
Delapan bulan berlalu. Berkat perjuangan Alika membantu Bilmar di setiap ulangan, tugas praktek, ujian nasional dan ia berhasil membuat Bilmar menjadi salah satu kandidat untuk mengikuti tes seleksi beasiswa ke London. Pada saat pengumuman kandidat yang akan mengikuti tes, Bilmar berhasil menggeser posisi Althaf. Dan ia hanya bersaing dengan Alika, kekasihnya.
Entah kenapa di saat mengikuti tes beasiswa ke London. Bilmar tampak kurang sehat. Pada hari ini badannya panas tinggi. Bibirnya pucat pasi dan kering. Ia tidak konsen mengerjakan soal ujian.
Apa yang diajari Alika beberapa hari sebelumnya pun sepertinya mental. Bilmar banyak melamun, entah mengapa ia enggan mengisi soal-soal itu. Jujur, ia tidak mau pergi. Bilmar masih tetap ingin di sini.
Karena Alika sudah tahu Bilmar akan gagal. Maka ia sudah menyiapkan dua lembar jawaban. Satu lembar jawaban ia tulis dengan nama Bilmar dan yang satunya lagi ia tulis dengan namanya sendiri. Mengisi jawaban dengan benar di kertas jawaban atas nama lelaki itu dan mengisi jawaban yang asal di kertas jawaban Alika.
Tanpa sepengetahuan Bilmar dan berkat bantuan Nino dan Dion, Alika bisa masuk mengendap-endap ke ruang guru, untuk menukar hasil jawaban Bilmar yang ia isi.
"Wah di asal-asalin nih, Al. Dia emang gak mau pergi kesana." ucap Dion.
Alika pun terlihat bimbang, tapi bagaimana lagi. Ia tidak punya pilihan, selama Bilmar mau pergi ke London. Mama Mira sudah merubah sikapnya kepada Alika, lebih baik, perhatian dan sudah tidak jahat lagi, walau sebenarnya wanita paru bayah itu masih saja berakting.
"Bukan di asal-asalin, Yon. Dia nya aja yang gak fokus." jawab Alika.
"Woy cepetan!" bisik Nino yang masih berdiri dibalik pintu, mengawasi keadaan diluar apakah aman.
Tentu mereka masuk kedalam ruang guru dalam keadaan gelap dan memang sudah menuju waktu Isya. Hanya menggunakan senter, Alika dan Dion melangkah menuju meja Ibu Ratih.
Alika mengambil kertas jawaban Bilmar yang tadi siang lelaki itu isi, lalu mengganti dengan hasil buatannya. Ia juga mengganti kertas jawaban yang sudah ia kumpulkan tadi siang dengan kertas jawaban yang baru. Membuat hasil jawabannya salah semua. Dia tidak mau Bilmar gagal, ia sudah berjanji dengan Mama Mira.
"Ayo, Yon. Kita pergi." ucap Alika. Dion pun mengangguk, dan mereka kembali melangkah.
Baru saja Dion, Nino dan Alika melangkah keluar dari ruang Guru. Ada yang meneriaki dan menyorot langkah mereka dengan senter. Untung saja mereka berjalan sambil berjongkok. Buru-buru bersembunyi dibalik dinding. Derap sepatu satpam pun terus terdengar menuju persembunyian mereka. Sinar senter terlihat memantul di lantai.
"Guk ... Guk." saking gemetarnya, Nino mengelabuhi nya dengan suara anjing.
"Kok anjingg sih, Nin. Kucing dong." sungut Dion.
"Oh iya gue lupa." bisik Nino pelan.
"Woy siapa tuh!" satpam kembali berseru.
"Udah tau anjingg ya, masih aja di ajak ngobrol. Begoo apa gimana sih?" decak Nino dengan wajah meringis. Karena langkah derap sepatu makin terdengar jelas.
"Meyongg ... Meyong!" kini Dion yang bersuara.
__ADS_1
"Guk ... Guk!" sambung Nino.
Dion menoyor kepalanya. "Lo jangan nyautin dongoo!"
Dan disaat genting seperti ini, bisa-bisanya Alika tertawa melihat kelakuan mereka berdua.
Dion dan Nino pun menoleh dan mendelik ke arah Alika. "Malah ketawa, aduh! Nanti kedengaran suara lo, Al! Kalau bukan pacarnya si Bila. Udah gue cium, lo!" sungut Nino.
Alika ingin semakin tertawa namun ia hanya bisa menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Duh makin deket. Ayo tutup hidung." titah Dion dengan bodohnya.
