MantanKu PresdirKu SuamiKu 3

MantanKu PresdirKu SuamiKu 3
Musim 2 : Tidak Tahan!


__ADS_3

Dengan aroma napas yang masih kurang sedap, dan langkah kaki yang digerakkan secara irit agar tidak terlalu lebar, biar aroma dari bagian bawah tidak terlalu kentara. Alika keluar dari kamar mandi dengan untaian doa, semoga mukzizat turun untuk mencabut aroma tak sedap dari Jengkolid Acid.


Sungguh, lebay. Hihi.


"Duh cintaku ... Sini, sayang." seru Bilmar di ranjang, ia merentangkan kedua tangan untuk siap menerima terjangan pelukan dari Alika seperti biasa. Bilmar masih menggunakan pakaian kerja, lelaki itu sengaja tidak ingin melepasnya. Ia ingin Alika yang melucutinya.


"Papa kangen Mama." sambung Bilmar menyeringai ingin, kedua tangannya masih saja direntangkan.


Alika membeku di posisinya. Ia bingung. Harus menghindar dengan cara apa sekarang.


Dasar, jengkol.


"Kok ngelamun? Malam-malam tuh gak---"


Alika langsung melangkah cepat menuju meja riasnya. Ketika Bilmar akan beranjak untuk menghampiri dirinya. Lelaki itu menyerngitkan kening. Aneh sekali gelagat Alika malam ini. Tak membalas sapa, tak senyum, bibir dilipat dan merasa kikuk.


Alika menarik laci, membuka kotak masker medis berwarna hijau. Alat yang sangat berfungsi sebagai pelindung diri, untuk terbebas dari berbagai kuman di udara dan percikan droplet. Namun saat ini ia pakai, untuk menutupi bau mulutnya yang tidak sedap karena gas jengkolid acid tersebut.


Klug.


Alika tersenyum dibalik masker, hatinya lega. Ketika tali masker sudah terpasang kilat di daun telinganya, sebelum suaminya mendekat.


Bilmar memeluk dari belakang, menyatukan kedua tangan diperut Alika. "Kok pakai masker? Mama sakit?" tanya Bilmar.


Alika semakin tidak percaya diri ketika mengendus aroma wangi dari bibir suaminya.


Walau sudah pakai masker tetap saja ia takut untuk mengeluarkan suaranya. Alika hanya menggeleng. Wanita cantik itu merapatkan kakinya agar tidak ada celah udara yang bisa membawa aroma jengkolid acid ke indera penciuman Bilmar.


"Papa kok udah pulang? Katanya tiga hari di Semarang?" tanya Alika, ia berbicara sambil menolehkan sedikit wajahnya agar tidak terlalu menempel dengan pipi suaminya. Tetap saja walau sudah pakai masker, ia masih belum percaya diri.


Bilmar mengerucutkan bibirnya. "Salah informasi, harusnya tuh minggu depan." jawab lelaki itu. Alika hanya mengangguk tanpa mau berkata lagi.


Ah, dasar jengkol lakhnat----Tapi, nikmat. Gimana dong?


Bilmar meletakan ujung dagunya di pangkal bahu istrinya. Tangan yang sedari tadi mengunci, ia biarkan terlepas ke bawah, dan seperti biasa Bilmar akan mengelus-elus sarang segitiga di bawah. Alika mengedik dan bergeliat untuk melepaskan.


"Pah ..."


"Ehem?" Bilmar kembali mengelus, kali ini ia mengelus perut dan naik untuk meremass dus bongkahan permata.


"Papa eeun-gyak man--di?" tanya Alika dengan suara amat pelan. Hampir saja tidak terdengar, begitu saru karena dibalik masker.


"Apa? Ngomong apa kamu, Mah? Kaya orang kesetrum, geter-geter bicaranya." Bilmar berdecis geli.


"Lagian ngapain sih pake masker segala?" Bilmar gemas, lalu ingin menarik masker itu yang sudah menutupi wajah cantik istrinya. Alika dengan sigap menahan, kemudian menggelengkan kepala. "Jangan, Pah. Mama lagi--"

__ADS_1


"Bisulan? Bibir kamu bisul? Eh ... Sariawan, maksud Papa."


Alika mengangguk beberapa kali, ia senang karena suaminya terang-terangan sudah memberi ide buat berbohong.


"Ya udah sini, Papa obatin pakai bibir Papa." bisik Bilmar dengan aroma napas yang sensional membuat hasrat Alika terpancing.


Apalagi kecupan-kecupan kecil yang ia berikan di sekitaran tengkuk. Alika terkesiap, menatap lurus cermin didepan. Tangan Bilmar semakin beraksi, kini malah masuk ke dalam celana tidur istrinya. Alika sedikit bergeliat tetapi, kepalan tangan Bilmar sudah lebih dulu melesat masuk.


"Papa udah cuci tangan, Mah." bisik nya lagi. Setelah berbisik, ia melumatt habis daun telinga bagian kanan, Alika beberapa kali mengangkat pangkal bahu karena geli, namun nikmat.


Bilmar menekan tengkuk Alika agar bisa menoleh kepadanya. Ingin melepas masker yang ada di wajah istrinya dengan telapak kirinya. Namun Alika masih saja enggan, ia memegangi tangan Bilmar agar tidak sampai membuka kaitan masker. Walau terlihat Bilmar sudah kepalang hasrat.


