MantanKu PresdirKu SuamiKu 3

MantanKu PresdirKu SuamiKu 3
Musim 1 : Tega


__ADS_3

Sejak semalam Bilmar resah, ia sadar kalau dirinya sudah kelewat batas. Menghardik Alika dengan kata-kata kasar, padahal tidak sepatutnya ia berkata seperti itu. Kurang apalagi gadis itu, sudah tulus memberikan rasa cintanya, perhatiannya dan kepintarannya dalam membantu nilai-nilai Bilmar, terlebih lagi mau mundur dari kursi beasiswa menuju London.


Sejak semalam pula Bilmar mencoba menghubungi ponsel Alika, namun ia tidak mendapatkan suara Alika dari sambungan telepon. Ponsel Alika mati, tidak bisa dihubungi. Bilmar jadi was-was, ia takut Alika akan marah atau mungkin memutuskan hubungan dengannya. Hanya karena takut hubungannya diketahui oleh orang lain, membuat Bilmar gelap mata dan menyakiti hati kekasihnya sendiri, seperti kemarin sore.


"Sudah mau jam 7, tapi kamu belum sampai, Al." Desah Bilmar dengan wajah tidak tenang. Gelisah dalam duduk, kedua matanya terus menatap kursi kosong yang biasanya sudah di duduki oleh sang kekasih.


Dion yang sudah tahu duduk permasalahan diantara mereka hanya diam, pura-pura tidak tahu sampai Bilmar sendiri yang menceritakannya, karena tadi malam sebelum Alika mematikan ponselnya, Dion dan Nino sengaja menghubungi Alika terlebih dahulu, kedua sahabatnya ini merasa curiga, ada hubungan apa mereka selama ini. Dengan takut-takut akhirnya Alika mengaku kepada mereka berdua, kalau dirinya dengan Bilmar memang berpacaran.


"Kayaknya Alika nggak masuk deh, lo aja deh Zik, yang pimpin doa." Ucap Dion kepada Razik. Bilmar hanya diam menunduk lemas, jantungnya terus saja berpacu tidak tenang. Ia pun memilih beranjak dari kursi untuk melangkah keluar.


"lo mau kemana?" Tanya Dion.


"Toilet!" jawabnya malas, namun bukan itu alasannya. Ia hanya ingin pergi ke depan gerbang, siapa tahu ada Alika di sana. Mungkin saja gadis itu telat datang.


Seketika wajah Bilmar terang benderang, ketika langkah kakinya belum sampai ke gerbang sekolah namun sudah terhenti, ia melihat Alika yang tengah berjalan pelan dan lambat di pertengahan lorong kelas.


Napas Bilmar terlihat lega, dan semakin lenggang letika sang kekasih memberikan senyum hangat dari kejauhan kepadanya.


"Syukurlah, lo enggak marah, Al." Gumam Bilmar, dengan langkah panjang ia menghampiri dan merangkul Alika.


"Kenapa terlambat?" Tanya Bilmar.


"Wajah kamu juga pucat! Kamu sakit, Al?" Bilmar kembali melemparkan beberapa pertanyaan kepada Alika. "Maafin aku kemarin ya, aku khilaf!" sambungnya lagi.


Alika tertegun, mengapa Bilmar cepat sekali berubah untuk menjadi hangat. Masih tercetak jelas dalam ingatannya, kemarin sore lelaki itu secara habis-habisan memakinya tanpa ampun.


"Sakit karena menstruasi, Bil. Nggak apa-apa kok, yang penting kamu gak marah lagi ya sama aku." jawab Alika pelan, nada suaranya masih terdengar sedih.


Bilmar mengangguk lalu menggandeng tangan Alika. "Apa mau ke Dokter?"


Alika kembali melongo, samar-samar ia rekah kan kembali garis senyum di bibirnya.


"Alhamdulillah, BilmarKu telah kembali." Batinnya.

__ADS_1


"Udah, Bil. Aku udah minum obat dirumah."


"Kenapa semalam ponsel kamu mati?"


"Kayaknya lowbet deh, aku disuruh istirahat sama Mama dan Papa."


"Kalau masih sakit kenapa masih memaksa untuk masuk?"


Sebenarnya perut Alika masih terasa nyeri. Namun ia paksakan datang, karena ia rindu dengan Bilmar, terlebih lagi ia takut kalau tiga sekawan itu akan ribut, dan Bilmar akan marah kepadanya, karena ia sudah membocorkan perihal hubungan mereka berdua.


"Sekarang kan mau ada ulangan Kimia, aku mau nemenin kamu."


"Makasih ya sayang." jawab Bilmar.


