MantanKu PresdirKu SuamiKu 3

MantanKu PresdirKu SuamiKu 3
Musim 1 : Hal Yang Tidak Terduga.


__ADS_3

Niatnya Bilmar dan Kannya akan bercerai setelah tiga bulan pernikahan mereka, nyatanya sampai enam bulan pernikahan mereka berdua belum juga berpisah.


Mama Mira dan Mama Lia selalu memantau pernikahan mereka. Kedua wanita paru bayah itu akan selalu menolak jika mereka merengek untuk meminta berpisah. Dan pada suatu hari Mama Mira terhenyak ketika mengetahui suatu kebenaran yang selama ini ditutup-tutupi oleh Bilmar dan Kannya.


"Kalian fikir pernikahan ini mainan?" teriak Mama Mira kepada Bilmar dan Kannya yang sedang duduk bersebalahan diatas sofa. Mereka termangu mendengarkan semua unek-unek yang sedang dikeluarkan oleh sang nenek sihir. Begitu jika Kannya menyebut Mama Mira.


"Sial banget sih hidup gue! Bisa punya Ibu Mertua macam nenek gayung kayak dia!" gerutu Kannya dalam batinnya.


Mama Mira masih mengerang dalam kekesalannya. Ia menatap tajam ke arah mereka berdua.


"Sudah enam bulan menikah, ternyata tidur masih masing-masing dikamar yang berbeda. Apa-apan sih!" Mama Mira makin menjadi-jadi dalam emosinya. Ia tidak tahu jika Bilmar dan Kannya sudah membohongi mereka selama ini.


"Kalian itu sudah jadi suami istri, sudah sepantasnya untuk tidur bersama dalam satu ranjang." ucap Mama Lia, Ibunya Kannya.


"Kalau kalian begini terus, kapan punya anaknya?" sambung Mama Mira.


"Pokoknya Mama enggak mau tau, mulai malam ini kalian tidur sekamar!" Mama Mira memberi perintah.


Bilmar dan Kannya hanya mengiyakan saja. Mereka berdua tertawa dalam hati.


Memangnya jika mereka tidur sekamar, hal apa yang akan terjadi? Bisa membuat Bilmar mau menyentuh istrinya kah


Dan apakah Kannya mau memberikan keperawanannya kepada Bilmar?


Ada-ada saja memang wanita paruh bayah itu, ck!


Bilmar dan Kannya sudah malas berdebat. Lebih baik diam dan semua menjadi aman. Toh mereka yang tau apa yang akan mereka lakukan jika sudah berdua didalam kamar. Sudah dipastikan mereka akan sibuk dengan dunia masing-masing.


"Mama dan Tante Lia mau menginap di sini malam ini."


Kening Bilmar dan Kannya mengkerut bersamaan. Namun mereka tidak bisa membantah, sungguh akan berdosa jika mengusir atau tidak memperbolehkan orang tua yang ingin bermalam dirumah.


Bilmar dan Kannya hanya mengangguk dan memilih pergi ke kamar tanpa kata.


"Enggak ada jalan lain, Mba. Kasih mereka obat perangsangg aja." ucap Mama Mira.


"Apa enggak bahaya, Mba?" tanya Mama Lia, wanita itu sedikit masih punya hati nurani.


"Ya enggaklah, hanya biar gairah mereka bangkit aja. Harus dipancing dulu kayaknya, abis itu kan mereka akan jadi dekat." jawab Mama Mira.


Mama Lia hanya mengiyakan. "Saya serahin aja sama kamu, Mba."


"Sip deh, pokoknya Mba tinggal terima jadi aja. Anak kita pasti akan saling menyukai."


******


"Sana lo tidur di sofa!" sentak Kannya.


"Lo yang tidur di sofa, Nyet. Lo gak lihat, ini tuh kamar siapa?" Bilmar kembali menyentak.

