MantanKu PresdirKu SuamiKu 3

MantanKu PresdirKu SuamiKu 3
Musim 1 : Akhirnya Aku Bisa Cium Kamu


__ADS_3

[Bakar ban motornya! Buat dia pulang enggak pakai baju dan celana]


Pesan yang baru saja ia ketik , lalu di kirim kepada dua sahabatnya, Nino dan Dion. Ia ingin menghukum Fandi karena perbuatannya yang cukup sialann membuat dampak yang tidak baik untuk mereka berdua.


Dan tak lama kemudian balasan pesan masuk dari keduanya.


[Oke siap! Telanjang bulat?]


[Sisain celanaa dalam aja!]


[Oke, Bil, Alika gimana?]


Bilmar terdiam sejenak, ia kembali menatap Alika yang sedang tertidur di atas kasur. Dirinya masih berdiri dibalik tralis jendela luar.


[Doain]


Setelah mengirim pesan singkat itu, ia kembali memasukan gawai nya kedalam saku celana. Sejak Mama Alisa memukuli Alika, Bilmar memang sudah berada di sana. Merekam jelas perlakuan calon mertuanya itu. Hatinya teriris, pedih dan sakit. Kalau bisa, dirinya saja yang di pukul.


15 menit yang lalu ia melihat Mama Alisa kembali pergi ke Rumah Sakit, sepertinya melanjutkan jam dinas nya yang sudah terbuang karena kejadian Alika di sekolah. Bilmar pun sudah kembali dari Indojanuari. Membawa kan banyak makanan untuk sang kekasih hati.


"Sayang ... Alika." Bilmar terus berbisik. Menyerukan nama Alika pelan-pelan. Ia beruntung, karena posisi kamar Alika menghadap kebun, jauh dari para pintu rumah tetangga.


"Alika ..." Bilmar tidak patah arang. Ia tetap membangunkan Alika.


Menangis selama satu jam, dengan sakit yang menggema di seluruh tubuh. Membuat gadis itu letih dan mengantuk. Seragam dan sepatu sekolahnya saja belum ia buka.


"Sayang ... Kayak kebbo sih tidurnya, gak bisa dibangunin." decak Bilmar. Ia pun membuka tas dan menyobek beberapa kertas dari bukunya. Lalu ia remas-remas dan siap untuk dilempar ke arah Alika.


"Maaf ya sayang kalau sakit, aku terpaksa." Bilmar yang mempunyai telapak tangan kekar karena sering bermain basket, melemparkan remasan kertas itu dengan sekuat tenaga.


Pakk.


Tepat mengenai kepala Alika.


Alika mengerjap cepat kedua bola matanya sambil memegang dadanya. Wajahnya terlihat panik, kaget dan takut.


"Sayang!" akhirnya gadis cantik itu menoleh dan tersenyum melihat Bilmar di luar jendela. Ia pun bangkit menuruni ranjang dan menghampirinya.


"Kok kamu bisa di sini, Bil. Sejak kapan? Ayo sana pulang, nanti Mama marah kalau lihat kamu." ucap Alika. Kedua tangannya masih memegang tralis jendela. Persis seperti anak yang sedang dipenjara.


"Kamu tenang aja ya, Mama kamu tadi pergi kerja lagi."


"Oh gitu." Alika mengangguk.


"Badannya sakit ya?" tanya Bilmar.


Hal yang seharusnya tidak perlu ia ucapkan. Mendapatkan hentakan gesper lebih dari sepuluh kali tentu saja rasanya sangat menyakitkan.

__ADS_1


Alika kembali teringat dengan kejadian yang barusan ia alami, sedikit meringis karena rasa sakit masih saja terasa.


"Kamu tau, Bil. Aku di pukul Mama?"


Bilmar mengangguk dengan wajah sendu. "Maafin aku ya, karena aku, kamu jadi begini."


Alika tersenyum lalu meloloskan tangan yang hanya muat sampai batas telapak. Mengelus lembut pipi Bilmar.


"Yang penting kamu enggak di marahin Mama kamu, Bil."


Mendengar ucapan itu, membuat dada Bilmar sesak. Hancur sekali hatinya. Harusnya Alika marah dan memakinya, namun wanita itu masih saja memikirkan keselamatannya.


"Aku bawain kamu makanan, kamu makan ya."


"Tapi pintu kamar aku di kunci, Bil."


Bilmar termenung sebentar, ia memang tidak mempunyai cara lain untuk masuk ke dalam. Lalu ia menatap sebuah kursi didepan meja rias Alika.


"Bawa kursi itu ke sini." titah Bilmar. Alika pun menurut untuk membawa kursi itu didepan jendela.


"Ayo kamu duduk!" titah Bilmar kembali.


Alika kembali mengiyakan dan duduk di kursi. Ia menatap Bilmar yang masih berdiri sambil membukakan sebungkus nasi Padang. Bilmar menyuapi Alika dengan tangannya sendiri disela-sela tralis yang tidak terlalu rapat. Sesekali ia menyodorkan air minum agar kerongkongan Alika tidak seret.


