
"Tapi maaf, Bil. Aku enggak bisa kayak dulu."
Sontak mendengar ucapan itu membuat Bilmar semakin meronta dan merengek. Pemuda tampan itu melepaskan pelukannya dan menangkup kan kepala di pangkuan Alika. Bilmar terus menggenggam erat tangan Alika yang terasa sudah dingin.
Bagaimana tidak dingin, Alika terpaksa mengatakan hal itu. Membohongi hati dan perasaanya. Malah saat ini ia ingin sekali memeluk Bilmar untuk menenangkan hatinya.
Pangkal bahu Bilmar yang terus bergerak naik turun, seirama dengan isak tangis yang sedang ia keluarkan.
"Tega banget Alika, Bilmar udah sampai kayak gitu masih aja dia gak mau terima lagi!" bisik Nino kesal.
Dion tergugu menatap sedih sahabatnya. "Berjuang ya, Bila. Gue doain semoga Alika mau nerima lo lagi ... pacaran lagi! Ya semoga aja kalian berjodoh sampai ke jenjang pernikahan."
"Aamiin." timpal Nino.
Samar-samar kedua tangan yang masih kaku, Alika angkat untuk mengelus punggung Bilmar. Merasakan sentuhan hangat itu, Bilmar semakin menangis. Ia tahu wanita ini masih mencintainya, dan ia tahu Alika masih terluka.
"Jangan menangis, Bil. Hidup kamu masih panjang. Siapa tau akan bertemu lagi wanita yang lebih dari aku." ucap Alika.
Bilmar hanya menggeleng-geleng kan kepala dan terus saja menangis. Hatinya seperti tertusuk ribuan jarum.
"Aku gak mau yang lain, aku mau nya kamu!" jawab Bilmar. Kemudian ia mendongak dan menatap Alika. Bilmar pun tercengang melihat gumulan air bening sudah berada di kelopak mata wanita itu.
"Kita berbeda, Bil." keluh Alika.
"Tapi, Al. Allah saja tidak pernah membedakan umatnya."
"Tapi kamu bukan Allah yang maha sempurna, Bil! Apa yang kamu ucap kemarin itu---"
"Sst!!" Bilmar meletakan dua jarinya di bibir Alika yang masih menganga. "Aku hanya asal ucap, biar Dion percaya. Harus dengan cara apa sih, biar kamu mau melupakan itu?"
"Siswa yang nilai ujiannya jelek aja, masih diberi kesempatan untuk di remedial atau seorang perampok aja masih bisa menjadi ahli agama setelah bebas dari penjara. Apakah aku enggak bisa mendapatkan kesempatan untuk berubah?" sambung Bilmar tegas.
"Aku enggak akan pergi ke London! Aku ingin kuliah di sini aja, biar dekat sama kamu." Bilmar mengeluarkan jurus andalannya. Ia sudah kehabisan cara untuk merayu Alika. Entah mengapa ia selalu terbayang perkataan Alika yang tidak bisa memadu kasih dalam hubungan jarak jauh.
"Jangan hilangkan mimpi kamu hanya karena aku, Bil."
"Kamu tuh mimpi aku sekarang, makanya aku ingin buat jadi nyata! Tolong, Al. Terima aku lagi." Bilmar terus memohon dan mengiba. Selama pemuda itu hidup, ia belum pernah mengemis-ngemis seperti ini kepada siapapun.
"Kamu masih sayang sama aku, kan?" tanyanya lagi.
Alika, si wanita berhati tulus itu kemudian hening sesaat. Ia memilih menundukkan kepalanya dan memejamkan mata sebentar. Seraya berfikir, apa yang harus ia jawab. Tidak mangkir, kalau di sudut hatinya masih sangat mencintai lelaki ini.
Apa kamu sudah siap melepasnya? Kalau setelah ini ada yang mendekatinya, apa kamu akan rela?
Dewi Fortuna terus berbisik di telinga Alika. Dadanya menjadi sesak, kepalanya terasa penuh. Tentu ia tidak akan rela.
"Al?" seru Bilmar pelan. Kemudian menoleh ke arah Nino dan Dion yang tengah bersuara seperti memberikan kode kalau Bilmar jangan dulu menganggu nya.
"Tunggu dulu, kasih kesempatan untuk Alika berfikir." ucap Dion hanya dengan gerakan mulut tanpa terdengar sama sekali. Di iringi anggukan kepala oleh Nino. Bilmar pun menurut dan kembali tenang. Ia menunggu apa jawaban Alika.
__ADS_1
Dan tak berapa lama.
Alika kembali mengangkat wajahnya, ia membuka katupan mata dan menatap bola mata Bilmar dalam-dalam. Dengan helaan napas panjang ia pun akhirnya menjawab.
"Iya, Bil. Aku masih sayang sama kamu." jawab Alika.
Garis senyum Bilmar terangkat sempurna. Raut nya berbinar. Ia sudah yakin, wanita ini pasti masih mencintainya.
"Aku udah yakin, Al. Kamu pasti masih sayang."
"Tapi aku yang gak yakin sama kamu, Bil."
Senyum yang sedari tadi sudah merekah kini kembali redup. "Apa dengan kondisi aku yang seperti ini, belum cukup membuat kamu yakin?"
"Mungkin aja kan kamu hanya sedang menyesal karena merasa bersalah? Bukan karena benar-benar menyayangi aku?"
Bilmar membuang napas nya kasar, mengusap wajahnya gusar. Sulit sekali untuk meyakinkan wanita ini.
