MantanKu PresdirKu SuamiKu 3

MantanKu PresdirKu SuamiKu 3
Musim 2 : Gara-Gara Nasgor


__ADS_3

Terlihat anak lelaki berkulit putih yang masih menggunakan seragam sekolah lengkap, sedang duduk ditaman sambil tertunduk menatap semangkuk bakso dan melahap isinya.


Bunyi decapan lidah begitu jelas terdengar. Anak lelaki itu lapar. Karena biasanya jika sudah sampai dirumah, ia pasti langsung berlari ke meja makan untuk melahap apapun yang ada. Sore ini membuat ia begitu lapar, sampai tak sadar jika ia sudah menghabiskan dua bakso, dan kini sedang menikmati bakso ketiga.


Permasalahan di sekolah, membuat ia urung pulang kerumah. Ia takut Mama dan Papa nya akan memarahinya habis-habisan untuk suatu masalah yang murni bukan kesalahannya. Rencananya ia akan pergi ke rumah Kakeknya setelah menghabiskan bakso tersebut.


"Bang kecap dong." pintanya.


Abang bakso mengangguk dan memberikan sebotol kecap di meja.


"Makasih ya, Bang." ucap Ammar dengan keringat yang sudah membanjiri wajahnya. Namun sebelum ia benar-benar menuangkan kecap kedalam kuah baksonya. Tangannya begitu saja tertahan, Ammar mendongakkan wajah ke atas dan mendapati sekumpulan anak-anak berbaju putih abu yang lebih tinggi darinya.


"Kalian mau apa?" tanya Ammar. Ia sedikit gugup dan takut.


"Bagi duit!" ucap salah satu dari mereka. Ammar menggeleng, bukan karena ia tidak mampu memberi. Tapi ia tidak mau begitu saja memberikan kepada mereka yang memakai cara memaksa seperti ini.


Ammar menepis tangan mereka yang masih setia mencengkram lengannya.


"Eh, berani lo, ya!" seorang lelaki bertubuh gendut meraih kerah kemeja Ammar.


Ck, beraninya sama anak SD.


"Lepasin!" teriak Ammar.


"Eh, eh ada apaan nih?" Abang bakso menghampiri.


"Jangan ikut campur lo, Bang. Gue tendang nih gerobak, lo!" tunjuk salah satu dari mereka dengan tunjukan jari.


Abang bakso yang berniat menolong Ammar hanya bisa terpaku, ia sudah tua, apalagi ancaman itu akan membuatnya rugi. Jadi dia hanya bisa diam.


"Bagi duit! Gue tau lo anak orang kaya!"


"Enggak, Bang. Saya orang miskin." jawab Ammar gelagapan.


"Enggak usah bohong, Lo!" lantas lelaki menurunkan tangannya dan beralih memegang tangan Ammar.


"Gue tau ini jam mahal! Kalo lo enggak mau ngasih kita duit, biar aja jam ini yang kita ambil!" lelaki itu membuka paksa kaitan arloji yang melingkar di tangan Ammar.


"Ja-jangan, Bang. Jam tangan ini hadiah dari Mama saya." ucap Ammar dengan nada sedih.


Alika membelikan jam tangan tersebut ketika mereka sedang berlibur ke Swedia.


Ammar mencoba meraih jam tangan yang mereka goyang-goyangkan di udara. "Balikin, Bang." Ammar mendongak, dan menjulurkan tangan ke atas.


Air matanya menetes, bayangan wajah sang Mama membuat ia getir. Karena merasa terancam, dan tentu tidak mau barang itu hilang. Ammar menjadi kesal, ia beralih untuk menonjok perut lelaki itu.


BUG.


"Arkh ... anak anjingg!" seru lelaki itu, sambil memegangi perut.


Ammar terperangah. Harusnya ia senang karena sudah berhasil memukul lelaki itu, tapi ia malah memundurkan langkah seraya menjauh. Karena beberapa teman dari lelaki itu bersiap untuk menghajarnya.


"Tangkap! Dan pukuli sampai habis!!" teriak lelaki itu kepada para temannya ketika Ammar berhasil kabur.


"Ayo, Dek. Kabur aja, bakso abang gak dibayar juga gak apa-apa. Yang penting kamu selamat." teriak Abang bakso kepada Ammar.


Bocah lelaki yang masih duduk di bangku SD itu terus saja berlari. Namun sepertinya kesialan terus menemaninya. Ia tersandung batu dan akhirnya terkapar di atas tanah.


