
"Mama pergi dulu ya, Pah. Papa hati-hati dijalan. Maaf, hari ini kita enggak bisa makan siang bareng." ucap Alika dengan nada setengah sedih, ia meraih punggung tangan suaminya untuk di cium.
Bilmar mengangguk. "Iya, Mah. Papa ngerti."
Bilmar hanya bisa mengecup dahi sang istri, karena saat ini di meja makan masih ada kedua anaknya yang sedang sarapan. Alika mempercepat sarapannya dan memilih berangkat pagi-pagi ke Bandung agar tiba tepat waktu.
Wanita itu akan melakukan survey pembangunan cabang kampusnya yang baru dengan beberapa pemegang saham di sana.
"Mama hati-hati ya, pakai sopir kan?" tanya Bilmar.
"Iya, Pah. Sopir dari kampus." jawabnya, lalu mencium kedua buah hati mereka secara bergantian. "Hati-hati disekolah ya, Nak."
"Iya, Mah." jawab Ammar dan Maura. Kakak beradik itu lalu mencium pipi Mamanya bergantian.
"Perhatikan guru yang benar, sebentar lagi kalian akan ulangan semester. Tidak akan ada liburan, jika Kakak dan Adek tidak berhasil mendapatkan tiga besar."
Ammar dan Maura hanya mengangguk dan kembali memasukan makanan ke dalam mulutnya.
"Mah." seru Bilmar, menggeleng samar seraya kode untuk tidak terlalu menekan kedua anak mereka.
Alika langsung diam dan menurut. Menyampirkan tali tas di lengannya lalu beranjak berdiri. Namun sebelum ia memutar langkah untuk meninggalkan kursi, tangannya ditarik oleh Bilmar. Lelaki itu mengecup punggung tangan istrinya. "Kabari Papa kalau sudah sampai."
Alika tersenyum dan mencium kembali pipi suaminya. "Iya sayang, pasti."
Setelah sudah berpamitan dengan Suami dan Anak-anaknya. Wanita itu pun bergegas cepat melangkah menuju pintu utama. Ia tidak mau sopir dan Kiki menunggu lama di dalam mobil.
Bilmar memandang istriya dengan senyum yang tak kunjung padam. Alika begitu cantik hari ini. Rambut yang tergerai indah dengan harum farfum baby yang menggeluti tubuhnya. Dengan dress kuning terusan selutut. Di atas pergelangan kakinya ada gelang tipis berbahan berlian yang melingkar, begitu elegan ketika di padu padankan dengan warna flat shoes yang berwarna cokelat kulit.
"Lindungilah Istriku ya, Robb." doanya. Dan Malaikat mengaminkan doa suami untuk kebaikan istrinya.
Alika membuka pintu belakang dan mendapati Kiki yang sudah duduk di pojok sebelah kanan mobil.
"Maaf ya, jadi lama menunggu."
__ADS_1
"Enggak kok, Bu. Santai aja." jawab Kiki tersenyum.
"Jadwal saya apa aja hari ini, Ki?"
Kiki mulai membuka tablet nya, dan menggeser layar dengan buku jarinya, gerakan naik turun, dari balik bibirnya yang berwarna merah ia mulai menjelaskan secara runtut apa saja jadwal bosnya hari ini.
"Oke, baik. Terimakasih, Ki." jawab Alika. Ia mengeluarkan earphone dari dalam tas dan menghubungkan kabelnya kedalam ponsel. Mencari lagu favorit dan menyetelnya. Menyandarkan tubuh dengan santai di sandaran kursi.
Dan mulailah ia bersenandung dengan nada sumbang nya. Kiki dan Pak sopir hanya bisa terkekeh geli.
*****
"Assalammualaikum, selamat pagi menjelang siang, Ibu Alika." sapa Daniel dengan senyum merekah. Dari semua pemegang saham, sepertinya baru Alika yang datang tepat waktu di sini, padahal wanita itu adalah pemegang saham tertinggi pada bangunan ini.
Lelaki yang sudah beristri itu menatap Alika dengan tatapan lain. Memandang tampilan Alika dengan pujian nakal dalam hatinya. Daniel memang sering terlibat telepon dengan Alika, namun untuk menatap lebih jelas. Barulah saat ini waktunya.
Ia mengangkat telapak tangan untuk bisa berjabat tangan dengan Alika. Alika mengangguk, memberikan senyumnya sebagai respon sapa dan salam dari lelaki ini. Namun Alika hanya mengatupkan kedua tangannya menjadi bangunan segitiga didepan dada. Ia membiarkan tangan Daniel menggantung di udara begitu saja.
Daniel menurunkan senyum, sedikit kecewa karena jabatan tangan tersebut tidak di gubris Alika. Daniel adalah ketua kontraktor yang berpegang penuh dalam pembangunan kampus baru milik Alika dan Tim.