"Kamu juga makan, Bil. Nanti maag kamu kambuh." ucap Alika.


"Aku mah gampang, yang penting kamu nya dulu."


Alika memang terlihat lapar, ia memakan habis makanan yang di suapi oleh Bilmar. "Ayo minum lagi, Al." Alika mengangguk dan kembali menenggak air dari botol.


Setelah menyuapi Alika, Bilmar membuang bekas bungkusan makanan itu ke tempat sampah lalu mencuci tangannya di keran air yang ada disekitaran pekarangan rumah. Ia kembali menghampiri Alika di teralis jendela.


"Ini ada salep anti memar. Tadi aku ke apotik dan membelinya. Kamu usap di seluruh bagian yang sakit ya. Kalau aja jendela ini gak pakai teralis, aku pasti udah loncat kedalam dan mengobati kamu."


Alika tertawa mendengarnya. "Makasih ya sayang, aku udah repotin kamu."


"Kamu enggak usah mikirin kejadian yang tadi ya. Awal-awalnya aja gempar, dua sampai tiga hari juga bakal hilang kena angin." ucap Bilmar.


"Ya, Bil. Semoga aja." jawab Alika dengan wajah yang masih memelas.


"Aku enggak bisa lama-lama di sini. Tadi sebelum aku pergi Pak Andi bilang, aku harus nyikatin seluruh toilet yang ada disekolah. Karena Mama gak bisa datang ke sekolah, jadi pengganti hukumannya itu, Al."


Sangat beruntung sekali Bilmar, kasihan Alika, mendapatkan hukuman yang lebih menyakitkan.


"Ya Allah kasian kamu, Bil." dan tetap saja Alika akan lebih mengkasihani Bilmar dibanding dirinya sendiri.


"Oh iya ini aku bawakan beberapa cemilan."

__ADS_1


"Tapi gimana cara aku nerima nya, Bil." jawab Alika bingung.


Bilmar pun mendongak ke arah ventilasi kamar Alika yang cukup tinggi. Lubang ventilasi yang tidak cukup besar tapi sepertinya muat untuk memasukan semua cemilan-cemilan yang baru saja ia beli.


Bilmar menoleh ke sana kemari, ia pun melihat ada sebuah kursi tua yang sudah jelek namun bisa terpakai. Meraih dan meletakkannya di depan jendela.


"Sayang jangan, kursinya udah rapuh! Nanti kamu jatuh, Bil!" Alika terus memperingati Bilmar.


"Enggak, Al tenang aja. Nih kamu siap-siap tangkap ya." Bilmar pun naik ke atas kursi dan melemparkan bungkusan plastik itu dengan susah payah.


Lalu


Brug.


Baru saja Alika berjongkok diatas lantai untuk memungut cemilan yang di lempar dari atas ke jendela, ia kembali kaget karena mendengar Bilmar terjatuh dari kursi.


"Ah, sayang!" seru Alika. Bilmar masih terjungkal di atas tanah sambil meringis memegangi pinggangnya.


"Tuh kan makanya aku bilang apa, kamu nakal sih! Nggak bisa dibilangin!" decak Alika dengan gurat kecemasan.


Bilmar tertawa, lalu bangkit dan membersihkan sisa-sisa tanah yang menempel di jaketnya. Ia kembali mendekati tralis dan berhadapan dengan Alika.


"Enggak apa-apa sayang, kan impas. Kita sama-sama sakit sekarang." ucap Bilmar. Lalu melepas kecupan hangat di kening Alika, walau terhimpit dengan besi tralis.


"Akhirnya dengan segala perjuangan, aku bisa juga cium kamu sayang ..." Bilmar tersenyum, membuat wajah Alika memerah karena malu. Kembali menyatukan kening dan saling menatap, sungguh membuat hati mereka menjadi tenang. Walau setumpuk masalah tengah mereka emban.


*****


Mungkin ada yang udah lupa atau yang belum paham. Aku akan jelaskan lagi ya guys.


Jadi pengertian Musim satu di sini adalah:


masa-masa Bilmar dan Alika di SMA,


bagaimana kisah asmara mereka,


larangan dari orang tua,


Gimana Bilmar jadi ke london,


dan akhirnya mereka berpisah,


Nah nanti ada dua part tambahan yang aku buat untuk menceritakan bagaimana pertemuan Aziz dan Alika serta Pernikahan Kanya dan Bilmar sampai bisa melahirkan Maura.


Nah setelah Musim satu sudah selesai. Aku akan masuk ke Musim dua. Dimana aku akan menceritakan kelanjutan Rumah Tangga Alika dan Bilmar (Meneruskan bonchap yang ada di MPS satu dan dua). Masa-masa mereka mendidik dan menjaga Maura dan Ammar, serta perjuangan Alika untuk hamil kembali. Nino dan Dion pun akan aku tampilkan lagi di sana.


Jadi udah pada ngerti belom? kalo belum bisa DM aku ya, yuk kita kenalan hehe @megadischa

__ADS_1


__ADS_2