
"Sana!" Alika berteriak, ketika kakinya ingin dipijat oleh Bilmar. Wanita itu seharian ini merajuk tiada henti. Ia kesal, karena Bilmar tidak mau menyesali perbuatannya. Alika faham, Bilmar murka dengan Zain. Tapi tindakannya yang brutal seperti hewan itu, tentu tidak diperkenankan.
"Masih ngambek aja, udah seharian loh, Mah." ucap Bilmar kembali ingin menyentuh kaki istrinya. Alika berbaring memunggunginya tepat dipinggir ranjang. Dan Bilmar duduk menyila di ujung kaki wanita itu. Biasanya kalau Alika sedang merajuk, lelaki itu akan mengambil perhatian untuk memijat tubuhnya.
"Zain itu keterlaluan! Coba kamu fikir kalau sampai dia perkaos kamu?" Bilmar menjeda ucapannya dan menggeleng. "Enggak-enggak! Najis, geleh banget gue bayanginnya! Emang sialan tuh si Babbi!!" Bilmar kembali emosi. Mendengar gumaman itu sontak membuat Alika menolehkan wajahnya dan melotot tajam.
"Seram, Mah." Bilmar meringis. Ia memilih untuk tetap memijat kaki istrinya, walau Alika terus bergeliat agar kakinya tidak disentuh oleh tangan lelaki itu.
"Gitu amat kayaknya. Perasaan kemarin, nyosor sendiri. Kayak ular piton."
"Ih!" Alika beranjak bangkit dan menghentak lengan suaminya dengan bantal.
"Kamu mirip-miripin aku sama hewan??" kelakar Alika.
"Bukan wajahnya ... Tapi kelakuan kamu kemarin. Wuh, apalagi pas di mobil. Keren banget." seru Bilmar mencontohkan gerakan Alika. Ia bergoyang seperti artis trio maung.
Lelaki itu pun beringsut untuk memeluk istrinya. "Lagi yuk, Papa siap nih jadi pager, Mama yang muter-muter!" ucapnya terbahak-bahak.
Alika kembali mendelik, dan mengigit lengan suaminya. "Apaan sih kamu!" sungutnya.
"Jangan di sini dong gigit nya." Bilmar meringis, sambil mengusap lengannya. "Tapi di situ, di Jagur." Bilmar kembali tertawa.
Alika semakin kesal, wajahnya memerah. Menahan malu dan ingin tertawa, tapi hatinya masih kesal dan malas untuk bercanda. Sesungguhnya ia tidak faham, apa maksud bercandaan suaminya sekarang.
"Sana ah! Aku kesal sama kamu!" Alika sedikit mendorong dada suaminya untuk menjauh.
"Papa itu menyingkirkan mereka semua untuk menjaga, Mama."
"Tapi kenapa semua, Pah? Yang bermasalah kan hanya Zain!" seru Alika. Ia kembali memunggungi suaminya dengan tangan terlipat di dada. Ia malas menatap wajah suaminya yang tengil itu.
Bilmar menghela napas panjang. Ia beranjak mendekati nakas dan meraih ponselnya. Mengusap layar ponsel dengan buku-buku jarinya untuk mencari sesuatu yang akan ia perlihatkan kepada istrinya.
"Ayo sini, Papa jelasin." Bilmar mengelus bahu Alika.
"Enggak mau!" Alika masih dongkol.
"Ayo cepat!" mendengar nada suara suaminya sudah berubah. Alika pun menurut. Dan akhirnya ia menoleh dengan raut wajah yang masih kecut.
__ADS_1
"Nih lihat. Pesan-pesan mereka kepada Mama."
Alika meraih ponsel Bilmar dan menatap berbagai pesan yang dikirim oleh tiga lelaki biadab itu. Bilmar sengaja meng-secreen shoot kan pesan tersebut untuk disimpan didalam galeri ponselnya, karena ia tahu hari seperti ini akan datang.
[Selamat malam, Bu. Saya besok ada urusan ke Jakarta, apakah saya boleh mampir ke tempat ibu, mungkin kita bisa makan siang bareng?] Daniel
[Saya masih ingin berbincang, apakah besok kita bisa bertemu, bagaimana kalau makan siang berdua di Kafe?] Rahardian
[Maaf, Bu. Saya masih belum mengerti dengan proposalnya, apakah besok bisa bertemu, saya akan bawakan makanan kesukaan ibu.] Wira.
Alika sampai membekap mulut dan matanya melongo hebat. Ketika membaca pesan-pesan itu dari Rahardian, Wira dan Daniel.
"Astagfirullahaladzim ... Mereka benar-benar buaya darat." lirih Alika tidak percaya.
Bilmar tertawa puas.
"Sudah jelaskan? Kenapa Papa seperti itu kepada mereka? Dan asal kamu tau, Mah. Daniel itu sudah membohongi kalian semua."
Alika mengalihkan tatapan matanya dari layar ponsel menuju bola mata Bilmar. "Maksud Papa bagaimana?"
