
Siang itu.
Terlihat Alika sedang sibuk dengan beberapa berkas yang tersebar secara acak di mejanya. Membandingkan lembar per lembarnya untuk mencari selisih untuk membunuh rasa kecurigaannya.
"Kenapa harga bahan bangunan di pasaran dengan harga yang di ajukan oleh Pak Daniel tidak relevan ya?" gumam Alika.
"Mungkinkah, ia membohongi saya?" terlihat banyak kerutan muncul di keningnya.
Alika terus memandangi berkas tersebut, sambil menyesap rasa manis dari cairan kopi susu di cangkir mungilnya.
Tok tok tok.
Alika mendongakkan kepala, menatap daun pintu ruangannya yang diketuk dari luar.
"Siapa ya?" tanyanya pelan. Baru saja ia ingin beranjak bangkit dari kursi kerajaannya, sesosok pria berbalut jas cream begitu saja muncul dari balik pintu.
Alika terkejut bukan main.
"Pak Zain?" sapa Alika dengan senyuman yang mulai mengembang.
"Bolehkan saya masuk?" ucap lelaki berkumis lebat seperti Pak Raden, tanpa basa-basi.
"Oh tentu, silahkan, Pak." Alika mempersilahkan Zain duduk di depan mejanya. Pun sama dengan Alika, ia kembali duduk di kursinya.
"Maaf, saya mendadak, Bu. Tidak mengabari dulu jika mau kesini." ucap Zain dengan sikap yang masih formal.
Alika tersenyum. "Tidak apa-apa, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"
Hening sesaat. Zain semakin terbuai akan pesona Alika. "Kamu semakin cantik saja, Al." Zain membatin.
Hasratnya semakin menggelora ketika ia menatap lekuk leher Alika yang jenjang, putih dan bersih.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Alika. Wanita itu sedikit kikuk, ketika mendapat tatapan tidak biasa dari Zain.
"Oh, iya, Bu. Saya ingin membahas rapat yang kemarin, saya masih tidak mengerti." Zain masih bertahan dalam sikap keformalan nya.
Alika beranjak bangkit menuju ke lemari yang ada dibelakang mejanya. Sibuk mencari-cari buku agenda dan beberapa map mengenai pembahasan rapat kemarin, yang sudah di tata rapih oleh Kiki.
Zain tidak akan membuang-buang waktu, ia sudah kepalang basah datang kemari. Dirinya tidak bisa menahan hasrat. Ia harus bisa bersenang-senang dengan Alika.
Air liur seperti ingin keluar dari sudut bibirnya, ketika ia mengamati lamat pinggul Alika yang seperti biola lalu turun ke bagian bokong yang masih meninggi dan kencang, kemudian terjerembab turun ke bagian betis kaki Alika yang mulus.
Zain merogoh sebuah botol berisi bubuk obat, lalu ia taburkan di cangkir kopi Alika. Obat tercampur dengan baik, dan Zain tidak henti-hentinya menyunggingkan senyum laknat nya.
Setelah mendapat berkas yang di inginkan, Alika kembali duduk dan membuka file berkas tersebut diantara mereka. Zain beringsut maju untuk bisa lekat dengan kepala Alika yang sedang menunduk.
Jarak mereka saat ini sangat dekat, sama-sama menunduk ke arah berkas.
"Di bagian mana yang tidak di mengerti, Pak?" seketika Alika menjauhkan kepalanya, pada saat ia sedang mendongak untuk menatap Zain. Alika terkesiap, karena jarak wajah mereka terlalu dekat.
Alika mulai mencium sesuatu yang berbeda dari tatapan Zain. Sorotan mata yang penuh damba.
"Kenapa, Al?"
__ADS_1
Kini Alika semakin dibuat bingung, aneh fikirnya. Mengapa Zain merubah kata sapaannya menjadi nama?
Ya, mungkin karena dulu mereka pernah satu sekolah, hanya itu fikiran positif yang melekat di kepala Alika.
