MantanKu PresdirKu SuamiKu 3

MantanKu PresdirKu SuamiKu 3
Musim 2 : Kau Cinta Gila Ku!


__ADS_3

Bilmar Pov.


Bukan. Bukan seperti ini yang aku inginkan. Aku mengajaknya kesini karena ingin memenangkan hatinya lagi dengan membagi kebahagiaan bersama kedua buah hatiku. Menerjang jalan yang penuh kemacetan menuju kota Bogor untuk memasuki tempat wisata yaitu Taman Safari.


Nyatanya, Alika masih sibuk dengan gawainya. Banyak berbincang-bincang dengan beberapa orang di seberang sana. Aku fikir kami akan seperti keluarga yang saat ini sedang ada di depan mobil kami. Suami, istri dan para anak-anak mereka yang sedang bersama-sama menjulurkan tangan keluar dari jendela mobil untuk memberikan makan kepada hewan-hewan yang kini kami lewati.


Tapi ternyata, itu hanya kebahagiaan milik mereka. Aku merasa bersalah, karena jarak diantara aku dan Alika, membuat kedua anakku terkena imbasnya.


"Ah, takut ..." seru Maura, putriku itu tertawa tapi takut-takut ketika ada rusa yang mulai mendekat.


"Ayo, Kak, kasihin." timpal Adiknya yang sok gagah berani tapi hanya mampu bersembunyi dibalik tubuh Kakaknya.


Anak-anakku itu cekikan ketika ingin memberikan wortel dan sayuran lainnya. Gelak tawa mereka sangat meneduhkan hatiku yang sedang gamang sekarang.


"Ayo, Dek, jangan takut. Kasihin wortelnya." titah ku kepada Ammar.


Kakak beradik itu terus saja berseru senang dan masih takut. Dengan tangan kanan yang masih memegangi stir, aku menolehkan tubuhku sedikit ke belakang, menjulurkan tangan kiri untuk memegang tangan Ammar yang aku arahkan ke luar jendela.


"Papa ..." seru Ammar, ia terkekeh geli sambil memejam matanya, dan akhirnya ia berhasil memberikan makanan ke jerapah dengan tangan yang ku pegangi.


"Loh tapi kan rancangannya sudah seperti itu, kenapa harus dirubah, Pak?" suara Alika, kembali mengubah tatapan ku kepadanya lagi.


Telinga ku rasanya pengang. Aku dongkol setengah mati. Ingin aku tarik gawainya, dan membantingnya atau aku lempar ke kandang macan sekalian. Agar ia berhenti untuk berbicara atau membahas pekerjaan.


Sedikit banyaknya aku tahu, kalau ia sedang membangun kampus cabang ke dua di Bandung. Istriku itu tipe yang tidak banyak mengeluh, kadang ia akan bercerita tentang masalah, dan anehnya ketika masalah itu sudah terlewati dan bisa di selesaikan.


Berbeda denganku yang selalu bercerita tentang perkembangan Eco Group, karena aku tahu. Alika adalah pemegang kekuasan EG dan AC tertinggi dalam hak waris Artanegara. Walau lebih banyaknya, ia tidak terlalu perduli. Yang ia tahu, EG hanyalah milikku saja. Buah kerja kerasa Papa dan aku selama ini.


"Mah ...?" seruku padanya. Aku berikan tatapan ketidak sukaanku tentang sikapnya.


Tapi Alika hanya menoleh menatap wajahku tanpa isyarat apapun. Dan kembali menatap mobil didepan kami, sambil mendengarkan orang yang sedang berbicara padanya di sambungan telepon.


"Sabar dulu, Bil. Maklumin dulu, cewek tu walau salah gak bakal ngaku salah! Jadi lo yang harus ngalah."


Jika tidak mengingat pesan dari sahabatku, Dion, yang sudah pernah mengalami kegagalan rumah tangga. Mungkin saat ini aku akan meradang dan kembali bertengkar dengan Alika.


Dan tak lama kemudian istriku itu merungut. Karena sambungan telepon itu terputus karena pengaruh sinyal yang buruk. Dan aku bersorak kegirangan.


"Alhamdulillah, yes!" gumamku senang.


Alika kembali menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Sepertinya ia kembali tersadar kalau saat ini sedang pergi rekreasi. Ia menoleh ke belakang dan ikut tertawa menatap kedua anak kami yang masih berseru melihat para hewan-hewan yang berkeliaran.

__ADS_1


"Wah, Pah liat deh itu----" tanpa sengaja ia menoleh ke arahku dan menarik tanganku untuk menatap burung. Aku dan dia saling bersitatap.


Angin kerinduan menghembus di wajah kami. Dan sialannya, ia kembali tersadar kalau saat ini keadaan kami masih belum membaik. Lalu melepaskan tanganku dan berhenti berbicara.


Alika kembali menoleh ke luar jendela dengan sikap kikuk dan malu. Aku tau jantungnya tengah berdebar, karena aku pun merasakannya sekarang.


Lebay kah? Oh, tentu tidak. Cinta ku kepadanya selalu terasa baru setiap hari. Aku pandai memupuk, menjaga dan melahirkan sensasi-sensasi gairah untuk terus menjaga cintaku padanya.


Aku beringsut untuk mendekat ke arah punggungnya. Ia mengedik kaget ketika wajah kami akhirnya bersisihan menatap keluar jendela.


"I love you sayang." bisikku dan dengan lancangnya aku kecup pipinya. Aku dengar seteguk saliva Alika begitu saja terdorong ke dasar kerongkongan. Aku tau dia gugup dan aku senang.


Aku kembali duduk dengan tegap di kursi kemudi ku. Menjalankan lagi kereta besi kami yang sejak tadi ku pelankan.


