MantanKu PresdirKu SuamiKu 3

MantanKu PresdirKu SuamiKu 3
Musim 1 : Aku tunggu di Parkiran


__ADS_3

"Gue tunggu diparkiran." ucap Bilmar sambil berlalu melewati meja Alika.


Alika yang masih menunggu Bilmar untuk lebih dulu pergi, hanya mengangguk tanda setuju. Jam istirahat sudah berbunyi. Dengan merelakan uang seratus ribu, Bilmar berhasil membekap mulut Dion agak bisa izin dulu tidak makan siang dengan mereka, yaitu kedua sahabatnya, Nino dan Dion, trio cabull.


Jantung Alika semakin berdebar, ketika melihat Bilmar sudah keluar dari kelas dengan jaket jeans levis di tubuhnya, tampannya Bilmar melebihi Dilan ketika sedang berpacu dengan para geng motornya.


Alika menoleh ke arah Bela yang mulai membuka kotak bekal makan siangnya sambil mendengarkan lagu di mp3 ponselnya.


"Bel ..." panggil Alika.


"Hemm..? Lo nggak makan, Al? Mau makan bareng sama gue?" ajak Bela.


Dengan gelengan kepala ia hanya mengucapkan terimakasih.


"Bel, lo bawa bedak nggak?" Bela yang baru saja menyuap makanan dan belum sempat dikunyah langsung mendelik tajam ke arah Alika. Wanita itu termangu, ia cukup kaget.


"Lo mau pakai bedak?" jawab Bela ketika ia berhasil mendorong sekumpulan nasi kedalam kerongkongannya. Alika mengangguk dengan wajah berbunga-bunga.


"Ayo, Bel. Cepetan." pinta Alika buru-buru, ia tidak mau kalau Bilmar menunggunya lama di parkiran.


Bela menjeda makan siangnya, lalu memutar tubuh ke belakang untuk merogoh isi tasnya.


"Nih.." Bela menyodorkan tas kosmetiknya kepada Alika.


"Wah banyak banget isinya, lo emang demen dandan ya, Bel."


"Iyalah, biar pacar terus sayang sama kita."


"Lo mau kemana sih? Tumben pake dandan segala? Biasanya polos terus." tanya Bela.


"Nggak apa-apa, Bel. Sekali-kali. Maaf ya gue pakai make up lo sekarang, nanti sore deh gue mulai beli kayak beginian." jawab Alika, ia mulai mengoleskan bedak di wajahnya dengan gerakan kaku.


Bela tertawa lalu kembali menyantap makanannya.


"Disitu juga ada lipglos, kok."

__ADS_1


"Apaan itu?" tanya Alika.


"Kaya lipstik tapi gak terang, ada kok disitu gue punya dua."


Alika mengangguk dan kembali mencari-cari didalam tas kosmetik yang bisa disebut tempat pensil yang tidak terpakai.


"Bel, bedak gue belepotan nggak?" Alika dengan percaya dirinya menatap Bela.


Bela hampir tersedak untuk kedua kalinya.


"Ketebelan, Al!" Bela meraih sehelai tissu dan mulai merapihkan wajah Alika. "Ketebelan, putih banget! Kaya pake terigu tau nggak, ck!" Bela tidak ada habis-habisnya menggoda Alika.


"Hah, gitu ya? Ya udah dong hapusin!" Alika mendadak tidak tenang, ia akan malu jika bertemu dengan Bilmar.


Akhirnya Alika kembali menganggu makan siang Bela, hanya untuk merias dirinya. Bela dengan senang hari merias Alika, mengusapkan bedak senatural mungkin, mengoleskan lipglos di bibir ranumnya dan mengibaskan maskara untuk membuat bulu mata Alika semakin lentik.


"Mau pake farfum?" tanya Bela menawarkan.


"Emang farfum gue udah enggak ke cium ya, Bel?" tanya Alika sambil mengendus-endus aroma tubuhnya.


"Enggak kok masih wangi, ya kali aja lo mau nambahin."


Bela pun mengangguk dan menurut saja.


"Bel, makasih banyak ya lo udah mau dandanin gue. Gue pergi dulu ya, nanti abis jam istirahat gue udah di sini lagi kok."


"Lo emang mau kemana sih, Al? Kok tumben kayak begini?" Bela masih bingung dengan sikap Alika yang aneh dan tidak biasa.


Ia tahu sekali wanita itu tidak pernah se-manja atau se-centil ini. Ya, begitulah, Bel. Cinta itu kan buta, apalagi ketika wanita jatuh cinta, ia akan berusaha merubah dirinya untuk secantik mungkin, meraih perhatian dari lelaki yang sedang ia puja. Seperti halnya Alika, ia berbeda setelah jatuh cinta dengan Bilmar, lelaki buaya darat itu berhasil mempora-poranda kan keluguannya.


