
Hari ini memang sangat melelahkan untuk Bilmar. Tak habis fikir dirinya, Dion akan membuat ia malu setengah mati didepan banyak orang.
"Kampret, lo!" decak Bilmar di sambungan video call dengan kedua temannya. Wajah Dion di sana terkekeh geli. Ia masih saja membencandai Nino dan Bilmar.
"Hapus fotonya, awas lu sebarin, nanti viral, Yanto!" sungut Nino.
Dion terus saja menampilkan foto mereka berdua dengan kostum wiro sableng.
"Hana sama Alika, pasti suka sama foto ini." seru Dion di seberang sana.
Mereka bertiga tengah berseru bersama sambil berbaring diranjang, di rumah masing-masing.
Krek
Pintu kamar mandi di buka. Sang istri tercinta baru keluar dari sana sambil menguncir rambut.
Bilmar langsung mematikan sambungan video call itu tanpa kata pamit kepada Dion dan Nino.
"Teleponan sama siapa?" tanya Alika. Ia terus melangkah menuju meja kerjanya. Duduk kembali menatap layar laptop.
"Biasa Mah, sama anak-anak kampret, eh--" Bilmar melipat bibirnya ketika Alika menoleh dengan tajam.
"Sebutannya kok gitu sih, Pah. Nggak baik." decak istrinya. Ia kembali menggerakkan mouse dengan tangannya.
Bilmar yang sedari tadi berbaring diranjang lalu beranjak bangkit untuk menghampiri Alika. Menarik kursi untuk duduk disebelahnya.
"Mama enggak capek, kerja terus? Dari pagi sampai sore terus lanjut sampai malam?" ucap Bilmar. Ia memeluk tubuh istrinya dari samping lalu membenamkan dagunya diatas bahu Alika. Sama-sama menatap layar laptop.
Alika menghela napas lalu mengusap pipi suaminya. "Iya sayang, ada sedikit masalah. Jadi Mama harus cek kerjaan Kiki."
"Masalahnya dimana? Ayo sini Papa bantuin."
Alika menggeleng. "Enggak usah, Mama bisa kok. Papa tidur aja sana."
"Enggak mau ... Maunya tidur sama Mama." Bilmar manja, masih saja tidak mau lepas dari ketiak istrinya.
"Ya udah tunggu bentar lagi ya, Mama tanggung nih." ucap Alika, dengan sedikit gerakan leher menyembulkan suara rikukan.
"Mama pegal ya? Sini Papa pijat."
"Jangan, Pah. Geli." dengan cepat Bilmar memegang tangan suaminya yang akan menyentuh tengkuknya.
Bukan karena geli, tapi ia tahu, apa yang akan terjadi jika tangan suaminya sudah bersarang di bagian itu. Mereka pasti akan berakhir di ranjang dengan cepat.
Bibir Bilmar mengerucut. Ia kecewa karena tidak jadi memijat. "Udah sini, peluk lagi." Alika menghentak pangkal pundaknya dan Bilmar kembali menempatkan dagunya di sana.
Kriuk kriuk.
Bilmar terkekeh dan Alika pun sama. "Mama laper ya?"
__ADS_1
Alika malu-malu mengangguk. "Mau makan, sayang?" tanya Bilmar.
Alika mendongak menatap jam bundar berwarna putih di dinding. "Udah jam sepuluh, Pah. Nanti Mama gendut."
Bilmar tertawa. "Gelambir kali, Mah. Bukan gendut." ledeknya.
Alika mendelik dengan ketidakpercayaan. Menelan air ludahnya lamat-lamat. "Yang bener, Pah?" tanyanya pelan. Ia langsung tidak percaya diri, karena selama ini Bilmar selalu berkata kalau dirinya sempurna.
Alika langsung beku ditempatnya. Layar laptop tak lagi menjadi minatnya. Ia tergugu dengan tangan mengepal di atas meja.
