
Satu bulan berlalu. Dan selama itu pula, Alika masih menyandang status sebagai wanitanya Bilmar Artanegara. Sudah banyak tempat yang mereka datangi setelah pulang sekolah, berbagai bioskop, restoran atau taman-taman cantik di Kota ini. Setiap hari Bilmar tidak pernah absen untuk mengantar Alika pulang, walau hanya sampai di ujung jalan, karena jika saja mereka ketahuan berpacaran, sudah dipastikan Alika dan Bilmar akan menjadi asinan sayur oleh Papa Syamsul dan Mama Alisa.
Nilai-nilai Bilmar pun semakin menjulang naik, kadang melebihi Alika. Sebisa mungkin Alika membantu Bilmar agar keinginannya lolos untuk mendapatkan tes beasiswa ke London.
Dua hari yang lalu, Bilmar mengutarakan keinginannya kepada Alika. Agar wanita itu mau membantunya, secara garis besar meminta Alika untuk mundur.
"Iya, Bil. Aku akan bantu kamu! Karena jujur, aku juga nggak akan mampu untuk melanjutkan kehidupan selama di London. Jadi nggak apa-apa, kamu aja. Kejar cita-cita kamu, Bil."
Tentu perkataan Alika tersebut membuat Bilmar tenang. Usahanya untuk memanfaatkan Alika begitu saja lancar tanpa hambatan.
Terlihat Bilmar, Dion dan Nino tengah berkumpul di lapangan basket. Mereka hanya bertiga di sana, maklum semua kelas sudah sepi, sehingga gelak tawa mereka begitu saja puas untuk disuarakan dengan nyaring.
"Bounce Pass dongoo!" ucap Nino menoyor kepala Dion ketika melihat bola basket tidak masuk kedalam jaring.
"Itu gue Bounce Pass kok, Nin!" ucap Dion membela dirinya.
"Sebelum lo oper tuh bola, lo pantulin dulu ke lantai, Nyet. Tiga tahun di basket masih begoo aja!" Bilmar ikut menoyor kepala Dion.
"Dulu tuh gue pinter, tapi selama berteman sama lo berdua gue jadi ****!" ucap Dion, lalu duduk dibibir lapangan, membuka tutup botol minuman, lalu menenggak isinya sampai habis. Ia memilih beristirahat sejenak, melihat permainan Bilmar dan Nino yang semakin bagus, karena satu minggu lagi mereka akan mengikuti perlombaan antar sekolah.
"Nin, liat tuh temen lo!" Bilmar menunjuk ke arah Dion yang tengah duduk santai sambil memainkan ponselnya, menetralkan napasnya yang masih terengah-engah.
"Si item yak kelakuan, malah duduk!" kelakar Nino.
"Ayo, Bil kita perosotin aja celananya!"
"Yuk ah lets go ..."
Bilmar dan Nino pun akhirnya menghampiri Dion yang dia sendiri tidak tahu kalau kedua temanya sudah melangkah ke arahnya.
"Ayo angkat!" seru Nino, lalu ia dan Bilmar mengangkat tubuh Dion dengan melolongan kedua tangan dibagian ketiak lelaki itu.
"Njirr basah!" decak Bilmar, ketika telapak tangannya merasakan kebasahan disekitar ketiak Dion.
"Ketek lo kasar banget sih!" Nino tidak mau kalah.
"Lepas anjingg!" seru Dion ketika tubuhnya sudah setengah terangkat di udara.
__ADS_1
"Ini anak setan mau kita kubur dimana?" tanya Bilmar kepada Nino.
"Jangan tololl! Gue anak satu-satunya emak bapak gue, kalau gue lenyap. Mereka juga pasti lenyap!"
"Keluarga setan kali ah, semua pada lenyap, ck!" gelak tawa Nino dan Bilmar bersambut.
"Bil, Nin. Lo pada jangan macem-macem!"
"Nino setan, masih aja nama gue di singkat-singkat!!" Nino yang sudah geregetan akhirnya mengigit telinga Dion.
"Ahh, sakit! Kayak Sumanto, lo! Kanibal!" teriak Dion kencang, ia masih memegangi daun telinga nya, merasa basah karena air liur Nino yang masih tersisa di sana.
"Deuileh, kena najis nih gue!" decak Dion, mengusap-usap telinganya.
"Lo fikir si Nino anjing?" Bilmar semakin tertawa.
"Gimana rasanya?" sambung Bilmar yang masih tertawa, ia bertanya kepada Nino ketika membuang ludahnya ke atas lapangan basket.
"Gue nyeruput keringet, Njirr asem banget rasanya." Nino kembali menoyor kepala Dion. "Makanya kalau mandi tuh yang bener!"
Mereka pun tetap ingin membawa Dion ke gudang namun langkah Bilmar terhenti, ketika Dion menepuk bahu lelaki itu. Dion menunjuk ke arah utara, ada Alika yang sedang berdiri di sana. Bilmar pun menoleh menatap Alika yang masih mematung di sana. Ia kaget mengapa juga Alika belum pulang dari sekolah.
"Kayaknya Alika lagi nungguin lo deh, Bil."
"Lo pacaran sama dia?" Nino asal menebak.
"Ya, enggaklah! Hanya soal pelajaran aja jadi agak deket." Bilmar berdalih, wajah nya berubah datar menatap Alika dari kejauhan dengan rasa tidak suka.