Tidak mampu berlari, dan akhirnya tubuh itu habis di keroyok oleh empat anak lelaki SMA tadi.


"Ya Allah, si Adek."


****


Berkat seruan istrinya serta rasa panik dalam dirinya yang begitu menggebu, membuat Bilmar harus turun tangan mencari Ammar dengan tangannya sendiri.


Walaupun saat ini lelaki itu tidak benar-benar sendiri untuk mencari putra kesayangannya. Ia meminta Rendi untuk menemaninya.


Rendi yang juga menyayangi Ammar, dengan siap mau menemani Bilmar untuk mencari. Dan Bilmar menitah nya untuk mengemudikan mobil selama mereka melakukan pencaharian.


Earphone masih melekat di daun telinganya, untuk menunggu informasi dari para anak buah yang sedang ia kerahkan untuk mencari Ammar.


"Sudah empat jam kita mencari, tapi belum ada tanda-tanda anakku ditemukan." desah Bilmar sambil memangku dagu dengan telapak tangan. Raut wajahnya getir. "Aku takut Ammar di culik." helaan napas panjang mencuat setelahnya.


"Sabar, Ammar pasti diketemukan. Bagaimana orang-orang suruhanmu?" tanya Rendi tanpa menoleh, ia fokus memutar-mutar setir kemudinya.


"Memang bodoh mereka semua! Aku rugi membayarnya, untuk mencari anak kecil saja tidak becus!" Bilmar murka.


Kruyuk.


Kening Bilmar menyerengit, ia menoleh ke arah Rendi. "Lapar?"

__ADS_1


Rendi mengangguk dengan senyuman tipis. "Maaf, Ren. Gara-gara Ammar, kamu jadi melewatkan makan malam."


"Enggak masalah, Bil. Aku bisa tahan." jawab Rendi.


"Benar? Bukannya kamu punya sinus? Nanti kalau telat makan terus sakit, Binar bakal protes." decak Bilmar.


Rendi hanya tertawa menanggapinya. "Maag, bodohh, kok sinus sih."


"Saking gugup, jadi ketularan bodohh kayak kamu." ucapnya, membuat Rendi memendam gelak tawanya. Berani sekali Bilmar menghina Wakil Presdir Acorp.


"Tuh lihat ada nasi goreng gerobakan. Berhenti aja dulu, makan di situ." Bilmar menunjuk sebuah gerobak nasi goreng yang mangkal di pinggir jalan raya, dekat taman yang sepi. Dengan jarak masih sekitar seratus meter dari mobil mereka.


"Enggak apa-apa?" Rendi balik bertanya. Pasalnya, ia tahu sekali lelaki yang ada disebelah nya ini tidak pernah mau makan-makanan di pinggir jalan seperti itu.


Bilmar adalah lelaki yang selalu menjunjung tinggi kebersihan, walau tidak semua pedagang di pinggir jalan, seperti apa yang ada dalam bayangannya.


"Kenapa?" bola mata Bilmar memicing disaat ia merasa Rendi meragukan kebaikannya.


Rendi menggeleng, tidak menjawab pertanyaan itu. Ia lebih memilih untuk kembali bertanya. "Kamu juga mau makan?"


Kali ini Bilmar yang menggeleng. "Aku enggak napsu makan, sebelum Ammar ketemu. Lagi pula, kamu harus makan banyak biar tenaga kamu bertambah."


"Maksud---"


Bilmar menyelak. "Kan mengemudi mobil tanpa batasan waktu butuh tenaga. Kamu dengarkan ancaman Alika sebelum kita pergi? Aku enggak boleh pulang, sebelum membawa Ammar kerumah."


"Ya tapi kan, kita bisa gantian, Bil." sungut Rendi.


"Kepalaku tuh rasanya udah mau pecah, Ren. Mikirin Ammar yang kabur entah kemana, masih tega kamu nyuruh aku untuk mengemudi?"


Rendi mendengus dengan delikan malas. "Monyet, lah." gumamnya pelan.


Rendi hanya bisa mengelus dada. Kelakuan dan sifat lelaki yang pernah menjadi Presdirnya itu memang tidak pernah berubah.


Beberapa saat kemudian, mobil mewah mereka parkir tepat di samping depan gerobak nasi goreng.


