
Sinar matahari begitu terik, menyorotkan panas ke dalam jendela ruangan kerja Alika. Namun wanita itu tidak terusik. Ia masih menyandarkan tubuhnya dengan santai di kursi kerja dengan kedua tangan melipat didada.
Terlihat earphone yang masih menempel telinganya, sesekali kepala Alika akan bergerak-gerak mengikuti alunan musik yang sedang ia dengar.
"Biarkanlah kurasakan, hangatnya sentuhan, kasihmu---"
Lagu 'Kasih Putih By. Glen Fredly' yang sejak tadi ia gumamkan pelan. Suaranya memang tidak sebagus Bilmar, tapi ia hobby menyanyi. Ia terus mendendangkan lagu dengan wajah manis penuh keharuan. Dipuji cantik oleh suami, memang hal yang sangat membahagiakan. Sepertinya ia sudah tidak ingat lagi dengan kata bergelambir semalam.
Kiki masih serius di mejanya, sesekali ia menoleh ke arah Alika yang masih memunggunginya menatap jendela.
Kring.
Telepon di meja Kiki berdering.
"Hallo ..."
"Ki, buru! Kita udah pada nunggu di bawah nih." terdengar suara berisik diseberang sana. Hingar bingar mahasiswa yang bersiap istirahat pun ikut terdengar.
Kiki mengerutkan kening, ia kembali membawa netra pekat miliknya untuk menatap Alika.
"Belum juga Adzan Dzuhur udah pada mau on the way aja ... Ibu masih ada nih, gimana dong? Gak enak gue tinggalin." bisik Kiki.
"Bukannya tiap jam segini Ibu udah pergi ke kantor suaminya?"
Memang para dosen-dosen muda ini, sedikit nakal. Mereka akan pergi makan siang setengah jam sebelum waktu istirahat. Dimana pada waktu tersebut, Alika sudah melesat pergi menuju kantor suaminya.
"Tiga hari ini enggak, suaminya pergi luar kota katanya, Lis. Ya udah deh kalian aja duluan ke sana, nanti gue nyusul. Nanti Ibu curiga."
"Oke deh, di warung Mbak Bona ya."
"Oke."
Gagang telepon ia kembalikan ke tempat semula. Menghela napas sebelum akhirnya beranjak untuk berdiri namun setelah berdiri ia terdiam dan kembali menghempas bokongnya dikursi, dan hal ini sudah ia lakukan sebanyak tiga kali. Ia masih urung untuk melaju ke meja Alika untuk meminta ijin keluar.
Arah jarum jam semakin bergeser ke kanan, dan kumandang Adzan Dzuhur akan terdengar di mushola lima menit lagi.
"Duh gimana nih." Kiki mengigit bibir bawahnya.
Sebenarnya Ia bukan takut kepada Alika, tapi ia hanya segan. Karena wanita yang saat ini menjadi bosnya, sangat bijaksana, elegan dan tidak pernah marah. Biasanya jika atasan sudah friendly seperti itu, bawahan akan seenaknya. Tapi tidak dengan Kiki, ia malah segan.
"Ki ..."
Tiba-tiba, suara yang tidak sama sekali ia perkirakan begitu lantang keluar dari bibir atasannya. Kiki terkesiap, dengan cepat menyeret beberapa jarinya lagi untuk didaratkan di atas keyboard, dua bola matanya ia paksakan kembali menatap layar komputer.
Mengatur napas dan suara dari kerongkongan, agar tidak terdengar gugup.
"Iya, Bu." jawabnya dengan nada biasa.
"Kamu ada acara makan siang di mana?" tanya Alika, ia sudah memutar tubuhnya lurus ke arah meja Kiki. Melepas earphone dari telinganya dan meletakkannya di meja kaca.
"Biasa ama temen-temen, Bu. Di warung sunda belakang kampus."
Alika mangut-mangut. "Saya ikut ya, saya enggak ada teman untuk makan siang." pintanya.
What? Bola mata Kiki mengerjap dua kali.
"Beneran nih si Ibu, gue bawa ke sana?" Kiki membatin.
