MantanKu PresdirKu SuamiKu 3

MantanKu PresdirKu SuamiKu 3
Musim 1 : Kehidupan Alika (1)


__ADS_3

"Mah, Alika tuh datang." ucap Paman yang masih membolak-balikan gorengan di wajan.


Bibik yang sedari tadi sedang mengaduk-aduk adonan gorengan langsung mendongak. Dari jarak 20 meter terlihat Alika sedang mengendarai motor maticnya.


Memakai seragam perawat yang dibalut jaket rajut, tas yang dislempang didada dan helm kura-kura bertengger dikepalanya.


Cit.


Deru mesin motor sudah ia matikan tepat didepan gerobak gorengan Paman dan Bibiknya. Paman dan Bibik menjual beraneka ragam gorengan di depan gerbang perkampungan.


Gorengan yang mereka jual sangat enak, walau hanya berjualan gorengan tapi mereka mampu membeli beberapa hektar sawah.


Bibik adalah adik dari Papa Syamsul, walau ia tahu Alika bukan keponakan kandungnya. Tapi mereka sangat mencintai Alika, karena Paman dan Bibik tidak dikaruniai anak sampai detik ini.


Alika menghampiri Paman untuk mencium tangannya dan melongo ke dalam gerobak, meraih bakwan untuk ia santap. Bibik terlebih dulu mencuci tangan dan mengelapnya dengan kain, lalu mengarahkan tangannya untuk Alika cium.


"Bik, pinjam---"


"Uang?" selak Bibik dan Paman hanya tertawa.


"Motorku rusak, tadi baru aja di service." jawab Alika dengan wajah sedih.


"Makanya jangan beli motor yang second. Mau dibeliin yang baru malah gak mau. Masa setiap bulan motor masuk bengkel terus." sungut Bibik.


Alika hanya tertawa sambil terus menyantap gorengan yang sedang ia pegang.


"Walau second tapi kan masih bagus." dalih Alika.


Bagus dari mana? Motor itu sudah mati mendadak ditengah jalan sebanyak lima kali. Tentu hal itu akan membahayakan keselamatannya. Alika hanya tidak mau membebani Paman dan Bibik nya.


"Mau berapa?" tanya Paman lalu menarik laci di gerobak.


"Tiga ratus aja, Paman. Nanti akhir bulan Alika ganti." jawab Alika dengan senyum sumringah.


"Gak usah pinjam, nih Paman kasih." Paman menyodorkan uang tiga ratus ribu.


"Enggak Paman, kaya bulan kemarin aja kan aku ganti." Alika mengambil uang itu dengan suka cita.


"Alhamdulillah perut enggak akan kelaparan nih sampai dua minggu kedepan." gumam Alika. Uang jatah makannya memang sudah ia pakai untuk membetulkan motor di bengkel.


"Mau kapan nikah? Usia kamu tuh bentar lagi tiga puluh, Al." tanya Bibik lembut. Ia mengajak Alika duduk di bangku kayu panjang.


Alika mengedikkan bahunya. "Masih dua lapan, Bik. Sebulan lagi jadi dua sembilan."

__ADS_1


Bibik mendengus malas. "Ya sama aja ah, mau tiga puluh. Keburu tua, Al. Dari sebelum Mamamu meninggal sampai sudah tiga tahun kepergiannya, kamu belum juga mau menikah!"


Alika menatap langit lama. Ia kembali terbayang wajah Bilmar yang entah dimana keberadaannya. Alika kembali mendesah kan napas. Mengutuk sepertinya percuma, lelaki itu tidak akan datang lagi fikirnya.


"Sudah dua belas tahun, tapi aku masih saja bodoh untuk menunggunya." gumam Alika.


"Dengan menikah, ada yang bisa menjagamu. Mau cari yang kayak gimana lagi sih?" Bibik membuyarkan lamunan Alika. Lalu ia menoleh ke arah suaminya yang masih berdiri didepan penggorengan.


"Pah, kayaknya nih Alika lagi kena karma deh. Banyak nolak cowok sih, makanya nih jodohnya jadi lama." decak Bibik.


"Nyari yang kayak tipe gimana sih? Pandu kaya kamu tolak, Beni ganteng kamu tolak, Yudi yang udah jadi Dokter kamu tolak, Farid udah jadi PNS kamu tolak, terus---"


Alika langsung mencium pipi Bibik, agar wanita itu menghentikan ucapannya. Ia bergegas bangkit berdiri. Meraih paksa punggung tangan Bibik untuk di cium lalu bergantian mencium tangan Paman.


"Alika pulang dulu ya." hanya itu yang bis menyelamatkan dirinya.


"Tuh kan, kalau di nasehatin soal jodoh. Pasti gitu terus deh." Bibik mengerucutkan bibirnya seperti itik. Paman hanya tertawa sambil melambaikan tangan.


"Hati-hati ya cah ayu." seru Paman.


Alika menganggukan kepala lalu membalas lambaian tangan itu. Ia berhasil memutar lajuan motornya untuk berlalu meninggalkan gerobak gorengan mereka.


