
"Gue suka sama lo, Al. Lo mau nggak jadi pacar gue?" Bilmar mengulangi ucapannya. Menunggu wanita yang sedang melamun menatapnya berkata iya.
Alika mengalihkan tatapannya ke sembarang arah, ia terlihat bingung, sambil mengigit bibir bawahnya ia berlalu untuk meninggalkan Bilmar yang masih berdiri di depan cermin wastafel. Raut was-was tidak diterima menerpa batin pemuda itu.
Ia pun mengekor langkah Alika dari belakang. Langkah wanita ini sangatlah lambat, bagai keong yang sedang berjalan.
"Ayo duduk sini!"
"Eh." Alika mengedikkan bahu, ia kaget ketika tangan Bilmar mengalung di pinggangnya, membawa tubuh itu untuk duduk. Bilmar pun menarik bangku untuk duduk bersebelahan dengan Alika. Ia harus tetap membujuk wanita ini agar mau menerimanya sebagai pacar.
"Gimana Al? Gue suka sama lo!" Bilmar meletakan tangan kirinya di sandaran kursi Alika.
Mereka saling menatap dalam jarak yang sangat dekat. Alika masih tidak berani menatap Bilmar secara intens. Hembusan napas Bilmar terus saja menyisir permukaan kulit wajah Alika. Ia harus bersabar untuk menaklukan hati wanita ini.
"Apa sih yang buat lo lama jawab, bukannya lo suka sama gue?" umpat Bilmar dalam hatinya.
"Gimana sayang?" ucap Bilmar lembut, ia meraih dagu Alika, agar wanita itu mau menatapnya.
"Apa? Sayang, katanya?" gumam Alika bahagia.
Demi Tuhan, hatinya kembali berdesir. Rasanya ingin mandi secepatnya, karena aksa nya terasa panas. Tanpa bisa disembunyikan wajah Alika seketika berbinar, belum pernah ada yang intens memanggilnya dengan ucapan seperti itu apalagi memegang wajahnya. Hanya Bilmar yang bisa seperti ini kepadanya, coba saja kalau lelaki lain, pasti sudah remuk tulang belulangnya.
"Benar-benar nih cewek buang-buang waktu aja! Tinggal bilang iya apa susahnya sih? Cewek-cewek yang lain berlomba-lomba untuk jadi pacar gue, nah elo, udah gue tembak, masih mikir segala, Ck!" umpat Bilmar kesal namun raut wajahnya tetap lembut menatap Alika.
Ia mengelus-elus rambut Alika yang jatuh terurai melewati bahu. Deruan napas Alika sudah berantakan sedari tadi, dan Bilmar terkekeh karena itu.
"Mulai kepancing kan? Siapa suruh jual mahal." decaknya sedikit malas, namun hanya hatinya yang bisa mendengar.
"Gimana, Yang?" Bilmar semakin menggoda Alika dengan panggilan itu, ia tahu Alika sedang terbang ke puncak nirwana karena bahagia. Jari-jarinya masih saja memainkan helaian rambut Alika, menyampirkan nya ke belakang telinga. Bilmar semakin berdecih geli ketika melihat tangan Alika mengepal kuat diatas roknya.
"Gugup kan lo, hahaha." Bilmar ingin tertawa, namun sebisa mungkin ia tahan.
"Cepetan jawab, kalau enggak, gue cium nih." akhirnya Bilmar mengeluarkan suaranya, tentu saja disusul dengan delikan tajam oleh Alika.
"Jangan melotot gitu ah, Yang. Serem---kayak setan!" ucap Bilmar, lalu disusul dengan smoke eyes dari matanya.
Alika hanya menggelengkan kepalanya, seraya meminta kepada rohnya untuk tersadar dari euforia yang makin membuncah sukmanya.
__ADS_1
"Makasih, Bil. Karena lo udah suka sama gue---"
"Lo, gimana? Suka juga kan?" selak Bilmar.
Alika mengangguk. "Iya, Bil. Gue sayang sama lo."
Mendengar jawaban itu, harusnya Bilmar senang karena misinya akan berhasil, tetapi jauh dari semua itu ada rasa bersalah yang menyelimuti batinnya.
"Maafin gue ya, Al. Mungkin lo akan sakit hati setelah ini." kata hati Bilmar.
"Tapi gue nggak boleh pacaran sama orang tua gue, Bil." sambung Alika sendu. "Mereka bilang gue harus fokus belajar, karena bentar lagi kan ujian nasional dan---"
"Lo mau ikut tes beasiswa ke London?" lagi dan lagi Bilmar menyelak. Wajahnya terlihat antusias, namun sedikit meredam karena Alika menatapnya mulai dengan rasa curiga.
"Maksudnya?" Alika menautkan alisnya menjadi satu.
