
Setelah mahligai cinta yang Bilmar dan Alika lakukan semalam. Membuat dua pasangan suami istri itu terus menebar senyum tanpa surut. Wajah mereka bersinar-sinar, dengan tebaran kupu-kupu menancap indah di relung hati yang paling dalam.
Bilmar memutuskan untuk mengantarkan istrinya ke kampus hari ini. Ia bilang Alika tidak usah bawa mobil karena ia akan menjemputnya lagi setelah pulang dari kampus.
Bahagia sekali Bilmar seperti orang kembali merasakan jatuh cinta. Bagaimana tidak, pagi ini rambutnya kembali basah dengan hati yang begitu temaran.
"Makasih ya, Pah. Udah anterin Mama." ucap Alika lalu mengecup pipi suaminya. Mengelus lembut pipi itu dan tersenyum.
"Iya sayang." jawab Bilmar meraih pergelangan tangan Alika dan mencium punggung tangannya.
"Pah, tapi maaf ya. Nanti kita gak bisa makan siang bareng."
"Mama dan Kiki, ada makan siang bersama dengan para pemegang saham, untuk membicarakan cabang kampus yang baru. Ada masalah sedikit, Pah." sambung Alika, meyakinkan suaminya.
Walau Bilmar sedikit kecewa karena hari ini tidak bisa makan siang dengan istrinya.
Tapi ia tidak marah, ia harus bisa bernego dengan hatinya. Harus sabar untuk memahami kesibukan istrinya, jika Alika punya dunia luar yang harus ia dukung.
"Iya, Mah. Gak apa-apa. Papa ngerti kok." jawab Bilmar. Ia berusaha untuk membuktikan janjinya kemarin, akan menerima apapun kesibukan istrinya. Karena memang selama ini Bilmar selalu mengeluh di awal, walupun pada akhirnya ia menyetujui itupun kalau Alika sudah meronta dan memohon. "Ada yang bisa Papa bantu?"
Alika tersenyum menatap suaminya. Semburat diwajahnya memberikan tatapan senang. "Makasih, Pah. Tapi nanti aja, kalau Mama bener-bener gak sanggup."
Bilmar mengangguk. "Ya udah kalau gitu, hati-hati ya." ucapnya. Alika menunduk sedikit untuk mencium punggung tangan suaminya dan kembali mendongakkan wajah, seperti biasa Bilmar akan melepas kecupan hangat di sekitar wajahnya.
"Papa hati-hati dijalan ya, kalau udah sampai di kantor, whatsapp Mama ya." titah Alika. Lalu ia beranjak turun dari mobil dan melangkah menuju pintu utama kampus. Bilmar terus menatap kepergian istrinya.
Wanita yang disepanjang langkahnya terus menebar senyum ramah kepada para mahasiswa yang akan bertitel sebagai perawat. Mahasiswa dan dosen yang bertemu dengannya akan menundukkan kepala sebagai tanda hormat.
******
Bilmar masih terduduk di kursi kerja, sambil menatap jendela luas yang membentang di ruang kerjanya. Jendela yang bisa memperlihatkan para karyawannya dari ketinggian sepuluh lantai dari tempatnya.
Terlihat para karyawan tengah bergelut dengan sekumpulan baja, besi dan logam. Banyak kontainer yang masuk ke dalam kawasan Eco Group. Serta craine yang sedang mengakut baja di udara. Bilmar tersenyum dan tak henti berucap syukur.
Ia memutar kursinya untuk kembali menatap meja. Memencet tombol intercom.
"Hallo, Pak." suara Katherine terdengar setelah nada sambung menghilang.
__ADS_1
"Apakah setelah jam istirahat, ada rapat yang masih harus saya hadiri?" tanya Bilmar.
"Tidak ada lagi, Pak. Besok baru ada."
Bilmar tersenyum mendengar jawaban Katherine. "Baiklah, kalau begitu saya akan pulang cepat, sebelum makan siang." tutur Bilmar.
"Baik, Pak."
Sambungan telepon antara dirinya dengan Katherine pun terputus. Kemudian Bilmar bergegas meraih gawainya dari kantung balik jas.
Menekan icon video call dengan tujuan nomor telepon Nino dan Dion. Meletakan ponsel itu di dekat gelas, agar bisa menyangga bagian belakangnya. Sehingga dengan mudah bisa bercakap-cakap dengan para sahabatnya.
