
Karena jengkol semur warung Mbak Bona, membuat geger seluruh orang rumah. Saat ini Alika sedang dilucuti berbagai pertanyaan dari anak dan suaminya di meja makan. Ia mirip sekali seperti terdakwa di pengadilan.
Suami dan anaknya mengajak Alika ke meja makan bukan untuk menyuruhnya makan malam, tapi untuk menunggu cairan jahe yang sedang dibuat oleh Bik Minah di dapur.
Malam ini sudah pukul 20:30, biasanya Bik Minah sudah bersantai di kamar bersama Mang Dana untuk menikmati sinetron 'ku berteriak' di Indotipi.
Bilmar, Ammar dan Maura bersamaan memakai masker. Mereka duduk berjejer dan berhadapan dengan sang Mama yang hanya duduk ditengah-tengah bangku kosong.
"Bik udah belum?" seru Ammar, ia sedikit mendongakkan wajah ke arah dapur.
"Bentar lagi, Den." jawab Bik Minah.
Bilmar duduk dengan tangan bersidekap. Menyandarkan lemah tubuhnya di punggung kursi. Menatap lurus Alika, sesekali dengan gelengan kepala.
"Kamu tuh makan apa sih?" tanya Bilmar lagi.
"Iya, Mah. Mama bawa gas beracun dari mana?" sambung Ammar.
Maura menurunkan maskernya karena mulai sesak. "Ah, aku enggak mau pakai beginian. Napas ku sesak." seru Maura.
"Pakai, Kak! Nanti kamu bisa mati, kalau mencium napas Mama." bisik Ammar ditelinga sang Kakak.
"Mama denger ya, Dek!" seru Alika.
Ammar mengulum senyum jenaka. "Maafin Adek, Mah."
Bilmar tertawa. Alika mengalihkan tatapannya kepada suaminya. "Mama makan jengkol, Pah." jawab Alika pelan.
"Engkol? Bukannya gak bau ya, Mah?" selak Maura.
"Itu sayur Kol, Kak. Kalau yang Mama makan tuh, jengkol."
"Namanya aja seram, Mah. Pantesan aja baunya mematikan." sahut Ammar.
Bilmar kembali tertawa sambil menggusar rambut anak lelakinya.
"Berapa ember yang Mama makan? Masa bisa bau banget." tanya Bilmar lagi.
"Jengkol tuh emang bau, Pak. Mau sedikit mau banyak, tetap aja bau, hehe." Bik Minah yang menjawab sembari meletakan air jahe anget di cangkir berwarna hijau dihadapan Alika.
"Kok saya kurang familiar ya, Bik. Sama makanan itu." jawab Bilmar. Bik Minah hanya tersenyum. "Apa, Bapak mau Bibik kenalin sama makanan itu atau teman-temannya barangkali."
"Sebelum kenalan, mending putus dulu. Bau nya aja udah buat saya hilang selera hidup." cebik Bilmar.
"Ayo, Bu. Di habiskan, biasanya baunya akan berkurang." ucap Bik Minah.
"Makasih ya, Bik. Ya udah Bibik ke kamar lagi aja, maafin saya jadi ngerepotin, Bibik."
Bik Minah mengangguk senyum lalu berlalu menuju kamarnya.
__ADS_1
"Ayo, Mah cepat minum. Adek sama Kakak udah ngantuk nih soalnya." ucap Ammar.
"Kakak sama Adek tidur aja duluan kalau gitu." titah Bilmar.
Maura dan Ammar menggelengkan kepala. "Malam ini Mama janji mau tidur sama kita, Pah. Mau nyeritain tentang masa-masa kerajaan Majapahit, dibuku tugasku." ucap Maura.
Bilmar menyerengit menatap Alika. Lelaki itu terhenyak, ia butuh penjelasan konkrit.
"Karena Mama tau Papa pergi ke Semarang selama tiga hari. Ya udah Mama janji akan tidur bareng sama anak-anak." jawab Alika santai sambil menyesap air jahenya.
Bilmar hanya mendenguskan napas pelan, memutar bola matanya jenga dan menarik salah satu sudut bibirnya.
"Duh seger banget nih, anget lagi, Kakak sama Adek mau enggak?" Alika menatap Ammar dan Maura bergantian. Lalu menoleh ke suaminya. "Papa mau?"
Merek bertiga bersamaan menggelengkan kepala. "Takutnya bau jengkolnya nempel disitu, Mah." Ammar meringis menunjuk ke gelas cangkir.
Bukan marah karena terus di ledek, Alika malah tertawa-tawa. Dengan sengaja ia menghembus-hembuskan napasnya kepada Anak dan Suaminya.
Maura, Ammar dan Bilmar memalingkan wajah, agar bau jengkol itu tidak menerpa alat indera penciumannya walau sudah memakai masker.
"Ayo, Mah cepetan abisin." titah Bilmar. "Semoga aja si Sassy cepat kembali pulih, kasian nih si Jaguar, enggak bisa berenang dengan nyaman." gumam Bilmar.
Alika menghabiskan air jahenya, tidak menyisakan setetes pun didalam cangkir.
"Alhamdulillah, segarnya nih mulut ..." Alika meng hah kan napasnya. Ia tersenyum lega, seraya kegirangan karena bau itu sudah menghilang.