"Ooh enggak, Yang. Gue nanya aja."
"Hem." hanya itu respon dari Alika, ia tidak terlalu memikirkan ucapan Bilmar, padahal pertanyaan tadi sangat penting bagi lelaki itu untuk ia jawab.
"Emang ada yang suka sama lo juga?" Alika membulatkan kedua matanya. Wanita ini memang benar-benar polos mengalahkan sosok bayi yang baru lahir.
"Ada, si Intan, Kamel, Ulfa, Dian, Lulu banyak deh lupa gue, gak bisa ke hitung." jawabnya serius, padahal ia hanya asal sebut.
"Sebanyak itu? Masa sih?" Alika berdecak, ia mulai tidak suka ketika Bilmar menyebutkan nama-nama wanita itu.
"Emang bakalan lo terima?" sambung Alika cepat, ia butuh jawaban Bilmar untuk menghancurkan keraguan di kepalanya.
"Kalo lo nolak gue, ya untuk apa gue lanjutin perasaan sama lo, mending sama yang lain, bisa berduaan di motor, makan berdua terus juga nonton, dan----"
"Ii-yya, iya, gue mau jadi cewek lo, Bil." Alika meletakkan satu jari dibibir nya untuk mengakhiri ocehan Bilmar yang membuat ubun-ubunnya seperti mendidih.
Baginya lebih baik menjalankan hubungan diam-diam, dari pada harus menahan api cemburu karena melihat orang yang kita cintai dengan yang lain.
"Nah gitu dong, gue kan jadi makin sayang sama lo." ucap Bilmar dengan wajah jumawa. Ia mengacak pucuk rambut Alika dan melepaskan kecupan hangat di sana.
"Mulai hari ini lo resmi ya jadi pacar gue!"
__ADS_1
Alika mengangguk dan tersenyum. "Iya, Bil. Mulai hari ini kita pacaran, panggilnya bisa nggak, Aku-Kamu aja?" pinta Alika dengan suara selembut kapas.
"Oh iya gue---eh aku lupa. Ya udah nih masukin nomor ponsel kamu di hape aku." Bilmar menyodorkan ponsel Nokia yang termahal di tahun ini. Alika meringis, memberikan senyum sedih. Ia mendorong ponsel itu kembali kepada Bilmar.
"Maaf, Bil. Tapi aku nggak punya hape." jawab Alika dengan wajah malu.
"Oh ya udah kalau gitu gampang, aku bisa beliin buat kamu."
Alika menggelengkan kepalanya cepat. "Jangan, Bil. Nanti kamu dimarahin orang tua kamu."
"Udah tenang aja enggak usah pake segala gak enak. Biar malam sebelum tidur aku bisa Nina boboin kamu dari jauh, Yang." Bilmar kembali menggoda, wajah Alika kembali memerah seperti tomat.
"Lucu deh." Alika ingin menjawil pipi Bilmar namun tangannya tertahan di udara, ia urung untuk melakukannya.
"Kenapa kok nggak jadi?"
"Aku masih nggak enak sama kamu, Bil." Alika menurunkan tatapannya untuk menjauh dari bola mata gelap nan pekat milik lelaki yang saat ini sudah sah menjadi kekasihnya.
"Ngapain malu? Langsung di cium juga nggak apa-apa, Yang. Nih, tinggal pilih mau dimana? Di sini?" Bilmar menunjuk kedua pipinya. "Atau di sini?" Bilmar menurunkan jarinya untuk bersandar di katupan bibirnya.
"Apaan sih, Bil!" Alika mendadak jenga. "Mesum deh kamu!" sambungnya.
Bilmar berdecak tawa. "Bagus dong, itu tandanya aku masih normal, lagian kan mintanya juga sama pacarku sendiri, mau aku minta ke cewek lain----"
Dengan gerakan cepat, dan segala kekuatan serta keberanian.
Cup.
Alika mencium pipi Bilmar dengan singkat. Ia tidak mau lelaki itu berpaling kepada wanita lain. Jika Alika bersikap seperti ini terus, ia akan semakin mudah untuk diperdaya oleh Bilmar, dan tujuannya untuk memanfaatkan Alika bisa terlaksana dengan baik.
****
Tadi tuh aku fikir episode ini nggak akan kelar ditulis hari ini, eh tapi berkat doa kalian akhirnya selesai juga.
Si kamprett kasih seneng dulu aja yah mainin Alika, sebelum dia yang nangis-nangis sampai terbengek-bengek karena diputusin😂😂
Bagi yang selalu mau, cerita mereka lanjut like dan komennya jangan lupa ya. Enggak minta poin, koin atau vote kok. Hanya dua hal itu aja, untuk menghargai aku agar selalu bisa memanjakan mata kalian dengan cerita mereka, maacih❤️
__ADS_1