
Setelah mendapat informasi kalau Ammar sudah tiba di rumah. Bilmar dan Rendi kembali memutar kemudi mobil untuk kembali ke arah pulang menuju rumah. Walau sedalam perjalanan, ia terus mengumpat dan memaki si penjual nasi goreng tersebut.
Lega sekali hati lelaki itu. Napasnya sudah kembali normal, dengan pacuan jantung yang tidak berdetak kencang seperti beberapa jam yang lalu. Anak lelaki nya sudah pulang, entah bagaimana caranya anak itu bisa pulang.
Sang istri hanya mengatakan Bilmar cepat kembali kerumah, karena Ammar sudah tiba. Selain senang, ia juga bisa pulang ke rumah untuk istirahat. Menghindari ancaman dari sang istri tercintanya.
"Cepat dong, pelan banget bawa mobilnya. Kayak keong." Bilmar terus saja cerewet. Kalimat itu sudah berkali-kali ia suarakan. Lama-lama Rendi pun jenga mendengarnya.
"Tenang dong, sabar! Kamu mau sampai rumah, atau sampai lubang tanah?"
Bilmar bergeliat menahan remang yang sedang menjalar dipermukaan kulitnya.
Ia merinding, kalimat laknat apa itu?
"Jangan asal ngerocos kamu, Ren! Istriku masih muda, aku enggak mau dia jadi janda. Belum lagi dua anakku masih kecil-kecil. Belum berhasil dan menikah. Malah ku masih ingin punya anak lagi! Jadi jangan berkata yang tidak-tidak ... A--was!!" Bilmar merubah ucapannya menjadi suatu teriakan kencang. Ia membantu memegangi stir kemudi untuk membantu Rendi membantingnya ke arah kiri.
BRUG.
Bemper depan mobil hampir saja mencium sebuah pohon besar yang berdiri tegak dipinggir jalan industri. Mobil itu terhenti dengan deringan klakson dan lampu sorot yang menyalah.
"****** lo! Enggak ada mata ya!" bukannya menolong, namun pengendara motor itu malah memaki mereka dari luar. Lelaki tua berjenggot tebal, yang masih nangkring diatas motor tua terlihat begitu kesal.
Rendi dan Bilmar yang masih membungkuk, karena gaya gravitasi mobil. Kemudian mendongak. Untung saja kepalanya mereka tidak menyentuh dashboard atau stir kemudi. Karena seat belt berhasil mempertahankan gerak tubuh mereka.
Rendi menurunkan jendela mobil. "Maaf ya, Pak."
"Maaf, maaf!" decak lelaki itu kesal, lalu menjalankan kembali motornya dan berlalu dari badan mobil mereka. "Gue sunat baru tau rasa lo!"
Kedua mata Bilmar melotot tajam, menatap kepergian lelaki tua itu dari pandangan mereka. "Bedebahh! Dasar jenggot keriting! Berani-beraninya mau nyunat si jagur!" decaknya kesal sambil mengusap palung tornado yang masih berbalut kain celananya.
Rendi hanya diam, memahami kekesalan si lelaki tua itu yang akan ia tabrak.
"Ngapain kamu minta maaf, Ren. Jelas-jelas dia yang salah, karena udah lawan arah!" decak Bilmar sebal.
Rendi masih berusaha mengatur napas panjang. Ia mendelikan mata tajam kepada Bilmar. "Kenapa jadi melotot gitu? Harusnya kita anterin Bapak itu untuk langsung ke Surga. Ya, sukur-sukur kalau masuk kesana." Bilmar semakin menjadi. Rasanya kepala Rendi mau pecah, hatinya panas. Ingin sekali menggigit lelaki itu sampai bibirnya copot.
__ADS_1
"Gila lo!" Rendi berteriak, membuat Bilmar mengedikkan pangkal bahu. "Untung cuman motor tua, dan dengan cepat kita banting stir. Coba aja kalau truk, aku enggak bisa ngebayangin."
Bilmar ikut menormalkan debaran jantungnya. Baru saja ia berbicara seolah tidak ingin mati. Namun ternyata ia baru saja melewati maut.
"Makanya jangan berisik!" Rendi yang sudah tegap kembali, langsung bersungut kepada Bilmar.
"Nyuruh cepetan terus, mau mati kamu, hah? Kayak tadi?" seru Rendi kencang. Lelaki itu mulai geram kepada Bilmar.
"Lo fikir punya nyawa berapa? Amal lo udah banyak emang?"
"Ganggu konsentrasi aja! Yang penting kan, Ammar sudah kembali. Dia sudah ada dalam pelukan Alika. Apa lagi yang lo takutkan? Malah gue takut, lo kembali tanpa nyawa!"