"Udah enggak bau, Mah?" tanya mereka bersamaan.
Lalu.
"Ah, masih bau!" teriak Ammar, ia kembali menarik masker untuk menutupi setengah wajahnya.
"Iya, Mah. Malah tambah bau, kaya bau bangkai." timpal Maura. Anak gadis itu menarik masker sampai ke kelopak mata.
"Dek kok gelap." seru Maura. Ammar menurunkan masker itu kembali ke batas normal penggunaannya. "Lagian masa sampai ke mata-mata." sungut Ammar kepada Kakaknya.
Bilmar masih terdiam, membekap mulutnya walau sudah bertutup masker. Kepalanya terasa pening, ia tidak sanggup dengan aroma itu. Rasanya memuakkan, perutnya berkali-kali mual dan ingin muntah.
Haha. Tidak segampang itu Ferguso. Ck.
"Ke Apotik aja, deh! Ayo sekarang!"
"Hah?" Alika terperangah. "Ya malu lah, Pah. Masa hanya karena jengkol kita ke Apotik."
"Papa mau beliin Mama obat biar gak bau mulut! Ayo cepat, Papa tunggu di mobil. Adek sama Kakak mau ikut enggak?" tanya Bilmar sambil beranjak dari kursi.
"Iya, Pah, mau." seru mereka senang. Dan mengekor langkah Bilmar setelahnya. Kalau sudah begini, siapa yang bisa menentang kemauan suaminya?
Alika hanya bisa mendesah napas berat dan bersiap malu didepan penjaga apotik nanti.
__ADS_1
****
Tak butuh waktu lama. Mobil mereka kini sudah sampai di pelataran gerbang Apotik dua puluh empat jam. Ammar dan Maura terlebih dulu turun dari pintu penumpang belakang. Dan setelahnya Alika dan Bilmar yang mengekor dibelakang. Mereka bersama-sama melangkahkan kaki menuju pintu utama Apotik.
Lalu.
Lajuan kaki mereka terhenti, ketika ada seorang wanita muda tengah memapah wanita lansia disampingnya.
Bilmar dan wanita itu saling melempar kaget, karena tidak percaya.
"Pak Bilmar?" seru Natasha.
"Wah, Ibu Natasha. Kebetulan kita bertemu di sini."
"Iya, Pak. Ini, lagi antar Mama habis di suntik. Kebetulan Perawat yang suka urus Mama, lagi cuti dulu. Jadi terpaksa saya kesini, Pak." jawab Natasha.
Bilmar mengangguk dan menatap senyum kepada Ibu Natasha.
"Ini ..." Natasha melirik ke arah Alika, lalu bergantian kepada Maura dan Ammar.
"Oh iya, ini Istri saya." Bilmar meletakan tangan kirinya diatas bahu Alika. Alika mengangguk senyum ramah. "Dan ini, anak-anak saya." Bilmar membawa arah mata Natasha kepada Ammar dan Maura.
"Duh cantik sama ganteng. Kaya Mama dan Papanya." puji Natasha. Membuat wajah Alika dan Bilmar tersipu.
"Oh baiklah kalau begitu. Saya dan Mama Pamit duluan, ya. Selamat malam semua." sambungnya lagi.
Mereka semua yang hendak ditinggalkan hanya mengangguk dan berbalik mengucapkan selamat malam.
"Hati-hati, Bu." Bilmar menambahkan ucapannya. Dan Natasha hanya memberikan anggukan kepala dan senyuman.
Tiba-tiba tatapan wajah Alika yang sedari teduh dan hangat kini bergulir menjadi redup dan penuh kegelisahan.
Ia mendelik mata kepada suaminya. "Kamu kenapa, Mah?" tanya Bilmar.
"Dia itu Natasha yang jadi rekan kerja kamu?"
DEG.
Jantung Bilmar berpacu kuat. Ia bisa melihat jejak-jejak garis kemarahan yang akan mencuat dari wajah istinya. Pasalnya Bilmar sudah berbohong, karena ia mengatakan Natasha adalah wanita yang sebaya dengan istrinya. Nyatanya wanita itu masih sangat muda, putih, langsing dan cantik. Pagi tadi Bilmar sengaja berbohong, karena tidak ingin Alika berfikir macam-macam.
"Segitu yang kamu bilang usia tiga puluh tujuh tahun? Sebayaan sama aku??" decak Alika dengan mata masih melotot.
Jika lelaki ingin tahu, wanita itu mempunyai memory yang cukup kuat dalam segi ingatan. Tanyakan saja padanya, di menit, di detik dan di jam keberapa, kamu mencium pipinya. Pasti wanita mu akan menjawab sedetail mungkin. Haha.
"Duh, masalah lagi." lirih Bilmar.
******
Hahaha. Alika nya cemburu-cemburuan dulu ya, biar pernikahan mereka makin so sweet. Besok juga anget-angetan lagi.
__ADS_1
Dari semua novel, novel MPS 3 ini yang gak aku pakai outline bebeb-bebeb. Ngalir gitu aja, karena aku juga udah capek main konflik dicerita mereka. Kayaknya dr dulu konfliknya udah panjang dan belibet wkwkw. Kalau udah bosen bilang ya, biar aku tamatin😂😂.
Jempol dan komennya ya biar mangat buat cerita mereka, hahay❤️🤗.