MantanKu PresdirKu SuamiKu 3

MantanKu PresdirKu SuamiKu 3
Musim 1 : Aku Melepaskanmu


__ADS_3

Dengan langkah panjang Bilmar mengejar Alika yang akan kembali melangkah menuju kelas tanpa suara dan kata. Baru saja ingin meraih lengan Alika, namun langkah wanita itu sudah masuk ke ambang pintu kelas. Disusul sudah ada Ibu Ratih di mejanya. Mau tidak mau, Bilmar dan Dion kembali duduk di meja mereka. Alika pun melakukan hal yang sama.


Raut wajah Alika terlihat memerah dengan pergerakan dada yang naik dan turun. Baru saja ia terbang ke awang-awang karena merasa Bilmar sudah kembali baik, kini ia seperti ditenggelamkan ke dalam jurang yang paling dalam.


Bilmar terus menatap Alika dengan wajah yang susah untuk digambarkan, yang ia tahu dirinya akan habis hari ini. Alasan apa yang harus ia berikan kepada gadis itu, untuk membela diri? Kepada gadis yang sudah setulus hati memberikan kasih sayangnya. Kini sudah ia hancurkan menjadi kepingan-kepingan yang tidak berarti.


Bilmar semakin terenyuh ketika melihat Alika seperti menyeka air matanya berulang kali dan terus memegangi bagian dadanya. Terlihat Bela terus bertanya ada apakah dengan Alika. Namun Alika hanya tersenyum tipis tidak mau menjawab.


"Kasian Alika, Bil." desah Dion, ia menoleh menatap Bilmar yang sedang menatap Alika. Terlihat pula bola mata Bilmar memerah, entah mengapa dadanya pun terasa perih.


"Lo udah ngehancurin dia, Bil!" tambah Dion.


Bilmar membuang tatapannya ke sembarang arah, menjauhi matanya dari sorotan mata Dion. Seperti ada gelenyar aneh yang menerpa kalbunya, ia takut Alika akan memutuskan hubungan dengannya.


"Lo cinta kan sama Alika?" tanya Dion lagi.


Bilmar terus memalingkan wajahnya, menyembunyikan genangan air bening yang sudah berkumpul di kelopak matanya, namun urung untuk turun.


Dion beringsut untuk berbisik tepat di telinga Bilmar.


"Berdoa aja, semoga Alika enggak mutusin, lo, Bil." ucap Dion disertai tepukan lembut di bahu Bilmar. Dion kembali menegakkan tubuhnya dan mulai mencatat pelajaran dari papan tulis.


Mendengar ucapan Dion, membuat jantung Bilmar terus saja memburu tidak mau berhenti sedari tadi. Hembusan napas terus saja keluar dari mulutnya, tatapannya ia kembalikan untuk menyorot punggung Alika.


Terlihat wanita itu menulis sambil merebahkan kepala di meja dengan tangan memegangi perut bawah. Sakit yang ia rasakan sungguhlah dobel, sudah sakit karena menstruasi ditambah sakit hati yang terus saja membuat dada nya bergemuruh.


"Jahat kamu, Bil! Aku kecewa." Alika terus menahan air mata agar tidak benar-benar tumpah.


"Lo kenapa sih, Al?" tanya Bela, dan Alika hanya kembali menggeleng. Hati Bilmar semakin mendidih ketika melihat Bela mengusap punggung Alika seraya memberi kekuatan, yang Bela sendiri pun tidak tahu apa masalah yang sedang Alika rasakan, ia pun mengusap air mata Alika dengan sehelai tissu miliknya.


"Al.." desahnya parau. Ingin sekali bertukar tempat dengan Bela, tapi sepertinya tidak mungkin. Bela akan bertanya-tanya mengenai alasan dan semua anak dikelas akan kembali membicarakan mereka.


"Aku minta maaf, Al. Aku benar-benar nggak dari hati ngucapin semua itu." rintih Bilmar.


Namun sayang telepati diantara kalian belum kuat, Bil!


Bilmar terus memaki dan mengumpat, mengapa jam istirahat lama sekali datang, padahal jam pelajaran awal saja baru dimulai 15 menit yang lalu, harus menunggu sekitar tiga jam lagi untuk istirahat pertama. Ia resah, gelisah dan ingin cepat merengkuh Alika.

__ADS_1


"Kenapa sih sama gue? Kenapa gue jadi nyesel begini?" dalam hatinya.


****


Alika terlihat berjalan kembali dari meja Ibu Ratih menuju kursinya, ia berjalan lurus tanpa menatap ke arah Bilmar yang masih setia menatap dirinya, sesaat baru saja bel istirahat berbunyi.


Lelaki itu masih terduduk dikursinya, menunggu kelas sepi seperti biasa, dan Dion pun tetap tidak beranjak. Ia masih ingin tahu apa yang akan Bilmar lalukan kepada si ketua kelas.


Alika memasukan semua buku-buku pelajaran nya kembali ke dalam tas. Barusan ia meminta ijin untuk pulang cepat, karena perutnya masih terasa tidak enak dan tentu dengan hatinya yang masih syok.


