
Dua minggu berlalu pasca kejadian yang membuat nama mereka malu di sekolah. Dan selama dua minggu itu pula, Bilmar dan Alika jarang bertemu.
Membuat Bilmar rindu dan selalu uring-uringan. Bukan karena Alika menjauhinya, tapi ia sedang mengikuti pelatihan untuk anak-anak yang akan mengikuti olimpiade Fisika sekabupaten.
Alika di masukkan kedalam kelas khusus, berisikan lima orang. Kadang mereka semua masuk ke ruang lab praktek dari pagi sampai sore, dimana siswa-siswa yang lain sudah pulang kerumah masing-masing.
Belum lagi, Alika dan Bilmar masih menjadi pantauan para Guru. Gerak-gerik mereka saja di awasi karena tidak di percaya lagi. Mereka berdua merindu, itu sudah pasti, sampai membuat nilai Bilmar turun drastis, tidak nafsu makan, tidak mau belajar dan sering bolos mata pelajaran hanya karena ingin mengintip Alika di ruang lab praktek.
"Lo mau bolos lagi, Bil?" Dion menarik kain lengan Bilmar. Lelaki itu sudah berdiri dan bersiap untuk beranjak bangkit dari kursi.
"Lo mau ngintipin Alika lagi? Jangan cari masalah bisa gak sih? Lo mau dikeluarin dari sekolah? Bentar lagi ujian nasional, Bil!" Dion menasehati dan memaksa Bilmar untuk duduk kembali.
"Gue mau ngelihat Alika, Yon. Dua hari berturut-turut gue nggak lihat dia sama sekalu." jawab Bilmar dengan wajah sedih. Biasanya walau mereka tidak bertegur sapa, tapi Bilmar masih bisa melihat wajah cantik ya dari jauh. Jika Alika ingin ke toilet atau ke ruang guru. Walau Bilmar hanya menatapnya dari bangku taman.
Dalam dua hari ini Alika beserta para teman-teman yang akan mengikuti olimpiade memang sedang sibuk-sibuknya membuat eksperimen dalam benda bergerak yang mereka ciptakan.
Alika tidak mempunyai ruang gerak sama sekali, ia hanya keluar dari ruang pantom, jika hendak buang air kecil dan melaksanakan shalat Dzuhur. Untuk makan siang, sekolah sudah menyajikan dan menyiapkannya. Maka Bilmar susah untuk menemuinya.
Dan entah mengapa sudah seminggu ini, Papa Syamsul rutin menjemput Alika, bukan karena ia tahu Alika mendapat masalah di sekolah karena ketahuan berpacaran. Tapi karena ia memang ingin melakukan hal itu. Sepertinya alam memang ingin membuat Bilmar dan Alika menjauh.
"Sabar dulu, Bil. Masalah kalian berdua tuh masih anget-anget tayii ayam bulgogi." decak Dion.
"Tapi gue ngerasa, Alika kayak ngejauhin gue, Yon. Padahal apa susahnya sih ke kelas sebentar, temuin gue!" Bilmar tetap saja merungut. Ia kecewa tapi juga rindu. Ia benci gadis itu, tapi juga sayang.
"Nanti aja pas istirahat, kita datengin Alika ke ruang praktek ya." pinta Dion. Sekuat mungkin ia berusaha untuk menenangkan hati sahabatnya.
Bilmar pun akhirnya setuju dan mengangguk. Walau debaran jantungnya kembali muncul, ia takut sikap Alika berubah karena masalah sebelumnya.
"Bisa aja kan Alika berubah, mungkin karena hasutan dari Mamanya?" gumam Bilmar.
Membuat dirinya kembali tidak percaya diri. Rasa cinta yang besar terus melilit hatinya, ia tidak kuasa untuk menahan sesak, jika berjauhan dengan Alika.
*****
Sesuai janjinya, Dion menemani Bilmar untuk melangkah bersama menuju ruang pantom. Bel istirahat memang sudah berbunyi, dan mereka yakin Alika sedang makan siang. Wajah Bilmar sudah berbinar sejak tadi. Rasa rindunya akan terobati. Ia pun membawa sebuah kotak handphone terbaru, yang kemarin ia belikan untuk sang kekasih. Hanya dengan benda itu, mereka bisa bertukar kabar untuk berkomunikasi.
__ADS_1
Lalu
Brug.
Bungkusan yang sejak tadi digenggam oleh Bilmar begitu saja terjatuh bebas ke atas lantai, bertepatan langkah kakinya sudah sampai diambang pintu ruang pantom.
Garis senyum yang sedari tadi merekah kini terlipat begitu saja. Wajah Bilmar redup, ia masih melongo tidak percaya. Jantungnya tiba-tiba saja berdegup kencang. Dada nya terasa ditembak panah begitu sakit dan perih. Menemukan Alika tengah makan siang semeja dengan David. Dion pun ikut tergagap. Ia menoleh cepat untuk melihat jelas perubahan raut wajah Bilmar.
Saking sedih dan patah hatinya, air mata Bilmar menggenang. Tanpa mengeluarkan urat untuk memaki Alika dan David, ia memilih berlalu. Sakit hatinya.