Alika menggelengkan kepala. Untuk menghindari kegugupannya dan segala terkaan yang tidak baik. Ia memilih menyesap kopi dari dalam cangkirnya.
Dan masuklah si cantik kedalam perangkap sihir Pak Tarno, eh?
"Oh maaf, Pak Zain. Saya belum menyediakan minum untuk anda, Pak." ucap Alika. Ia tetap berbicara formal untuk menghargai Zain. Bagaimanapun mereka tetap rekan kerja.
Alika meraih gagang telepon untuk memijat nomor pantry, namun pergelangan tangannya di sentuh paksa oleh Zain.
"Tidak usah, Al." Zain melarang.
Dua bola mata Alika membola ketika tangannya dipegang. Sontak ia melepaskan tangan Zain dengan kasar.
"Maaf." ucap Alika. "Saya tidak biasa bersentuhan dengan lelaki yang bukan suami saya." imbuhnya lagi.
Zain mengulum senyum dan mengangguk. Bodo amat fikirnya, yang jelas sebentar lagi. Ia bisa merasakan ciuman dan kehangatan tubuh Alika.
Tak lama obat yang dibubuhkan oleh Zain ke cangkir kopi Alika bereaksi. Alika mulai terlihat gelisah, mengusap tengkuknya beberapa kali yang mulai memberikan rasa panas.
Keringat mulai menggerumun di pertengahan dahi. Debaran jantungnya sangat kuat, posisi duduknya mulai tidak karuan. Ia seperti orang yang sedang menahan buang air kecil.
Zain tahu Alika sudah terangsang. Ia beranjak dari kursi dan memutar meja untuk mendekati Alika.
"Anda mau apa, Pak?" Alika lebih dulu bangkit dari kursi dan mundur ke sudut meja.
"Jangan macam-macam!" Alika memberikan tatapan garangnya.
Karena tidak ada pilihan, Alika melemparkan semua buku-buku yang ada di meja ke tubuh Zain.
"Pergi brengsekk!" ucap Alika dengan bibir bergetar. Selain dirinya takut, tubuhnya pun bergelinjang. Ia seperti kegerahan, ingin membenamkan dirinya didalam air es. Ia mengutuk dirinya, mengapa bisa seperti ini.
Zain tertawa. "Aku mencintaimu dari dulu. Tapi kamu selalu jual mahal."
Alika mendelik tajam. Ia masih melemparkan barang apa saja ke arah Zain yang terus mendekat.
"Pergi dari ruangan saya sekarang juga!" ucap Alika. Sialannya, gelora hasrat itu semakin membara di dalam tubuhnya, ia sampai berdiri memejam kedua mata dengan memegang ujung meja karena tidak sanggup menahan.
"Akan sakit sekali jika tidak dikeluarkan sayang." ucap Zain dengan intonasi menggoda.
Dengan cepat ia beringsut untuk memeluk Alika dari belakang. Berusaha mencium tengkuk wanita itu namun Alika terus meronta.
BUG.
Alika memukul wajah Zain dengan sikut tangan kanannya. Zain pun refleks mundur sambil memegangi salah satu matanya yang menjadi sasaran pukulan.
"Ahh ..." pekik lelaki itu.
Alika dengan cepat melangkah untuk kabur, namun ketika ingin melangkah kakinya di selengkat oleh Zain.
Brug.
__ADS_1
Alika terkapar di atas lantai. Dengan sekuat tenaga Alika menyeret tubuhnya untuk bergegas menjauh. Ia masih belum sanggup untuk berdiri karena kedua kakinya masih bergetar.
"Mau kemana kamu, Al?" ucap Zain dengan kelopak mata kiri kanan yang sudah memerah. Zain menjambak rambut Alika, dan wanita itu berteriak.
"Bilmar ... Tolong." ia menyebut nama suaminya.
Zain tertawa sarkas. "Sebentar aja, enggak sampai satu jam. Biar kamu puas, aku pun sama. Setelah itu kita lupakan, bereskan? Anggap saja ini sebagai tanda terimakasih dari kamu, karena saya sudah mau bergabung untuk menginvetasikan uang saya." Zain semakin mengeratkan telapak tangannya untuk menjambak rambut Alika.
