
Ingatan selama di uks kemarin, terus saja membuat Alika senyum-senyum sendiri. Tadi malam pun begitu, ia selalu terbayang-bayang akan wajah Bilmar. Entah mengapa jaket yang kemarin Bilmar pinjamkan sampai ia peluk untuk dibawa tidur.
Jatuh cinta kembali, kah?
Setelah lama menutup rasa suka untuk Bilmar, dan saat ini ia kembali di buat baper oleh lelaki itu, apakah rasa itu kembali datang? Secepat itu kah?
Alika menggeleng-gelengkan kepala dan menghembuskan napasnya lurus ke depan. Menepuk-nepuk kedua pipinya, seraya menyadarkan dirinya sendiri, kalau ia sudah terlalu terbawa perasaan. Jangan sampai jatuh cinta dengan Bilmar, kamu hanya akan kecewa, begitu kata hatinya.
"Bangun Alika ... Bangun!" cicitnya pelan. Alika sudah duduk di mejanya. Bersiap menuggu bel masuk, semua anak-anak yang sudah datang ada yang berkeliaran lagi diluar kelas dan ada juga yang sedang mencatat tugas-tugas kemarin di kelas.
Alika sesekali menoleh ke belakang, menatap meja Bilmar dan Dion, hanya ada hembusan angin di sana, karena si empunya sedang berkunjung ke kelas Nino untuk bermain kartu.
"Kok jadi deg-degan gini sih!" celetuknya. Ia pun beranjak dari kursi untuk melangkah menuju meja lelaki itu. Meletakan bungkus plastik yang isinya jaket Bilmar yang kemarin sempat Alika bawa kerumah.
"Al ..."
Alika terkesiap ketika namanya tiba-tiba dipanggil. Ia menoleh dan menatap senyuman Bilmar yang ditujukan kepadanya. Lelaki itu berjalan dari ambang pintu dan mendekat ke arah mejanya.
Alika membalas senyuman itu dengan wajah merah merona, kenapa jantungnya berdebar-debar? Lalu kemana kegarangannya selama ini? Kenapa lenyap begitu saja?
Oh otak, dimana kah engkau? Tolonglah, Alika. Ia butuh kesadarannya, sebelum benar-benar jatuh hati lebih dalam dengan lelaki ini. Lelaki yang sangat sulit untuk di tahluk kan oleh wanita manapun. Cintanya Alika pasti akan bertepuk sebelah tangan.
"Al?" Bilmar menyentuh bahunya. Demi apapun Bilmar terlihat tampan sekali hari ini, ia begitu wangi.
Please, jangan disentuh! Alika akan semakin baper, Bil!
"Eh iii--ya, Bil. Ini, jaket kamu---eh! Jaket lo maksudnya. Udah gue cuci, makasih ya kemarin udah di pinjemin." ucap Alika tetap menatap bungkusan jaket, ia grogi menatap Bilmar.
Lelaki itu pun tersenyum. "Lo kenapa sih, Al? Kok kaya takut gitu lihat gue?" Bilmar masih menatap Alika, menunggu wanita itu menatapnya balik.
"Oh iya, kok lo masih pakai rok itu!"
Alika mendongak ketika mendengar ucapan Bilmar.
"Iya, Bil. Gue belom sempat beli." Alika berdalih.
Bilmar menautkan kedua alisnya sehingga bertubrukan menjadi satu. Ia seperti orang yang sedang berfikir.
"Si Dion udah naro ditempatnya kan?" gumamnya.
__ADS_1
Bilmar pun menggandeng tangan Alika untuk diantar menuju meja wanita itu. Alika terperanjat, ia tidak percaya jika tangannya ada dalam genggaman tangan si lelaki usil itu.
"Ada apa sih, Bil?" Alika dengan sejuta kebingungan akhirnya mengeluarkan pertanyaan ketika langkah kaki mereka sudah sampai.
"Coba lo buka!" Bilmar menunjuk ke selorokkan laci meja Alika.
Kening Alika mengerut marut. "Maksudnya?" tanyanya polos.
"Coba buka dulu!" titah Bilmar, ia menunjuk sekali lagi ke bagian bawah meja. Alika pun mengikuti kemauan Bilmar. Ia menarik selorokkan meja itu.
Dan
Kemudian
Kedua bola matanya membulat sempurna, kedua bibirnya masih berbentuk huruf O, wanita ini tidak percaya ada barang itu di mejanya.
Bilmar tersenyum. "Semoga enggak kebesaran ya, cepat ganti sana. Mumpung bel masuk belum bunyi." Bilmar menghentak lagi bahu Alika dengan lembut sebelum akhirnya berlalu kembali ke mejanya, karena ia mendengar suara Dion yang baru saja masuk kedalam kelas.
Alika masih mematung tidak percaya, berucap terimakasih saja belum sempat, tetapi Bilmar sudah berlalu meninggalkannya. Ia kembali tersenyum, meraih sebuah rok abu-abu baru yang masih ada dalam bungkusan. Mengambil dan memeluknya di dada.