Namun mencoba beberapa kali dua sahabatnya tidak urung mengangkat. Ia sedikit menghela napas karena kecewa.
"Mereka lagi sibuk kayaknya." gumam Bilmar lalu mematikan sambungan video call tersebut. Ia kembali menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dan melipat kedua tangan dikepalanya. Tersenyum kembali sambil menutup mata, mengingat-ingat bagaimana desahan istrinya tadi malam.
Ddrt drrt
Ponsel Bilmar bergetar. Ia membuka mata dan meraih gawai yang ia letakan sembarang di meja.
[ Maaf, Bila. Gue tadi lagi operasi, ini baru kelar, ada apa?]
[ Abis ini lo praktek lagi, Nin?]
[ Udah selesai, nanti sore gue baru praktek lagi. Ada apaan?]
[Nongkrong yuk, di tempat shootingnya si Dion. Sekalian gue traktir makan siang]
[Udah baikan sama Alika?]
[Nanti gue ceritain, lo siap-siap berangkat. Jam 11 gue tunggu di sana]
Begitulah percakapan antara Nino dan Bilmar. Bilmar tahu Dion sedang sibuk dengan garapan Film terbaru nya yang sebentar lagi akan launching. Membuat lelaki itu menjadi sibuk terus dan tidak terlalu fokus ke gawai.
****
"Eh David! Mata lo yang fokus dong! Mata lo harus berbicara! Berbicara---" seru Dion kepada David, si pemeran utama di filmnya. Terlihat urat-urat leher begitu saja menyembul ketika Dion berbicara kepada David.
__ADS_1
"Mata tuh buat ngeliat! Bukannya buat ngomong ... Udah kegeser kali otaknya." ucap Nino. Dan mereka berdua tertawa terbahak-bahak bersamaan. Geli sekali rasanya ketika mendengar arahan Dion kepada para pemainnya.
"Lo lihat deh tuh, pemain nya. Kaya pengen ngompol gitu karena takut." sambung Bilmar. Dan Nino kembali terkekeh.
Mereka memang sudah datang di lokasi shooting di perkemahan Cibubur. Walau sekarang sudah siang dan panas terik di berbagai kota, tapi suasana nya di tempat ini begitu sejuk dan adem, karena banyak pepohonan rindang yang tumbuh di sini. Tentu mereka bisa pergi berkumpul karena sudah mendapat izin dari para istri-istri mereka, Alika dan Hana.
Banyak para pemain cadangan melempar senyum kearah Bilmar dan Nino. Dua pria ganteng yang tengah duduk di kursi yang sudah di siapkan Dion di bawah pepohonan.
"Itu anak-anak kremesan ayam mau di jadiin apaan ya? Kok pake bajunya begitu?" bisik Bilmar kepada Nino. Ia memberikan senyuman tipis ke arah mereka, para wanita yang masih berumur tujuh belasan.
"Sesuai judulnya film nya lah, anak naga betina. Pada jadi anak naga kayaknya." sambung Nino dengan tawa yang masih melebar.
"Pantesan pada pakai ekor-ekoran, udah kaya duyung." ucap Bilmar sambil menyesap kaleng fanta di mulutnya.
"Mana duyung?Itu mah mirip sama walang sangit."
Dan gelak tawa mereka kembali membuncah.
Tak lama kemudian, Dion menoleh ke arah mereka. Dan melambaikan tangan.
Nino dan Bilmar mengerutkan kening.
"Ngapain tuh si kura-kura manggil kita?" tanya Nino.
"Lo samperin sana gih." jawab Bilmar.
"Ama elu lah, Bil." Nino menghentak bahu Bilmar.
"Kagak ah, gue di sini aja. Ngapain juga gue kesana-sana. Banyak orang gitu berkerumun." jawab Bilmar. Kata Bilmar menolak, Nino pun urung untuk beranjak. Seketika hati mereka jadi tidak enak.
Melihat teman-temannya tidak ada yang mau bangkit untuk menghampirinya. Dion menghela napas sebelum akhirnya melambaikan tangan lagi.
"Apan sih si kura-kura minion ... Manggil kita mulu." decak Nino.
Bilmar tertawa lalu melambaikan tangan ke arah Dion, meminta lelaki itu saja yang menghampiri mereka.
*****
__ADS_1
Mau ngapain tuh si Dion?😂
See you again gengss, sehat selalu ya❣️