"Lo fikir kita lagi di kejar Pamvir?" balas Nino.
"Terus gimana? Kita bakal ketahuan bentar lagi, aduhh!" Dion merubah wajahnya semakin panik.
"Satu-satunya jalan cuman bisa pakai ini." ucap Nino lalu mengeluarkan ponselnya. Memutar video setan dan mengeluarkan suara nyaring.
"Hihihihihihihi." suara anjingg dan kucing berganti menjadi suara kuntilanak. Alika langsung meremas kain baju Nino karena ikut menjadi takut dan merinding.
"Anjirlahh pake suara setan! Nanti tuh kunti kesini, Nina!" sungut Dion. Ia menutup kedua telinganya.
Mereka bertiga pun akhirnya mengelus dada karena merasa lega.
"Makasih ya, kalian udah mau bantuin gue buat Bilmar. Tapi please jangan bongkar rahasia ini sama dia." pinta Alika memohon kepada Nino dan Dion.
Nino dan Dion hanya bisa bersitatap dan mengangguk untuk memegang janji.
*****
Seminggu kemudian. Setelah siswa selesai mengikuti upacara. Pengumuman kelulusan ujian nasional, juara umum sekolah dan kandidat yang akan terpilih mendapatkan beasiswa ke London sedang di umumkan oleh kepala sekolah di depan podium yang sedang dilihat dan didengar lebih dari 400 siswa kelas dua belas, dari dua jurusan yaitu IPA dan IPS.
"Dengan ini saya umumkan, yang berhasil meraih Juara umum di sekolah adalah Bilmar Artanegara dari kelas dua belas IPA satu."
Lalu terdengar bunyi sorakan dari berbagai siswa-siswa. Delapan puluh persennya mereka tidak percaya.
"Kok si Bilmar?"
__ADS_1
"Bukannya Alika ya?"
"Wah pasti deh dibantuin."
Beberapa ada yang mencibir tidak percaya. Pasalnya mereka sangat hapal kalau kecerdasan Alika tidak ada yang bisa menandingi di sekolah.
Bilmar juga pintar, ia selalu berada di tiga besar dikelas. Tapi untuk bisa melawan semua siswa-siswa terpintar perwakilan dari setiap kelas. Bilmar pasti tidak akan menang. Hanya Alika lah yang mampu melawan mereka.
Bilmar menoleh ke arah Dion, dan Dion malah menoleh ke arah Alika. Alika memberikan senyuman hangat namun Dion hanya diam saja.
"Sebegini nya perjuangan lo buat Bilmar, Al. Semoga aja si Bila selalu sayang sama lo ya." gumam Dion. Lalu ia mengelus bahu Bilmar. "Selamat ya, Bro."
"Makasih Yon, gak sia-sia gue belajar pagi siang dan malem sama Alika." balasnya penuh percaya diri. Walau jauh dalam lubuk hatinya ada perasaan tidak enak. Ia menggeser posisi kekasihnya.
"Dan yang berhasil mendapatkan beasiswa ke London adalah Bilmar Artanegara." suara Kepala sekolah kembali terdengar. Membuat seluruh siswa semakin gempar. Mereka semakin huru-hara merasa tidak percaya.
"Si Alika kalah lagi?"
"Ah gila ini mah!"
"Kayaknya si Alika ngebantuin Bilmar abis-abisan deh."
"Udah di cium sih, susah dilepasin jadinya. Hahaha."
Serentetan cuatan para siswa yang iri pun kembali bersarang di daun telinga Alika dan Bilmar.
"Kok bisa ya lolos? Perasaan kemarin ngisinya gak begitu yakin." gumam Bilmar.
Kemudian Bilmar menoleh kepada Alika, ingin tahu apakah kekasihnya bersedih karena tergeser dua kali dari berbagai kandidat. Nyatanya tidak. Alika malah memberikan senyuman hangat dari posisinya. Tak sengaja air matanya pun menetes karena berhasil membawa Bilmar untuk pergi menuju London.
"Selamat sayang." ucapnya hanya dengan gerakan bibir.
"Terimakasih cintaku." Bilmar tersenyum senang.
"Semoga apa yang menjadi tujuan kita, bisa kamu laksanakan dengan baik di sana. Aku akan tetap menunggu." suara hati Alika menyerbak, dan Bilmar hanya mengangguk senyum. Sepertinya telepati batin mereka kembali di gunakan.
*****
__ADS_1
Kan si Dion mah emang gak jelas dari dulu, lagi nungguin duit jatuh dari langit kek nya😂