MantanKu PresdirKu SuamiKu 3

MantanKu PresdirKu SuamiKu 3
Musim 2 : Mau Enggak Kita Temenan?


__ADS_3

Keinginan dan keputusan Bilmar tetap satu. Ia tetap ingin mengeluarkan anak lelaki nya dari sekolah. Namun pihak sekolah dan wali murid terus membujuk agar Ammar tidak dikeluarkan.


Ammar adalah anak yang sangat berprestasi, cerdas dan tangkas. Beberapa kali ia memenangkan olimpiade matematika ditingkat sekolah dasar antar kota.


Sampai kepala sekolah menawarkan, akan memindahkan teman-teman yang dianggap membuat ulah ke kelas lain. Sehingga Ammar bisa fokus dan tenang.


Dan Ammar serta Alika menyetujuinya. Walau Bilmar masih saja susah untuk diajak kerja sama. Tiap malam pasangan suami istri itu selalu saja cekcok. Bilmar takut anaknya depresi, maka ia ingin menjauhkan Ammar dari lingkungan sekolah tersebut.


Alika tetap mengantarkan Ammar ke sekolah, dan menungguinya sampai selesai. Anak lelakinya itu juga sudah mulai riang, bisa bermain walau hanya dengan sedikit teman.


Hari minggu seperti ini, biasanya Bilmar akan membawa anak-anaknya untuk jalan-jalan. Tapi Alika enggan. Ia meminta untuk tetap dirumah, ingin membuat kue dan barbeque-an di taman belakang.


Ingin berkumpul dengan semua orang di rumahnya. Papa Luky, Binara, Rendi dan Gadis juga akan datang. Sedangkan Papa Bayu masih berada di Labuan Bajo, lelaki tua itu masih saja berwisata ria dengan para teman-temannya.


Alika terlihat bolak-balik dari taman ke dapur. Ingin memastikan kue yang sedang ia panggang bisa mekar dengan baik. Belum lagi ia sedang menyiapkan daging-daging, ikan dan aneka seafood untuk di bakar.


Seruan anak-anak terdengar bersama Papanya di taman belakang.


"Pah, Adek dong ..." seru Ammar dengan tangan terjulur-julur ke atas untuk meraih benang transrparan yang sedang ditarik ulur oleh Bilmar. Lelaki itu sedang memainkan layangan besar berbentuk capung.


"Nanti, Dek. Ini belum tinggi." jawab Bilmar.


Ammar bisa riang gembira juga sudah berkumpul dengan Mama, Papa dan Kakaknya. Walau ia harus menelan pil pahit, karena sampai saat ini belum benar-benar menemukan teman main yang cocok.


"Ahh ..." Maura menarik jarinya dan mengecup beberapa kali. Tidak sengaja tangannya terkena arang, ketika membolak-balik tusukan cumi dan udang.


"Biarin aja dulu, Kak. Jangan dibolak-balik, masih panas. Nanti tanganmu kena." ucap Alika yang baru sampai di depan alat pembakaran daging. Ia menatap jari Maura dan mengusapnya. "Sakit, enggak?"


"Panas dikit doang, Mah. Enggak apa-apa kok."


Di saat keluarga itu sedang asik dengan aktivitas mereka, tiba-tiba ada suara salam yang membuat mereka berempat menoleh ke ambang pintu.


Ada Dion dan Istri, serta Nino, Farhan dan Hana. Sontak melihat Farhan, Ammar langsung bersembunyi dibelakang tubuh Papanya. Anak itu masih takut melihat Farhan. Farhan juga sebagai salah satu anak yang dipindahkan ke kelas lain.


Melihat reaksi Ammar, membuat Nino menatap sedih. Ia tidak menyangka, Ammar akan begitu stress dengan kelakuan anak nya.


Alika tetap berusaha baik menerima kedatangan mereka yang tidak mengabari dulu jika mau datang.


"Duh kok enggak ngabarin dulu, kan aku bisa nyiapin yang lain." Alika bersalaman dengan mereka semua.

__ADS_1


Para istri hanya tertawa sambil menyerahkan jinjingan makanan yang mereka bawa. Sedangkan Dion, Nino dan juga Farhan menghampiri Bilmar dan Ammar.


Bilmar hanya memberikan senyuman tipis. Rasa kecewa kepada Farhan memang masih jelas terlihat. Dan Nino faham akan hal itu. Ia tidak mau hanya karena anak, persahabatan di antara mereka kacau balau.


Karena setelah kejadian itu, Bilmar tidak pernah lagi mau membalas bercandaan mereka di grup whatsaap. Membuat Nino dan Dion menjadi getir, terlebih utama Nino yang merasa mempunyai andil besar dengan perubahan sikap Bilmar.


"Om ..." Farhan mencium tangan Bilmar.


"Iya, Nak." Bilmar tetap menjawab dan tersenyum. "Kok kalian bisa datang barengan gini, enggak ngomong dulu?"


"Sengaja, Bil. Kita berdua kangen sama lo." Nino menghentak bahu Bilmar, dan iringi anggukan kepala oleh Dion.


