
Tiga hari berlalu, pasca kejadian terkuaknya kebohongan yang selama ini sama-sama mereka rengkuh dalam delapan tahun terakhir.
Alika dan Bilmar memang sudah saling meminta maaf. Namun entah mengapa sikap Alika berbeda. Masih ada rasa kecewa yang bertahta di hatinya. Merasa tidak terima di bohongi seperti itu. Walau ia juga mengakui kalau dirinya salah karena sudah berbohong.
"Mama bisa bersikap seperti ini, itu semua karena sikap Papa yang terlalu cemburu!"
"Maafin Papa, Mah. Papa terlalu cinta sama Mama. Makanya Papa jadi begini."
"Papa bisa enggak marah, karena Papa juga melakukan hal yang sama, coba aja kalau enggak. Papa pasti udah hukum Mama!"
"Apa tidak cukup sikap Papa yang selama ini membelenggu Mama? Membatasi dan mengatur ruang lingkupku? Tidak boleh melakukan ini dan itu, walau hal itu adalah kebahagiaanku?" ucap Alika dengan tatapan sendu. Air matanya begitu saja turun membasahi permukaan kulit pipinya yang masih saja terlihat kencang.
"Papa hanya takut, Mah. Papa takut kamu tidak bisa menjaga diri, jika Papa bebaskan begitu saja."
Alika menyunggingkan tawa pelan. "Lalu Papa pikir, Papa lebih baik dari Mama?"
Beberapa dialog pertengkaran yang terus terjadi ketika mereka sudah sampai dirumah setelah dari pemakaman beberapa hari yang lalu. Walaupun pada akhirnya mereka saling berucap Maaf. Namun tetap saja rasa kecewa masih bercokol di hati Alika.
Tidak ada sapaan hangat setelah itu. Alika lebih memilih banyak diam, sambil terus berfikir dan menenangkan diri.
Apakah betul, dia adalah wanita yang tidak bisa menjaga diri? Atau mungkin suaminya saja yang sudah kepalang gila, karena rasa posesif nya yang sudah mendarah daging.
Dalam tiga hari ini, Alika tetap menjalankan tugasnya sebagai istri. Menyiapkan baju dan sarapan pagi. Alika pun masih bersedia melayani Bilmar di ranjang seperti tadi malam.
Namun sayangnya tidak ada binaran cinta yang mencuat dari wajah Alika ketika mereka sedang bersetubuh. Alika tidak menikmatinya seperti biasa. Dan Bilmar sedih akan hal itu.
Merayu sudah, berjuta-juta kali meminta maaf sudah, dan Alika pun sudah memberikan maaf, tapi tetap saja wanita itu berubah. Selama ia membisu dalam sedih, dan tidak ada lagi gelak tawanya yang terdengar membuat keadaan rumah menjadi sepi dan gelap.
Memang betul, istri adalah jantungnya rumah. Rumah akan terasa hidup, jika jantungnya berfungsi dengan baik.
Melihat sang Mama seperti itu, membuat Ammar dan Maura tidak pernah lagi berani bercanda di depan Alika. Mereka tahu Mamanya sedang marah.
Alika selalu tidur memunggungi suaminya. Menenggelamkan dirinya didalam selimut, dan memejamkan mata lebih larut dari biasanya. Menyibukkan dirinya di meja kerja jika sudah menemani anak-anaknya bercerita atau mengerjakan tugas dari sekolah.
"Apakah kita tidak bisa bicara baik-baik?" tanya Bilmar.
Lelaki itu memutuskan untuk membuka keheningan di antara mereka malam ini. Bilmar masih terduduk di bibir ranjang, ia menghadap langsung punggung istrinya. Alika yang sedang fokus mengetik di laptop pun seketika terkesiap.
__ADS_1
"Bicara apa?" jawab Alika dingin.
"Apa benar Papa sudah di maafkan?"
Alika mengangguk tanpa menoleh. "Ya." jawabnya pendek.
Tentu dengan jawaban seperti itu, membuat hati Bilmar tidak merasa plong sama sekali. Rasa takut kembali bersarang, ia takut Alika berhenti mencintainya karena rasa kecewa yang sudah banyak ia goreskan selama ini. Ia gelisah akan membuat istrinya itu berangsur benci dan tidak tahan untuk hidup bersamanya lebih lama lagi.
Oh ya ampun, Bilmar memang selalu berenang dalam ketakutannya yang ia buat sendiri.
Dua belas tahun ia pernah berpisah dengan Alika, membuat fikirannya menjadi tidak irasional.
Bilmar beranjak bangkit dari ranjang lalu melangkah untuk mendekati istrinya. Menarik kursi yang lain untuk duduk di sebelah Alika. Istrinya itu masih saja menatap layar terang dihadapannya. Padahal waktu sudah menunjukan pukul 22:00 malam.
"Kamu masih marah, Mah?" suara Bilmar terdengar sayu. Tapi Alika tidak bergetar sama sekali.
"Enggak." jawab Alika tanpa menoleh.