__ADS_1
Karena selama ia bekerja, tidak pernah sekalipun melihat Alika makan di pinggir jalan, atau warung-warung kecil seperti itu. Ya, karena selama hidup dengan Bilmar dan kembali menjadi pewaris tertinggi keluarga Artanegara. Padahal sebelum itu, Alika pernah hanya makan nasi dan bakwan di warteg kalau dirinya belum gajian.
"Boleh, Bu. Kalau Ibu enggak keberatan." jawab Kiki.
Alika tersenyum dan beranjak bangkit menuju toilet. "Tapi shalat Dzuhur dulu, ya. Nanti setelah itu kita baru kesana."
"Iya, Bu." jawab Kiki pasrah.
Duh!
"Guys, Ibu mau ikut makan siang di sana. Lauknya ada apa aja, tolong lihatin!" Kiki melepas satu pesan ke grup whatsapp yang terdiri dari teman-teman ghibah-nya.
"Yang bener lo, Ki?"
"...Ibu Alika? Mau makan di sini?"
"Adanya tinggal jengkol, yakin lo mau bawa Ibu kesini?"
Kiki mengigit bibir bawahnya, sambil menggaruk-garuk kulit kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Yakin, Ibu makan jengkol?" gumam nya.
******
Jengkol memang makanan ternikmat di dunia bagi yang menyukainya. Bagi mereka pecinta makanan itu, akan lebih memilih jengkol dibanding daging sekalipun.
Seumur hidup Alika memang belum pernah menjajal jengkol, bukan karena tidak suka. Melainkan Mama Lisa tidak pernah memasak makanan tersebut. Jadi ia tidak akan biasa memakan makanan yang tidak pernah dimasak oleh Ibunya, dan menjalar sampai detik ini.
Namun matanya terusik ketika melihat jengkol semur yang bulat-bulat begitu nikmat dan enak dipandang.
"Ibu yakin?" Kiki mengulangi ucapannya berkali-kali.
Begitulah sebait percakapan mereka warung sunda Mbak Bona. Warung nasi sunda itu memang sangat laku dan cepat habis. Karena Kampus berada di jalan strategis, berada didepan jalan raya. Banyak kantor-kantor pula yang berjajar di hadapannya. Dan warung nasi sunda Mbak Bona terkenal enak dan murah.
Awalnya Alika hanya mencoba tiga buah jengkol, lama-lama ia kalap. Dan memakan berbutir-butir jengkol tanpa ia sadari. Ia hilangkan kasta didepan pegawainya. Menjadikan mereka seperti teman biasa tanpa ada sekat, berbincang, mengobrol dan sedikit selipan bahan tawa menggema diantara mereka.
"Oh iya, si Yeo Da Kyung udah episode berapa ya sekarang?" celetuk Cica.
"Episode 15, lagi seru-seru nya nih." jawab Rara.
"Gayung?" selak Alika.
Semua tertawa. "Bukan gayung, Bu. Itu loh serial drama Korea yang lagi booming di televisi ... The World Of Married ada pemainnya si Yeo Da Kyung." jawab Cica.
"Dunia pernikahan?" sahut Alika.
Semua mengangguk bersamaan. "Lebih tepatnya sih, Bu. Dunia pengkhianatan."
Alika mendelikan bola matanya, menatap Cica dalam-dalam. Jengkol yang ada didalam mulut Cica pun begitu saja tertelan tanpa kunyahan.
"Kenapa, Bu? Saya salah ucap ya, Bu?" Cica meringis.
"Ibu, enggak apa-apa kan?" tanya Kiki memastikan. "Mau minum, Bu?" tawar Rara.
Alika memang termenung lama, entah apa yang mengganggu fikirannya.
"Eng--ggak kok! Saya hanya kaget, kok judulnya serem banget ya." jawab Alika dengan ringisan kecil. "Saya juga gak terlalu suka nonton sinetron atau drama Korea gitu ... Paling nonton kartun bareng anak-anak." tukasnya lagi.
__ADS_1
Semua mengangguk dengan napas penuh kelegaan.