"Ya Allah, Mama. Papa tuh bercanda, kok diambil hati?" gelak tawa Bilmar muncul. Alika hanya tertawa tipis dengan dada yang berdebar-debar. "Apa aku sudah tua ya?" gumamnya.
"Suaminya ketahuan selingkuh, Bu. Katanya selingkuhan suaminya, Ibu Nurul udah enggak cantik lagi, badannya tuh udah goyor."
Ia teringat bagaimana Kiki menceritakan salah satu dosen dikampus, Ibu Nurul memang sudah dua hari ini meminta izin tidak mengajar karena sedang mengurus perceraian dengan suaminya.
Alika menatap leluk tubuhnya. Tubuh yang menurut kaum hawa di pantaran umur tiga puluh tujuh tahun sangat lah sempurna. Masih kencang dan kuat. Pinggangnya saja masih indah seperti biola. Tapi rasa percaya diri itu terhempas karena ucapan suaminya yang tidak sengaja meledek.
****
"Papa tiga hari di sana?" tanya Alika memiringkan duduknya agar jelas menatap suaminya yang masih membaca koran. Mereka sudah menyelesaikan sarapan lima menit yang lalu.
Sebenarnya Alika sudah tahu rencana keberangkatan Bilmar ke Semarang, dan seperti biasa ia akan mengizinkan, karena kepergian suami itu hanya tentang perkara bisnis.
Tapi semalam wanita itu resah sekali. Apakah ledekan perut bergelambir itu adalah bukti keluhan Bilmar yang selama ini tak mampu terucap didepan bibir? Membuat fikiran Alika bercabang-cabang kemana-mana. Ia jadi takut dan gegana.
"Iya sayang." jawab Bilmar tanpa mengalihkan tatapannya dari koran tersebut.
"Ada ceweknya, Kok." jawab Bilmar santai. Ia selalu berkata jujur. "Ibu Natasha." tukasnya lagi. Karena memang mereka beberapa kali pernah bertemu, tentu dengan beberapa rekan kerja yang lain.
"Cantik, Pah? Masih muda? Tubuhnya bagus?" Alika memberikan pertanyaan yang berentetan.
"Kayak nya nih Alika lagi mau mancing-mancing perkara deh." gumamnya
"Sepantaran kayak Mama aja." Bilmar hanya menjawab dari sisi umur.
Walau sejujurnya Natasha adalah gadis yang masih muda, dan sudah bertunangan. Bilmar hanya berdalih, ia terpaksa berucap kalau Natasha sepantaran dengan Alika, karena tidak mau istrinya berfikiran macam-macam.
"Terus cantik nggak?"
Kening Bilmar kembali menyerngit. Tak lagi menatap koran, bola mata itu ia seret untuk menyelidik wajah istrinya.
"Ngapain interogasi begitu?"
Glug.
Saliva begitu saja menggunung dan susah untuk ditelan. Ia tidak mau suaminya menerka-nerka tidak baik padanya. Selama menikah, Alika bisa menyimpan rasa cemburunya baik-baik, ia pernah menarik urat karena cemburu hanya karena Kaneysa beberapa tahun yang lalu, karena wanita itu memang sudah lancang untuk menembus dinding pertahanannya untuk merebut Bilmar.
Alika menyeringai malu. Ia mengigit bibir bawahnya dengan ringisan kecil. "Ya jawab aja, kan pengin tau." bibir itu mengerucut setelahnya.
__ADS_1
"Cantikan Mama." jawab Bilmar, ia kembali menatap korannya, sesekali menoleh ke arah arlojinya. Lalu berdecak, karena tidak sabar menunggu kedatangan sopir kantor untuk membawanya pergi ke Bandara.
Alika menyunggingkan senyum. Wajahnya berbinar dengan cetakan merah di sekitar tulang pipinya. Merona bagai bunga mawar ditaman.
Tak puas di puji dengan kata cantik, Alika kembali bertanya. "Kalau tubuhnya, gimana?"