"Kamu keras kepala banget sih, Al?" cicit Bilmar sendu.
"Tuhan aja maha pengampun dan pemaaf. Mempunyai kekuasaan dan kekuatan melebihi apapun. Masih mau menerima hambanya yang berlumur dosa untuk bertobat. Masa kamu yang hanya manusia enggak bisa kasih aku kesempatan?" Bilmar terus memaksa. Ia sama sekali tidak melepaskan tangan Alika yang sejak tadi ia genggam kuat-kuat.
"Pacaran lagi ya sama aku. Tolong, Al. Apa aku harus sujud di kaki kamu? Iya? Kamu mau nya gitu, Al? Oke! Aku lakuin buat kamu." dia yang bertanya, dia juga yang menjawab. Ia pun beringsut turun dari ranjang untuk berjongkok dibawah kedua kaki Alika.
"Ja--ngan kayak gini, Bil. Ayo bangun!" Alika terkesiap. Ia memegang kedua lengan Bilmar mencoba untuk membuat lelaki itu bangkit dan berdiri.
Alika terenyuh, hatinya kembali berdesir. Melihat Bilmar terus memohon dengan air mata yang terus berulang-ulang keluar membasahi wajahnya.
"Baiklah, Bil. Aku akan beri kamu kesempatan lagi."
Gelak tangis Bilmar terhenti, ia mendongakkan wajahnya untuk menatap Alika.
"Jadi kita pacaran lagi, Al?"
Kedua mata Nino dan Dion pun membola sempurna, menunggu jawaban dari Alika.
Alika menggelengkan kepala, dan Bilmar kembali menekuk wajahnya. "Kenapa sih gue bisa cinta sama wanita berkepala besi kayak gini?" Bilmar membatin.
"Terus maksudnya gimana sih? Aku gak faham sama kamu." ucap Bilmar frustasi. Lelaki itu gemas. Kalau bisa ia ingin menggigit pipi Alika agar menangis dan mau menerimanya.
Alika terus menurunkan tatapannya untuk menatap Bilmar ke bawah, dan lelaki itu terus mendongak sampai tengkuk lehernya terasa pegal dan berat.
"Siram, Bil. Tayii-nya udah penuh tuh." seru Nino, dan gelak tawa dua lelaki itu meraung-raung didalam kamar.
"Jongkok lama-lama, awas ambeyenn, Bil." sambung Dion.
"Diem lo!" Bilmar bangkit berdiri dan meraih bantal untuk menimpuk dua sahabatnya yang masih tertawa terpingkal-pingkal meledeknya.
"Bil, jangan!" Alika ikut berdiri dan meraih bantal dari tangan Bilmar. "Ayo duduk!"
__ADS_1
Bilmar mendengus kesal menatap Dion dan Nino yang masih meledek dirinya. Alika menepuk-nepuk bagian kosong disebelahnya dan akhirnya Bilmar menurut untuk duduk.
"Kamu gak kasian sama aku, Al. Kalau kamu tolak aku, dua monyet betina itu bakal ngolok-ngolok aku sampai tua!"
"Enak aja lo monyet betina! Ada batang paku nya nih---Jaguar tulen, ya gak broh?" Nino menerobos ucapan Bilmar kepada Alika lalu melirik kepada Dion.
"Yoi, Broh! Jaguar berambutt" Dion tertawa sarkas.
"Diem bangsatt!" kelakar Bilmar. Ia kembali menatap Alika dan memasang wajah memelas.
"Gimana, Al? Kasih kesempatan aku untuk kita kayak dulu ya."
"Aku akan beri kamu kesempatan dalam waktu satu bulan! Tunjukan rasa cinta dan perhatian kamu. Biar aku bisa percaya kalau kamu benar-benar sayang, dan mungkin kita akan---"
"Akan pacaran lagi, Al?" selak Bilmar.
"Iya, Bil." jawab Alika singkat.
"Tapi kenapa sebulan? Lama banget, Al. Bisa nggak dua hari?" ucap Bilmar polos.
"Lo pikir belanja di pasar, nawar?" gelak tawa Nino dan Dion kembali terdengar.
"Diem lo! Gue kuncir juga burung lo!" decak Bilmar menoleh kepada dua lelaki itu.
"Bil ..." Alika mengelus bahu Bilmar.
"Iyaudah, Al. Nggak apa-apa. Aku akan berjuang!" jawab Bilmar dengan wajah sumringah. Ia kembali meraih tangan Alika untuk dikecup beberapa kali.
"Aku tunggu perjuangan kamu." Alika tersenyum menatap lelaki itu.
"Makasih ya, Al. Makasih sayang." ucap Bilmar lalu kembali mendekap tubuh mungil Alika.
"Lah udahan acara termehek-mehek nya?"
"Iya nih, si Mandala nya aja masih otewe." Dion dan Nino kembali tertawa.
"BODO AMATT!" Bilmar menjulurkan lidah ke arah mereka berdua. Tidak perduli apa yang diucapkan oleh Nino dan Dion, yang jelas hatinya kembali tenang dan temaran.
Dan kemudian
Suara deheman dari ambang pintu, seketika membuat Bilmar dan Alika melepaskan pelukan mereka. Alika mendorong tubuh Bilmar untuk menjauh.
"Mah ..." seru Bilmar.
*****
Kalau Komennya diatas 200 dan like lebih banyak dari kemarin. Akan aku UP lagi❣️
Hanya dengan itu buat aku senang dan semangat, maacih kesayangan. Sehat selalu kalian dimanapun berada ya.
__ADS_1