"Tapi gak apa-apa, Bu. Tonton aja, seru dramanya. Lagian juga, Bu. Drama itu ada manfaatnya, bisa kasih kita ilmu. Buat tau gimana macam-macam pelakor ... Kan kita bisa antisipasi, jagain suami biar gak berpaling." ujar Cica.
Alika mengangguk pelan. Ia hanya tersenyum tipis. Tidak ada salahnya kan, jika hanya mengiyakan. Tentu ia tidak mau mencoba-coba menonton film yang akan membuat dirinya resah.
Ya, sekarang----Nggak tau nanti.
"Bu, nih jengkolnya lagi." Rara meletakan jengkol dari piringnya ke piring Alika.
Alika tertawa malu. "Kamu tau aja saya merhatiin ini di piring kamu." Alika memotek jengkol itu menjadi dua bagian dengan sendoknya, lalu dimasukan ke dalam mulut untuk di kunyah.
Rara ikut tertawa. "Nambah satu lagi, Mah. Gak apa-apa, Bu."
Alika terlihat sangat lepas, senyumnya begitu renyah karena senang, bisa bersenda gurau bersama mereka. Dan mereka pun semakin tahu, kalau Alika adalah wanita yang sangat low profile.
****
Alika tidak akan menyangka jika makanan yang sedari siang ia puja-puja akan memberikan dampak tidak mengenakan di tubuh serta aroma napasnya.
"Udah sikat gigi tujuh kali, kok masih bau aja sih!" gerutu Alika kesal. "Kumur-kumur pakai obat kumur juga tetep aja bau---"
Kalau pakai air laut, gimana? Ck.
Alika sedikit menunduk ke arah bagian bawahnya dan mengendus.
"Kok kaya bau jengkol juga ya? Ih!!!" Alika terus berdecak.
Ia masih berdiri didepan cermin wastafel kamar mandi. Sedikit menyesal kenapa tidak mengidahkan seruan Kiki, untuk menahan agar tidak terlalu kalap tadi siang.
Mendengus kesal. Ia edarkan tatapan itu ke sudut kamar mandi. Tidak hanya mulut dan intinya yang terasa bau-----Kamar mandi nya pun sekarang sangat menyengat dengan gas jengkolid acid.
"Ikut-ikutan bau!!" sungutnya. "Tapi ya udah lah gak apa-apa. Untung aja Papa lagi enggak ada dirumah." senyumnya masih saja mengembang.
Lalu.
Derap sepatu pantopel terdengar berhenti didepan pintu kamar mandi, mengetuk daun pintu beberapa kali lalu mengeluarkan suara.
"Mah ... Papa pulang."
DEG.
Jantung Alika seketika ingin copot. Dua bola matanya melotot tajam ke arah pintu yang masih tertutup, memberikan dirinya sekat dengan udara diluar.
"Sayang, lagi apa? Ayo cepat keluar. Temenin Papa sini." ucap Suaminya yang baru saja pulang dan berbaring lelah di ranjang.
"Duh gimana sih, kok Papa udah pulang? Bukannya tiga hari di sana? Terus ini gimana ..." dia mengutuk aroma napasnya yang masih bau. Baru membuka katupan bibir saja, sudah bau apalagi bercakap-cakap.
Apalagi pria itu sangat menjunjung tinggi kebersihan, kerapihan dan kewangian. Bilmar pasti pingsan dan berteriak.
"Duhhh ... Nyesel deh, ah!" gerutu Alika. Ia baru menyesal memakan makanan yang sudah ia puja-puna kenikmatannya.
"Mah ...." seru Bilmar kembali.
*******
Mulut kamu pakein lakban aja Alika, biar gak ke endus๐๐๐๐๐คช
__ADS_1
Tungguin besok gimana si Bila mengerang๐๐๐
Maapin aku dr kemarin dtg ya malam trus, lagi sibuk aku tuuh sama MSW jg kan lagi di eps klimaks. Jadii maapin yah cayang cayangnya Yayan dan Ninaโค๏ธ๐ค