Selama tiga tahun ini Alika hidup sendirian di rumah. Hanya suara jangkrik dan tokek yang selalu beriringan menemaninya. Kadang ia benci kesendirian, tapi kadang ia senang. Karena bisa hidup dengan bebas.


Alika terus memaki Bilmar didalam batinnya. Ia benci lelaki itu, muak dan lelah karena selalu menanti dan tidak berujung apa-apa.


*****


"Eh Pelakor keluar lo!" seruan kasar begitu melengking mencuat dari bibir seorang wanita yang sedang berdiri didepan pagar rumahnya.


Alika yang baru saja sampai dirumah dan sedang berbaring di sofa langsung mengerjap kedua matanya yang baru ia pejam belum lama. Jantungnya berdentam, merasa tersentak tidak karuan.


"Apaan tuh?" tanyanya sambil mengelus dada. Ia sedikit melongo ke arah jendela. Dan benar, didepan rumahnya sudah ramai dengan para tetangga yang terlihat beriung.


"Ada apa ya?" Alika terlihat resah.


Trang.


Tiba-tiba kaca jendela di kamarnya terdengar pecah. Wanita yang sejak tadi meneriaki Alika dari luar sepertinya sudah tidak sabar untuk melahap Alika.


"Keluar wanita sialann!" kelakarnya lagi.


"Alika keluar!" seru para tetangga saling menyahut nama Alika dengan keras.

__ADS_1


Membuat Alika merasa tertekan. Keringatnya mengalir membasahi wajah. Dengan napas yang tersengal-sengal ia memberanikan diri untuk membuka pintu rumahnya. Gadis perawan itu masih tidak mengerti apa yang sedang terjadi.


"Udah, Mah. Ayo kita pulang!" seru laki-laki yang masih memakai kemeja lengkap tiba-tiba datang dan menarik tangan istrinya.


"Mama nggak akan pulang, sebelum Mama berhasil jambak rambutnya, Pah!"


Krek


Pintu dibuka oleh Alika.


Pandangan mereka beralih ketika melihat Alika sudah muncul dari dalam rumah. Alika tetap mematung didepan pintu, seraya memicingkan mata mencari-cari sumber suara yang sejak tadi membuat telinganya sakit. Ia juga mengerang kesal ketika melihat kaca jendela kamarnya bolong.


"Pak Danu?" gumamnya. "Mau apa lagi sih lelaki itu?" desah Alika frustasi.


"Heh wanita sundell! Sini lo!" Istri Pak Danu semakin menjadi-jadi memaki Alika.


Alika yang mendengar hinaan itu langsung terbawa emosi. Ia berjalan mendekat ke arah pagar. Pagar yang sudah lebih dulu ia gembok setelah memasukan motor ke dalam halaman.


"Heh! Anda enggak punya sopan santun ya, dateng ke rumah orang main marah-marah! Ngerusak rumah saya, maksud anda apa!" Alika dengan cepat meloloskan tangannya untuk menjambak rambut wanita itu.


"Ah sakit, Pah." rintih wanita itu, tiba-tiba saja ia berubah menjadi kelinci, ketika sejak tadi berlagak seperti harimau. Ia baru tahu kalau Alika seberani ini. Lebih berani dari Neneknya harimau.


"Tolong lepasin istri saya, Al." seru Danu, mencoba untuk melepas tangan Alika yang masih bersarang dirambut keriting istrinya.


Alika mendelik tajam lalu menghentakkan tanganya di dada Danu. Ia kembali menjambak rambut istrinya yang beberapa menit lalu ia lepas.


"Ah ..." Danu terlihat meringis memegangi dada nya.


"Tadi anda sebut saya apa? Pelakor?" seru Alika dengan nada tinggi, ia makin merekatkan tangannya ketika menjambak rambut wanita itu.


"Iya lo itu pelakor! Lo udah main belakang sama laki gue! Ah lepas, sakit!" seru wanita itu, dan setelahnya kembali mengerang karena jambakan dari tangan Alika semakin kuat.


"Mana buktinya? Jelas-jelas suami anda yang selalu mengirim pesan vulgar kepada saya! Tolong cek ponselnya, apakah ada satu balasan pesan yang saya balas?" kelakar Alika dengan tatapan tajam. Aura cantiknya seketika menghilang berganti dengan perangai Susana ketika berperan menjadi kuntilanak.


"Asal anda tau suami anda yang selalu menggoda dan merayu saya! Harusnya anda berterimakasih kepada saya, karena saya tidak pernah sedikit pun membalas kegenitan suami anda! Dan satu hal lagi, karena saya---"


"Karena Alika akan menikah dengan saya!"


Suara bariton dari lelaki berwajah manis dengan tatapan teduh, mendadak muncul diantara perseteruan mereka. Danu dan Alika menoleh cepat ke sumber suara dan melongo hebat.


"Aziz?" seru Danu dengan tatapan tidak suka.


******

__ADS_1


Like dan Komen ya❣️


__ADS_2