MantanKu PresdirKu SuamiKu 3

MantanKu PresdirKu SuamiKu 3
Musim 1 : Pra Perpisahan


__ADS_3

Kalau ada sumur di ladang


Bolehlah kita menumpang mandi


Kalau ada umurku panjang


Bolehlah kita bertemu lagi.


Mungkin itu adalah pantun yang tepat untuk melukiskan suasana hati Bilmar dan Alika di hari ini. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Perpisahan selalu identik dengan luka dan kesedihan.


Namun bagi Alika, perpisahan ini hanya lah sementara. Melepas cintanya untuk bisa sukses seperti apa yang ia dan keluarga inginkan.


Mencoba mempercayai takdir, kalau mereka pasti akan bersama lagi setelah Bilmar selesai mengemban ilmu di London. Mencoba menguatkan diri, bahwa cinta mereka itu kuat seperti bongkahan karang yang tetap kokoh walau diterpa ombak.


Terlihat Alika, Dion dan Nino sudah berada di bandara untuk melepas kepergian Bilmar dengan Mama Mira. Sedari tadi Bilmar tidak henti mendekap Alika. Ia tidak perduli dengan asumsi orang yang melihat mereka. Entah dari Mama Mira, Dion atau Nino. Bilmar hanya ingin Alika, ingin mendekap lama Alika dan jika boleh, ia ingin membawa gadis itu ke London untuk menemaninya di sana.


"Aku akan rindu banget sama kamu, Al." desah Bilmar mengunci tubuh Alika di dadanya. Bilmar menumpahkan segala rasa sedih yang tidak bisa ia tahan.


"Iya, Bil. Aku juga." jawab Alika singkat, ia juga mendekap dada bidang itu kuat-kuat.


"Aku gak akan bisa lagi antar kamu pulang, temenin kamu makan bakso dan nonton bioskop." rintih Bilmar lagi.


"Iya, Bil. Nggak apa-apa, aku kuat." jawab Alika dengan suara yang berat dan tentunya di paksakan.


Mereka saling memejam mata dalam dekapan hangat. Alika dengan leluasa bisa merasakan debaran jantung Bilmar yang cukup kuat. Pun sama dengan Bilmar. Ia tahu Alika sedang gelisah, karena jantungnya juga berdegup cepat. Lelaki itu bisa merasakannya.


"Kamu harus ingat, Al. Aku akan pulang. Aku akan sukses, menjadi Presdir dan akan menikahi kamu."


"Iya, Bil. Aku tungguin kamu. Dan aku percaya akan semua janji kamu." jawab Alika.


Gadis itu terus mengeratkan pelukannya. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatap penuh muak dan kebencian. Mama Mira menyunggingkan senyuman licik kepada mereka berdua.


"Berpelukan lah kalian untuk yang terakhir kalinya." gumam Mama Mira.


"Kamu harus kabarin aku ya, kalau mau ngapa-ngapain harus bilang, harus sms."


"Jangan mau di bonceng motor sama cowok ya!"


"Kalau ada yang sms centil ke kamu, jangan dibales!"

__ADS_1


"Jangan mau diajak makan, nonton atau ke mana-mana selain sama Mama dan Papa kamu. Kecuali temen cewek."


"Aku akan pulang kalau liburan semester, delapan bulan lagi, kamu harus tunggu aku."


"Udah ngerti belum sama apa yang aku bilang?"


Bilmar mengeluarkan serentetan perintah dari bibirnya kepada Alika. Ia ingin gadis itu menaatinya.


"Bener-bener si Bila, ngekang abis." bisik Dion kepada Nino.


"Si Bila udah cinta mati sama Alika, Yon. Kayak lo sama Evi." Nino mencebik. Dion tertawa dan kembali menatap Alika dan Bilmar.


"Lo pada mau gue foto gak?" tanya Nino kepada Alika dan Bilmar. Sontak mendengar penawaran itu membuat mata mereka terbuka dan menoleh.


"Ayo Nin, fotoin gue sama Alika." ucap Bilmar.


"Oke." Nino mengeluarkan ponselnya dan mulai mengarahkan mereka untuk bergaya. Tidak ada gaya dengan wajah ceria. Semua gaya sama dengan wajah yang sendu.