"Al!" seru Dion. Membuat Alika mendongak lalu tersenyum menatap Dion. Ia pun bangkit dari kursi untuk menghampiri Dion dengan wajah cerah.
"Ngapain, Yon? Bilmar nya mana?" tanya Alika santai.
"Tadi kesini bareng gue sekalian mau ngasih hape baru buat lo." Dion memungut benda itu dibawah.
"Terus Bilmar nya mana?"
"Dia balik lagi. Ngambek, Al. Lihat lo makan sama si David." Dion melongo ke arah David yang masih menikmati makan siangnya.
"Hah? Masa?" wajah Alika seketika panik. Tanpa alih-alih ia langsung melesat menuju kelas, begitu kagetnya ia melihat Bilmar yang sudah bersiap pulang, mengenakan jaket dan menyampirkan tas di punggungnya.
Bilmar pun menoleh ke belakang dan menatap Alika. Awalnya ia tersenyum, karena senang Alika mau menemuinya. Tapi mendadak senyuman itu meredup. Bilmar terlihat masih kecewa. Ia tetap ingin berlalu meninggalkan kelas. Lelaki itu merajuk. Alika menariknya dengan sekuat tenaga untuk duduk kembali. Namun Bilmar menolak.
"Kamu mau kemana? Ini kan masih jam sekolah, Bil." tanya Alika.
Demi Tuhan, Alika rindu dengan lelaki ini, pun sama dengan Bilmar. Namun keadaan yang membuat hati Bilmar memanas dan tidak bisa berfikir jernih.
"Sedih hati aku, Al. Lihat kamu makan siang bareng sama si Beckham." cicit Bilmar sendu. Ingin ia menangis, namun urung ia lakukan. Bilmar hanya memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Namanya David, Bil. Bukan Beckham."
Dengan cerdasnya, Alika malah membetulkan nama lelaki yang dicemburui Bilmar. Bilmar pun menoleh dan meradang. Menatap tajam Alika, menurunkan tangan wanita itu dari bahunya, dan kembali melanjutkan langkah untuk keluar dari kelas.
"Sayang, mau kemana?" Alika kembali menarik tangan Bilmar. Dikelas memang sepi, hanya ada Juli dan Tio yang melihat sepasang kekasih itu sedang merajuk. Sudah terbuka di muka umum, kalau Alika adalah milik Bilmar Artanegara.
__ADS_1
"Aku mau pulang! Udah kamu balik lagi aja sana." Bilmar menepis tangan Alika dengan kencang, sampai gadis itu kehilangan keseimbangan. Buru-buru Bilmar meraih tubuh Alika yang ingin limbung.
"Kamu gak apa-apa? Sakit nggak?" tanya Bilmar, kedua tangannya masih mengalung di pinggang Alika.
"Aku sakit dan sedih kalau kamu marah, Bil. Jangan kayak gini ya." pinta Alika memelas.
Bilmar menghela napasnya, ia kecewa tapi ia juga rindu gadis ini.
"Aku kangen sama kamu, Al. Kenapa kamu jadi ngejauh? Kamu bisa makan siang sama orang lain, kenapa sama aku enggak!" Bilmar terus mengeluarkan unek-uneknya.
Alika menggandeng tangan Bilmar untuk mendudukkan lelaki itu di kursinya kembali. Melepaskan tas dari punggung Bilmar serta jaket yang sudah terpasang rapih ditubuh lelaki itu.
"Pulang sekolah kita jalan ya. Tapi mungkin agak sorean, gak apa-apa?" pinta Alika.
Seketika wajah mafia muda itu menjadi bersinar kembali. Kelopak matanya yang sayu sejak kemarin, kini kembali merekah. Sudut bibirnya naik, memberikan senyum lebar kepada Alika.
"Beneran, Al?"
"Iya sayang, beneran. Kebetulan Papaku hari ini nggak bisa jemput, dia lembur. Niatnya sih tadi, setelah jam istirahat kedua aku mau ke kelas mau kasih tau kamu. Tapi kamu nya keburu ke ruang pantom dan salah faham. Tapi ya gak apa-apa, cemburu kan wajar. Itu tandanya kamu sayang sama aku." Alika menjawil dagu Bilmar. Ingin mengecup pipinya, namun ada Tio dan Juli di kelas dan masih menatap serta mengawasi mereka di meja.
"Iya gapapa sayang. Maafin aku ya, aku udah salah faham." jawab Bilmar.
Alika tersenyum dan mengangguk.
"Kamu udah makan belum? Aku anterin ke kantin ya." ajak Alika.
"Tapi kamu makan sama aku ya jangan sama di Beckham lagi." cicit Bilmar manja. Ia lebih dari anak bayi yang baru saja merangkak.
"David, Bil namanya ... Bukan Beckham!" gelak tawa Alika pun terdengar setelahnya, perutnya sakit karena mendengar Bilmar terus saja meledek nama temannya.
*****
Masih ada satu episode lagi hari ini, tungguin ya. Mama Mira akan mulai beraksi setelah ini gengsss❣️
Like dan komennya ditunggu.
__ADS_1
Ada yang mau difoto sama babang tampan gak?