"Adek, ayo salim dulu sama Om." Bilmar menitah Ammar. Tapi bocah lelaki itu menggeleng, ia masih memegangi kain baju Papanya dari belakang.


"Farhan ..." seru Nino.


Anaknya mengangguk tanda faham, harus melakukan apa sekarang. Karena tujuan Nino kesini, agar Farhan bisa meminta maaf dan mengenal dekat dengan Ammar. Ia tidak mau kedua anak itu berkelahi dan bermusuhan.


"Ammar ... Maafkan aku ya, aku menyesal." ucap Farhan. "Sebenarnya aku enggak benci kok sama kamu. Hanya aku suka kesal, karena kamu lebih jago berlari ketika pelajaran olahraga ... Maaf ya, mau gak kita temenan?" nada suara Farhan terdengar sangat jujur dan manis. Ia menyodorkan sebuah godie bag kepada Ammar yang masih saja bersembunyi.


Hening. Ammar hanya diam sambil menarik-narik baju Papanya. Mendengar tidak ada respon, Farhan kembali mendongak ke belakang menatap wajah Papanya. Nino tetap tersenyum, sambil mengelus rambut Farhan. "Sabar, Nak. Bujuk terus."


Semua tertawa melihat aksi konyol dari kedua anak lelaki itu. Farhan tersenyum senang, dan melingkarkan jari kelingkingnya di kelingking Ammar.


"Apakah kita sudah bisa berteman?" tanya Farhan. "Kita baikan ya."


"Iya." jawab Ammar dengan nada pelan. Ammar menarik diri untuk keluar dari persembunyiannya, yaitu dibalik tubuh Bilmar.


"Ini buatmu dariku." Farhan menyodorkan godie bag itu kepada Ammar.


"Apa ini?" tanya Ammar, berusaha membuka.


"Puzzle."


"Wah ..." Ammar berseru senang. "Ayo ke kamarku, kita bermain di sana." ajak Ammar. Tanpa memandang para orang tuanya lagi. Ammar dan Farhan yang baru saja berbaikan langsung berlalu menuju kamar.


"Bah, mahal banget tuh mainan. Nanti mah kalau anak gue udah lahir. Gue kasih aja kulit mengkudu, buat mainan. Pasti udah senang. Haha." kelakar Dion. Ketika ia tahu kado yang dibawa oleh Farhan untuk Ammar sangat mahal. "Tapi kalo lo pada mau ngado pas anak gue lahiran, yang mahalan ya. Kan lo berdua kaya." Dion memaksa.


"Dasar Bapak sarap. Di kira anak sakit kolesterol kali, dikasih kulit mengkudu." balas Nino. Bilmar pun ikut tertawa, rasanya kembali lega dengan perihal Ammar barusan. Ia jadi bersemangat untuk menimpali candaan dua temannya.

__ADS_1


"Orang gue cuman mau kado sempakk satu." ucap Bilmar.


"Sama, sabun bayi aja yang batangan." sahut Nino.


Mereka kembali tertawa terbahak-bahak. Dion hanya bisa memiringikan sudut bibir dan menggeleng melihat kelakuan para sahabatnya. "Enggak usah ngasih, itu mah cuman bikin sakit gigi "


"SAKIT HATI!" seru Bilmar dan Nino lagi.


"Pas anaknya lahir pasti banyak tidur deh, Nin." ucap Bilmar.


"Ngapa? Kok gitu?" Dion menautkan alis.


"Setiap buka mata, tuh anak bakal kaget. Lah, masih ini Bapak gue? Belum ganti? Mending tidur aja ah, bangun-bangun SD. Kali aja emak gue nikah lagi, ganti Bapak deh." ucap Bilmar.


"Dih tokek!" decak Dion.


"Bener, Yan. Anak lo bakal sawan. Kucing tetangga aja pada matikan pas masuk rumah lo?" timpal Nino.


"Itu beda cerita, Begoo! Itu kucing emang mau mati aja di rumah gue."


"Kasian tuh kucing. Langsung ketemu sama Malaikat. Sial banget berarti muka lo, Yan."


Dion mendengus malas mendengar celotehan mereka berdua. "Anak gue perempuan. Awas lo pada suka."


"Eh taunya bakal jodohan sama anaknya si Evi. Buahaha."


Bilmar dan Nina kembali berseru. "Dih amit-amit!! Jangan sampe!" Dion langsung komat-kamit tidak jelas. Ia merinding jika benar anak nya dan anak mantan istrinya bisa berjodoh.


"Aku menikah dengan suamiku. Anak dari wanita yang telah menikah dengan Ayahku." Bilmar mencoba menyusun kalimat itu.


"Mirip, Bil. Kayak di channel tv, Ikan gurame berendam. Curahan hati para mertua." ucap Nino.


"Suara hati istri, njirrr." jawab Bilmar.


"Bangsatt sulalat!" sebelum Dion benar-benar melepas sepatu dan melemparkannya kepada dua sahabatnya itu. Bilmar dan Nino lebih dulu berlari untuk menjauh.


Dan gelak tawa para Ayah itu kembali menggema di udara bebas dengan hembusan angin yang menyejukkan.


***

__ADS_1


Like dan Komennya jangan lupa yah😘🤗


__ADS_2