"Mau turun enggak?" tanya Rendi ketika sedang melepas seat belt nya. Bilmar menggeleng. "Aku di dalam mobil aja, kamu aja turun dan pesan."


"Oke."


Bilmar memejam matanya sebentar. Rasa kantuk sepertinya mulai melanda. Karena sedari pulang bekerja ia belum beristirahat sama sekali. Pening sekali kepalanya.


Sudah pukul 20:00, tapi ia belum berhasil menemukan Ammar. Gerakan dadanya terlihat naik turun. Walau jantungnya terus saja bertalu-talu. Ia tetap percaya kalau Allah akan menjaga Ammar dimanapun berada.


"Makan sini, bungkus, Mas?"


"Makan di sini aja, saya nunggu di dalam mobil ya." Rendi menunjuk ke arah mobil. Rendi berlalu ketika Abang nasi goreng sudah menganggukan kepalanya.


"Beneran enggak mau makan? Nanti kamu sakit, Bil."


Rasanya ucapan Rendi betul, Bilmar merasa perutnya sedikit perih. Tapi tetap saja ia tidak bernapsu makan malam ini.


"Enggak." Bilmar menjawab tanpa membuka mata, ia fokus untuk tidur sebentar.


Tak lama kemudian sepiring nasi goreng dengan telur ceplok sudah berada di tangan Rendi. Aroma nya begitu menusuk lubang hidung Bilmar tanpa sengaja.


Mendengus, mencoba fokus menikmati baunya yang begitu menggugah selera. Tak sadar ia, jika perutnya pun berbunyi.


"Pesan sana, aku tau kamu lapar."


Bilmar membuka mata. Ia lirik nasi goreng yang sedang di santap oleh Rendi. "Enak banget nih, kamu mau, Bil? Aku suapin." Rendi menawarkan dengan iringan tawa.


Bilmar mencebik. "Gila kali, apa kata dunia, kalau gue suap-suapan sama laki!"


Rendi tertawa. "Udah sana pesan, aku enggak akan kuat gendong kamu, kalau sampai pingsan karena nahan lapar."


Bilmar hening sesaat. Ia kembali memperhatikan tampilan si penjual nasi goreng. "Lumayan bersih." gumamnya. Tanpa menunggu lama lagi, ia membuka pintu dan turun untuk menghampiri si penjual.


"Bang satu ya, manis tapi nya. Telurnya jangan disatukan di dalam nasi ya. Dibuat omelette aja."


Baru ingin mengangguk mantap, kedua alis si penjual langsung menaut.


"Melet, Mas?"


"Bukan melet, tapi omelette. Telur di kocok-kocok masukin gelas taburin daun bawang."


"Enggak bisa saya, Mas. Omelete saya enggak tau."


Ketika sedang beradu mulut, Rendi datang untuk meminta air putih.


"Bang air nya mana? Saya seret nih makan gak ada air." ucap Rendi seraya mengusap lehernya.

__ADS_1


"Bukannya kamu ular, kalau makan enggak perlu minum?"


Berdecih. Rendi memutar bola mata jenga. "Makasih, Bang." ucapnya ketika segelas air sudah berada ditangan.


"Ya udah, Bang kalau gitu saya enggak jadi aja pesan nya ya." ucap Bilmar. "Masa omelete aja enggak tau, payah." gumamnya ikut membalik badan dan mengekor di belakang tubuh Rendi. Sontak mendengar ucapan itu membuat Rendi langsung menghentikan langkah, ia berbalik menatap Bilmar.


"Kok enggak jadi?" tanya Rendi.


"Abangnya enggak tau omelete, aku enggak bisa makan nasi goreng dengan telur dicampur atau tanpa telur." ucap Bilmar.


Rendi kembali mendengus, menghela napas panjang. "Maksudnya di dadar? Telur dadar kan??"


"Nah itu ... omelete egg" wajah Bilmar langsung berbinar ria.


Mendelikkan mata ke arah Bilmar yang masih memasang wajah jenaka. Ia kembali menghampiri si penjual nasi goreng yang masih melongo, mencari tau apa itu omelete. Makanan kah? Haha.


"Maksudnya saudara saya itu, telur dadar, Bang. Maklum abis jadi TKW di Mesir. Lupa sama makanan Indonesia."


"Oalah gitu toh, Mas. Kalau telur dadar mah, gampil atuh. Ya udah ditunggu ya."