"Senyum dong, ini kan bukan buat foto di KTP." ucap Dion.


Melihat Bilmar dan Alika sibuk berfoto-foto membuat Mama Mira menyeret bola matanya jengah.


"Rasanya pengin muntah." decak Mama Mira.


"Nah kan bagus hasilnya." jawab Nino menatap foto yang baru saja ia bidik. Bilmar dan Alika pun menghampiri Nino untuk melihat hasil bidikan gambarnya.


"Coba blutut ya, kirim ke gue Nin." titah Bilmar.


Bilmar kembali menatap Alika dan merogoh kantung celananya. "Oh, iya. Hampir aku lupa sayang."


"Kenapa, Bil?" tanya Alika.


"Ini ... aku belikan kamu kalung." Bilmar mengeluarkan sebuah kotak merah dan membukanya. Meraih kalung emas putih dengan liontin huruf B.


"Wah bagus banget." seru Alika.


Dan Mama Mira menjengit kesal. "Apa-apaan sih, si Bilmar! Buang-buang duit Papanya aja." gerutu Mama Mira. Padahal harga kalung itu tidak ada tandingannya dengan apa yang sudah Alika korbankan untuk Bilmar.


Bilmar memakaikan kalung itu tepat di leher Alika. Menekan liontin huruf B tepat di dekat leher.

__ADS_1


"Jangan pernah dilepas, harus terus ada dileher kamu." pinta Bilmar.


"Makasih ya, Bil. Kamu udah beliin ini buat aku. Tapi maaf aku hanya bisa kasih itu aja." Alika menatap ke arah gelang berbahan silikon dengan merek Adidas kw.


Bilmar tersenyum sambil mengusap gelang itu. "Akan selalu ku pakai kemana pun dan di mana pun."


Alika membalas ucapan Bilmar dengan senyuman dan pelukan hangat kembali. Bilmar dengan suka cita menyambutnya.


"Al, tolong temenin tante yuk ke kamar mandi. Sebelum pesawatnya datang." Mama Mira memaksa Alika dan Bilmar untuk melepas pelukan mereka. Bilmar terlihat mendesah tidak suka ketika Mamanya menghancurkan kemesraan mereka.


"Emang gak bisa sendirian, Mah?"


"Gak papa, Bil. Aku juga ingin ke kamar mandi." selak Alika, sebelum Mama Mira menyahut ucapan Bilmar. Alika tidak mau, Mama Mira kembakli ribut dengan sang anak hanya karena dirinya.


"Ayo Tante, Alika antar."


Mama Mira pun mengangguk dan kemudian mereka berlalu menuju toilet. Bilmar mengusap wajahnya kasar dan menatap kepergian Alika dengan tatapan sedih.


"Apa aku bisa jauh dari kamu, Al?" gumamnya pelan, dan masih bisa terdengar ditelinga Dion dan Nino. Mereka mengelus bahu Bilmar.


"Awalnya aja lo berat dan sedih, kesana nya juga pasti akan biasa, Bil."


Bilmar menggerakkan kepalanya dengan anggukan lemah.


"Gue takut Alika bakal dapet pacar baru di sini."


"Ya enggak lah, Alika tuh sayang banget sama lo, Bil!"


"Iya, Bila. Alika tuh udah cinta mati sama kayak lo ke dia. Buktinya aja di udah berkor---"


Seketika Nino menghentakkan kakinya di sepatu Dion. Lelaki itu pun menghentikan ucapannya. Ia baru ingat, kalau dirinya sudah berjanji untuk tidak membocorkan rahasia penukaran tes jawaban beasiswa.


"Berkor, apaan?" tanya Bilmar kepada Dion. Terlihat kedua alisnya menaut, ia merasa curiga dengan Dion.


"Oh gak tau, Bil. Gue tiba-tiba amnesia." jawab Dion lalu membisu seribu bahasa.


"Dasar gila." jawab Bilmar sambil menoyor kepala Dion.


Tentu jika Bilmar tahu itu semua adalah ulah Alika yang menukar hasill jawabannya. Sudah dipastikan apapun alasannya, Bilmar tidak akan mau pergi ke London hari ini.

__ADS_1


*****


Masih ada satu episode lagi ya, tungguin❣️


__ADS_2