Ada tarikan napas berat yang mencuat dari Bilmar. Lebih baik Alika berteriak-teriak dalam mengeluarkan unek-uneknya, dibanding harus bersikap lain terus menerus.
"Lalu mengapa sikap Mama masih seperti ini? Dan kenapa beberapa malam ini, kamu terlihat sangat sibuk dengan pekerjaanmu?" Bilmar berucap kembali sambil memegang tangan Alika, agar berhenti memainkan tombol di atas keyboard.
"Bu---kan, Mah." Bilmar tergagap.
Salah lagi saja dia, apapun yang keluar dari mulut Bilmar, pasti akan selalu dianggap lain oleh Alika. Karena wanita itu masih belum bisa berfikir dengan jernih.
Alika melepaskan tangannya. Dan kembali mengenakan kaca mata untuk menatap lagi layar laptopnya. Kembali sibuk menatap berkas secara bergantian.
"Papa buatkan teh mau?"
"Enggak ... Makasih."
"Apa mau dibuatkan indomie goreng? Papa bisa buatkan untuk Mama." tanya Bilmar dengan wajah penuh harap.
Sungguh luar biasa rayuannya, rasanya tumben sekali. Bahkan Alika tidak bisa mengingat kapan suaminya itu terakhir kali memanjakannya seperti itu. Selama ini Alika lah yang terus memanjakan Bilmar.
Alika hanya menggeleng. "Aku sudah kenyang."
__ADS_1
"Kenyang bagaimana? Tadi di meja makan kamu hanya makan malam sedikit." tukas Bilmar.
"Memang, tapi saat ini aku nggak lapar. Kalau pun iya, nanti bisa buat sendiri, seperti yang sudah-sudah."
Keras kepala sekali. Membuat Bilmar ingin menggunduli saja rambutnya sendiri karena frustasi. Sulit sekali merayu sang istri, padahal selama ini jika Alika marah atau merajuk, wanita itu akan gampang kembali ceria.
Memang betul, namun sepertinya sekarang sulit. Bilmar memang sudah keterlaluan. Berkat campur tangan Bilmar memboikot video tik tok dari Youtube, membuat Ayu dan teman-teman lainnya jadi berbeda dengan Alika. Mereka marah dan kecewa.
Dan Bilmar sudah meminta maaf juga karena hal itu. Tapi tetap saja ia tidak mau video itu ada lagi di peredaran. Alika bisa memaklumi hal itu, jika Bilmar bisa berbicara baik-baik dulu dengannya. Sikap suaminya tentu membuat ia banyak dijauhi oleh para sahabat selama ini.
Jika dihitung-hitung banyak sekali Bilmar melakukan kesalahannya. Alika saja tidak pernah marah jika Bilmar semalaman menonton video lucu di Youtube, bermain instagram atau facebook. Atau pun berkumpul bertiga bersama Nino dan Dion di restoran.
Ia begitu mempercayai suaminya, dan ia tidak marah jika dikekang. Tidak boleh menggunakan sosmed, tidak boleh berdandan, tidak boleh pergi ke acara apapun tanpa dirinya. Lama-lama membuat hati Alika geram.
"Mah ..."
"Hem ...?" jawab Alika, ia masih saja sibuk.
Biasanya sebanyak apapun pekerjaan, jika Bilmar sudah melambaikan tangan di pusaran ranjang, Alika pasti akan mematikan layar laptopnya. Dengan wajah penuh cinta ia akan menerjang suaminya dengan berbagai kecupan dan pelukan hangat.
"Papa ... Lagi mau, Mah." jawab Bilmar berkilah.
Ia selalu merasa hanya dengan bercinta semua bisa beres terkendali. Ingin lebih dekat dengan sang istri yang sudah tiga hari ini memberi balok es kepada hati dan jiwanya. Nyatanya demi pernikahan yang dalam delapan tahun ini mereka bina dan Alika tidak pernah menolak keinginan suaminya itu dalam kondisi apapun, tapi malam ini malah berbeda.
"Kemarin malam kan sudah." jawab Alika singkat, padat dan jelas.
Baru saja Bilmar ingin membuka katupan bibir untuk memaksa. Alika lebih dulu menyelak.
"Nanti aja ya, Pah. Mama lagi nggak mood." Alika menolak.
Bilmar tidak memperdulikan dalihan itu. Bilmar beringsut mendekat, mengelus lembut punggung Alika, dan menyusuri ceruk leher istrinya yang sangat wangi dengan berbagai kecupan.
"Pah ... Jangan! Mama lagi dikejar deadline." Alika menjauhkan kepalanya, membuat kecupan yang sedang Bilmar berikan begitu saja terputus.
"Kamu tidur aja duluan." titah Alika. Lalu ia beranjak bangkit untuk melangkah ke toilet. Bilmar hanya bisa mengusap wajahnya kasar dan meringis karena sedih.
"Kemana kah kamu yang dulu." tutur lelaki itu sedih.
__ADS_1
*****
Like dan Komennya ya guyss❣️🤗