan tatapan sinis dan angkuh.
"Kembalikan uang yang sudah anda gelapkan, dan undur diri lah sebagai kontraktor di pembangunan kampus ini!"
"Tapi, Pak?" seru Daniel, lelaki itu terhenyak bukan main. Uang yang ia gelapkan sudah habis terpakai, dengan cara apa ia harus mengembalikannya? Belum lagi jika ia harus undur diri dari proyek ini, ia tidak akan mendapatkan keuntungan apapun lagi.
"Jadi bagaimana? Apa anda mau mengikuti keinginan saya?"
"Tolong, Pak. Berikan saya keringanan---"
"Dua anjingg Siberian Husky saya sudah menunggu didalam mobil anda, Pak Daniel." selak Bilmar dengan tatapan meyakinkan.
"Hah? Apa? Jangan gila, Pak! Saya sangat trauma sekali dengan Anjingg."
Bilmar tertawa puas. "Hebatkan saya? Sampai hal terkecil tentang anda pun saya tau sekali." ujarnya bangga.
"Lihatlah, kedua anjingg saya itu!" Bilmar menyeret bola mata Daniel untuk mengikuti arah matanya menuju mobil Daniel yang sedang terpakir dari dalam jendela.
"Manis kan?"
Daniel menggelengkan kepala. Ia langsung berdiri kaget. Mengusap wajahnya gusar, matanya terbelalak hebat. Melihat ada dua anjingg Siberian Husky yang sudah ada didalam mobil nya tengah menjulurkan kepala dari dalam jendela.
Bilmar beranjak berdiri, menarik kerah baju Daniel. Menatapnya dengan gelak mata tajam.
Setajam silet.
"Lakukan perintah saya! Sebelum Anjingg-anjingg itu menggerogoti tubuh anda!" ucap Bilmar kembali menatap garang. Ia menghempaskan tubuh Daniel sampai terhuyung ke atas sofa. Dan tak lama kemudian, para bodyguard kembali datang ke mejanya.
"Urus lelaki ini bersama anjinggnya!" titah Bilmar dengan nada tegas.
"Siap, Pak."
Bilmar pun berlalu, kembali mengenakan kaca mata hitam di wajahnya. Dengan balutan jas, kemeja dan dasi yang begitu senada. Membuat ia begitu tampan dengan sorotan mata beberapa pengunjung yang tidak berhenti menyorotnya.
Dan pergilah sang Presdir berdarah dingin itu dengan penuh kemenangan di hatinya.
"Mati kalian semua!"
Tanpa Bilmar tahu, ia masih meloloskan satu tikus hitam lagi yang sedang melangkah tertatah-tatah mendekati istri tercintanya.
*****
Babang Bilmar masih harus melawan si Zainudin nih gengss.
Like dan Komenn yaa❤️
__ADS_1