"Bil, Alika kayaknya mau pulang deh." ucap Dion.


Bilmar mengangguk dan mulai beranjak menghampirinya. Karena Bela sudah keluar duluan dengan Selvi, maka kursi wanita itu kosong dan Bilmar mendudukinya.


Alika terlihat kaget melihat Bilmar yang tiba-tiba sudah berada disebelahnya.


"Udah istirahat, ayo kita makan dulu, Al." ucap Bilmar. Alika hanya diam, sebisa mungkin ia tidak mau menatap wajah Bilmar, ia malu dengan matanya yang sembab.


"Al.." Bilmar menghalau satu buku yang akan Alika masukan kedalam tas.


"Aku mau pulang cepat, Bil." jawab Alika dengan suara parau disertai ingus yang ditarik masuk ke pangkal hidung.


"Nggak usah, Bil. Aku bisa pakai angkot!" Alika tetap menolak dan mulai memakai tas dibelakang pungungnya.


"Tunggu, tunggu, Al! Aku ambil jaket sama kunci motor dulu ya." dengan langkah cepat Bilmar kembali menuju mejanya.


Dion hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak menyangka kalau Bilmar sudah menjilat ludahnya sendiri.


"Gue pergi dulu ya, Yon." ucap Bilmar


"Iya, hati-hati. Minta maaf lo sama Alika."


Bilmar mengangguk dan kembali melesat untuk menyusul Alika yang sudah melangkah meninggalkan kelas.


Bilmar menggandeng tangan Alika, namun wanita itu hanya diam. Ia tidak menolak. Walau hatinya sakit dan pedih. Sebisa mungkin ia tidak ingin ribut di dalam sekolah dengan Bilmar.


Sesampainya di parkiran. Bilmar memakaikan jaket miliknya di tubuh Alika, dan ia hanya menurut tanpa mengeluarkan komentar apapun. Hati Bilmar semakin cemas dan tidak karuan, ia bingung dengan Alika.

__ADS_1


"Sebenarnya tadi dia dengar nggak sih ucapan gue sama Dion? Kenapa diam aja nggak marah? Tapi buktinya dia nangis, berarti dia dengar kan, duh!" batin Bilmar menyeruak. Ia benar-benar susah menebak Alika. Ia terus menerka-nerka apa yang akan terjadi setelah ini, salah satunya ucapan Dion tadi pagi yang membuat jiwanya getir.


Selama dijalan, biasanya Alika akan memeluk Bilmar, namun saat ini tidak lagi, ia hanya diam. Dan meletakan kedua tangannya di atas rok. Jantung Bilmar semakin tidak karuan, ia harus menyelesaikan masalah ini segera mungkin dengan pacar yang baru saja ia anggap keberadaannya.


Air mata Alika terus saja menggenang, menatap punggung lelaki yang selama sebulan ini selalu ia peluk ketika sedang berada diatas motor. Kedua bahunya kembali membuncang dengan isak tangis yang ia tahan agar tidak terdengar.


Setelah menembus satu jam perjalanan dalam membelah jalanan. Akhirnya mereka pun sampai.


Cit.


Deru mesin motor Bilmar sudah di matikan. Mereka sudah sampai didepan gang perkampungan rumah Alika. Gadis itu pun turun dari atas motor. Ia terdiam lama dengan wajah yang masih menunduk. Bilmar melepas helm dan meletakannya di badan motor.


"Al?" panggil Bilmar lalu mengelus lengan gadis itu. Alika pun melepaskan jaket dari tubuhnya dan mengeluarkan ponsel dari dalam saku bajunya.


Bilmar menautkan kedua alisnya karena merasa heran.


Kemudian.


Alika berikan dua barang itu kepada Bilmar, dengan segala keterpaksaan ia beranikan diri untuk menatap Bilmar dengan jelas.


"Kamu nangis, Al? Soal ucapan aku yang tadi, maaf, Al. Aku---"


Alika menggelengkan kepalanya seraya tidak ingin mendengar penjelasan apapun lagi. Ia tetap menyodorkan dua barang itu. Bilmar pun menghentikan ucapannya.


"Ambil, Bil. Ini semua punya kamu."


"Loh kok, tapi kan hapenya?" tanya Bilmar.


Karena Bilmar tidak urung mengambilnya, Alika pun berinsiatif untuk meletakannya di kursi belakang, tempat yang baru saja ia duduki tadi.


"Benar kata kamu, kita memang tidak sepadan. Nggak sepantasnya ban motor kamu yang mahal ini bersentuhan dengan jalanan becek penuh tanah liat di perkampungan rumah ku."


"Mulai hari ini, aku melepaskan mu, Bil! Kita putus."


*****


Nah baru deh Bilmar tahu rasa ditinggalkan itu seperti apa💔💔

__ADS_1


Nah kan tiga episode gengss, kalau komennya tembus 100, aku janji akan UP lagi malam ini❤️🤭


Like nya jangan lupa yaa.


__ADS_2