"Ngapain sih nih cewek, udah dibilang pulang duluan! Ngapain masih nunggu!" umpat Bilmar dalam hatinya. Alika tetap saja mematung sambil memegangi perutnya.
"Udah sana temuin dulu, Bil. Kasian Alika kali ada hal penting."
Bilmar mengangguk dan melepaskan tangannya di ketiak Dion. Seketika Dion menjerit histeris ketika tubuhnya begitu saja limbung ke atas aspal lapangan. Bilmar pun berlalu untuk menemui Alika, dan Nino kembali duduk di bibir lapangan sambil terus memandangi mereka berdua.
"Tolongin gue, Nyet! Tulang gue patah ini!" seru Dion kepada Nino. Dion masih bergelepok dengan tangan yang memegangi pingang nya karena sakit. Nino hanya tertawa puas dan menyesap air minumnya.
"Kamu kok belum pulang? Ngapain masih di sini?" tanya Bilmar dengan wajah tidak suka.
__ADS_1
Alika tercengang melihat sikap Bilmar yang seperti ini. "Kenapa, Bil? Kamu enggak suka aku ke sini?"
Bilmar menghela napas nya kasar, ia ingin memaki Alika, namun tidak mungkin ia lakukan.
Bilmar memutuskan untuk membawa Alika menuju pintu gerbang sekolah.
"Kamu usir aku, Bil?" tanya Alika, wajahnya terlihat sedih dan tangan kirinya masih memegangi perut.
"Aku mau kamu pulang!" titah Bilmar, suaranya sedikit kencang ketika langkah mereka sudah melewati lapangan.
"Kenapa sih lo nggak ngerti banget gue bilangin? Gue bilang sekali ini aja lo pulang sendiri, biasanya kan tiap hari juga gue anter! Nanti Nino dan Dion curiga! Lo ngerti nggak sih!"
Dua bola mata Alika mengerjap sempurna, lalu menunduk karena takut menatap Bilmar. Ada lelaki yang baru saja sebulan memacarinya sudah berkata kasar kepadanya.
"Kok kamu jadi kasar begini, Bil? Bukan itu kok maksud aku." Alika dengan cepat membuka tasnya dan mengeluarkan buku tugas Fisika Bilmar yang sudah ia kerjakan sampe sore di dalam kelas, dan sebotol minuman dingin, kemudian ia serahkan semua itu kepada Bilmar.
"Aku tau kamu pasti haus, habis main basket. Makanya aku belikan itu buat kamu, tugas Fisikanya juga udah kelar semua sampai 30 soal."
Bilmar meraihnya dengan kasar. "Ya udah sana cepet balik!" titah Bilmar, lelaki itu sedikit mendorong tubuh Alika untuk cepat melangkah. Tanpa menunggu lama Bilmar pun berlalu dengan cepat untuk kembali ke lapangan dengan sebuah buku dan botol minuman ditangannya, tanpa ucapan pamit, terimakasih ataupun senyuman. Yang Alika dapatkan hanya kemurkaan dari lelaki itu.
Alika hanya memandang kepergian Bilmar dengan wajah sendu dan juga sedih. Rasa sakit diperutnya masih saja muncul tidak mau hilang, menstruasi hari pertama memang selalu menyiksa Alika. Namun demi Bilmar, ditengah rasa sakit yang menggema tubuhnya, ia paksakan untuk terus menyelesaikan tugas Bilmar, karena ia tahu lelaki itu tidak mahir di pelajaran itu. Tidak seperti Alika, yang selalu bisa menguasai setiap pelajaran.
"Maaf ya, Bil, kalau aku jadi ganggu kamu, karena aku gak ada waktu lagi untuk nyerahin buku tugas kamu kalau bukan sekarang." tutur Alika dalam hatinya, karena sepertinya besok Alika tidak akan masuk sekolah. Alika memang rutin setiap bulan tidak akan masuk sehari, apabila ia sedang memasuki hari kedua menstruasi.
Alika melangkah pelan dengan rasa sesak dan linu didada. Tangan yang sedari tadi ia pusatkan diperut kini ia rubah untuk diletakan di pertengahan dadanya. Memeras kain seragam karena dadanya terasa sakit dan berat. Ia masih tidak percaya di hardik habis-habisan oleh lelaki yang ia sayangi diatas segala-galanya.
Gadis ini tidak akan menyangka balasan seperti ini yang akan ia terima. Padahal wajah Alika sudah memucat dan memegangi perut, namun Bilmar tetap cuek tidak mau mengambil pusing, ia malas berbasa-basi dengan Alika.
Coba saja kalau Indra, lelaki itu pasti sudah membopong Alika menuju klinik.
"Kamu sayang nggak sih, Bil, sama aku?" desahnya parau. Air matanya menggenang begitu saja, kembali melanjutkan langkahnya yang gontai untuk menaiki angkot yang sedang ngetem didepan gerbang sekolah.
Karena cinta ia lupakan rasa sakit yang sedang menggerogoti tubuhnya. Ia hanya bisa menangis untuk menumpahkan rasa kecewanya.
****
Siapa yang mau lihat Bilmar merengek-rengek berkepanjangan? Like dan Komennya ya banyakin, nanti aku Up lagi deh❤️
__ADS_1