Rentetan kekesalan Rendi begitu saja tercuat dari bibirnya yang baru saja memakan nasi goreng burung tersebut. Ia kesal sekali, sampai berbicara saja dengan sapaan berbeda. Dan Bilmar tidak mempermasalahkan itu, sedikit banyaknya ia mengakui, dirinya salah.
"Huss! Ngomong sembarangan! Udah jalan lagi!" titah Bilmar. Rendi memiringkan sudut bibirnya dan mulai memacu kembali mobil dengan kecepatan sedang.
***
Dengan langkah blingsatan Bilmar berlari setelah turun dari dalam mobil menuju kedalam rumah. Napas nya teramat lega ketika benar-benar melihat anak lelaki berusia delapan tahun tengah tertidur dipangkuan istrinya. Di sofa bundar juga sudah ada Kakek Luky, Binara, Gadis, Maura dan lelaki tua yang Bilmar belum tahu siapa namanya.
"Sayang ..." seru Bilmar dengan tangan terayun untuk mengusap lembut punggung sang anak.
Sebelum benar-benar berteriak, bibir Bilmar langsung di bekap oleh Alika. Wanita itu melototkan matanya, agar suaminya tidak bersuara kencang.
"Tenang dulu, anakmu sedang tidur!"
"Tapi, lihat wajahnya. Kok bisa babak belur begitu?"
Rendi menghempaskan bokongnya disebelah Binara. "Ammar kenapa, Mah?"
"Di pukulin katanya, Pah." jawab Binara. Wanita itu nelangsa melihat wajah keponakan lelakinya yang sudah banyak mencetak warna biru di sudut-sudut wajahnya.
Rendi mengusap wajah kasar. "Pantas aja, perasaan Papa enggak tenang sepanjang di jalan. Belum lagi tuh Bapaknya, euhh!!"
"Sabar sayang. Kakakku kan memang begitu." timpal Binara. Mereka terus saja berbisik.
__ADS_1
"Terus Bapak ini siapa?" Bilmar menunjuk ke arah lelaki tua yang sedang duduk di single sofa kepada Alika.
"Bapak ini namanya Bapak Tono. Beliau lah yang menolong Ammar." selak Papa Luky. Bilmar mengalihkan tatapannya dari Papa Luky ke arah Bapak Tono. Beliau memberikan senyum hangat dan Bilmar memberikan anggukan kepala hormat. "Terimakasih banyak, Pak." ucapnya.
"Tadi ketika Papa ingin berangkat menuju rumah kalian, di jalan Papa melihat Ammar sedang dituntun oleh Bapak ini. Katanya mereka habis dari klinik. Bawa Ammar berobat."
Bapak Tono mengangguk lagi, membenarkan ucapan Papa Luky.
"Anak Bapak tadi dipukuli sama kawanan anak SMA pas banget lagi makan bakso saya di taman. Oh iya ..." Pak Tono merogoh kantung celananya dan menyerahkan jam tangan Ammar yang sudah hancur di meja.
"Saya berhasil merebut ini dari tangan mereka semua."
Rahang Bilmar terlihat sudah mengeras dan mengencang. Kepalan tangannya sudah tercetak jelas di atas pangkuannya. Memendam amarah yang ingin ia semburkan. Berani sekali ada yang menyiksa putra kesayangannya, penerus aset-aset miliknya nanti.
"Ya Allah ..." desah Alika.
Sesungguhnya ia tidak perduli dengan jam tangan itu. Yang penting anaknya sudah kembali. Alika mengunci erat tubuh Ammar, mencium kening anak itu berulang-ulang. Maura yang duduk di sebelah Alika pun melakukan hal yang sama. Ia senang Adiknya sudah pulang, walau dalam keadaan banyak lebam seperti itu.
"Makasih banyak, Pak. Sudah berbaik hati mau menolong anak saya." jawab Bilmar. Bukan hanya menolong, tapi Pak Tono sudah menghabiskan keuntungan dagangannya hari ini hanya untuk membayarkan pengobatan Ammar di klinik.
Seakan mengerti, Papa Luky terlihat mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.
"Ini buat Pak Tono, sebagai ucapan terimakasih dari kami."
"Tidak usah, Pak. Saya ikhlas." jawab Pak Tono jujur.
"Kami akan merasa senang sekali, kalau Bapak mau mengambilnya. Walau dengan uang itu, tidak akan pernah bisa membayar jasa Bapak untuk menolong putra kami---"
"Adek enggak mau sekolah lagi, Mah."
Ucapan Alika kepada Pak Tono terhenti begitu saja, ketika mendengar Ammar mengigau dengan jelas. Ammar syok dengan beberapa kejadian yang terjadi hari ini dengan dirinya. Kasihan sekali anak lelaki itu.
***
Like dan Komennya yaa🌾🌾
__ADS_1
Ini Ammar pas abege. Dia tuh manis banget pas kecil, eh pas besar nyeremin🙈