"Kenapa, Mah?" tanya suaminya lembut. Alika kembali menjauhkan wajahnya ke sembarang arah.


"Papa mandi dulu sana."


"Sama Mama, ya."


Alika menggeleng cepat. "Mama udah mandi, nanti masuk angin, Pah ... Eum." desahan Alika lolos begitu saja dari katupan bibirnya yang terbuka dari balik masker. Intinya sepertinya sudah lembab karena permainan jari Bilmar di bawah.


"Mah, udah basah nih." bisik Bilmar. Lelaki itu tertawa. Alika hanya bisa memejam mata untuk menikmatinya. Walau samar-samar, Bilmar mencium ada aroma tidak sedap yang entah dari mana.


Mungkin saja wanginya sudah tercampur, dengan bau gas dan bau terasi. Haha.


"Pah ..." Alika tidak tahan jika tidak menyerukan nama suaminya.


"Iya, sayang." jawab Bilmar lembut. Seperti biasa, ia akan membiarkan Alika untuk mencapai puncak terlebih dulu.


Alika kembali begelinjang, telapak kakinya terasa gemetar, jari-jari kakinya melebar di atas lantai yang dingin. Ia ingin sekali melahap habis bibir suaminya tanpa ampun, namun urung dilakukan.


Alika menyandarkan belakang kepalanya di bahu suaminya, mendongak ke atas sambil menutup mata, bibirnya menganga di balik masker. Rasanya begitu memabukkan.


Hasrat yang sudah memuncak kini melupakan rasa takut nya tentang jengkolid acid. Entah di detik berapa Bilmar berhasil melepas masker itu dan kembali menolehkan wajah istrinya untuk bisa di tatap jelas.


Bibir Alika yang masih terkatup rapat, langsung di lahap habis oleh dua katupan bibir Bilmar yang terbuka lebar. Aroma napas mereka akhirnya pun bersatu seiring pergerakan.


Dan belum ada satu detik, dengan kecepatan kilat, Bilmar melepaskan perpagutan itu dan mendorong sedikit tubuh istrinya.


"Kamu makan apa, Mah?" seru Bilmar. Ia mengambil tissu basah yang ada di meja rias, lalu mengusap bibirnya.


"Makan sampah kamu? Bau banget---"


Bilmar terbatuk-batuk. Aroma jengkol itu sangar menusuk aroma penciuman. Pemanasan yang ia berikan kepada istrinya pun dihentikan.


"Tumben sih kok kamu bau, Mah." tanya Bilmar khawatir. "Bertahun-tahun enggak pernah begini kayaknya." ucap Bilmar polos.

__ADS_1


"Mabok tayii kamu?"


Alika mencubit perut suaminya. "Sembarangan!" decaknya.


"Tuh kan, bau bangett!" Bilmar langsung membekap hidungnya dengan telapak tangan. Melotot tajam ke arah istrinya.


"Ngomong aja bau ... Ini, Sassy nya juga gak biasa wanginya." cicitnya sendu. Seperti merasakan aromanya dari ujung jari tengahnya yang masih terasa lengket dan basah. Buru-buru ia bersihkan dengan tissu basah yang masih ia genggam.


Tapi Alika sudah kepalang tanggung, ia masih di setengah jalan untuk pelepasan. Lalu mendekat untuk memeluk suaminya.


"Pah, lagi yuk." Alika memaksa, tak perduli dirinya bau yang penting keinginannya tersalurkan.


Bilmar melepas pelukan itu dengan gerakan tubuhnya, karena kedua tangannya masih membekap mulut dan hidung.


"Bau banget, Mah. Papa enggak tahan! Jadi enggak napsu, ah!! Kita kerumah sakit aja yuk. Biar mulut kamu di semprot ... Lagian makan apa sih kamu?" decak suaminya.


Ia memundurkan langkah untuk menjauhi Alika. Tapi wanita itu terus mendekat dan menghujamnya dengan pelukan.


"Mah, gosok gigi dulu sana!" titah Bilmar. "Ada sarang kelalawar kali tuh di mulut."


Karena selama hidup lelaki itu belum pernah bertemu dengan orang-orang yang mengeluarkan napas bau jengkoli acid.


Ya, namanya juga, Sultan.


"Kita ke Dokter aja ya, tunggu Papa ke toilet dulu, cuci tangan pakai sabun." Bilmar resah, ia kasihan pada istrinya.


"Kok bisa bau sih, perasaan Papa pernah sariawan tapi enggak gitu baunya ... Ini tuh bau banget! Bau dari segala bau." decak Bilmar tidak habis-habis ketika ingin melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Alika tertawa kecil, ia merasa lucu.


Lalu.


"MAMA!! BAU APA INI?!" teriak Bilmar dari bilik kamar mandi. Wangi urin jengkolid acid masih saja kentara. Alika tertawa terpingkal-pingkal. Sepertinya hasratnya sudah tergulung ombak kelucuan.


"Panggil Bik Minah, suruh sikat!!" teriak lagi lelaki itu dari dalam. Dengan cepat Alika pergi ke kamar Maura untuk bersembunyi. Karena jam segini Ammar pun masih ada di sana, untuk belajar bareng.


Dan.


"MAMA BAU!!" seru kedua anaknya di dalam kamar.


******


Pada kebauan semua, kayaknya bentar lagi Alika di giring buat disemprot cairan antiseptik😂😂.


Jengkol itu nikmat, walau bau tapi aku suka❤️🤪

__ADS_1


__ADS_2