"Papa ... Mama." Alika terus merancau. "Tolong!" ia paksakan untuk berteriak lebih kencang. Sayangnya ruangan ini terlalu besar, dan jauh dari ruangan lain.
Alika berusaha untuk melepas tangan Zain dengan cara mengigit nya, lalu menendang perut lelaki itu dengan kaki nya yang masih bergetar namun dipaksakan sekuat mungkin.
"Ahh ..." Zain berteriak lagi. Sekuat tenaga Alika menyeret lagi tubuhnya, lalu menjulurkan tangan ke atas meja agar ia bisa berdiri.
"Wanita sialann!" pekik Zain. Lelaki itu kembali bangkit, lalu meraih tubuh Alika untuk di hempas kan ke atas sofa. Zain berhasil mengkungkung dirinya.
Alika meronta dan menggeliatkan tubuh. Ia menjauhkan wajahnya yang ingin di cium dengan bibir Zain. Mendorong dada Zain agar menjauh dari tubuhnya. Melihat Alika seperti ini, membuat gulungan hasrat Zain terbakar. Ia saking bernapsu.
Alika merasa jijik, karena tubuhnya di tindih oleh lelaki bajingann.
Cih.
Alika menyemburkan saliva nya ke wajah Zain. "Lepas! Brengseek!"
Zain menjadi emosi, ia tidak suka di ludahi. Ia kembali menjambak rambut Alika.
"Ah, lepas! Sakit!!" Alika meronta. Di tengah kesakitan yang sedang menerpa kulit kepalanya, Alika masih bisa konsentrasi untuk membuat tumbang lelaki ini.
BUG.
Alika mendaratkan pukulan ke wajah Zain. Lagi-lagi wajah lelaki itu yang menjadi santapan dari kepalan tangannya. Kaki kanannya di arahkan lagi ke atas dan tepat mengenai patung agoda milik Zain.
Lelaki itu berteriak histeris. Intinya berdenyut nyeri. Zain tumbang, sampai tersungkur ke atas lantai. Alika yang masih kesal, terus saja meghentak pipi Zain dengan tamparan bolak-balik.
"Dasar laki-laki bajingann! Brengsekk! Kurang ajar!! Tidak mempunyai akhlak!" Alika terus merancau, dengan tubuhnya yang semakin bergetar. Ternyata denial Alika masih kuat untuk menahan gejolak hasratnya.
Ketika sudah puas membuat Zain terkapar dengan erangan sakit, Alika kembali ke mejanya untuk mengambil tas dan bermaksud untuk kabur dari ruangannya sendiri. Saking paniknya, ia tidak ingat jika dikampus ini memiliki banyak satpam.
BUG.
Sebelum Alika benar-benar melangkah pergi. Ia kembali menghentak kepala Zain dengan tas Hermes nya.
"Saya akan laporkan anda ke polisi, Pak! Mulai saat ini, kita putus hubungan kerja!" seru Alika.
Wanita itu langsung berlari meninggalkan ruangan. Tubuhnya masih saja bergetar dengan debaran jantung yang masih berpacu kuat. Terlebih lagi ia tidak mengerti, mengapa pusat tubuhnya terus saja berdenyut.
"Aku harus ke kantor Bilmar." gumamnya dengan keringat yang sudah mengguyur tubuh dengan rambut yang sedikit berantakan.
Zain masih bergoler lemas di atas lantai. Wajahnya, perutnya dan agoda pastiles nya luluh lantah dengan serangan panas dari Alika. Si wanita bersabuk hitam dalam kasta taekwondo.
Rasakan kamu Zain, sampai upin-ipin tumbuh rambut pun kamu tidak akan bisa mendapatkan Alika.
******
__ADS_1
Like dan Komen ya guyss❤️
Minggu aku libur ya, sampai jumpa hari senin🤗