__ADS_1


"Ah kesal! Hidup gue jadi berantakan! Jijay banget gue nikah sama brondong lempeng kayak lo!" Kannya tidak habis-habisnya memaki Bilmar.


Bilmar hanya mencebik lalu memilih untuk berbaring di atas sofa dan memakai headset ditelinganya. Sudah pengang kupingnya. Baik Kannya dan Mama Mira selalu saja ingin mengajaknya ribut.


Baru saja Bilmar ingin memejam kedua matanya. Namun ia kembali mengerjap cepat. Menangkap bantal yang baru saja dilempar oleh Kannya.


"Bangun, lo!" seru Kannya.


"Apaan sih lo?" kelakar Bilmar ia pun mengubah posisinya menjadi duduk berselonjor di atas sofa.


"Ini siapa?" Kannya memegang sebuah foto, dan mengibas-ngibaskan ditangannya kepada Bilmar. Dimana ada gambar Bilmar dengan Alika yang sedang saling merangkul. Foto yang berhasil di bidik oleh Nino beberapa tahun lalu di bandara, ketika Alika dan Bilmar akan berpisah.


"Cantik juga nih cewek, pacar lo---?" belum sempat ia menyelesaikan pertanyaannya. Foto itu sudah terlebih dulu direbut oleh Bilmar.


"IYA!" jawab Bilmar sewot lalu mengambil foto itu secara paksa.


Kannya tertawa. "Bucin juga lo, segala foto di taro di bawah bantal segala!"


Bilmar menghela napas panjang, raut sedihnya kembali muncul. Ia mengusap-usap wajah Alika di foto.


"Gue cinta banget sama dia. Gue selalu berharap dia dateng ke mimpi gue."


"Emang orangnya udah wafat?"


"Sembarangan lo! Walau dia udah menghianati gue, tapi gue tetap gak bisa lupain dia! Gue masih berharap dia jadi istri gue, Nya." jawab Bilmar sendu. Kannya yang mendengarnya ikut gegana.


"Beneran lo dikhianati? Emang udah lo selidikin? Kenapa juga gak lo cari?"


"Ck! Emak elo tuh kaya nenek sihir, Bil. Duh sorry nih ya kalau gue jadi nyinggung perasaan lo. Emang lo gak curiga, bisa aja kan ini semua akal-akalan Mama lo?"


Bilmar menggeleng cepat. "Nyokap gue gak akan sampai hati kayak gitu, Nya. Jaga omongan lo!" decak Bilmar tidak suka.


"Oh oke deh, maapin gue jadi ikut campur." jawab Kannya santai.


"Gue akan cari dia, kalau kita udah bercerai." jawab Bilmar tegas.


"Makanya lo fikirin caranya, Bil. Gue udah enek banget sama sikap emak lo! Berisik, banyak ngomong, minta cucu terus. Lo fikir anak itu kayak anak kucing, gampang bikinnya!"


"Ogah gue, Nya. Ngehamilin lo! Gue hanya mau punya anak dari Alika!" sahut Bilmar.


"Ya sama, Bil. Gue juga maunya ngandung anak dari Sebastian, bukan dari, lo!" sungut Kannya.


"Ayo kita bercerai, Nya." ajak Bilmar.


"Ayoo----"


Percakapan mereka begitu saja terhenti ketika Mama Mira mengetuk pintu kamar dan bersuara memanggil nama mereka dari luar.


"Ngapain lagi sih, Mama lo?" decak Kannya malas. "Udah sana, lo aja deh yang buka pintu, gue males!" decak Kannya. Wanita itu merangkak kembali ke pusaran ranjang.

__ADS_1


Bilmar mendengus tidak suka karena Kannya begitu membenci Mamanya. Itu karena ia belum tau apa saja yang sudah Mama Mira perbuat. Mungkin Bilmar juga akan lebih membenci Mamanya jika sudah tahu, apa yang sudah dilakukan wanita itu untuk memisahkan dirinya dengan Alika.