****


Setelah selesai melewati banyak hewan liar yang dilepas begitu saja. Ku parkir kan kendaraan kami di tempat yang sudah di sediakan. Kami mulai berjalan kaki menikmati tempat wisata ini. Langkah kami memang belum bersisihan. Karena ia bergenggam tangan dengan Maura dan melangkah didepan aku dan Ammar.


Tapi terkadang kami dipersatukan dengan canda tawa dari kedua anakku. Alika sesekali tersenyum melirik ke arah ku, karena disepanjang jalan kaki, aku dan Ammar tidak berhenti bercanda. Kadang meledek beberapa monyet-monyet yang sedang bergelayutan.


"Papa jadi ingat sama Om Nino dan Om Dion, nih, Dek." ucapku kepada Ammar dengan suara aku keraskan. Aku membawa arah mata mereka kepada dua monyet berbulu merah yang sedang melahap pisang.


Dan benar saja kan, Alika, Maura dan Ammar begitu saja tertawa terpingkal-pingkal.


"Hahaha ... Papa, berarti Om Nino dan Om Dion ... monyet dong." seru Maura.


Ku lihat wajah Alika memerah. Menahan tawa karena kelucuan ku. Kalau saja tidak sedang merajuk, ia pasti sudah melemparkan cubitan ke lenganku karena sudah tidak sopan meledek kedua sahabatku.


Aku biarkan Maura dan Ammar kesana kemari, untuk melihat berbagai hewan. Walau masih kecil tapi Ammar sudah aku ajarkan tentang fotografi.


Dan dia sudah pandai memakai kamera. Sampai terkadang Kakaknya saja yang masih ileran sehabis bangun tidur saja sudah di foto-foto olehnya.


Alika duduk dibangku pengunjung yang disediakan di sana. Aku pun duduk disebelahnya, cuaca memang agak mendung dan berkali-kali ku lihat Alika mengusap-usap lengannya untuk mengusir hawa dingin. Bogor kan memang selalu seperti ini cuacanya.


Baiklah, demi istri tercinta. Aku lepas jaket yang bertengger di tubuhku dan aku pakaikan ke tubuhnya dari belakang.


"Pah ..." istriku cantikku itu mengedikkan bahunya. Aku tahu ia kaget.


Oh, God. Nada lembut itu kembali aku dengar. Tidak lagi nada datar dan dingin seperti kemarin. Duh, rasanya kayak ada getar-getar gitu, jadi ingat masa-masa SMA ketika kami sedang berkencan berdua. Alika memang selalu menjadi cinta gila ku.


Wajah manis itu menunduk malu. Rambat-rambat aku arahkan telapak tanganku untuk menggenggam jari-jarinya. Dan jiwa ini semakin melayang ketika Alika tidak melepaskannya. Aku tahu dia rindu. Mungkin ini waktu yang tepat untuk aku menjelaskan kembali masalah yang kemarin.

__ADS_1


"Maafkan Papa, Mah." ucapku lugas.


Aku keluarkan aura ketegasan ku sebagai kepala rumah tangga. Aku tidak ingin hanya karena masalah ini, rasa cintanya untukku berangsur menghilang.


Setelah kalimat itu aku keluarkan, ia masih terdiam, membuat dadaku dag dig dug. Tak lama kemudian Alika mendongak dan menatap bola mataku, dan dirinya mengangguk. "Maafkan Mama juga, Pah."


Akhirnya, dada ini terasa plong. Senyumannya memang masih tipis, tapi setelah ini aku yakin ia pasti akan bergeliat manja lagi denganku.


"Iya, Mah. Maafkan atas kesalafahaman ini ya. Maafkan semua sikap Papa yang tanpa sengaja menyakiti hati Mama. Papa melakukan semua ini, hanya karena cinta dan sayang."


"Dan karena rasa itu, membuat Papa jadi gelap mata dan egois. Tapi Papa akan mencoba untuk merubah."


"Dan masalah untuk pemakaman Aziz, Papa ijinkan. Sebagaimana Mama selalu mengizinkan Papa untuk mengurus pemakaman Kannya."


Aku akhiri penjelasan itu, sambil mengenggam erat tangannya. Mengusap lembut jari-jarinya. Dengan cepat ia melebarkan senyum sambil menatapku.


"Makasih banyak, Pah. Makasih." suara itu terdengar lirih. Dan ia kembali berujar.


"Cobalah untuk memahami, kalau Mama juga butuh dunia luar. Sebisa mungkin berjanji untuk tidak melanggar kodrat Mama sebagai istri dan Ibu."


"Sampai mati, Papa akan selalu ada di sini." ucapnya sambil membawa genggaman tangan kami ke arah dadanya.


Kami saling menatap dalam senyuman, aku tahu sudah ada kaca-kaca di dalam netra hitam miliknya. Aku mengangguk dengan senyumanku yang tidak pernah surut sejak tadi.


Aku tahu hatinya sudah kembali, ia seraya ingin memeluk, tapi ia urungkan karena para wisatawan masih banyak yang berlalu lalang. Dan kami tertawa akan hal itu.


"Adek ... Kakak, ke sini!" seru ku kepada Maura dan Ammar. Mereka yang masih asik bergumam tidak jelas diseberang sana lalu menoleh ke arah kami.


"Ayo, Nak. Fotoin Mama dan Papa."


Aku lepas genggaman tangan kami dan mengubahnya untuk merangkul Alika. Meletakan tangan kiri ku diatas bahunya. Duduk berdempet dan saling menyatukan kepala. Menatap kamera dengan senyuman manis sehabis berbaikan.


Sassy, siapkan landasan mu malam ini, karena aku sudah rindu ingin pulang.


****


Like dan Komen ya guyss❣️


siapa nih yang mau elus jenggotnya Papa Bilmar


__ADS_1


__ADS_2