MantanKu PresdirKu SuamiKu 3

MantanKu PresdirKu SuamiKu 3
Musim 1 : Selamanya di Bawah Kaki Kami!


__ADS_3

Mama Mira berhasil membawa Alika dan Bilmar untuk makan siang diluar. Perasaan Alika memang tidak menentu, ia teramat gugup dan kaku. Sepanjang perjalanan pun, ia hanya mengiyakan apa yang Mama Mira tanyakan, selebihnya ia akan diam membatu.


Dibawa kembali untuk memasuki restauran mahal membuat Alika risih. Jujur, selama ia hidup, Mama dan Papa nya belum pernah membawa ia ke tempat seperti ini. Sudah makan dan bisa sekolah saja, Alika sudah bersyukur dan senang.


Bilmar pun tau apa yang dirasakan Alika. Sedari tadi lelaki itu tidak berhenti untuk menggandeng tangan kekasihnya. Ia terus mencari-cari raut kepalsuan dari Mamanya, namun sayangnya tidak ia temukan. Wanita paru baya itu berhasil menipu dengan mimik wajahnya.


Mama Mira membawa mereka ke restoran hotel berbintang lima. Memesan satu private room untuk mereka nikmati. Bilmar merasa Mamanya sangat berlebihan. Namun urung untuk dilawan.


"Alika sudah sering makan-makanan seperti ini?" tanya Mama Mira. Alika menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "Belum pernah Tante, ini baru yang pertama." jawabnya polos. Mama Mira tersenyum sarkas.


Wanita itu sengaja memesan makanan ala jepang. Rupa-rupa sajian yang dipesan terlihat aneh, seketika membuat perut Alika menjadi mual. Membuat Mama Mira semakin senang.


"Dalam hitungan ke berapa kamu akan muntah, gembell?" Mama Mira berseru senang dalam hatinya, ia tak lepas memberikan senyuman hangat kepada Alika.


"Mah, kenapa kita kesini. Enggak ke tempat steak aja?" tanya Bilmar.


"Memangnya kenapa, Bil? Bukannya ini tempat favorit kamu?" Mama Mira mulai memasukan daging-dagingan tipis ke dalam kuali panas di pertengahan meja. Asap panas mengebul diantara mereka.


"Soalnya takut Alika---"


"Aku suka kok, Bil." Alika menyelak cepat. Ia tidak mau Mama Mira sedih karena pilihannya tidak dihargai.


"Kamu yakin?" Bilmar meyakinkan Alika.


Bilmar kembali menatap kekasihnya luru, untuk mencari pembenaran. Nyatanya Alika tetap memilih berdalih, walau kenyataannya Bilmar tahu Alika tidak nyaman. Bilmar terus menggenggam tangan Alika dibalik meja. Sebisa mungkin ia akan selalu berada di dekat Alika. Melihat putranya begitu melindungi, membuat Mama Mira cemburu. Ia kesal.


"Aku benci melihatnya!" Mama Mira berkali-kali menahan dadanya yang mulai sesak. "Jika Bilmar secinta itu dengan si gembel, bagaimana caranya aku memisahkan mereka!" gerutunya.


"Tapi setelah ini pasti ada jalan, si gembel pasti akan membantuku!" lagi-lagi suara hatinya yang jahat.


"Ayo Alika makan ini." seru Mama Mira, terlihat jari-jari lentiknya tengah menggulung ikan salmon mentah didalam daun salada dengan wasabi, lalu meletakannya di piring Alika.


"Mah jangan, ini ped---"


"Gapapa, Bil. Aku mau coba." selak Alika. Ia pun meraihnya dengan tangan tanpa sumpit. Alika tidak begitu handal menggunakan alat kayu pipih tersebut. Membuat Mama Mira semakin geli, ingin mentertawakan Alika.


"Al ..." desah Bilmar.


Seketika mulut Alika terlihat penuh dengan makanan itu.


DEG.


Seketika Alika termangu, dengan mulut yang masih penuh. Perlahan ia kunyah kuat-kuat makanan itu.

__ADS_1


Mentah


Sedikit amis


Dan


Pedas tidak tertahan.


Semua rasa aneh bercampur menjadi satu. Alika tidak sanggup, perutnya menolak. Matanya membola hebat. Hidung dan tenggorokannya terasa panas menggelegar.


"Ayo muntahin!" Bilmar membuka kedua telapak tangannya untuk menengadah di bawah mulut Alika.


"Ayo muntahin!" Bilmar kembali mengulang. Alika sebenarnya urung dengan mata berpendar untuk mencari tempat. Namun ia sudah tidak tahan lagi.


Dan


Brrr


Alika memuntahkan semua kunyahan nya ditangan Bilmar. Lelaki itu tidak jijik sama sekali, padahal Mama Mira saja mengalihkan wajahnya karena merasa jijik. Seketika Bilmar bangkit dari kursi untuk mencuci tangannya di wastafel yang berada di sudut tidak jauh dari posisi meja. Alika memilih untuk mendorong sisa makanan yang masih bersarang didalam mulut dengan air minum.