Krek


Pintu kamar dibuka oleh Bilmar.


"Kenapa Mah?" tanya Bilmar.


"Mama buatin kalian jus alpukat. Ayo abisin."


"Masa mau tidur minum jus, Mah." ucap Bilmar.


"Hargain Mama dong udah capek-capek bikin, Bil!" decak Mama Mira.


Bilmar hanya mengangguk dan meraih dua gelas besar berisi jus alpukat. "Ya udah makasih ya, Mah." Bilmar pun kembali masuk ke dalam kamar, sambil membawa dua buah gelas jus alpukat.


Terlihat Mama Mira mengulas senyum penuh muslihat.


"Nya, bangun! Nih minum." titah Bilmar.


Ia tahu Kannya hanya sedang pura-pura memejamkan mata, ia takut Mama Mertua masuk kedalam dan mengajak mereka untuk mengobrol.


Kannya menyingkirkan bantal guling dari wajahnya. Ia bersorak senang ketika melihat ada dua jus alpukat dimeja. Wanita itu pun bangkit dan menghampiri Bilmar di sofa.


Tak menunggu lama, mereka berdua berhasil menenggak habis jus alpukat yang sudah diracik obat oleh Mama Mira, sambil menatap layar televisi.


Tiba-tiba jantung mereka berdegup cepat. Tubuh terasa panas. Merasakan adanya gelenyar aneh yang merambat di tubuh mereka. Bulu-bulu halus di tengkuk leher begitu saja meremang.


Dan parahnya lagi ada yang berdenyut tidak karuan di inti mereka. Bilmar dan Kannya bergeliat seperti cacing kepanasan. Lebih utama Kannya yang melepas piyamanya terlebih dulu, wanita itu tidak tahan untuk membuka seluruh pakaiannya Karena tubuhnya merasa panas.


"Duh kenapa nih sama badan gue? Kok gak jelas gini ya?" tanya Kannya kepada dirinya sendiri.


Begitu pun dengan Bilmar, lelaki yang masih perjaka itu. Tentu masih belum faham bagaimana mengendalikan hasratnya. Ia melenguh ketika intinya menegang dan mengeras.


"Kok bisa begini sih?" tanya Bilmar sambil memegang inti miliknya.


Ia semakin tertantang ketika melihat kemolekan tubuh Kannya. Begitupun dengan Kannya, tanpa memakan waktu lama. Kannya menarik Bilmar ke pusaran ranjang. Meraba, memeluk dan mencium Bilmar. Tentu selama berpacaran dengan Sebastian, Kannya sudah khatam untuk berciumaan walau ia masih bisa menjaga kehormatannya.


Tentu adegan seperti itu baru pertama kali dirasakan oleh Bilmar. Lelaki itu mulai menikmati ketika bibirnya dilumatt habis oleh Kannya. Desahan dan rintihan yang keluar dari Kannya, begitu membuat hasrat Bilmar semakin menjadi-jadi. Ia menyambut nya, memagut mesra bibir Kannya.


"Alika ... eum." ternyata nama itu yang tetap lolos dari bibir Bilmar. Begitupun dengan Kannya, ia terus menyerukan nama kekasihnya.


Hati mereka sebenarnya menolak tetapi tidak dengan tubuh mereka. Gelora hasrat semakin membara, membuat tubuh mereka seketika memanas. Dan akhirnya Kannya dan Bilmar melepas keperjakaan dan keperawanan mereka dalam balutan napsu tanpa cinta. Sungguh hal yang tidak terduga, bagi Bilmar dan Kannya.


***


Ya gitu deh cikal bakal gimana bisa ada Maura.


Ini adalah episode ke lima di hari ini. Gimana baik kan aku? Bayar aku dengan Like dan Komen dari kalian ya.

__ADS_1


Alika tetap menunggu



__ADS_2