Teman-teman yang ada dikelas pun sontak ramai ketika melihat Alika digandeng oleh Bilmar. Entah mengapa Bilmar berbuat seperti itu, Alika pun merasa aneh namun senang. Akhirnya Bilmar mau go public. Setelah menduduki Alika di kursinya, Bilmar pun memutar langkah menuju mejanya dan duduk kembali disamping Dion.


"Lo pacaran kan sama Alika?" Dion memaksa Bilmar untuk jujur, namun lelaki itu pun tersadar dengan sikapnya kepada Alika yang sudah kelewat batas dan hampir semua orang menatapnya dengan tatapan aneh.


"Ya enggaklah! Kita cuman temen." jawab Bilmar santai namun dengan detakkan jantung yang hebat. Ia tetap berdalih, sebisa mungkin menutupi hubungannya dengan Alika. Wajah Dion mencebik.


"Ada apa ya mereka?" desah Alika.


Alika yang melihatnya, menjadi was-was. Tiba-tiba saja perasaanya tidak enak. Ia takut Dion akan membocorkan apa yang kemarin malam mereka bahas. Tidak bisa membayangkan bagaimana kemarahan Bilmar setelah ini kepadanya.


Dion membawa langkah kaki Bilmar menuju ke belakang kelas, ia ingin membahas tentang Alika kepada Bilmar.


"Jujur deh lo sekarang! Gue tau kok, lo pacaran kan sama Alika." ucap Dion.


"Apaan sih lo! Jangan main asal tuduh!" lelaki itu berdecak kesal.


"Tapi lo pacaran kan sama dia? Ngaku lo! Gue udah tau, Bil! Gue sama Nino udah tau yang sebenarnya! Tapi bukan itu yang kita permasalahkan sekarang----"


"Lo tau dari mana?" desak Bilmar.

__ADS_1


"Alika ngaku! Dia sayang banget sama lo, Bil. Udahlah akuin aja kenapa sih---"


"Iya gue ngaku, Gue emang pacaran sama Alika." selak Bilmar, ia lebih dulu memotong ucapan Dion, yang sebenarnya tidak akan melarang hubungan mereka. Dion dan Nino hanya ingin Bilmar jujur tentang hubungan asmaranya dengan Alika.


"Nih lo dengerin gue ya! Gue sama Alika memang pacaran, tapi gue nggak pernah suka apalagi jatuh cinta sama dia! Gue hanya memanfaatkan kecerdasannya aja, biar gue bisa lulus beasiswa ke London! Lo tau lah selera gue, masa iya gue mau sama cewek kampung dan miskin kayak dia, ck!" ucap Bilmar lepas begitu saja, walau dalam hatinya ia merasa perih mengapa bisa menghina Alika seperti itu. Ia hanya ingin Dion percaya, kalau dirinya hanya terpaksa. Lebih baik kehilangan pacar dibanding sahabat.


"Tega lo, Bil. Alika tuh tulus sama lo!"


"Tapi maaf gue nya enggak!" Bilmar tetap mengerang. Padahal air ludahnya sedari tadi sudah beberapa kali tertelan, mengapa ia sebegini jahatnya dengan Alika.


Seketika wajah Dion memerah seperti tomat terbakar. Dua bola matanya melotot tajam, mulutnya tercengang bukan karena ia kaget dengan penuturan Bilmar tapi ia takut dengan pemandangan yang sedari tadi ia lihat, ada sesosok yang sedang mematung di belakang tubuh Bilmar sejauh satu meter.


Gleg.


Seteguk saliva begitu saja Dion dorong jauh ke belakang kerongkongannya. Ia susah berkata karena merasa lidahnya tercekat.


"Eh, lo kenapa? Makanya jangan suka ngomong di sini, tempat ini tuh angker, Nyet!" Bilmar menghentak bahu Dion. Karena tahu Dion sedang fokus menatap sesuatu dibelakangnya, Bilmar pun menoleh ke belakang.


JAG.


Bilmar kaget setengah mati. Seperti ada persatuan petir yang sedang menyambar diatas langit, walau saat ini masih pagi dan angin begitu sejuk. Namun mendadak, ia merasakan kalau dunia nya sudah terhenti untuk berputar.


Langit dirasa begitu mendung dan angin berhembus kencang membuat tubuhnya begitu saja meremang. Bola matanya lurus menatap suatu sosok yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, tengah mendengar semua ucapan yang baru saja ia keluarkan.


"ALIKA...?"


Dan wanita itu lah yang saat ini sedang mematung menatap Bilmar, lalu memutar langkahnya untuk pergi kembali menuju kelas.


"Teganya kamu, Bil."


*****


Siapa yang mau mandiin Bilmar dikolam yang banyak ikan piranha nya? Biar abis digigitin tuh si jaguar😏😏.

__ADS_1


Nah kan udah dua episode lagi untuk hari ini. Like dan Komennya lagi yaa❤️


__ADS_2