"Jangan yang itu, Al." seru Bilmar menoleh, membuat Alika tersentak. Matanya menoleh bersamaan dengan air yang sudah ia teguk sedikit.


Bilmar berlari untuk menghampiri Alika. "Ini air mentah, Al. Untuk mencuci daun salada!"


"Kamu harusnya minum ini Alika." Mama Mira menyodorkan sebuah gelas berisi air lemon yang sangat kecut. Bilmar menghalau dan menjauhkan gelas itu dari Alika. Ia tahu Mamanya akan kembali membuat kekasihnya mual dan muntah kembali.


"Air putih aja." Bilmar memutuskan. Ia meraih sebotol air mineral, dibuka dulu tutupnya dan disodorkan kepada Alika.


"Ayo minum, hati-hari ya." titah Bilmar.


Suasana makan siang jadi terasa aneh dan panas. Terlebih sedari tadi Bilmar mengubah raut wajahnya menjadi kesal kepada sang Mama. Mengapa harus lebih dulu memutuskan tempat makan tanpa bertanya dahulu. Tentu hanya membuang-buang waktu saja.


"Kamu gak apa-apa kan?"tanya Bilmar kepada Alika, ketika gadis itu berhasil minum air putih dengan banyak.


"Ya pasti nggak apa-apa dong, Bil. Memangnya ada racun di makanannya." Mama Mira tetap berusaha untuk berbicara lembut. Sebisa mungkin ia tekan perasaan bencinya kepada Alika.


Alika mengangguk malu. Ia terus membuat kerusuhan.


"Ya udah kalau gitu, Alika makan ini aja ya." Mama Mira menuangkan kacang kedelai yang di fermentasi. Teksturnya sangat lengket seperti ingus, aromanya pun tidak sedap. Melihatnya saja Alika sudah mual.


"Mah, bisa nggak sih kasih makanan yang bisa dimakan sama Alika? Dia gak biasa makan makanan ini, Mah." ucap Bilmar dengan nada suara tidak suka.


"Loh itu enak, Bil. Alika nya aja belum coba. Kan kalau dirumah pasti udah sering tuh makan tahu, tempe, ikan asin, jengkol, terasi, iya kan, Al?"

__ADS_1


Dan dengan jujurnya Alika mengangguk.


"Nah mumpung lagi di resoran mahal, sekarang Alika coba makan makanan Jepang. Lagian semua makanan ini adalah makanan kesukaan keluarga kami."


"Jadi hebat dong Alika bisa kesini dan menyicipinya. Semoga jadi kenangan indah, ya. Kan belum tentu bisa kesini lagi."


Mama Mira terus saja mengihan Alika dengan bahasa halus dan lembut. Tidak tahu saja ia, bahwa makanan murah seperti itu adalah surganya dunia.


"Ya Allah, dia kembali menghinaku." gumam Alika.


Ia hanya bisa memberikan senyuman tipis kepada Mama Mira lalu kembali menatap makanan yang baru saja diletakan di piringnya.


"Demi mensejajarkan diriku dengan Bilmar, aku akan mencobanya."


"Al, jangan!" sentak Bilmar ingin menarik piring Alika. Namun Alika memegangi tangan Bilmar untuk diam sejenak. Alika memilih tetap memasukan makanan itu kedalam mulutnya.


Dan.


Gleg.


Rasanya seperti ia tidak bisa bernafas. Makanan itu terasa seperti lendir dan berbau. Alika langsung beranjak dari kursi, berlari menuju wastafel sambil memegangi perutnya.


"Maaf, Bil. Aku enggak sanggup!" Alika membatin.


Howe Howe


Ia memuntahkan isi makanan tersebut, sepertinya sisa-sisa sarapan paginya pun ikut keluar. Bilmar membasuh wajah Alika dengan air yang ia tangkup di telapak tangan.


Lelaki itu menyesal mengiyakan keinginan Mamanya. Barulah ia tahu kalau sepertinya Mama Mira sengaja melakukan ini kepada mereka berdua, terutama kepada Alika.


Tidak terasa Alika meneteskan air matanya, bukan hanya sedih dan malu, tapi lagi-lagi ia gagal untuk mensejajarkan dirinya dengan Bilmar. Ia kembali tidak percaya diri.


"Masih mual? Mau muntah lagi, Yang?" tanya Bilmar dengan raut cemas.


"Enggak, Bil." jawab Alika singkat. Ia mengatur napasnya yang masih terengah-engah. Seketika kepalanya terasa pening, bau amis membuat indera penciuman terganggu.


Mama Mira yang masih terduduk di kursi hanya menatap penuh kegirangan. Ia merasa menang karena sudah menyiksa Alika.


"Kamu fikir segampang itu ingin menjadi bagian dari Anakku! Jangan pernah bermimpi Alika! Kamu dan keluargamu selamanya hanya akan berada dibawa kaki kami!" kelakar Mama Mira mengulum senyum.


*****


Ada yang mau masukin Mama Mira ke penggilingan kornet gak?

__ADS_1


Bentar lagi aku akan masuk ke inti masalah ya guys, siapin hati❤️


__ADS_2