Bilmar mengerutkan kening lagi, jika tadi ia langsung menoleh, untuk saat ini ia hanya diam dan semakin menerka.
"Tumben Alika kepo." tukasnya dalam hati.
"Pah ..." Alika menghentak bahu suaminya. "Bagusan mana tubuhnya sama Mama." Alika mengulangi ucapannya. Tidak biasanya Alika merasa takut akan tersaingi.
"Ya bagusan tubuh Mama dong."
"Jadi Papa selama ini sering lihatin tubuh dia? Terus di banding-bandingin sama Mama."
Loh?
Bilmar tercengang, bola matanya menohok dengan iringan alis yang menaut. "Kan tadi Mama yang tanya, ya Papa jawab. Bagusan tubuh kamu, cantikan kamu, Mah."
"Berapa kali kamu ketemu dia, Pah?"
"Tiga kali." jawab Bilmar singkat. Lelaki itu terlihat sudah malas. Ia tidak mau membicarakan hal yang tidak penting, dan berujung pada pertengkaran.
"Tiga kali bertemu dan selalu menatapnya? Memperhatikan tubuhnya dan---"
"Assalammualaikum."
Suara sopir kantor terdengar di ambang pintu, Pak Darmais memberikan salam. Bilmar menghela napas, karena pagi ini tidak jadi beradu mulut atau bersusah payah untuk menenangkan Alika yang pasti akan merajuk dengan terkaannya sendiri. Ia senang sopir kantor yang baru saja ingin ia marahi karena telat datang, menolongnya tepat waktu dari jebakan Alika.
"Waalaikumsallam, tunggu di mobil saja, Pak." titah Bilmar.
Pak Darmais berlalu lagi ke dalam mobil. Bilmar pun beranjak bangkit dari kursi meja makan. Alika dengan sigap membawakan jas kantor Bilmar yang sedari tadi disampirkan di puncak kursi. Meraih tas kantor untuk sama-sama di jinjingnya. Mereka jalan bersisihan sampai ke ambang pintu.
"Aku berangkat ya sayang, aku tinggal dulu tiga hari. Kalau ada apa-apa, telepon aku. Hati-hati dirumah dan di kampus. Titip anak-anak." ucap Bilmar.
Ia tahu di pandangan wajah istrinya masih memperlihatkan rasa ketidak tenangan, Dan Bilmar menyangka itu hanya karena pertanyaannya saja yang belum terjawab jelas olehnya.
Namun ternyata dibalik itu, Alika merasa tidak enak hati dengan ledekan Bilmar semalam, yang ia anggap sebagai keluhan tapi tidak kasat mata.
"Iya, Pah. Kamu juga, hati-hati ya. Jangan terlalu sibuk, ingat ... Makan tepat waktu ya." jawab Alika, ia menasehati suaminya.
Bilmar mengangguk. Lalu mencium dahi Alika, kelopak mata, hidung, kedua pipi lalu turun ke bibir. Awalnya hanya menyentuh, lama-lama Bilmar melumatt bibir Alika lama. Kemudian melepasnya karena ia tersadar, jika terus seperti ini, ia tidak akan bisa mengolah hasratnya. Karena keberangkatan pesawat tidak bisa ditunda lagi.
"I love you sayang." ucapnya setelah perpagutan bibir itu selesai.
Kemudian melepas kecupan hangat kembali di kening Alika. Menangkup wajah itu dengan kedua tangannya. "Jangan fikir macam-macam. Papa pergi untuk mencari nafkah."
Alika mengangguk, Ia tersenyum manis. "Iya, Pah." Alika meraih punggung tangan kanan Bilmar untuk dikecupnya, dan ditempelkan ke kedua pipinya. "Tiga malam akan rindu belaian dari tangan ini." lirihnya.
__ADS_1
Bilmar hanya bisa tersenyum menatap istrinya yang tengah bermanja.