Bela dan Alika memang sebangku, namun kesehariannya mereka tidak dekat seperti halnya Bilmar dan Dion, namun Alika merasa cocok jika duduk sebangku dengan Bela, dan Bela bersyukur bisa duduk dengan orang jenius seperti Alika, tidak salah jika selalu mendapatkan posisi juara ke lima dikelas.


"Nanti aja gue ceritain, tapi gue pergi dulu, bye, Bel." setelah mengucap kata pamit, Alika pun berlalu meninggalkan Bela. Gadis itu melangkah cepat menuju parkiran, ingin menemukan lelaki yang ia suka disana.


Terlihat Bilmar sudah berada di atas motor sport dengan kaca mata hitamnya, kepalanya menunduk, menataplayar ponselnya yang terang, sesekali berseru karena sedang bermain game.

__ADS_1


"Duh, ganteng banget sih sayang..." puji Alika dalam hatinya. Ia terus memperhatikan sosok Bilmar dari beberapa meter langkahnya.


Kaget dengan kecantikan Alika, Bilmar membuka kaca mata hitamnya, menatap lurus Alika dari atas rambut yang dibiarkan terurai sampai ke ujung sepatu.


"Lo dandan dulu?" tanya Bilmar dengan senyum.


Demi Tuhan, senyuman itu sangat memabukkan, membuat Alika selalu kehilangan kesadarannya karena merasa terpukau. Wanita normal mana yang tidak akan tersihir dengan ketampanan seorang Bilmar Artanegara.


"Jelek ya, Bil?" tanya Alika polos. Pertanyaan itu membuat Bilmar terkekeh.


"Enggak kok, malah makin cantik." jawab Bilmar santai.


Ia memang tidak mempermasalahkan Alika untuk berdandan, karena tidak ada guna baginya. Ia tidak menyukai Alika, namun jika suatu saat nanti Alika sudah terpatri didalam hatinya, sudah dapat dipastikan Bilmar tidak ingin Alika bersolek. Ia tidak mau kecantikan Alika dinikmati oleh lelaki lain.


Mendengar jawaban itu membuat wajah Alika semakin merona. Semburat kemerahan tercetak jelas di tulang pipinya. Menatap Bilmar dengan tatapan malu-malu.


"Jadi pengin gigit bibir lo sampai bengkak." cicit Bilmar dengan wajah mesum.


Walau memang dia, Nino dan Dion selalu membahas tentang cerita-cerita 21++, tapi itu hanya untuk ilmu dan hiburan semata. Sejatinya mereka bertiga belum pernah pacaran, ciuman atau melakukan adegan lain yang tidak boleh untuk dilakukan. Satu batang rokok dan sebotol minuman keras, tidak pernah mereka sentuh. Mereka bertiga masih anak yang menurut pada Mami-Mami nya.


"Ayo naik." titah Bilmar.


Alika pun menurut untuk naik di belakang Bilmar. Lelaki tampan itu kembali mengenakan kaca mata hitam dan helm full face nya. Ia lupa jika harus membawakan satu helm lagi untuk Alika dari rumah. Mungkin besok? Kalau sekarang resmi jadi pacar sebentar lagi.


"Pegangan dong." ucap Bilmar dengan nada penuh kelembutan.


Alika menurut kembali, samar-samar jarinya meremat kain jaket yang ada disebelah sisi kanan dan kiri Bilmar. Bilmar terkekeh dengan kepolosan Alika.


"Kita jalan ya." ucap Bilmar yang suaranya sedikit terdengar tidak jelas karena dibalik helm.


Alika hanya mengangguk saja, ia hanya menurut ketika dirinya ingin dibawa. Tidak bertanya, tidak juga menyelidik. Alika hanya menyerahkan saja kepada Bilmar, kemana mereka akan pergi.


Ya, begitulah cinta kadang membuat kita menjadi bodoh, tidak tahu apa yang akan terjadi didepan, karena hanya mengikuti rasa yang sedang berbuih dan tipu muslihat napsu yang merekah, membuat kita suka terpancing dengan cinta yang bisa saja salah atau membawa kita kedalam suatu penderitaan.


Bilmar mulai menjalankan deru mesin motornya dan berlalu dari parkiran. Ia memboyong Alika bersamanya, untuk dibawa ke suatu restoran mahal. Ia ingin mengutarakan rasa cinta palsu kepada Alika di sana.

__ADS_1


****


Emang geblek sih Bilmar mah😂, gantung aja di bawah pohon cabe sama si Dion. Kan kalo rame-rame asik dari pada sendirian🤪🤪


__ADS_2