Bilmar mengeraskan rahangnya ketika mendengar ucapan Rendi barusan. "TKW kepala, lo!" berdecak sambil menoyor kepala Rendi.


"Udah jangan bawel." Rendi kembali melangkah ke dalam mobil, dan Bilmar mengikutinya.


Rendi kembali menyantap makan malamnya yang sempat terjeda. Bilmar masih fokus memperhatikan si Abang yang sedang memasak nasi goreng untuknya.


Tapi, ada yang membuat hatinya bergejolak. Lantas menurunkan jendela mobil, dan menyembulkan kepalanya keluar.


"Bang, ngoseng nasi gorengnya pelan-pelan. Itu butiran nasinya pada jatuh semua ke tanah, sayang kan---"


Rendi melototkan matanya ketika mendengar seruan Bilmar kepada Abang nasi goreng. Kerupuk terlihat menggantung di bibirnya. Ia menghentak bahu Bilmar agar berhenti bicara.


"Bilmar!" seru Rendi. Ia menarik paksa lelaki itu untuk kembali memasukan kepalanya.


"Apaan sih ah." Bilmar bergeliat tidak suka.


"Cerewet banget sih!" decak Rendi. "Enggak sopan, lo!" sambungnya lagi. Tidak sadar Rendi sampai mengubah sapaan panggilan kepada Bilmar.


"Bukan enggak sopan, tapi aku hanya memberi tau cara memasak yang benar. Alika aja kalau lagi masak nasi goreng, manis banget kok. Enggak kayak koboy begitu. Yang ada abis nasinya."


"Semua penjual nasi goreng kalau masak ya begitu, Bil. Kayak chef beneran." Rendi tetap tidak mau kalah.


Bilmar malas bertengkar, ia memilih diam sambil menunggu makanannya siap untuk segera ia santap.


Beberapa saat kemudian, nasi goreng dengan banyak macam permintaan darinya sudah jadi.


"Makasih ya, Bang." ucap Bilmar tanpa dosa.


Abang nasi goreng itu tetap tersenyum lalu mengangguk. Bilmar mulai menikmati nasi goreng dengan rancauan nikmat. "Bener nih enak, tapi tetap aja enakan buatan Alika." ujarnya bangga.


Lalu.


"Bang ..."


"Apalagi sih, Bil?" Rendi menyelak ketika Bilmar memanggil si penjual nasi goreng tersebut. Seperti raja istimewa saja yang tidak pernah habis untuk menitah bawahannya. Karena selama empat tahun, Rendi sangat hapal bagaimana Bilmar.


"Aku cuman mau minta kerupuk lagi, tuh udah mau abis." tunjuknya ke dalam piring. Padahal masih ada beberapa tumpukkan kerupuk di atas nasinya. Rendi hanya menggeleng, bodo amat katanya. Yang penting ia kenyang dengan nasi goreng ditangannya sekarang.


"Iya, Mas?" tanya si penjual dengan sopan.


"Minta kerupuk lagi sepiring."


"Oh, baik, Mas."


Bilmar mengangguk dan kembali melahap nasi gorengnya. Namun tanpa sengaja, dua bola mata Rendi dan Bilmar menatap lurus si penjual nasi goreng. Sebelum melaksanakan permintaan Bilmar. Lelaki itu lebih dulu buang hajat kecil di sekitaran pohon.


Lalu kembali ke gerobaknya. Tanpa cuci tangan, ia langsung meraup kerupuk dari tempat penyimpanan. Tangan yang digunakan untuk memegang palung tornado dengan leluasa meraup-raup tong kerupuk.


"Astaga!" seru Rendi.


"Bekas ngobok-ngobok burungg kok ya langsung tancap ambil kerupuk!" Bilmar kaget setengah mati.


Dan akhirnya mereka memaksa untuk memuntahkan isi makanan yang sudah mereka telan, walau hasilnya mustahil. Makanan tersebut tetap tidak mau keluar, ingin menetap untuk menjadi daging.


***


Hayy sayang-sayang. Aku mau promo, boleh ya? hehe.


Ada satu novelku yang baru saja aku tamatkan. Judulnya My Sabbatical Wife. Di novel ini menceritakan kisah rumah tangga Maura dan Suaminya. Bilmar dan Alika menjadi kakek dan nenek disana. Kalau ada waktu kosong, boleh baca ya. Maacih guys.


Tinggal ke profil MT ku aja, di sana udah ada novelnya paling pojok.

__ADS_1



__ADS_2