Dan tidak hanya sampai disitu, rasa bahagia Alika semakin bertambah ketika ia melihat sebuah bungkus cokelat Silverqueen dengan pita merah menempel di ujungnya, tersembul secarik kertas kecil tidak jauh dari bungkus cokelat.
Bilmar.
Sepertinya Alika merasakan gempa dadakan muncul membekap dirinya. Atau merasa ada ombak yang siap menenggelamkannya dipusaran air laut. Bisa kah ia berteriak karena bahagia? Seindah itu kah diperhatikan oleh Bilmar?
Ah, tapi jangan senang dulu, Al. Bilmar melakukan itu hanya karena ingin meminta maaf atas perbuatannya dan ucapan terimakasih karena sudah menolongnya kemarin, namun tetap saja Alika tidak mendengarkan bisikan itu.
Yang penting sekarang hatinya semakin senang. Wajahnya begitu ceria dan bahagia. Menoleh sebentar ke meja Bilmar dan melihat lelaki itu sedang tertawa dengan Dion.
Alika pun melangkah pergi ke toilet sambil membawa bungkus roknya yang baru.
****
"Kebesaran nggak?"
Alika yang sedang menunduk memasukan buku-bukunya ke dalam tas, lalu mendongakkan wajahnya, ia kaget karena sosok Bilmar sudah ada disamping mejanya, Bilmar sudah bersiap untuk pulang, karena ia sudah memakai tas di punggungnya.
Bilmar menatap rok baru yang sudah dipakai oleh Alika semenjak pagi. Tapi ia tidak ada waktu untuk menanyakannya, barulah dirasa ruang kelas sepi. Ia kembali menghampiri Alika.
__ADS_1
Alika mengangguk dan memberikan senyuman. "Makasih banyak ya, Bil. Lo udah baik banget sampai beliin gue rok segala."
Bilmar membalas senyuman itu. "Nggak apa-apa, mata gue risih lihat paha lo kemana-mana."
Alika mengangguk, rasa gugupnya kembali muncul. "Kok Bilmar bisa sebaik ini ya sama gue? Apa mungkin dia juga suka sama gue selama ini? Tapi gue nya aja yang gak peka??" gumam Alika dengan wajah berbunga-bunga. Ia terlalu percaya diri untuk menyimpulkan sesuatu. Jelas-jelas Bilmar melakukan itu hanya ingin menutup rasa bersalahnya saja. Alika belum ada di relung hatinya selama ini.
Makanya, sudahi saja Alika, nanti kamu sakit! Si Peri cantik kembali bersuara untuk menyadarkan Alika dari perasaan yang ia buat sendiri.
"Tuh kan lo ngelamun lagi, lo kenapa sih, Al? Serem gue lihatnya." decak Bilmar, seketika ia merasa merinding. Ia takut Alika kesurupan, dan sebelum wanita itu meraung-raung dengan teriakan histeris, Bilmar memilih untuk pamit dan berlalu.
"Gue duluan ya." Bilmar melambaikan satu tangannya lalu melangkah cepat keluar dari dalam kelas.
"Kirain mau ajak gue pulang bareng." Alika memiringkan sudut bibirnya. Ia kembali mengeluarkan cokelat yang tadi diberikan oleh Bilmar. Ia tatapi cokelat itu dan kemudian ia cium-cium dengan wajah penuh suka.
Mungkin cokelat itu akan ia fermentasi kan, agar awet dan terus bisa dipandang. Se-bucin itu memang jadinya, Alika benar-benar sudah terperosok jauh dengan perasaan yang ia ciptakan sendiri.
"Al, ayo pulang."
"Eh, Bil, lo---" suara Alika terhenti, mengucek kedua matanya, menatap kembali ke sosok yang sedang mengajaknya bicara. Seketika itu pula bayangan Bilmar pergi dan tergantikan dengan Indra yang sedang melangkah ke arahnya.
"Oh, kamu Ndra." jawab Alika.
"Kamu kenapa, Al? Melamun?" tanya Indra sambil memegang pangkal bahu Alika.
"Enggak apa-apa kok, yuk ah kita pulang." Alika pun beranjak dari kursi, berjalan lebih dulu meninggalkan Indra.
"Alika kok aneh ya? Senyum-senyum sendiri gitu, lagi kenapa tuh anak?" tanya Indra, bergantian malah saat ini ia yang tengah melamun. Lalu tersadar dan melihat Alika sudah berjalan keluar kelas dari jendela.
"Tunggu, Al!"
******
Ya gitu deh guys, Mama Alika duluan yang bucin sama Papa Bilmar, ettapi pas Mama Alika mau ngejauh karena takut hatinya nggak ke sambut, baru deh Papa Bilmar maju. Ya gitu deh percintaan mereka tarik menarik kaya Tom and Jerry.
Like dan Komennya ya. maacih❤️❤️
cantik banget kan? gak pake apa-apa aja udah cantik coba
__ADS_1