"Ia menggelapkan dana pembangunan. Lelaki itu korupsi, Mah. Dia tidak jujur."
"Terus gimana sekarang, Pah?" lirih wanita itu. Kasihan sekali dia, sudah jadi calon korban perkosaan, kejahatan lelaki dan dirugikan dari segi uang.
"Serahkan saja sama Papa. Semuanya sudah Papa atur. Masalah pembangunan kampus di Bandung. Biar Papa yang biayai. Tidak perlu lagi kamu mencari investor lain. Cukup kerjasama saja dengan Papa."
Alika mengangguk. Samar-samar sudut garis senyumnya terangkat sempurna. Ia mengusap lembut pipi suaminya dengan tatapan kembali penuh cinta.
"Maafin Mama ya, Pah. Papa terlalu termakan emosi. Habis Papa tuh kenapa gak jujur aja soal mereka bertiga, biar Mama enggak menerka-nerka hal buruk kepada Papa."
"Sama dengan Mama, kan? Tidak mau jujur dengan masalah Zain ... Si kambing bandott itu!" Bilmar selalu kesal ketika menyebut nama lelaki bejad itu.
Alika menghela napasnya kembali. "Mama hanya takut Papa murka, dan ternyata yang Mama takutkan memang benar-benar terjadi. Jangan gitu lagi, Pah. Kamu enggak kasian sama aku dan anak-anak?" tatapan mata Alika begitu sendu. Rasa takut kalau Bilmar benar-benar akan di jebloskan ke penjara, sangat menyakiti batin dan piskis nya hari ini.
"Baiklah, Papa minta maaf. Papa mengaku salah dan khilaf. Walau semata-mata, Papa melakukan semua ini, hanya karena ingin melindungi, Mama"
Alika mengangguk senang. "Janji ya jangan diulangi lagi?"
__ADS_1
"Kamu nya juga janji untuk terus jaga diri. Dan mulai saat ini, Papa enggak mau kamu punya rekan bisnis lelaki! Terlalu riskan!"
Alika mengangguk lagi. Tentu apa yang dikatakan suaminya memang betul. Ia sudah trauma dengan sikap Zain dan ketiga lelaki buaya sungai itu. Rasanya menurut dengan perkataan suami, akan selalu membawa keberkahan dan keselamatan.
"Iya, Pah. Mama berjanji." Alika mencium pipi Bilmar secara bergantian. Membelai rambut lelaki itu dengan kelembutan dan kehangatan.
Bilmar memiringkan kepalanya dan terus mendekati wajah istrinya, sampai dimana ia berhasil memagut bibir Alika. Mereka berdua berciuman sampai decakan saliva begitu kentara. Lidah Bilmar terus saja menginvasi didalam rongga mulut istrinya. Sampai Alika menyudahinya sepihak, karena lapisan oksigen di antara merek mulai terasa tipis.
"Udah ah, Pah. Nanti aja malem ya diterusin."
"Tanggung, Mah. Bentar aja yuk, kita ulangin kehebohan kita kayak kemarin siang."
"Kehebohan apa sih, Mama enggak ingat, Pah."
Bilmar mendesis. Ia benci sekali dengan kelakuan Zain kemarin. Dasar sialann!
"Asal kamu tau, Mah. Kamu sengaja diberi obat perangsang sama si kumis lele itu! Makanya kamu langsung berubah jadi orang yang lagi kayak kesetrum ... Malah, sampai geter-geterin si Jagur pakai mulut kamu."
"AH ... MASA??" Alika berseru histeris. Matanya terbelalak, sungguh ia tidak percaya.
"Bohong ah! Itu mah cuman khayal-khayal kamu aja!" decak Alika.
"Demi Allah beneran! Kalau aja aku ingat, pasti udah aku videoin. Paling enggak butuh tiga puluh menit, nyesel juga sih kenapa enggak kepikir ya." Bilmar terkekeh.
Alika semakin dibuat jijik dan kesal. "Mulut kamu nih kalau ngomong, seenak jidad aja!!"
"Papa agak nyesel sih, kenapa sebelum nembak si kumis lele, Papa enggak tanya dulu. Obat apa yang dia berikan kepada Mama, terus----"
Alika menyerengitkan dahi dan menyelak ucapan suaminya. "Untuk apa?"
"Papa mau beli buat Mama, biar Mama bisa berubah jadi ular piton lagi." ucap Bilmar tertawa. Namun gelak tawa itu tidak berlangsung lama, ia buru-buru beranjak bangkit dari ranjang. Ketika melihat Alika ingin melemparkan bantal ke arahnya.
"Awas kamu, Pah!!!" Alika berseru kencang dan mengejarnya sampai keluar kamar. Lelaki jahil itu terus berlari terbirit-birit untuk menjauh dari serangan cubitan panas istrinya.
****
Kelakuan si Bila enggak ada bedanya sama si Zain๐๐
__ADS_1