"Cantik sekali." lagi-lagi ia termenung dengan senyum, dan terlonjak ketika Kiki mengeluarkan suaranya. "Saya boleh minta salinan berkas total material pembangunannya, Pak?" tanya Kiki.
Daniel mengangguk, sekilas netra pekat miliknya melirik Alika yang sudah meninggalkan mereka untuk melangkah masuk ke dalam bangunan kosong yang sudah hampir jadi. Sudah menjulang tinggi dengan empat lantai. Namun belum beratap.
Setelah memberikan salinan berkas yang Kiki butuhkan, ia kembali melanjutkan langkah menyusul Alika, menemani untuk menyusuri berbagai lekuk bangunan dan menjelaskannya. Alika tidak tahu saja, jika lelaki ini sudah bermain curang dari awal pembangunan.
"Apakah bangunan yang saya buat, cukup memuaskan untuk Ibu Alika?" wanita itu mengedikkan bahu, ia kaget karena tiba-tiba ada nada suara yang terdengar lembut dari belakang tengkuknya.
Alika menoleh dan mengangguk setuju. "Saya kagum." jawabnya singkat. Si cantik kembali melangkah untuk masuk ke setiap kelas-kelas yang sudah setengah jadi.
"Nanti warnanya mau apa, Bu?" Daniel tetap berusaha untuk mengalihkan tatapan Alika kepadanya. Alika menoleh ketika sedang mengusap dinding kelas yang selesai di aci. Alika terdiam sebentar, sambil berfikir.
"Putih saja." jawabnya sambil mengulas senyum.
__ADS_1
"Putih? Bagus juga ... namanya juga kampus kesehatan. Ingin mirip seperti Rumah Sakit ya, Bu?"
Alika kembali tersenyum dan menggeleng. "Bukan, Pak. Tapi warna putih itu, adalah warna kesukaan suami saya."
DEG.
Senyum lelaki penggoda istri orang itu seketika runtuh dan lenyap. Ia salah dalam terkanya. Memang wajah Alika sangat babyface. Walau sudah mau menginjak kepala tiga lebih, namun tekstur tubuh dan wajahnya masih saja seperti tiga puluh ke bawah. Bahkan dengan Kiki saja, wajah Alika masih terbilang sangat muda.
"Sudah menikah?" gumam Daniel tidak percaya. Tetapi kekaguman pada kemolekan tubuh Alika tak mampu menyurutkan pandangan matanya.
Di saat ia sedang termenung, tiba-tiba ia berseru kencang sambil melangkah panjang secepat kilat. Menarik dan merengkuh tubuh Alika dari posisinya.
Brug.
Alika terjatuh menindih tubuh Daniel. Dan tak berapa lama, ada besi yang terjun bebas dari atas atap, tidak jauh dari posisi mereka. Jika Daniel tidak menariknya dengan cepat, maka kepala Alika akan pecah karena tertimpa dengan benda tumpul tersebut.
Napas Alika terengah-engah, ia kaget setengah mati. Daniel dan Alika saling bersitatap dalam jarak yang sangat dekat.
"Astagfirullah, Bu." seru Kiki yang baru saja sampai, ketika menatap Alika sedang berada diatas tubuh Daniel. Wanita itu tercengang, sampai membekap mulutnya.
"Ya Allah, maaf!" Alika langsung menarik tubuhnya untuk bangun. Ia tergagap menatap Kiki. "Maaf, Ki. Ini enggak seperti yang kamu fikir." jawab Alika dengan wajah menegang. Bukan karena diketahui sedang melakukan hal yang tidak-tidak, tetapi karena ia masih kaget dengan besi yang baru saja jatuh menimpa aspal lantai.
Bayangkan saja, ia bisa mati mendadak tadi.
"Besi itu mau jatuh tadi, dan saya menarik tangan Ibu Alika. Mungkin terlalu kuat, sampai Ibu Alika menindih saya." Daniel menunjuk ke arah besi yang sudah melintang, ia membantu menjelaskan duduk perkara yang terjadi. Alika mengiringi penjelasan itu dengan anggukan kepala.
Samar-samar dengan raut yang masih kaget, Kiki menganggukan kepala lemah. Ia percaya dengan Alika. Tapi jujur, ia tidak percaya dengan Daniel. Sedari tadi Kiki berhasil menangkap pandangan Daniel yang berbeda kepada bosnya. Seperti saat ini, lelaki itu kembali menatap Alika dalam senyum penuh damba.
*****
Jangan ada pebinor thorrrrrrrrr ... Pasti gitu deh komennya🤭🤭😂
Pebinor mana yang bakal bisa lawan Bilmar, guys??
__ADS_1
Like dan Komennya ya❣️